Nyonya Sintia membawa Kertas yang didalamnya berisi peraturan yang harus dipatuhi oleh seorang Art dirumah ini.
"Amira...Mita..." Teriak Nyonya besar memanggil pembantu barunya.
Amira dan Mita bergegas menemui Nyonya diruang tengah.
"Ada apa Nyonya?" Amira dan Mita menghampiri Nyonyanya sambil tertunduk ia takut dengan wajah yang cemberut yang dipenuhi amarah dalam diri Sintia.
"Ini Peraturan yang berlaku dirumah ini untuk kalian berdua."
Amira mengambilnya dengan tangan kanan.
"Terimakasih Nyonya."
"Kalian boleh kembali lagi." Ucap Nyonya sambil naik tangga.
"Coba Aku lihat kak peraturannya apa saja!" Ucap Mita sambil tangannya mengambil kertas yang dipegang Amira.
"Tidak boleh bangun kesiangan, Melayani dengan tepat waktu, Tidak boleh masuk ruangan kerja dan kamar Bapak/Nyonya tanpa izin, Tidak boleh keluar rumah tanpa ada keperluan mendadak, Tidak boleh main Hp saat kerja, Cuman begitu peraturannya."
Didalam kamar, Araf sedang mengerjakan tugas skripsi. Amira datang menemui Araf membawa secangkir teh.
"Permisi tuan, Boleh saya masuk!" Ucap Amira dari belakang pintu kamar Araf.
"Ya masuk aja."
Amira masuk dan menaro secangkir teh dimeja tempat belajarnya.
"Tuan, ini teh nya diminum yah!" Ucap Amira sambil memegang nampan berdiri dipinggir Araf.
"Iya, nanti diminum."
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi?"
Araf melirik Amira dan menatap dengan tajam.
Amira merasa gemetaran, entah apa yang membuatnya gemetaran apalagi jantungnya berdetak kencang melihat Araf menatapnya dengan dekat.
"Malam ini kamu bisa gak temenin Aku untuk bergadang karena Aku banyak tugas." Ucap Araf dengan sedikit tegang karena ia berbicara dengan lawan jenisnya yang seumuran dengannya.
"Bisa tuan." Ucap Amira membelokkan badannya lalu pergi keluar.
"Aduh jantungku tak terkendali, dari Aku berdiri didekatnya sampai keluar jantungku masih berdetak kencang dan hatiku mulai mengeluarkan harum bunga. Apakah ini yang dinamakan cinta?" Ucap batin Amira sambil mengelus dada bagian kirinya sambil tersenyum.
Disisi lain Nyonya Sintia sedang membuat rencana supaya keinginannya tercapai yaitu ingin menguasai semua harta ayahnya Araf.
Pada suatu ketika Nyonya Sintia sedang mencari sesuatu ditempat kerja Bpk. Ruben. Sintia mencari harta yang paling berharga yang disembunyikan Oleh suaminya.
"Aku tau benda itu sangat berharga, jika Aku mendapatkannya maka akan ku jual dengan harga miliaran." Ucap ganas Sintia dengan kerakusannya sambil membukakan laci laci meja.
Sintia yang sedang disibukkan oleh rencana yang setiap hari ia lakukan dan bekerja sama dengan Orang pintar.
Sintia keluar rumah dan menemui Orang pintar yang selalu membantu Sintia dan bekerja sama untuk mendapatkan keinginannya yaitu Harta yang berharga yang tersimpan dirumah mewah tempat tinggalnya.
"Permisi Bah." Sintia memasuki tempat bertapanya Seorang pria yang telah menjadi gurunya.
"Iya, silahkan masuk!"
Sintia masuk dan duduk didepan Orang tersebut bernama Bah Rajam.
"Apakah kamu bisa menemukan benda yang saya suruh carikan?" Tanya Bah Rajam dengan tegas dengan matanya melotot.
"Belum Bah, Bah kalau boleh tau benda itu bentuknya seperti apa sih?" Tanya Sintia
"Benda itu bukan benda sembarangan hanya orang memegang benda itu yang bisa merasakan dan melihat bentuk dari benda tersebut."
"Saya sudah mencari disetiap tempat yang suami saya kunjungi, tapi Aku gak menemukan apapun Bah." Ucap Sintia mengeluh.
"Benda itu tidak mungkin disimpan sembarangan karena benda itu sangat berharga, Orang yang memiliki benda tersebut akan dikaruniai kesuksesan dan kejayaan terus." Ucap Bah Rajam sambil berdiri.
Sintia langsung berdiri.
"Pantas saja harganya tak terhingga, berarti benda misterius itu bisa membuat kita bergelimang harta." Ucap Sintia dengan sikap rakusnya.
"Maka dari itu, saya sengaja membuatmu dinikahi oleh Seorang pengusaha Kaya raya seperti Pak. Ruben. Asalkan kamu tau yah Benda yang saya suruh cariin dirumah Ruben itu hanya dimiliki oleh 4 Orang pengusaha sukses yang ada di Indonesia. Salah satunya dari 4 orang itu, Ruben Sadino salah satunya" Ucap Bah Rajam menjelaskan detail.
Ternyata pernikahan Sintia dan Ruben Sadino itu karena Sintia memiliki tugas dari Bah Rajam. Bah Rajam itu adalah orang tuanya Sintia. Satu keluarga Bah Rajam, Sintia dan Ke 4 anaknya bekerja sama untuk menjatuhkan keluarga Bpk. Ruben Sadino.
Kembali lagi ke Araf. Araf adalah Anak yang korban dari rencana jahat dari Sintia dan anak anaknya. Walaupun Sintia selalu berusaha untuk menyingkirkan Araf. Usaha Sintia selalu gagal. Araf tidak pernah keluar dari Rumahnya. Setiap Sintia Ibu tirinya Araf membuat rencana jahat kepada Araf, Semua rencananya selalu gagal dan tidak pernah mempan. Araf yang selalu mengurung dikamarnya karena batinnya selalu tersiksa oleh ulah Ibu tirinya dan kakak kakak tirinya. Araf memiliki pelindung dalam jiwanya yang membuatnya tabah menghadapi semua masalah yang dibuat buat oleh Ibu tirinya. Mungkin keimanan yang dimiliki Araf yang membuatnya tidak pernah menyerah dengan cobaan yang dihadapinya. Setiap sore Araf selalu rutin pergi ke masjid tuk menemui Ustadz Yusuf, karena kegalauan Araf dapat terobati ketika dikasih penceramahan dari Ustadz Yusuf itu sendiri. Entah apa yang disampaikan Ustadz Yusuf kepada Araf sehingga Araf mulai galau dan memikirkan maksud dari perkataan Pak Ustadz Yusuf tadi sore.
"Kamu akan bertemu dengan orang yang memiliki sikap cepat kaki ringan tangan." Ucap Pak Ustadz dalam bayangan Araf.
"Yang dimaksud Pak ustadz siapa yah? Mungkinkah kedua pembantu itu? Aku tidak tahu ciri dari orang yang disebutkan Pak Ustadz itu." lanjut pikir.
"Arti dari "cepat kaki ringan tangan" itu kan orang yang suka menolong. Gak mungkin sih ke 2 pembantu itu, pertama Aku ketemunya juga membuatku geram padanya." Ucap Araf dalam hatinya sambil rebahan menatap atap kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments