Episode 12

"Kata Bibi Den Araf memiliki sikap dingin. Tapi dilihat lihat sikap Den Araf gak terlalu dingin, saya rasa ia bisa ceria. Sikap den Araf kepadaku juga ramah. Aku jadi ingin bertanya tanya padanya, Tapi Aku kan perempuan merasa malu, lagi pula Aku hanya asistennya." Ucap batin Amira sambil memandang Araf.

Amira ke ingat pesan Bapak Bos bahwa Amira harus bisa membuat Den Araf ceria.

"Kayaknya sih Den Araf itu orangnya pemaaf. kalau tanya tanya gak papa kali yah." batin Amira berbicara.

Den Araf, Saya minta maaf sebelumnya, Kenapa Aden itu selalu memisahkan diri dari kakak kakak Aden. Apakah Den Araf merasa tertekan melihat kelakuan kakak kakak Aden yang membuat Aden menjauh dari mereka." Tanya Amira pelan dengan lemah lembut.

"Menurut mu." Araf membalikkan posisi badannya ke arah Amira sambil menatap serius.

"Kok Aku tidak merasa takut sedikit pun ketika Araf menatapku begitu tajam. Malah hatiku senang wajahku dipandang oleh den Araf.

"Menurutku karena perilaku Kakak kakak Aden itu tidak memiliki moral. Hobinya menghina, mencaci, pokoknya merendahkan orang lain dengan kesombongannya." Ucap Amira dengan lantang.

Araf terkejut dengan jawaban Amira yang tepat.

"Kok kamu tau prilaku ke 4 Kakak tiriku? Padahal kamu baru bekerja disini." Amira sedikit kebingungan untuk menjawabnya. karena ia takut yang diucapkannya salah.

"Saya memiliki pengalaman kerja jadi Guru TK. jadi Aku bisa melihat perilaku yang dimiliki seseorang sesuai dengan karakternya."

"Bagus dong. Kalau begitu Mbak juga tau dong prilaku Aku?" Tanya Araf sambil mengetik keyboard komputernya.

"Bisa, Den Araf itu orangnya baik, pemaaf, rajin beribadah lagi." Ucap Amira dengan senyuman manisnya.

"Yakin! Mbak yakin bahwa itu prilaku saya."

"Ya kin..." Ucap Amira ragu ragu.

Amira berasa bosen berbicara dengan Araf yang wajahnya pokus terus pada komputer yang membuatnya kehilangan ide untuk topik pembicaraannya.

"Kalau boleh jujur, Aku sebenarnya sangat membenci mereka semua, Mamah Sintia dan Ke 4 kakak tiriku." Ucap Araf sambil memutarkam badannya ke arah Amira.

"Oh ternyata Araf juga sangat membencinya." ucap batin Amira.

"Kamu juga tau sendiri alasan Aku membenci Mamah tiriku dan kakak kakak tiriku, kamu bisa melihatnya dari sikap mereka itu!"

Amira mengangguk.

"Saya rasa Aden sayang sama Nyonya Sintia sehingga Aden setuju dengan pernikahan Ayah Aden dengan Nyonya Sintia itu yang membuat Nyonya Sintia dan Ke 4 anaknya tinggal disini!" Ucap Amira sambil nunduk.

Araf berhenti mengetiknya dan membalikkan badannya ke arah Amira.

"Aku sama sekali tidak merestui pernikahan Ayahku sama Mamah Sintia, Karena Pernikahannya digelar disatu hari ketika Mamahku dan Kakakku meninggal." Ucap Araf dengan wajah sedih karena keingat Ibunya dan Kakaknya yang telah meninggal dunia.

"Ibunya Araf dan Kakaknya Araf meninggal diwaktu Nyonya sama Bapak Bos menikah. Rasanya ada yang janggal dari kematian Ibu kandungnya Araf dan Kakaknya juga." Ucap Batin Amira.

"Maaf yah den Araf, Gara gara saya terlalu lantang dan tanya tanya tentang kehidupan dirumah ini, Aden jadi sedih karena keingat lagi sama ibunya Aden dan kakak Aden. Amira doakan semoga Ibunya den Araf bersama kakaknya tenang dialam sana Amiin." Ucap Amira yang sedang berusaha mencari perhatian Den Araf.

Araf seketika diam dan menatap Amira.

"Makasih yah." Ucap Araf dengan ringan lalu Araf memfokuskan dirinya lagi tuk mengerjakan tugasnya.

Amira dari jauh memandang Araf terus!

"Entah kenapa hatiku senang disaat Aku terus memandangmu, Mulutku juga menyuruhku memberanikan diri untuk berbicara kepadamu den Araf. Rasanya Aku bukan lagi Amira yang selalu minder dari cowok, Bukan lagi Amira pemalu, Amira sekarang sudah terbawa oleh perasaannya." Ucap Batin Amira.

Araf merasa dirinya diperhatikan yang membuat dirinya tidak bisa pokus untuk menyelesaikan tugasnya. ia merasa salah menyuruh Amira menemaninya. Saat Araf menengok ke Amira, Amira memalingkan wajahnya yang tadinya memandanginya Amira berusaha menoleh ke arah lain dengan berpura-pura tidak tahu.

