Aku menunduk, tak ingin mengangkat kepala setelah keributan yang telah kulakukan. Aku pasti dipandang dan dicibir oleh siswa Garuda yang ada disini. Mereka berbisik menatap kearahku.
Gimana enggak? Pasalnya gara-gara aku duduk di bangku pendukung lawan, aku langsung disangka mata-mata. Detik itu juga kak Juna dateng dan suruh aku pindah tempat duduk. Tapi orang-orang dideket aku langsung meneriaki aku sebagai penyusup.
Spontan keributan terjadi. Para pemain lawan mulai mendorong pemain Garuda dan penonton juga ricuh.
Memangnya ada apa, sih? Aku bingung kenapa cuma karena aku salah duduk jadinya malah kaya gini?
Aku masih ingat banget tubuhku didorong-dorong dan dimaki. Aku gemetar apalagi suasana langsung heboh dan terjadi perkelahian antar pemain.
Sampai tanpa sadar aku mengikuti tangan yang membawaku keluar dari kerumunan.
Kak Juna, dia yang menyelamatkanku hingga sekarang mereka semua berkumpul di dekatku.
"Kamu gak papa?" Tanya kak Juna, duduk disebelahku. Diusap-usapnya punggungku yang membungkuk takut.
"Bisa-bisanya jadi kacau cuma gara-gara.."
Aku merasa tubuhku dilihati dari atas sampai bawah oleh sekumpulan cewek-cewek Garuda dengan sinis.
"Udahlah." Lerai kak Juna. Membuatku semakin tertunduk.
"Hei, kalian ga apa-apa?"
Wajahku naik saat mendengar suara itu. Vita, dia baru datang bersama Arsya yang melihatiku dengan mata terbelalak dan wajah tak percaya.
Aku langsung menggeleng kecil pada Arsya saat kulihat kakinya ingin melangkah kearahku.
"Ngga apa-apa. Ini cuma salah paham. Jadi tolong jangan dibesar-besarin. Nanti gue yang akan jelasin ke mereka." Ujar kak Juna.
"Mana percaya mereka." Celetuk Kai. Suaranya terdengar kecewa. Karena dia salah satu pemain yang sekarang gagal karena aku.
Sekilas terlihat juga Hajoon dengan tangan bersedekap, melihat dingin kearahku.
"Serahin aja ke gue. Sekarang mending kalian bubar. Jangan disini."
Dengan suara sumbang dari berbagai sisi kudengar keluhan dan makian yang pasti tertuju untukku. Aku ciut. Kukepalkan kedua tangan yang sejak tadi sudah bergetar karena takut.
"Ariva, kamu gak papa?" Tanya kak Juna lagi. Aku memberanikan diri mengangkat wajah karena semua sudah pergi. Aku yakin wajahku pasti pucat pasi.
"Maaf, kak. Gara-gara aku semua jadi kacau." Suaraku tercekat. Aku benar-benar ketakutan.
"Gak apapa, Ariva. Jangan dipikirin. Ayo, kuantar pulang. Tapi aku ganti baju dulu, ya."
Kak Juna berdiri, akupun ikut berdiri dan segera memegang ujung baju belakangnya saat ia hendak melangkah.
Dia tersenyum, "Jangan takut, ada aku. Ayo."
Dia, entah bagaimana langsung menggenggam tanganku dan berjalan dengan langkah besarnya menuju ruang ganti. Aku menunggu disana, menyendiri. Dia pun tak berlama-lama. Hanya dua menit dan kudapati dia berdiri sembari menyandang tasnya.
"Kita balik?"
Aku mengangguk, lalu dia menggenggam tanganku lagi, berjalan di depanku.
Kak Juna, sumpah, dia laki-laki yang baik dan hangat banget. Bisa-bisanya rasa bersalah dan takutku perlahan berkurang saat dia menggenggam erat tanganku dan berjalan didepan seolah melindungiku.
Aku langsung tertunduk lagi saat kami melewati siswa garuda yang ada disana. Mereka memandangi kami, terlebih kaget saat melihat kak Juna menggandeng tanganku tanpa ragu.
Dari ekor mataku pula, bisa kulihat Arsya yang berdiri bersama Vita melihatiku. Aku udah yakin banget, setelah sampai di rumah, dia pasti akan menyerbuku dengan seribu pertanyaan.
Kak Juna membukakan pintu mobil, akupun masuk kedalam.
Kulihat Arsya masih memandang kearahku berada sampai mobil perlahan meninggalkan tempat itu.
"Kamu kaget, ya?"
Kak Juna membuatku menoleh kearahnya. Dia tersenyum. "SMA Garuda sama SMA Binakarya emang sering ribut terlebih soal futsal dan basket. Kita tuh, bulan lalu menang futsal dan mereka ngerasa kita main curang. Makanya kita buat tanding ulang untuk buktiin kalo kita gak curang."
"Tapi aku malah ngerusak.." sambungku dengan lirih. Aku menunduk lagi.
"Nggak apapa. Aku bakalan ngelurusin semuanya ke mereka." Kata kak Juna, sesekali melirikku yang masih bersedih.
"Mau makan dulu? Udah masuk makan malam kan, ya."
Aku tak menyahut, walau akhirnya kak Juna tetap membawaku ke sebuah resto kecil dan makan malam bersamanya disana.
...🍭...
"Arii. Bukain pintu woi."
Arsya menggedor pintu kamarku dengan keras. Handel pintu pun bergerak kasar sejak tadi. Aku udah memperkirakan ini sebelumnya. Aku tau dia bakalan nanya banyak hal soal tadi.
"Ari. Cepetan buka pintu. Ga usah pura-pura tidur, lo!" Pekiknya.
Hadeeh. Dengan malas aku membuka pintu dan Arsya langsung nyelonong masuk, duduk di atas kasur dengan kaki melebar dan pandangan menyidik.
"Apa?" Tanyaku pura-pura gak paham saat melihat wajahnya yang terus menatapku, meminta penjelasan.
"Ngapain lo disana, hah?"
Aku menarik kursi belajar dan duduk menghadapnya.. "Nonton futsal, lah."
"Sejak kapan lo nonton begituan? Sama siapa lo kesana?"
"Sendiri."
"Apa?" Arsya menghela napas. "kenapa tiba-tiba seberani itu pergi sendiri? Buat masalah, lagi."
"Aduuuh. Apa sih, Sya. Kalo mau ngomel, besok aja. Gue mau ngerjain tugas!"
"Jawab dulu. Sejak kapan lo berani pergi sendiri? Lo kan, ga pernah pergi sendirian. Mana salah duduk lagi. Buat masalah banget." Ketusnya padaku yang juga langsung memasang wajah kesal.
"Sejak lo bohong dan gak jemput gue. Gue udah nungguin tapi lo gak dateng!" Tegasku padanya. Dia langsung terdiam.
"Gak sengaja kak Juna lewat dan dia nganter gue pulang. Trus dia juga yg minta gue nonton dia main. Awalnya gue mau minta bantuan lo. Tapi lo gak bisa dihubungi. Eeh.. tau-tau udah disana aja sama Vita!"
Arsya akhirnya tak merespon. Yah, memang dia mau jawab apa. Yang aku bilang juga bener. Nyebelin banget, kan.
"Sorry. Gue tadinya memang mau jemput lo. Tapi Vita datang, jadi-"
"Jadi lo milih pacar lo itu ketimbang nganter gue!" Sahutku cepat.
"Gue nggak pacaran sama dia."
Aku mengabaikannya. Kuputar kursi dan kembali fokus pada buku diatas meja belajar.
Nggak pacaran apanya! Selama ini teleponan, cikikikan bareng, dan tadi nonton futsal bareng, emang itu apa? Bahkan sampe gak ngasih kabar kalo dia gak jadi jemput aku karena cewek itu!
Dia berdiri mendekat. "Lo marah?"
"Nggak."
"Sorry. Hp gue mati karena abis batre. Tadi gue mau nolong lo, tapi lo yang ngelarang, kan."
Aku berusaha fokus pada buku pelajaran walau mendadak badmood setelah Arsya datang kesini dan malah marah-marah nggak jelas.
"Ri."
"...Ri."
"Ck! Apa, sih!" Aku mendongak. Kutatap dia dengan wajah kesal.
"Iya gue salah. Makanya gue ini lagi minta maaf."
"Gue maafin." Kataku lagi dan kembali fokus ke buku.
Hening beberapa detik. Nampaknya Arsya tengah berpikir untuk membujukku.
"Gue traktir es krim, gimana?"
"Gue udah makan sama kak Juna."
Arsya membelalak. "Lo beneran dekat sama Juna?"
"Sebaya lo sama kak Juna?" Ketusku.
"Gue serius."
"Ngga tau. Dia yang deketin gue duluan. Kenapa? Lo mau ngelarang?"
Arsya diam lagi. Kudengar helaan napasnya. Mungkin dia capek karena bujukannya tak berhasil. Aku juga lagi males banget ngeladenin Arsya.
"Ya udah. Kalo lo butuh apa-apa, kabarin gue." Katanya sembari melangkah menuju pintu.
"Kayanya ga perlu. Soalnya kan, udah ada kak Juna." Jawabku tanpa melihatnya.
Dia diam cukup lama. Sampai sebelum menutup pintu, dia sempat menyeletuk.
"Kayak bakalan di tembak aja."
Mataku melotot. "ARSYAAAA!!" Teriakku saat bersamaan suara pintu yang tertutup kencang.
...***...
Jangan lupa Subscribe👇
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Dyah Rahmawati
heem arsya guanteeeng poool😍😍
2023-09-30
0
Bunga Istiqomah
delok potone si arsya aq leleh wes.. padahal wes embok" tpi nek eroh seng macho" ngene dadi kok kroso jek 16 taon awak iki
2023-07-13
1
ega
Arsya cemburu yaa
2023-06-03
1