Aku mondar-mandir menimbang ponsel di tangan. Haruskah aku menanyakan soal ini pada kak Juna? Tadi dia hanya bilang pergi dengan teman. Maksudnya temanku?
Ah. Aku gak tenang. Arsya kan, gak mungkin bohong. Tapi kenapa Hani pergi sama kak Juna? Mereka kan, gak dekat. Apa jangan-jangan...
Gak-gak-gak. Hani gak kayak gitu. Aku kenal Hani. Cuma.. aku butuh penjelasan sekarang.
"Telepon aja. Dari pada kepikiran."
Aku menoleh ke jendela. Arsya berdiri disana entah sejak kapan. Nampaknya dia tahu apa yang tengah kupikirkan.
Aku mendekat ke jendela dengan raut yang kuyakin berantakan karena kegelisahan. Apa aku berlebihan?
"Tapi.. kalau kak Juna nggak jujur gimana?"
"Ya artinya dia gak mau lo tau. He hides something."
Aku memukul telapak tangan dengan ponsel berulang-ulang, sembari berpikir dengan perasaan tak tenang.
"Oke. Gue telepon."
Aku menjauh dari jendela. Dengan mengigit kuku ibu jari, aku menempelkan ponsel ke telinga.
Suara sambungan telepon mulai berbunyi, membuatku semakin dag-dig-dug dan berulang-ulang menelan ludah.
[Halo, Ariva.]
"Ha-halo, kak."
[Ada apa, sayang?]
Aku menoleh ke jendela. Arsya udah gak ada disana. Suara kak Juna pula sangat tenang dan seperti tidak ada kejadian sesuatupun.
"Emm. Enggak, aku mau nanya, kakak udah beli hadiahnya?" Tanyaku memulai interogasi halus.
[Udah. Ini aku lagi di jalan pulang.]
Dia tadi bawa mobil, kan? Apa masih sama Hani?
"Sendiri?"
[Sekarang sendiri. Aku beli hadiah sama temen kamu yang tadi. Hani ya, kalau gak salah. Ha..haa.. aku lupa namanya.]
Kak Juna menertawakan dirinya sendiri, melupakan nama temanku yang bersamanya barusan. Tapi ternyata dia jujur, ya.
[Tadi pas di lapangan, aku tanya sama temen-temen, hadiah apa yang cocok untuk nyokap? Nah, si Hani-Hani itu ngasih tau aku hadiah yang menurutku juga cocok buat mama. Jadi, sekalian dia nganter aku ke tokonya. Sampe disana langsung pisah karena juga jalan pulangnya beda.]
Jelas kak Juna panjang lebar. Dan aku lega, ternyata cuma sampe disana doang, ya. Dia juga gak nganter Hani. Berarti aku gak perlu gelisah begini , kan. Lagian kak Juna selembut dan sebaik ini. Gak mungkin dia macem-macem. Selama ini aku juga gak pernah liat dia deket sama cewek selain teman sekelasnya. Hp-nya aja aku sering pegang dan password-nya pun aku tahu. Lalu, kenapa aku meragukannya?
[Ariva?]
"Ah, iya, kak. Ya udah, kalau gitu hati-hati, ya. Maaf, aku gak bisa nemenin kakak tadi."
[Ngga apa-apa, sayang. Yah, walau aku sempet kesel tadi. Kamu gak dengerin aku cerita.]
Aku meremas celana pendekku. Tadi gara-gara dengerin celoteh Hani ke Vita, aku jadi hampir overthinking ke kak Juna.
"Maaf. Hari ini perasaanku ngga enak."
[Kenapa? Apa karena Kai, ya? Aku denger kamu sebangku sama Kai]
"Iya. Aku kesel banget hari ini."
[Jangan dipikirin, nanti juga kamu sama Kai berteman baik. Kai asik kok, anaknya. Kalian cuma belum saling kenal aja]
Aku duduk di tepi ranjang. "Ck. Apa sih, kak. Liat wajahnya aja aku udah sebel."
[Hahahaa. Oh, ya. Malam ini aku ada acara keluarga, jadi mungkin aku ga bisa pegang Hp terus.]
"Iya. Aku ngerti, kok. Ini kakak lagi bawa mobil?"
[Iya. Kamu kayaknya kangen makanya aku angkat. Hehe]
"Eh, ya udah lanjut nyetir. Hati-hati, kak"
[Iya, ini juga udah mau sampe. Kamu istirahat, gih. Love you, Ariva.]
"Love you, too."
Sambungan terputus. Aku bernapas lega. Emang harus kan, dengerkan penjelasan supaya gak salah paham.
"Ri, lo mau ikut, gak?"
Aku menoleh kebelakang. Arsya kembali berdiri di dekat jendelanya, mengancingkan kemeja putih berkerah shanghai. Cocok banget kalau dia yang pakai.
"Kemana?"
"Papa ngajak jalan sore ini. Cuma gue sama Papa doang, ke Redsky buat nemenin manggung."
"Manggung? Waah, boleh tuh!" Belum pernah nih, gue liat papa Arga nyanyi di panggung. Selama ini kan, cuma liat di youtube zaman dulu Papa manggung. Aku pengen banget liat langsung.
".. lo manggung juga nggak? Nyanyi juga nggak?" Tanyaku antusias, siapa tahu dia nyanyi dan aku bisa nikmatin suaranya yang hampir gak pernah keluar itu. Entah kenapa dia gak tertarik buat nyanyi.
"Ya, nggak lah. Ya udah, siap-siap. Bentar lagi kita berangkat."
"Eh tapi.." aduh. Aku lupa, ada janji sama Salma dan Hani.
".. gak bisa, Sya. Aku baru ingat ada janji sama Salma dan Hani."
"Hani yang itu?"
"I-iya. Tadi kak Juna jelasin, katanya Hani cuma nganterin doang."
Arsya ngangguk-angguk lambat. "Good. Berarti lo gak bisa ikut, nih?"
Kini aku yang mengangguk berat. Ingin sekali ikut tapi harus tertahan lantaran sebuah janji.
Kuperhatikan Arsya udah kembali bersiap di kamarnya. Di saat itu pula ponselku berdering. Ternyata Salma. Dia mengajak ke toko buku dulu sebelum memutuskan kemana selanjutnya.
Oke, ke toko buku. Sekalian mau cari novel terbaru.
Aku bersiap dan dalam satu jam aku sudah sampai di toko buku yang disebutkan Salma tadi. Aku sampai dulu, sambil menunggu aku pun mencari novel apa yang akhir-akhir ini menjadi incaran banyak orang.
Lagi pilah-pilih, bahuku ditepuk oleh Salma. Dia nyengir karena terlambat 15 menit. Si pembuat janji malah molor.
"Hani belum sampe?" Tanya Salma dan aku menggeleng tanpa mengalihkan wajah dari sebuah novel di tangan. Tiba-tiba kepikiran soal Hani dan kak Juna. Apa aku ceritain aja ke Salma?
Eh tapi, tunggu cerita dari Hani dulu, deh. Dia pasti cerita kan, soal kejadian tadi.
"Gue udah dapet nih, yang gue cari. Kita tunggu Hani diluar ya. Gue mau bayar dulu." Salma menuju kasir, dan tak lama akupun menyusul.
"Haai. Haduh, sorry telat. Gue tadi abis nganterin temen bentar." Hani datang dengan napas tak beratur. Dia mengibas-kibaskan tangan ke wajahnya.
Abis nganterin temen, ya. Apa maksudnya kak Juna?
"Ya udah, kita cari tempat buat nongkrong dulu, yuk." Salma menunjuk arah dan kami berjalan bersama dengan Hani di tengah.
Tapi saat melewati sebuah toko jam, mataku melihat sebuah jam tangan cowok warna hitam yang dijadikan display paling depan, dengan tema keluaran terbaru.
Wah. Ini keren. Aku segera masuk ke dalam toko, diikuti Salma dan Hani bingung saat aku berbelok masuk.
"Mbak, saya mau liat yang itu, yang di depan."
"Baik, tunggu sebentar ya, mbak." Pramuniaga itu mengangguk tersenyum, lalu segera mengambil apa yang ku tunjuk. Dia meletakkan jam beserta box-nya dengan hati-hati di depanku.
"Bagus, nggak?" Tanyaku pada Hani dan Salma.
"Gila. Ini sih, bagus banget." Puji Hani disebelah kiriku.
"Eh, Va, lo nggak salah? Ini mahal banget." Bisik Salma di telinga kananku.
Aku melihat label harga. 17 juta. Hmm.. ini sih, nggak ada apa-apanya dibanding jam tangan Arsya atau papa Arga.
Tapi ya, emang. Kalo buat jam tangan anak SMA, ini memang agak mahal dan harus diberikan pada orang yang sangat menghargai waktu. Kalau nggak, bakalan rugi banget beliin ini. Mana pake tabunganku, lagi. Tapi yah, ga apapa. Toh aku dikirimin banyak bulan ini, dari Papa, juga dari Mama.
"Beneran bagus, kan?"
Keduanya mengangguk serentak. "Baguslah. Mahal gitu."
Oke kalo gitu, fix beli. "Mbak, tolong bungkus."
"Hah. Serius?" Salma sampe melototkan mata. "Lo serius beli itu buat kak Juna? Apa gak terlalu mewah?"
"Wah. Cinta mati banget ya lo sama kak Juna." Sahut Hani pula.
Kak Juna? Cinta mati? Kayaknya.. iya. Hehehe.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
moona
kok malah jdi lebih suka judul yg ini🤔🤭 semangat kak othor....
2023-06-23
1