"Ku kira kamu dah tidur!" sahut Araf.

"Masa Aku harus tidur, kan Aku lagi kerja, kerjaku sekarang memandangmu, Eh maksudku menemani Aden mengerjakan tugas skripsi." Amira merasa malu dan terciduk karena memandangi Araf, hingga Amira salah ucap karena pikirannya mulai koslet disebabkan dirinya sudah terasa mengantuk.

Araf hanya diam sejenak sambil melihat wajah Amira yang jadi salah ucap.

Amira mulai meluap terus menandakan dirinya mulai mengantuk berat.

Mita dan Mbak Lisa dikamarnya sedang berbicara hangat.

"Bi, Mita Pengen tau deh, sebelumnya Nyonya besar rumah besar ini siapa bi?" Tanya Mita

"Nyonya sebelumnya Istri pertama Bpk. Ruben Sadino dan Ibu kandung Araf Namanya Bu Samidah. Dia Nyonya yang sangat baik, Perhatian, dan dari pembicaraannya sangat sopan dan ramah. dalam diri Bu Samidah tidak ada kesombongan walaupun ia jadi nyonya dirumah ini. Sayang, Bu Samidah yang memiliki Akhlak mulia itu Allah mengambilnya dari pelukan Bapak Bos dan Araf. Bu Samidah telah meninggal 3 bulan yang lalu. Satu hari setelah kematian Alm. Bu Samidah. Bapak Bos menikahi Bu Sintia dengan dilaksanakan secara serentak. Hingga Akhirnya Bu Sintia jadi Nyonya disini." Bibi Lisa bercerita pada Mita yang haus fakta.

"Andaikan Nyonya rumah ini masih Bu Samidah. Mita merasa betah banget kayaknya. Sayang, Nyonya sekarang songong dan Angkuh banget." Ucap Mita dengan kesal.

"Kita hanya berperan sebagai pembantu disini. Tugas kita hanya mengikuti keinginannya, selagi kita bekerja dengan baik. Insya Allah kita diperlakukan baik juga." Ucap Bibi Lisa mendamaikan hati Mita.

"Kasihan Bu Samidah meninggal lalu ditinggal menikah lagi oleh suaminya."

"Iya kita doakan semoga Bu Samidah dan Kakaknya Araf tenang dialam sana."

"Amiin" Ucap Bibi Lisa.

"Ngomong ngomong kak Amira kok belum datang datang sih, inikan udah jam 10 malam." Ucap Mita Sambil melihat jam dinding

"Emangnya Amira itu kemana?"

"Tadi sih bilang kak Amira disuruh temenin den Araf mengerjakan tugasnya." lanjut Mita.

"Apa perlu Aku jemput kakak yah!"

"Sebentar lagi selesai, Araf itu kalau begadang paling sampai jam 10." Ucap Bibi Lisa

"Sebelum Aku sama Kakak bekerja disini, Bibi suka menemani Den Araf yah?" Tanya Mita.

"Sering, hampir setiap hari, Bibi disuruh sama Bapak Bos tuk menemani den Araf. den Araf itu sering menyendiri dan suka larut dalam kesedihan. Bapak Bos khawatir dengan batin Aden, jadi saya menggantikan posisi Alm.Ibunya Aden. Ibunya selama hidup ia selalu memanjakan Den Araf." Ucap Bibi Lisa.

"Oh jadi begitu yah!" Mita mengangguk ngangguk setelah mendengar cerita Bibi Lisa.

"Dikamar sebelah Herwan, Pandi, Rayan, dan Bayan masih bergadang main Game."

Malam ini kita berpesta lagi." Teriak Pandi.

"Besok kita ketempat ini, katanya tempat disini itu lagi hits dan banyak cewek cewek cantik." Ucap Herwan.

"Kak besok Aku gak ikut dulu yah kak, karena ada janji dengan pacar Aku." Ucap Rayan.

"Udah, tinggalin dulu! jangan takut diputusin adikku, cewek itu banyak." Ucap Pandi yang paling Aktif.

"Iya, Rayan jadi laki laki itu harus kuat jangan lemah kayak Adik tiri kita yang sebelah tuh." Ucap Herwan Kakak pertamanya sambil menyinggung Araf karena ke 4 kakak tirinya selalu mencaci maki dan membenci Araf.

Mereka ber 4 saling ketawa terbahak bahak.

Herwan, Pandi, Rayan, dan Bayan selalu mempergunakan hartanya dengan berpoya poya, mabuk mabukan, main cewek, dll. Mereka berempat telah masuk dalam pergaulan bebas.

Ke 4 anak tirinya Bapak Ruben selalu heboh setiap malam yang membuat Araf terganggu, karena kamar Araf dengan Kamar Base camp kakak kakak tirinya itu kamarnya berdampingan dengan sebelahannya. Araf selalu terganggu disaat pokusnya belajar. Karena kesabaran yang ia miliki sekarang membuatnya selalu tabah dan bisa hidup masing-masing dengan Saudara tirinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!