"Whatt??"
Hani semakin merapatkan duduknya. "Ayolah, Va. Dari dulu gue pengen banget bisa deket-deket dan gabung sama mereka. Lo kan tau, kalo udah gabung sama mereka tuh, level kita jadi naik."
Aku menganga tanpa sadar. Mendengar penuturan Hani sejujurnya membuatku sedih. Sejak kapan temanku ini mempedulikan soal level dan bukankah aku jadi tidak suka Vita gara-gara dia dan Salma?
Terus, gimana pula caranya memberitahu Hani kalo aku juga nggak deket-deket banget sama mereka?
"Umm, gini Han. Bukannya gue nggak mau. Tapi gue juga baru kemarin gabung, itu juga kalo bukan karena kak Juna, aku ga akan mau bareng mereka."
"Kali ini aja, Va. Please. Lo pura-pura bawa gue dengan alasan apa, kek. Terus nanti gue yang usaha sendiri disana gimana supaya mereka suka sama gue." Hani mengatupkan kedua tangannya di depan wajah, memohon sampai segitunya hanya demi sebuah level pertemanan.
"E.. ya udah deh, tapi gue ngga janji, ya. Ntar kalo mereka ngumpul, gue kabarin sama lo."
Yah, minimal itu dulu lah, yang aku bilang. Soalnya aku ga tau cara bawa orang lain di perkumpulan yang sebenarnya membuatku tertekan.
~
Karena masih hari-hari ujian, sekolah pulang lebih cepat. Dan siang ini, aku bertemu dengan Vita, nggak sengaja. Aku udah mulai bingung dan mikirin alasan apa yang harus kukatakan pada Vita soal gambar yang tersebar.
Bisa kuliat tatapan tajam temannya saat melihatku yang langsung berubah senyum saat tak sengaja kupandang balik mereka.
"Ariva, lo mau langsung pulang?"
Eh? Vita nggak bahas sama sekali soal gosip yang hari ini beredar?
"I-iya." Aneh. Nada bicara Vita terasa tenang, tak sedikitpun berubah. Gak mungkin dia ga tau soal foto itu.
"Em, Vit, soal foto itu.."
"Gue tau, kok. Arsya udah jelasin juga. Gue percaya, soalnya gue ga pernah liat Arsya nge-flirting atau bareng cewek manapun selain gue."
Ng? Arsya ngomong apa, ya?
"O-oh.. iya."
"Kalo gitu, gue duluan, ya. Ditungguin Arsya soalnya mau belajar bareng lagi. Bye, Va."
Vita berlalu bersama tiga teman yang mengekorinya. Dia juga gak nawarin belajar bareng kaya kemaren.
Yah, terserahlah, yang penting permasalahan hari ini selesai.
...🍭...
Untung waktu cepat berlalu. Satu minggu dilewati dengan hati resah, gelisah, dan pasrah, tentu saja setelah ujian berlalu. Bukannya apa, aku khawatir soal nilai. Soalnya kan, aku ga pinter-pinter banget. Apalagi ini kenaikan kelas. Gimana kalo nilaiku ga cukup dan tinggal kelass??
Kulirik Arsya. Dia, kenapa hidupnya penuh kesantaian seperti itu, ya?
Ah, jadi ingat cerita Papa Arga, kalau Papa Arga pun dulunya begitu. Hidupnya santai walau diterjang tsunami dan badai, dia masih bisa manggung sana sini, ngeflirting cewek, sampai akhirnya bertemu dengan Bunda, membuat hidupnya penuh kegelisahan kalau Bunda ga keliatan walau sebentar.
Aku kembali menatap Arsya. Hidupnya sempurna betul. Dua orang tua yang sayang dan keluarga harmonis, pintar, ganteng, suaranya indah sebab bunda dan papa yang memiliki itu dan menurunkannya ke Arsya. Sayangnya ni anak ga mau nyanyi, beda sama Papa Arga yang menjadikannya hobi.
Arsya dikagumi banyak perempuan dan disukai teman laki-laki. Yah, walau punya beberapa hal yang dibencinya.
"Sya."
"Hm."
Mau protes kalo hidupnya sungguh sempurna, tapi urung karena aku memang selalu protes soal itu dan Arsya hanya menggaruk kepala tak acuh karena sudah biasa.
Arsya membalik badan saat aku tak kunjung berbicara.
"Apa?" Tanyanya setelah berhasil memenangkan game yang sejak tadi menjadi fokusnya.
"Ngga jadi."
Arsya berdecak, lalu kembali memutar tubuh, bersandar di sisi kasur dan memainkan game-nya lagi.
Aku yang sejak tadi telungkup sembari membaca novel diatas ranjang Arsya pun duduk. Ini benar-benar jadi bahan pikiranku.
"Kalo gue ngga naik kelas, gimana ya?"
"Ppffttt!"
Dih. Sialan. Dia malah ngetawain aku. Ya deh, yang pinter. Ngga mikirin nilai dan udah pasti naik kelas.
Dianugrahi kedua orang tua yang pintar, cantik dan tampan, memang suatu keberuntungan, ya.
Kayaknya aku harus juga nih, milih suami yang pinter dan tampan untuk memperbaiki keturunan.
Dulu papa mamaku pasti ngga pinter makanya aku juga ga pinter. Hahaha. Aku jadi tergelak sendiri dan lagi-lagi bersyukur tumbuh besar bersama bunda.
"Zaman sekarang kalo ga naik, bisa disogok." Sahut Arsya masih tetap fokus pada ponselnya. "Lagian lo kan, ga bodoh-bodoh banget. Pasti naiklah."
Emang bodoh sih apalagi kalo ngomong sama Arsya. Mulutnya suka pedas dan ga mikirin perasaan orang lain, walau ada benarnya.
"Lo tuh, ngomong gini juga nggak, sama Vita. Secara nilai gue sama dia kan, tinggian gue dikit."
"Ya, nggaklah. Tapi lo liat aja, nilai dia bakalan lebih tinggi dari lo di semester ini."
Cih! Nyebelin banget.
"Oh ya, soal Vita.. Lo ngomong apa ke dia? soalnya dia ngga ngelabrak gue atau apa. Kan, lo tau dia kayak apa aslinya."
"Biasa."
"Issh. Biasa apa? Lo ngomong apa emang?"
"Gue bilang, kalo lo itu..." Arsya menggantungkan kalimatnya saat dirinya terus menekan-nekan layar ponsel semangat.
"Syaaaa!! Lo bilang apaa??" aku sengaja berteriak supaya dia denger. Kesel juga kalo ngomong digantung.
Arsya memadamkan ponsel lalu berbalik kearahku. "Gue bilang kalo gue kasian sama lo yang jalan dari gerbang sekolah sampe simpang lampu merah karena keabisan ongkos."
Jawabannya sukses membuatku menganga dengan kesal setengah mati. Nggak ada ongkos?? Gue nggak semiskin ituu!!
"Mau kemana?" Tanya Arsya saat aku beranjak dari tempat tidurnya.
"Pulang."
"Lho, katanya mau makan malam disini."
"Bodo!" Jawabku cuek dan melenggang keluar dari kamarnya. Sempat terdengar kekehan Arsya yang pasti senang setelah berhasil membuatku kesal.
...🍭...
Para murid sudah berkumpul di depan mading panjang, berbondong-bondong melihat nilai rata-rata yang di tempel disana. Biasanya cuma tertera di web sekolah doang, entah kenapa semester ini malah ditempel di mading memamerkan rentetan nilai dari yang terpintar sampai yang ter... ah sudahlah.
Aku hanya berdiri di belakang para siswa yang berteriak, kaget, senang, sedih, dan macam ekspresi lainnya terlihat jelas.
Huh. Gimana ya, nilaiku. Kalo dapet urutan paling bawah, pasti malu banget, kan. Apalagi kak Juna. Pasti ngetawain aku. Ukhh!
"Ariva."
Suara yang lembut sempat membuatku tersentak dari lamunan. Ya ampun, baru disebut namanya, orangnya udah muncul aja.
"Dapet ranking berapa?"
Aku mendelik. Bisa-bisanya nanyain ranking. Padahal udah aku bilang dari jauh hari kalo aku tuh, ga pinter. Sukur-sukur bisa naik kelas.
"Ngga tau, kak. Bodo amat ah, makan dulu, yuk!" Ajakku, berusaha menghindari rasa malu dengan melingkarkan tanganku ke lengannya untuk bersiap ke kantin.
"Eits. Nanti dulu. Aku penasaran."
Hah? "Eh, tungg-"
Kak Juna menerobos masuk ke kerumunan para siswa.
"Permisi, permisi, mau lewat."
Aduh! Aku menepuk jidat walau akhirnya ikut menerobos dibelakang kak Juna.
Dia mulai mencari namaku, begitu juga aku yang langsung melebarkan mata mencari dari urutan terakhir dulu.
Ya, terakhir. Aku cukup tau diri dengan tidak melihat dari urutan satu😭
"Oh, lumayan." Kak Juna mengetuk-ngetuk dengan jari telunjuknya.
Lumayan? Serius, lumayan? Aku buru-buru menengok kearah jari telunjuk kak Juna.
"Haaah??"
"Hebat, pacar aku." Kak Juna mengangguk-angguk masih dengan menatap namaku disana.
Tapi emang lumayan, sih. Urutan 173 dari 220. Semester lalu walau cuma ada di web sekolah, aku ada di urutan 197. Hehe. Untung juga ada kurang lebih 50 orang dibawahku sekarang ini. Eh tapi, Vita ada di urutan 169. Buset, semester lalu masih 200 aja dia. Bener-bener ya, the power of Arsya!
Kulirik ke atas, pengen liat siapa nomor satu.
Jeng-jeng! Kai?? Serius si Kai? Pinter banget dia. Apa kepala sekolah disogok kali ya, sama bokapnya. Secara, bokapnya banyak ngefasilitasi sekolah.
Semester lalu siapa, ya, yang ngedudukin nomor satu? Ah, aku memang ngga meratiin waktu itu. Yang kutahu, Arsya ada di urutan 3. Dan sekarang, anak itu ada di urutan 2 ? Naik dia, nih.
Pengen iseng liat yang lain, tapi kak Juna menarik tanganku keluar dari kerumunan anak-anak yang masih sibuk di depan mading.
"Mau ditraktir apa?" Tanya kak Juna padaku.
"Traktir? Aku kan, nggak juara."
"Bukannya tadi malam ceritanya takut ga naik kelas? Karena kamu naik kelas, jadinya aku traktir." Ujar kak Juna diselingi tawa kecil. Iya, sih. Tadi malam waktu teleponan sama kak Juna, aku sempat ceritain kegundahanku dan tetap nggak tenang walau kak Juna bilang belum pernah ada yang tinggal kelas selama ini.
"Eh emang kakak juara berapa?"
"Hmm.. Berapa, ya." kak Juna berlagak mikir.
"Ih. Berapa?" aku mengguncang tangannya, memaksa. Dia lalu tertawa sampai mendongak menatap langit-langit koridor.
"Satu."
Duh. Gimana, sih. Ini mah namanya bikin malu. Masa dia yang ranking satu, aku 173, malah dia yang traktir aku.
"Ini sekalian merayakan aku dan kamu naik kelas." Ujarnya kemudian saat tahu aku berpikir keras dengan keanehan traktiran ini.
"Hmm.. Yauda deh. Eskrim aja gimana?"
"Okeee!!" Kak Juna mengapit leherku dengan lengan panjangnya menuju kantin meninggalkan tatapan tak suka Kai yang sempat kulihat sekilas saat melewatinya.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
S.Syahadah
awas kai antara benci dan Cinta itu beda tipis
2023-08-02
1
ega
Arsya sama ariva aja thor🙏🙏
2023-06-16
1
rose red
langsung skip dimasa mereka dewasa/kuliyah dong thor....penasaran pengen tau siapa jodoh ariva dan arsya...😊
2023-06-16
1