Abah Amar dengan terpaksa membatalkan rencana jual beli sawah yang telah ditawarkan sebelumnya.
"Pak Anwar saya mau bicara sebentar sama Bapak."
"Baik Yo!" Abah Amar dan Pak Anwar pengusaha sukses berbincang ditempat sepi.
"Pak sebelumnya saya meminta maaf sebesar besarnya, dengan terpaksa saya ingin membatalkan Jual beli Sawah." Ucap Abah Amar dengan terpaksa.
"Lah kenah Pak, Bukannya udah ada kesempatan?" Pak Anwar terkejut.
"Saya memang sedang butuh uang buat bayar hutang. Tapi sawah ini gak bisa saya jual, Sawah ini satu satunya sumber makanan kami."
Dengan muka masam Pak Anwar sedikit kecewa, dalam kekecewaan. dalam kekecewaan pak Anwar juga menawarkan bantuan untuk Abah Amar.
"Baik, Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik sama Sawah Bapak, Tapi saya berniat ingin membeli sawah bapak Amar karena saya hanya ingin membantu Bapak untuk melunasi hutang Bapak."
"Iya pak Anwar maafkan saya. Saya juga terpaksa."
"Apakah saya masih bisa membantu bapak untuk membayar hutang hutang Bapak?" Pak Anwar sudah terpikat hatinya oleh putri Abah Amar yang cantik Alami tanpa make up.
"Pak Anwar mau membayar hutang Saya? Atas dasar apa ya pak Anwar ingin melunasi hutang saya?" Hati Abah Amar mulai bertanya tanya.
"Saya terpikat oleh kecantikan anak Bapak. Saya berniat ingin meminangnya." ucap Pak Anwar dengan serius
"Anak saya Mita? Mita yang barusan ngobrol sama bapak, Mita itu adiknya Amira. Kasian Amira kalau dilangkahi Adiknya Mita." Dengan senyum yang gombal yang menciptakan suasana bercanda sambil memegang pundak pak Anwar seperti yang dilakukan kepada sahabatnya.
"Oh enggak, saya ingin meminang putri bapak yang pertama Amira!" Ucap Pak Anwar dengan sungguh sungguh.
"Amiraa!!!" Abah Amar terkejut dengan matanya terbuka lebar sambil menatap pak Anwar.
"Iyyaa, apakah bapak merestuinya?"
"Tapi kan Anak saya belum tentu mau, nanti saya tanya dulu pelan pelan ke Anak saya, jika Amira mau saya akan kabari Pak Anwar. Terimakasih atas tawarannya!"
"Baik, Saya pamit dulu Pak Amar. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Jawab Abah Amar sambil sedikit melamun karena gak disangka Putrinya dapat mengikat seorang pemuda kaya seperti pak Anwar.
"Amira, Mita Kalian kesini mau ngapain?" Tanya Abah Amar dari jauh.
"Biasa nih kak Amira ajak Mita ke sini mau bantu bantu Abah menanen padi." Ucap Mita sambil mengambil padi yang sedang dipadi dengan semangat.
"Tapi ada untungnya Aku ikut kakak bantu bantu Abah ke sawah, Aku jadi ketemu sama Pak Anwar pemuda sukses yang super tampan." Ucap lebay Mita sambil menempelkan kedua tangan dipipinya, hatinya berbunga bunga.
"Akhh kamu itu, Kakak kamu juga biasa biasa saja." Ucap Abah Amar sambil mengambil padi untuk perontokan.
"Tapi kan Abah dia itu tampan pengusaha sukses juga wanita mana sih yang tidak tergila-gila olehnya, jika Aku sampai meluluhkan hatinya, kita juga pasti kebagian dong hartanya."
"Iya kebagian susahnya. emang gampang gitu dapat cowok yang tampan dan sukses. Apalagi kita hanya wanita kampung punya muka juga pas pasan."
"Gak gitu juga kak, banyak kok pemuda sukses mencari wanita sederhana seperti kita kita, kalau wanita cantik elegan kebanyakan hanya mengincar hartanya. Kalau Aku sudah mencintai satu laki laki akan tulus." Ucap Mita sambil menghayal.
"Kebiasaan deh ngahayal Mulu kerjaannya, kerjain tuh padi biar cepat selesai." Amira mengambil setangkai padi yang belum dirontokan lalu dilemparkan kemuka Adiknya yang sedang menghayal.
"Iihh kakak, Gak mau lihat orang lain seneng deh. Aku tuh sedang ngebayangin jadi istri sultan itu enak banget kak."
"Sudah siang mimpi Mulu!" Ucap Amira sambil mengerjakan padi yang sedang dirontokan.
Mita cemberut "Kakak nih bikin gak mut aja."
Abah Amar, Amira dan Mita pulang kerumah karena padi suda dipanen tinggal siap dijemur besok.
Didepan Rumah Amira dan Mita sedang santai meminum teh sambil ngobrol santai.
"Ternyata capek juga kerja disawah tuh, hasilnya cuman cukup buat makan saja."
"Syukuri aja ini rezeki dari Allah."
"Aku jadi kasihan pada Abah yang setiap hari pergi Kesawah tak kenal lelah untuk mendapatkan padi hanya buat kita makan." Mita menyadari pekerjaan Abah itu pedih.
"Abah sudah biasa dari dulu. Ketika kita masih kecil ikut Abah sama Emak Kesawah hanya main main saja, dan sekarang kita Kesawah lagi bantu persiapan panen padi saja capenya huh." Amira mengeluh kecapean.
"Iya kak, Aku juga rasanya pengen cari pekerjaan lain yang menghasilkan uang banyak supaya bisa bantu Abah cari uang." Mita menyadari jikalau pekerjaan yang sedang digelutinya sebagai Guru TK sama sekali tidak membantu perekonomian Abah sama Emaknya.
"Kamu mulai sadar kan kenapa kakak ingin resign dari mengajar TK. Bukan kakak nyerah tuk menggapai impian jadi Guru, justru keadaannya kurang memadai untuk kita berjuang."
Tiba tiba Abahnya mendengar obrolan kedua putrinya sehingga Abah Amar terharu dengan niat mereka berdua yang masih menyayangi Abah sama Emaknya sehingga mau berkorban mencari uang untuk melunasi hutang hutangnya.
"Abah... lagi ngapain dibelakang pintu." Mita melihat Abahnya sedang berdiri dibelakang pintu.
"Oh Abah mau ikut ngobrol juga. Abah senang melihat putri putri Abah yang cantik ini bisa menyelesaikan pekerjaan Abah tadi. Terimakasih yah." Abah menghampiri kedua putrinya dan langsung merangkulnya.
Abahnya berbisik pada Amira,
"Abah pengen ngomong sesuatu padamu."
Amira bertanya.
"Apa Bah?"
"Mita, Abah dan Amira mau ngomong berdua, Abah tinggal dulu gak papa yah."
"Gak papa Bah." Jawab Mita dengan singkat.
Abah dan Amira berdiri dan pergi ke gubuk yang ada disamping Rumahnya.
"Mau ngomong apa sih Bah, kayaknya serius sampai sampai Mita ditinggal.
"Kamu tau kan pemuda tadi itu seorang Pengusaha sukses. Dia menawarkan sesuatu kepada Abah."
"Emangnya menawarkan Apa Beh." Ucap Amira mulai serius memperhatikan perkataan Abahnya.
"Dia nawarin untuk Abah kalau dia itu siap untuk melunasi hutang hutang Abah asalkan dengan syarat Pemuda itu ingin menikahmu."
"Denganku, Gak salah duga Bah, bukannya pemuda itu tadi ngobrolnya sama Mita buka samaku."
"Sebenarnya pemuda itu menyukaimu, Itu juga kalau kamu mau, Kalau kamu jadi menikah dengan Pak Anwar, kamu bisa melanjutkan karier mu jadi Guru TK hingga jadi Guru PNS nantinya."
"Amira gak bisa Bah, menikah itu bukan hanya soal masa depan saja, tapi soal hati yang belum terbuka, bahkan Amira tidak menyukai laki-laki itu."
"Besok pemuda itu datang kerumah kita meminta jawaban darimu!"
"Abah gak usah khawatir dengan hutang Abah, biar Amira sama Mita yang Akan membayar semua hutang Abah. Amira bisa kok melunasi hutang Abah tanpa bantuan pemuda tadi."
"Ya udah jika memang gak mau, besok kamu tolak aja tawarannya dengan ngomong baik baik yah!"
"Baik Bah." Abah pergi meninggalkan Amira.
Amira digubuk sendirian sambil mengeluhkan keadaaanya.
"Ya Allah kemana Aku harus cari pekerjaan yang gajinya tinggi supaya bisa melunasi hutang hutang Abah. Masa Aku harus menikah dengan laki-laki yang cuman kenal sekali, lagi pula Amira sama sekali tidak menyukai laki-laki itu. Walaupun laki-laki itu memang tampan dan sukses, Entah kenapa hatiku sama sekali tidak menyukainya kayak ada kebusukan dalam diri pemuda itu, tapi Aku gak boleh buruk sangka padanya." Ucap Batin Amira yang sedang sendirian digubuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments