Kami duduk lagi di pinggir lapangan, membawa beberapa makanan ringan untuk kunyahan saat menonton pertandingan. Hari ini pertandingan terakhir. Yah, walaupun aku tidak begitu tertarik dengan basket, aku ikuti saja dari pada tidak tahu lagi mau ngapain.
"Eh, Riv, gue denger bakalan ada pertandingan futsal, lho." Ujar Hani memberitahuku yang sebenarnya tidak peduli. Sama sekali.
"Kak Juna kan, anak futsal."
"Oh, ya? Kapan, tuh?" Sahutku langsung. Setelah nama kak Juna disebut, aku jadi ingin tahu.
"Hmm.. kalo gue gak salah denger sih, besok sore. Anak-anak basket juga pada nonton. Lo nggak mau dateng?"
Aku mau banget. Tapi.. masa sendirian. Malu, dong.
"Kalian gimana? Ngga mau nonton?" Tanyaku balik pada mereka.
"Hm.. guee.. ada janji.." Salma mengucapkan itu dengan ragu.
"Janji? Lo punya gebetan baru, ya?" Tebak Hani.
"Hah. Engga kok, engga." Cepat-cepat Salma menggoyangkan kesepuluh jarinya. "Bukan gebetan. Tapi gue juga bingung soalnya kita baru kenalan kemarin."
"Ciee, ada yang akan melepas masa lajang, niihh.." Ledek Hani dan aku hanya cekikikan.
"Apaan, sih. Baru kenal, juga. Lo aja tuh, temenin Riva."
"Duh, sorry, Riv. Gue ada les."
Aku mengangguk-angguk paham. Yah, kalo memang ga ada temen, aku ga mesti datang, kan. Lagi pula.. aku tidak gampang bergaul dengan orang baru. Beda dengan Arsya yang gampang banget ngobrol nyambung walau dengan orang yang baru ia temui pertama kali. Itupun kalau dia sedang minat. Kalau tidak, maka Arsya akan betah menjadi batu.
~
Aku berjalan menuju kantin. Tadinya menolak pergi karena sedang malas saja. Tapi tiba-tiba perutku lapar dan terpaksalah aku menyusul Salma dan Hani yang sudah duluan kesana.
"Disini!" Tangan Salma naik memberi tanda dimana lokasi duduk mereka. Akupun mengangguk dan ingin membeli sesuatu dulu sebelum duduk disana.
"Roti coklat kejunya satu bungkus, buk. Sama mineral dinginnya satu, ya." Pintaku pada Ibu kantin dan memberikan uang dua puluh ribu padanya.
Sambil menunggu, aku menebarkan pandangan kedalam kantin. Dan aku terhenti disebuah meja yang diisi oleh Arsya.. dan Vita?
Benar. Itu mereka lagi mengobrol asyik berdua. Berhadap-hadapan.
Sial, aku tidak suka sekali pemandangan ini. Apalagi Vita tertawa sambil menyentuh lengan Arsya. Benar kata Salma. Vita itu genit ke semua cowok keren di sekolah.
"Buk, mineral dinginnya satu, ya."
Deg! Tunggu. Suara ini, aku tahu.
Akupun menoleh kesamping kanan. Tebakanku benar, Kak Juna tengah berdiri tepat disampingku. Astaga. Apa ini? Kami berdiri bersebelahan, kan? Ah lututku. Lututku lemas ingin tumbang.
"Dek, ini pesanannya."
Lihatlah betapa tingginya dia. Aku sampai mendongak melihatnya.
"Dek?"
Oh, ada tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Gemasnya..
Tanpa sadar senyumku perlahan mengembang. Namun hanya sesaat, sebab aku tergagap saat tiba-tiba kak Arjun menoleh kearahku, spontan membuat napasku terhenti seketika.
Aku langsung balik badan dan melangkah kikuk. Aku memang bodoh, begitu terang-terangan menatapnya. Tentu dia risih. Aaah, malu-malu-malu. Rasanya aku ingin berubah menjadi ubin saja.
"Sebentar."
Langkahku semakin cepat. Ini tidak baik, jangan sampai aku menoleh kebelakang karena aku yakin dia tidak sedang memanggilku.
"Hei, sebentar."
Ah! Aku terkaget saat kak Arjun menghadang langkahku. Badannya yang tinggi itu hampir saja kutabrak kalau tidak dengan cepat aku memberi rem.
Kenapa dia menghentikanku? Apa aku membuatnya risih dan ingin memarahiku? Aduh, aku tidak bisa menatapnya. Aku menunduk dengan jari-jari yang saling memilin. Aku gugup.
"Nih."
Sebotol air mineral dan sebungkus roti. Eh, kenapa dia memberiku ini?
"Ini punya kamu, kan? Ketinggalan di kantin."
Aih, iya. Aku sampe lupa dengan pesananku tadi. Aku pun memberanikan diri mendongak. Dan kontan aku terbius dengan senyumannya. Siaaall. Mimpi apa aku tadi malam??
"E-eh. I-iya. Ma-makasih, kak." Buru-buru aku mengambil itu dari tangannya. Tapi kemudian, jari tangannya melebar.
"Kenalin, aku Arjuna. Kelas XI IPS3. Kamu kelas X, kan?"
DEG! DEG! DEG! DEG!
