Episode 9

Amira dan Mita masih diluar membersihkan teras rumah. Tiba tiba datang seorang pemuda bernama Ben Araf Anak kandung dari Bpk.Ruben Sadino.

Ben Araf yang biasa dipanggil Araf memasuki Rumahnya. ketika didepan rumah ketemu sama Amira dan Mita.

"Kak, siapa tuh kemari?" Mita menatap pemuda yang baru masuk dari gerbangnya.

"Gak tau. kan kita gak kenal sama Anggota rumah ini." Amira menjawab sambil menyapu.

"Itu Anaknya Bos kali." Ucap Amira dengan ringan.

"Bukan kak, Aku kenal sama 4 anaknya. coba perhatikan mukanya beda." Ucap Mita sambil menatap terus pemuda yang datang menujunya.

"Assalamualaikum." Ucap Araf dengan ramah.

"Waalaikum salam, Maaf mau ketemu siapa yah?" Amira menjawab dengan lemah lembut.

"Emangnya kalian siapa ya?" Tanya balik Araf

"Kami berdua Art dirumah ini." Jawab Mita.

"Oh pembantu baru yah? Perkenalkan saya Anak dari pemilik rumah ini." Ucap Araf sambil menyondorkan tangannya untuk bersalaman.

Amira mau ikut menyondorkan tangannya untuk menerima salamnya Araf.

"Tunggu dulu deh. anak, Bukannya anak dari pemilik rumah ini hanya berempat yah." Ucap Mita dengan tatapan sinis.

"Oh salah, anak pemilik rumah ini saya satu satunya. yang berempat itu kakak tiri saya."

"Maksudnya Gimana sih?" Mita merasa pusing.

"Ngomong ngomong kalian bekerja disini sejak kapan yah?"

Mita terus menatap pemuda itu sambil memiringkan kepalanya dengan tatapan tajam.

"Ya, tadi pagi!" Ucap Mita

"Apakah kalian belum dikasih tau siapa saya dan siapa saja penghuni rumah ini?" Ucap Araf sambil mengangkat kedua Alisnya.

"Sudah, Penghuni rumah ini ada Bapak Ruben Sadino, Nyonya Sintia, Terus anak anaknya 4. Herwan, Pandi, Rayan dan Bayan, sama pembantu mbak Lisa juga Pak datpam belum sempat kenalan." Ucap Mita panjang lebar.

Ketika Mita menyebutkan Nyonya Sintia dan disebutkan ke 4 anak anaknya, Araf memalingkan wajahnya seakan akan tidak ingin mendengar nama nama mereka itu.

"Mita, ingat pesan kakak yang sopan!" Ucap Amira menyenggol Mita.

"Maaf yah Mas, Sebelumnya siapa nama Mas ini? Saya Amira dan ini Adik Saya Mita." Amira berusaha ramah pada pemuda yang bernama Araf.

"Saya Ben Araf bin Bapak Ruben Sadino. Oke sudah yah kenalannya." Araf masuk rumah dengan kembali bersikap dingin.

Amira dan Mita seketika diam sejenak.

"Eh tunggu dulu!" Mita menahan Araf masuk rumahnya dengan dihalangi oleh kedua tangannya.

"Gue gak yakin deh bahwa kamu Anaknya Bos besar." Mita malah mengajak bercanda.

"Terus...?"

"Terus Aku gak percaya." Ucap Mita menantang ucapan Araf.

"Siapa juga yang suruh kamu yakin! Aku gak perlu juga minta keyakinan darimu." Ucap Araf dengan mukanya mulai kesal.

"Dari Wajahnya begitu tampan mempesona, Apalagi saat dekat begini." Ucap batin Mita sambil menatap wajah Araf.

Ketika Amira menghampiri Mita untuk menasihati Mita yang kurang sopan agar tidak boleh bercanda dengan pemuda itu. Amira merasa malu dengan kelakuan adiknya yaitu Mita. Amira mendekati Mita tiba tiba ia terpeleset dan jatuh tersanjung kepangkuan Araf. Araf dan Amira saling tatap menatap tepat didepan Mita. Pada momen inilah hati Amira mulai terbuka, Yang awalnya Amira perempuan yang sulit untuk membuka hatinya pada pemuda pemuda tampan di luar sana, Kini Hati Amira mulai bergetar saat melihat ketampanan Araf dari didekat Wajahnya seperti ada kilau cahaya karena wajahnya selalu dibasuh air suci saat Wudhu. Amira hilang kendali dalam pelukan Araf sehingga salah tingkah.

"Oh maaf mas." Ucap Amira dengan pipinya mulai memerah menanggung rasa malu.

Mita melihat kakaknya pelukan dengan pemuda tampan yang ngeselin membuat Mita cemburu pada kakaknya hingga ia cemberut.

Pintu rumah kebuka, Ternyata Bibi Lisa keluar.

"Bibi...!" Ucap Araf.

"Den Araf sudah pulang!" Ucap bibi Lisa dengan tersenyum.

"Eh bibi." Mita merasa malu ketika bibi Lisa keluar.

Araf masuk ke dalam rumahnya dengan sikap dingin dan kesal.

"Bibi, Emang benar yah dia itu anak Pak bos." Tanya Mita dengan serius.

"Iya. Emang kenapa?"

"Tuh kan, Kakak bilang kamu harus sopan, Perasaan kakak dari tadi gak enak tau. gimana kalau dia ngadu sama Ayahnya Apalagi kalau sama Nyonya." Ucap Amira yang mulai gelisah.

"Kan Mita gak tau kak, Nyonya besar juga hanya memperkenalkannya pada 4 anak, kecuali pemuda itu gak dikenalin." Mita merasa menyesal.

"Kalian tenang aja kok, Dia itu namanya Ben Araf Saya menyebut dirinya dengan sebutan Den Araf anak Bpk. Ruben Sadino anak kedua dari kakaknya yang telah meninggal bersama ibunya. kini ia jadi anak tunggal yang akan menguasai warisan dari Ayahnya. Araf itu orangnya baik, tapi sekarang dia sering bersikap dingin pada orang orang yang disekitarnya, kecuali orang terhormat dan orang yang belum kenal ia hormati." bibi Lisa memperkenalkan Araf kepada Amira dan Mita hingga memuji mujinya.

"Pantas saja dia datang ramah, begitu Aku tanya tanya lama ia mulai bersikap dingin dan jutek, hilang deh ketampanannya." Ucap Mita.

"Emangnya kalian tanya tanya apa pada dia?"

"Biasa bibi, kenalan gituh." Ucap Amira.

"Kalau memang kalian punya salah atau salah bicara kepada Araf, Mendingan Kalian berdua dekati Araf dan meminta maaf padanya." Ucap Mbak Lisa dengan tersenyum manis.

"Pemuda itu! Ada apa dengan pemuda itu? Hatiku rasanya gak berhenti berdetak sedari Aku tersanjung tadi. Ada apa dengan hatiku? Apakah ini namanya jatuh cinta? Pemuda itu sangat tampan dan seperti ada sinar dalam wajahnya yang menyinari hatiku hingga hatiku terbuka oleh sinar diwajah pemuda itu." Amira bertanya tanya dengan hatinya yang tidak seperti biasanya.

Tidak lama kemudian Bapak Ruben pulang menggunakan Mobilnya.

"Amira, Mita kalian berdua sambut Bapak bos sana!" Amira dan Mita bergegas menuju Pintu depan untuk menyambut Bpk. Ruben Bos Besar.

"Assalamualaikum..."Bpk.Ruben masuk rumahnya sambil mengucapkan salam.

"Waalaikum salam." Balas Amira dan Mita berbarengan.

"Eh kalian berdua sudah bekerja yah?" Tanya Bapak bos

"Iya Pak kami kesini dari pagi." Ucap Amira sambil menudukkan kepalanya.

"Oke, Kalian udah ketemu sama Ibu Sintia langsung?" tanya Bapak Bos sambil mengangkat kedua Alisnya.

"Iya, Kami langsung diterima sama Nyonya langsung." Ucap Amira dengan lemah lembut.

Bapak mengajak Amira dan Mita ke Ruang Tamu biar enak ngobrolnya.

"Karena kamu saya ajak kerumah ini karena saya punya tugas buat kalian berdua. Tugas kalian itu buat anak saya ceria, Tugas lainnya kalian berdua jadi Asisten Dari anak anak saya, Kalian sudah tau kan siapa anak kandung saya dan anak angkat saya?"

"Sudah pak!" Jawab Amira dilanjut oleh Mita

"Berlima kan Pak."

"Bukan semuanya, wnak kandung saya cuma satu yaitu Ben Araf atau dipanggil Araf saja."

"Iya tau kok Pak!" Balas Amira sambil mencubit pahanya Mita.

"Aww sakit kak." Ucap Mita dengan pelan.

"Kamu diam saja." Balas Amira.

"Sudah paham kan Tugasnya?"

"Sudah Pak! Terimakasih banyak Pak." Ucap Amira dengan sopan. Amira bersalaman pada Bapak Bos diikuti Mita.

"Kami permisi dulu yah Pak!" Amira melewati depan Pak bos sambil jalan agak jongkok demi menghormati Bapak Bos yang masih duduk dikursi.

"Ya Silahkan." Ucap Bapak Ruben.

Ibu Sintia mendengarkan Pembicaraan Antara Bapak Ruben dengan Amira dan Mita.

Nyonya Sintia begitu membenci Ben Araf Anak tirinya sendiri. Alasan besar kebencian Sintia Ibu tirinya Araf, Karena Araf adalah anak pewaris tunggal dari Bapak Ruben Sadino. Sintia tidak ingin Araf mendapatkan warisan dari Bapak Ruben pemilik perusahaan ternama. Sintia yang kini Nyonya sekaligus istri dari Bapak Ruben yang memiliki tujuan dari pernikahannya yaitu ingin menguasai harta dari suaminya sendiri. Sintia tidak pernah mencintai Bapak Ruben, Ia hanya mencintai Harta. Oleh karena itu, Sintia menikahi Bapak Ruben supaya harta warisannya jatuh pada dirinya juga pada ke 4 anaknya yaitu Herwan, Pandi, Rayan dan Bayan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!