Waktu pagi telah tiba. Amira, Mita, dan Bibi Lisa sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan pagi. Bibi Lisa pergi ke kamar anak-anak Bos untuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke kampus.
"Amira, Mita. Kalian berdua lanjutkan ya, Bibi mau ke kamar anak-anak dulu. Jika masakannya sudah matang, kalian berdua tinggal membawanya ke ruang makan saja," kata Bibi Lisa sebelum pergi.
Amira dan Mita menyiapkan makanan yang akan dihidangkan.
"Kakak semalam ngapain aja sih di kamarnya Araf?" tanya Mita.
"Kakak hanya diam di kursi sofa dan menemani Araf ngobrol juga sih," jawab Amira.
"Aku menunggu kakak di kamar gak datang-datang juga, Mita kira Kakak ketiduran di kamar Araf," ucap Mita sedikit kesal.
"Kakak semalam balik ke kamar."
"Jam berapa sih selesainya? Mita gak tau kalau kakak udah balik ke kamar, tau taunya pagi sudah ada," tanya Mita.
"Kakak balik ke kamar jam 22.30 kalau gak salah."
"Itu sih udah larut malam, emang gak papa ya berduaan di kamar sama Araf di malam hari. Araf itu kan cowok," ucap Mita menakut-nakuti Amira.
"Sebenarnya sih, aku juga takut ada fitnah. Tapi Araf akan bertanggung jawab juga kalau memang ada salah paham," jelas Amira.
"Maksudnya tanggung jawab, Araf siap menikahi Kakak gitu?" tanya Mita dengan keras karena terkejut.
Amira dengan cepat menutupi mulut Mita.
"Jangan kencang-kencang kalau ngomong. Lagi pula, Araf gak mencintai kakak. Mana ada mau bertanggung jawab dengan menikahinya. Maksud kakak, Araf memiliki saksi jika ada salah paham. Lagi pula kan emang begini, tugas asisten itu melayani majikannya. Kakak kan disuruh melayani Araf, anak kandung bos," jelas Amira panjang lebar kepada Mita.
Tiba-tiba, Bos datang menghampiri Amira yang sedang berbincang dengan Mita di dapur.
"Pagi Amira, Mita," ucap Bos.
Amira terkejut karena Bos tiba-tiba berdiri di sampingnya. Begitu juga Mita.
"Pa pagi Pak," ucap Amira dengan ragu, diikuti Mita.
"Mita, bapak minta tolong. Bawakan roti ke meja makan ya, dan jangan lupa kamu oleskan selai di rotinya," minta Bos.
"Baik pak," jawab Mita dan pergi ke ruang makan untuk menyajikan roti selai.
Bos mencari waktu untuk berbicara dengan Amira tanpa ada Mita di sekitarnya.
"Kamu semalam temani Araf belajar ya?" tanya Bapak Bos.
"Iya pak, tapi Amira semalam hanya disuruh Aden Araf untuk menemaninya saja," jawab Amira dengan ketakutannya karena merasa bersalah dengan kelakuannya semalam yang tanpa disadari.
"Santai saja. Dengan begitu, saya berharap kamu bisa membuat Araf ceria lagi," ujar Bos.
"Kamu bisakan temani Araf pergi ke kampus juga?" Tanya Bapak Bos.
Amira terkejut.
"Emangnya harus yah Pak?"
"Kamu kan Asistennya dari anakku Araf. ya kamu harus bisa melayaninya setiap saat. Semoga saja dengan begitu Araf tidak sendirian terus. Saya sudah capek menyatukan Araf dengan kakak-kakaknya supaya ia tidak larut dalam kesedihannya, tapi dia malah menjauh," keluh Bos pada Amira.
"Saya sih mau-mau saja Pak!"
"Saya yakin, kamu adalah satu-satunya asisten yang bisa membuat Araf ceria lagi," ujar Bos sambil memegang kedua pundak Amira.
Amira hanya mengangguk-ngangguk dengan rasa malu.
"Sebenarnya Aku senang banget kalau kemana-mana sama Araf terus, tapi aku takut saja membuat kesalahan lagi. Apalagi, salah tingkah di depan Araf. Kejadian semalam juga membuatku kepikiran. Aku digendong Araf," ucap Amira dalam hatinya dengan senyum-senyum malu.
Amira membawa makanan untuk dihidangkan di meja makan keluarga.
Keluarga Besar Bapak Ruben Sadino makan bersama.
Setelah menyantap sarapan yang disajikan Amira dan Mita. satu persatu anggota keluarga pada pergi.
Bapak Ruben berangkat ke kantor dan pamitan dengan istrinya Sintia.
Herwan, Pandi, Rayan, dan Bayan sudah siap pergi ke kampus.
"Amira.. Mita...Tolong Bawakan tas Anak anak yah!" Teriak Nyonya Sintia.
Amira mengambil tas Araf sedangkan Araf sudah ditidurkan di kamarnya, membawa 4 tas milik Herwan, Pandi, Rayan, dan Bayan.
"Kak, bantuan Mita ini bawa tas ini berat kak."
"Iya.. iya.." Amira mengambil satu tas ditangan Mita.
"Kakak sih enak cuman ngurusin Den Araf saja, sedangkan Aku harus melayani ke-4 anaknya Nyonya."
"Mereka ber 4 kan tidak terlalu manja, sedangkan Araf itu anak manja, sampai sampai Aku semalam nungguin Araf ngerjain tugasnya. lah kamu nyantai." Amira dan Mita berbincang sambil menuruni tangga.
"Iya sih, tapi kakak senang kan bisa berduaan sama Araf. Kakak kan cinta sama Araf.
"Kakak gak cinta, lagi pula Araf itu majikan Kakak, gak cocok lah."
"Gak cinta? Mita lihat ada cinta dimata kakak."
"Masa sih." Amira merasa tersinggung sambil meraba raba kedua matanya.
"Ini nyonya tasnya." Ucap Mita dihadapan Nyonya Sintia.
Herwan, Pandi, Rayan, dan Bayan Pergi duluan ke kampus naik motor, karena kebiasaan mereka ber 4 nongkrong dulu sebelum masuk kampus. Sedangkan Araf berangkat belakangan. Araf berangkat ke kampus diantar sopir pribadinya.
"Den, Ayo masuk!"
"Entar dulu Om, Nunggu Bibi bawakan tas ku."
"Tasnya sudah ada di dalam mobil." Ucap Pak Oni supir pribadinya Araf.
"Tumben." Araf masuk kedalam mobil.
Ketika masuk kedalam mobil, ada Amira sedang duduk didalam mobil.
"Mbak, Mbak kok ada didalam mobil saya?"
"Maaf Den, Saya disuruh Bapak untuk menemani Aden ke kampus."
"Gak perlu mbak, Mbak kalau disuruh Ayah saya gak usah didengerin, Dia hanya berpura-pura baik." Araf mulai kesal.
"Mending Mbak keluar dan kerjakan tugas Mbak dirumah saya, Bersih bersih kek apa kek." Ucap Araf dengan marah marah.
"Sikap Araf kok Beda dengan Sikap Araf yang semalam." Amira bertanya tanya dalam hatinya.
"Pak Oni kok biarin Mbak ini masuk sih?"
"Saya disuruh Bapak juga Den!"
"Berarti Pak Oni dan Mbak Amira Bekerja sama dengan Ayah. Kan Pak Oni tau kalau saya gak suka diatur atur sama Ayah. tega yah kalian padaku."
Araf keluar dari mobilnya dan pergi ke Kampus naik ojeg.
"Araf tunggu..." Pak Oni memanggil Araf.
"Pak Oni gimana? Aku gak tau kalau sikapnya Araf itu gampang berubah!" Ucap Amira merasa Bersalah.
"Den Araf memang semenjak Ayahnya menikah dengan Nyonya Sintia ia tidak menganggap Ayahnya lagi. Kalau kita melakukan apapun tanpa disuruh oleh Aden harusnya jangan! Apalagi tadi Mbak bilang disuruh Bapak Bos." Ucap pak Oni menjelaskannya.
"Oh begitu yah, Jadi gimana sekarang yah pak Oni?" Amira merasa bersalah.
"Nanti Mbak minta maaf langsung aja pada Den Araf ketika sudah pulang." Ucap Pak Oni.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments