Episode 11

Amira dan Mita membantu Mbak Lisa membersihkan halaman rumah. Keduanya memotong rumput di depan rumah, sementara Mbak Lisa membersihkan rumput yang sudah dipotong.

"Bibi, selama ini bibi bekerja sendirian di sini? semua pekerjaan rumah besar ini bibi lakukan sendiri?" tanya Amira.

"Iya, tapi bibi melakukannya sebisa bibi. Dulu ada tukang kebun Pak Barka dan Art Mbak Rini yang membantu mengerjakan di sini. Namun, setelah berganti pemilik rumah, Pak Barka dan Mbak Rini mengundurkan diri karena merasa tidak nyaman." jelas Mbak Lisa.

"Aku tahu alasannya. Pembantu di rumah ini mengundurkan diri karena Nyonya sekarang lebih jahat dari sebelumnya, bukan?" ucap Mita dengan lantang.

"Shhh, jangan berbicara keras-keras, nanti ada yang mendengar." bisik Mbak Lisa.

Waktu sudah senja menjelang Magrib. Herwan, Pandi, Rayan, dan Bayan pulang sambil bersorak-sorai, membuat Mbak Lisa resah.

"Sedikit lagi kalian berdua selesai, bibi akan menemani keempat anak ini dulu." ujar Mbak Lisa.

"Maksudnya beda bagaimana?" tanya Amira pada Mita, membicarakan perbedaan sikap antara Anak Bapak Bos dengan keempat anak tirinya.

"Araf, anak kandung Bapak Bos terlihat terus menerus menjalankan kegiatan keagamaan seperti sholat dan mengaji dengan penuh keteraturan. Sedangkan keempat anak tirinya terlihat suka berisik dan tidak pernah menunjukkan perilaku cerdas. Selain itu, Araf juga tampan dan berbeda dari keempat anak Bapak dan Bu Sintia." jelas Mita.

"Iya, dia memang baik dan sopan santun. Itu saja." jawab Amira, merasa malu jika ditanya lebih jauh tentang perasaannya.

"Kalian berdua harus segera menyelesaikan tugas melunasi hutang Abah. Jangan terlalu memikirkan hal-hal seperti cinta-cintaan." ujar Amira.

"Jangan berhenti untuk mengejar cinta, Kak. Jangan sampai melewatkan kesempatan untuk mencintai dan dicintai. Selama tidak melanggar aturan, tidak ada yang salah mencintai." ujar Mita, mengusulkan Amira untuk mempejuangkan perasaannya pada Araf.

Amira punya janji untuk menemani Den Araf bergadang menyelesaikan tugas kuliahnya. Ia merasa gugup, malu dan Bahagia tercampur rasa, Hatinya sudah berdetak kencang apalagi sambil menghitung jam saat akan bertemu dengan Araf.

"Sudah waktunya kamu pergi ke kamar Araf." ujar bibi Lisa.

Amira mengetuk pintu kamar dan kemudian masuk dengan rasa malu.

"Masuk...!"

"Mbak boleh menunggu disana sambil duduk di kursi sofa." Ucap Den Araf dengan nada datar.

"Baik den."

"Bibi Lisa kalau menemani Aku setiap malam suka bawakan teh buatku!" Ucap Den Araf sambil menyinggung Amira.

"Oh saya ke dapur dulu yah den, Saya buatin dulu Teh buat Aden." Ucap Amira sambil terbangun dari duduknya.

"Ya silahkan."

Amira pergi ke Dapur untuk membuat teh. Didapur, Amira ketemu dengan Bibi yang sedang bersih bersih dapur.

"Bibi, Mita dimana bi?" Tanya Amira

"Mita barusan bawakan kopi dan cemilan buat anak anak." Ucap Bibi sambil mencuci piring di wastafel.

"Oh iya Amira, jangan lupa bawakan cemilan buat Aden. Selama saya yang selalu jaga Aden tiap malam saya suka ajak ngobrol, biar gak bosen soalnya selesainya itu jam 10 atau jam 11 malam. jika sudah selesai bantu Aden merapikan peralatan kuliahnya."

"Baik bi."

Amira masuk ke kamarnya Araf membawakan teh dan cemilan.

"Ini den tehnya sama cemilannya." Amira meletakkannya di mejanya.

"Iya terima kasih, Ngomong ngomong kamu juga sedang kuliah yah?" tanya Araf.

"Iya, saya mengambil kelas karyawan online untuk mendapatkan gelar Sarjana pendidikan. Saya ingin menjadi seorang Guru." jelas Amira.

"Aku rasa Mbak ini wanita baik baik. ia ingin jadi seorang sarjana tapi tidak punya uang buat biaya kuliah sampai sampai ia kuliahnya sambil bekerja. Sedangkan Aku beruntung bisa kuliah tanpa harus bekerja." Ucap Araf sambil melihat Amira terharu.

"Den kok Aden liatin Mbak mulu."

"Oh Aku hanya terharu saja, Saya rasa Mbak ini orang baik baik Beda dengan teman Mbak yang yang satu lagi yang membuatku kesal." Ucap Araf dengan tersenyum.

Amira semakin merasa terbuai oleh ucapan Araf, namun ia terlalu malu untuk mengakuinya.

"Apakah kamu kuat bergadang menemaniku?" Tanya Araf.

"Insyaallah kuat den."

Beberapa jam kemudian Matanya mulai lelah dan terasa mengantuk, tapi ia mencoba untuk tetap bangun dan matanya dibuka lebar lebar biar tidak mengantuk.

"Jika kamu merasa mengantuk, sebaiknya kamu tidur di kamarmu saja. Tidak perlu menemani aku." ujar Araf.

"Tidak, saya masih bisa terus bergadang." ucap Amira, mencoba keras untuk tetap kuat.

Namun, kekuatannya menurun dan matanya sudah tertutup oleh rasa kantuk.

Amira merasa nyaman berada di kamar Araf, mana mungkin ia menyia-nyiakan kesempatannya untuk selalu bersama Araf. Hingga akhirnya Amira memutuskan untuk bergadang dan menemani Araf.

"Sebagai asisten ku, Mbak harus kuat bergadang! Kalau Mbak memang tidak kuat, tidak perlu dipaksakan juga." Ucap Araf sambil fokus pada tugasnya.

Amira mencoba untuk berdiri dari duduknya agar tidak mengantuk. Lalu duduk lagi sambil memandang Araf.

"Alangkah baiknya Aku memandang Araf aja biar gak ngantuk. Araf kan tampan keberadaannya membuatku terpana, Aku yakin mataku tidak akan lelah memandangnya." Ucap Batin Amira.

"Laki-laki yang membuatku jatuh cinta hingga hatiku yang dulunya tertutup. Dia adalah laki-laki yang berhasil membuka hatiku. Apakah dia akan menjadi jodohku? Jika dia bukan jodohku, mengapa dia bisa membuat hatiku terbuka dan luluh padanya." Ucap Batin Amira sambil memandang Araf yang sedang fokus pada tugasnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!