Belakangan aku dan Arsya semakin sibuk dengan aktifitas masing-masing. Aku juga sering lihat Arsya bermain basket bersama para idola di sekolah lainnya. Kini Arsya juga bersinar lebih terang dari kemarin-kemarin. Memang tempatnya bersama mereka, bukan sama aku, kan. Vita hebat banget bisa ngerubah Arsya.
Yah, walaupun aku ga ngerti kenapa merasa kurang suka sama Vita, tapi kalo Arsya-nya suka, aku bisa apa?
Dan.. kak Juna. Dia malah jarang banget gabung sama teman-temannya karena aku. Bukan aku ngehalangi. Aku sering suruh dia gabung aja sama temennya, soalnya aku ga bisa gabung ke mereka. Ngerasa ga masuk dan masih ada sedikit ngerasa tatapan mereka beda ke aku. Entah cuma perasaanku aja, ga tau deh.
"Ngelamun mulu. Mikirin apa, sih." Kak Juna menuang teh botol kedalam gelas berisi es batu. Lalu menggesernya tepat kedepanku.
"Ngga di makan baksonya?"
"Eng.. kakak ga mau gabung sama temen-temen kakak?" Aku mengarahkan mataku ke meja ujung. Tepat disana ada beberapa anak cheers dan anak basket ngobrol seru dan tampak asyik sekali. Arsya juga ada disana.
"Nanti malam ngumpul, kok. Mereka mau main basket. Kamu mau ikut?"
Aku menggeleng dengan senyum canggung. Enggak deh, makasih.
"Ayo cepetan makan. Keburu bel."
Aku menyantap bakso dan kak Juna pun kembali melahap mie ayam penuh saos. Kami makan bersama dan tak kalah seru. Sebab kak Juna selalu membuatku tertawa.
"Oh, ya. Minggu depan udah ujian, kan. Aku kayanya ga bisa sering hubungin kamu. Ga apapa, kan?"
"Ngga apapa, kak. Aku juga belajar, kok." Kalau ujian, biasanya aku dan Arsya belajar bareng. Tapi kali ini, ga tau juga. Barangkali dia bareng pacarnya, kan.
...🍭...
Hari ini adalah hari pertama ujian. Kemarin, Arsya ngga ada di kamarnya padahal aku mau belajar bareng dia. Yah, mungkin dia memang belajar bareng Vita, kan. Ngga seru juga kalo Arsya ngabisin semua waktunya untuk pacarnya. Aku kan, juga masih butuh dia.
"Hoaaam.." gara-gara nungguin Arsya, aku jadi lambat tidur. Tapi tadi malam tuh anak jam berapa ya, pulangnya.
Sebelum ke kelas, aku mau ke toilet dulu untuk cuci muka. Akupun masuk dan berdiri di depan cermin menatap mata yang sedikit bengkak.
"Trus gimana?"
Aku yang hendak menekan keran pun terhenti saat mendengar suara dari bilik toilet.
"Ya gimana lagi. Jalani aja."
Itu suara Vita. Aku yakin.
"Tapi Arsya ganteng lho, Vit." Ujar bilik paling sudut.
"Emang. Yah.. nggak nyesel juga sih, gue nge-flirting dia. Mana royal banget anaknya."
Mereka.. membicarakan Arsya, kan? Maksudnya apa, ya? Apa sejak awal Vita nggak serius dengan Arsya?
"Anak mantan penyanyi terkenal, Vit. Tajir banget, ganteng, masa iya cuma lo mainin?"
Deg!
Gila. Jadi, Vita nggak seserius itu dengan Arsya? Tapi yang kulihat.. dia bahkan mau ngelap keringat Arsya, kan.
"Ngga tau, deh. Liat ntar aja."
Aku sempat bingung harus apa saat mendengar toilet flush bersamaan dengan pintu terbuka.
Kutekan air keran dan mencuci tanganku. Bisa kulihat Vita diam di depan pintu menatap kearahku.
"Eh, lo pacarnya kak Juna, kan?" Tanya teman Vita yang baru keluar dari toilet. Dia langsung mencuci tangan disebelahku.
Aku mengangguk dan berusaha tersenyum ramah.
Vita mendekat. Menekan handsoap dan mencuci tangan. "Lo ga pernah gabung bareng kita. Kenapa?" Tanya Vita menatapku dari cermin.
"Eng.. ga apapa, kok."
"Lo ga perlu malu, kali. Kalo lo jadi pacar anak futsal atau basket, artinya lo satu sirkel dengan kita." Vita mengeringkan tangan di hand dryer.
"Iya. Kita-kita baik, tau." Sambung temannya dan aku hanya tersenyum.
"Gue duluan, ya. Siang ini bakalan ngumpul bentaran di lapangan basket. Gue tunggu lo dateng." Vita tersenyum, lalu pergi.
Huffff.. aku sampai nggak bisa berpikir apa-apa lagi. Pikiranku memikirkan ucapan Vita soal Arsya tadi. Apa dia memang berniat main-main? Tapi kenapa Arsya?
Ah, lagian memang sejak awal kan, orang-orang tahunya Vita naksir Hajoon, bukan Arsya. Ini gimana cara ngasih tau Arsya?? Bukannya dulu aku juga pernah bilang gini juga, tapi Arsya ga percaya, kan?
Aih.. aku bener-bener nyesal udah dengar hal kaya gini soal Arsya...
~
Setelah selesai ujian, memang mereka berkumpul di lapangan basket. Kak Juna menghampiriku ke kelas.
"Ariva, kamu mau langsung pulang?"
Sebenarnya, iya. Aku mau belajar. Tapi aku teringat soal ucapan Vita di toilet tadi. Kayaknya aku memang harus mengakrabkan diri supaya tahu lebih jelas soal Arsya dan Vita. Siapa tahu Vita mau curhat padaku soal Arsya. Dia kan, ngga tau kalo aku sahabatan sama Arsya.
"Emangnya kenapa, kak?"
"Anak-anak pada kumpul dibawah. Kamu mau ikutan? Eh tapi, kalo kamu ngga mau juga ga apapa."
Aku mengangguk. "Oke."
"Eh? Beneran kamu mau?"
"Iya. Aku mau."
Kak Juna tersenyum lebar. Nampaknya dia senang karena aku mau berkumpul dengan teman-temannya.
Kami pun menghampiri mereka. Sebagaian bermain dan yang lain tampak duduk santai.
"Oh, Ariva. Hai." Sapa Vita dan Arsya ikut menoleh. "Dateng juga, akhirnya."
Aku tersenyum samar pada mereka.
"Kita lagi belajar bareng. Mau gabung?"
Kulihat Arsya hanya diam menatapku. Entah apa yang ada di pikirannya. Tapi aku mengangguk.
"Boleh."
Vita tersenyum lalu menggeser tempatnya.
"Arsya pinter, lho." Pujinya.
Aku tahu, aku tahu. Aku sahabatnya dari kecil.
"Oh ya, Va. Setelah ujian selesai, kita mau buat acara berbeque-an. Lo ikut, ya?"
Vita ramah bener. Aku jadi ngerasa bersalah pernah nilai dia yang enggak-enggak. Tapi yang di toilet tadi itu apa? Dia kan, gak serius sama Arsya. Kenapa malah semesra ini?
Apa dia emang awalnya ga naksir Arsya? Tapi karena Arsya baik dan royal banget ke dia, dia jadi suka. Bisa aja, kan?
"Ikut. Tenang aja." Sahut kak Juna. "Nih, biar semangat belajarnya." Kak Juna meletakkan tiga botol minuman diatas meja.
"Yeay." Vita bertepuk tangan seolah senang banget aku ikut. Heran, kenapa dia sebaik ini, ya? Jadi ngerasa bersalah banget udah mikir yang buruk-buruk.
Setelah belajar bersama selesai, aku pun menyusun buku untuk segera pulang. Kudengar beberapa dari mereka ingin pulang bareng, termasuk Vita yang nebeng dan pulang bareng Hajoon. Katanya, rumah mereka searah.
"Sya, aku pulang duluan, ya." Vita melambaikan tangan dan dibalas Arsya sekenanya.
Kulihat Arsya saja melihat itu. Malahan terkesan cuek karena fokusnya hanya ke game-nya saja.
"Ariva, maaf ya, kayanya aku ga bisa anter. Soalnya mama telepon minta aku jemput." Ujar kak Juna tiba-tiba. Dateng dengan masih memegang ponselnya yang menyala.
"Iya, kak. Ngga apa-apa. Aku bisa pulang sendiri, kok."
"Maaf, yah. Hati-hati di jalan." Kak Juna mengelus kepalaku, lalu berjalan keluar gerbang.
Kini hanya aku, Arsya, dan beberapa orang lainnya.
Aku pun pulang. Setelah beberapa langkah, ponselku bergetar. Ternyata Arsya. Dia mengajak pulang bareng dan aku yang emang lagi males banget pesen taxi online pun mengiyakan.
Setelah menunggu beberapa menit, Arsya datang dengan motornya. Aku naik, dan Arsya mulai ngebut membawa motor sampai aku harus memeluk pinggangnya. Tanpa aku sadari sebab itulah, masalah baru pun muncul.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Hilda Yanti
I like
2023-07-28
1
Siti Umi
yg aq suka dari semua ceritamu itu penn adalah kisah yg ngalir seperti air ,tersusun dan karakter karakternya pun bisa aq pahami
2023-06-12
2
ega
selalu menunggu up nya
2023-06-11
1