DEMI APAA DIA MENGULURKAN TANGAAAN? AKU HARUS APAA? AKU HARUS APAA?
"A-aku.. Ari.." aku menahan tanganku yang bergetar supaya tetap terlihat santai saat menyentuh jarinya. Tapi sialnya, malah lidahku yang kaku.
"Ari?" Nadanya terdengar bingung.
"A-ariva." Jawabku dan menyambut uluran tangannya dengan mantap.
Lihatlah, dia terus tersenyum. Sialan, rupanya tanganku basah karena gugup. Apa dia menyadarinya? Apa dia tahu??
"Senang kenalan sama kamu, Ariva."
GUE JUGA SENENG BANGET BISA PEGANG TANGAN LO KAK. SENENG BANGETTT!!
Tentu aku mengucapkannya dalam hati sambil teriak kesurupan. Walau yang keluar dari bibirku hanya lengkungan senyuman.
"Oke, kalo gitu sampai ketemu lagi." Ujarnya dengan senyuman hangat. Tentu membuat jantungku luar biasa berantakan. Tapi kucoba tenang walau berulang kali aku meneguk ludah.
"I-iya. Sampai ketemu lagi."
Dia pun melangkah pergi. Setelah kulihat dirinya menghilang dibelokan koridor, akupun langsung mencari pegangan karena seketika tulang-tulangku berubah lunak. Aku tidak bisa berdiri tegak dan bersandari di tembok.
GILAAAA! Hoki seumur hidupkah yang telah kupakai ini?? Kutatap telapak tangan kanan yang menyentuh tangannya tadi.
"Lo gila, hah? Lo bodoh banget. Kenapa nggak lo genggam tangannya tadi, hah? Lo tanya kek, nomor hp nya atau apa kek biar bisa teleponan. Bodohhhh!!" Umpatku pada tangan kanan dengan tak tahu diri. Padahal untuk sekedar bilang "iya" saja lidahku kaku.
Senyumku terus mengembang membayangkan kejadian yang baru lima detik berlalu. Sumpah, hari ini benar-benar saaangat indah.
...🍭...
Aku duduk di meja belajar dan mulai menyusun buku-buku yang akan aku bawa. Karena besok hari-hari di sekolah sudah kembali normal.
Aku masih saja tersenyum-senyum. Ingatan tentang siang tadi di sekolah masih menari-nari di pikiranku. Bagaimana ekspresi dan suara kak Juna benar-benar menempel sempurna di otakku. Nampaknya, aku takkan bisa melupakan kejadian hari ini. Andai saja waktu bisa kuputar, aku akan mengulang terus menerus kejadian yang tadi sampai aku berani menanyakan nomor hp-nya.
"Haah. Kak Arjuna." Dia benar-benar tampan mau dilihat dari sisi mana pun. Hajoon, Kai, Arsya? Hahah, lewat!
CTAARR!
Lamunanku buyar saat mendengar suara gemuruh langit. Nampaknya akan turun hujan. Disaat bersamaan, ponselku pun berbunyi. Sederet nomor tak dikenal terpampang di layar.
Hm? Siapa ini?
"Halo."
Satu.. dua.. tiga.. tidak ada jawaban dan kuyakin sambungan tidak terputus.
"Halo." Kataku lagi. Tapi tidak ada suara.
"Dasar orang iseng." Gumamku, bersiap menekan tombol merah.
'Halo.'
Oh, ada suara. Akupun kembali menempelkan ponsel ke telinga.
'Halo, benar ini Ariva?'
Eh, suara ini.. kenapa mirip sekali.
"Iya. Ini siapa?" Tanyaku penasaran.
'Hai. Untung aja beneran nomor kamu. Aku pikir, aku dikerjain. Aku Juna, yang tadi kenalan sama kamu di sekolah.'
DUARRRR!!🤯
Ju-juna.. katanya? Juna?? Arjuna? Juna yang mana?? Arjuna Kartawijaya yang kenalan tadi di sekolah?? Berarti.. ini Juna yang.. yang..
'Halo.. Ariva?'
"Aah. I-iya."
Sumpah. Aku membeku diatas ubin yang dingin. HAAAAHHH!! INI KAK ARJUNA YANG MENELEPONKU, YA TUHAAANN!! Ingin aku teriak begitu. Dadaku bergejolak seakan ingin meledak.
'Sorry banget ganggu, ya.'
"Oh, engga kak, engga. Sama sekali enggak." Jawabku cepat-cepat.
'Hehee. Gitu, ya. Aku cuma mau kasih tau, ini nomorku. Tolong di save, yah. Itupun kalo kamu ga keberatan.'
"Engga kok kak, enggak. Engga keberatan sama sekali."
Terdengar tawa renyah diseberang. Aah. Malu banget. Kenapa aku jawabnya sampe kaya gitu banget, sih. Noraaakk!
'Ya udah, emm.. kalo gitu, selamat istirahat, Ariva.' Beberapa detik aku terpaku. Suara kak Arjuna benar-benar enak banget didengarnya.
"Se-selamat istirahat juga, kak. Selamat malam." Ucapku dengan menahan napas. Kueratkan ponsel ke telingaku supaya pendengaranku semakin baik setelah mendengar suara indah itu.
'Malam, Riva. Besok ketemu lagi di sekolah, ya.' Tuutt- sambungan terputus.
Bruk! Aku terduduk di lantai. "KYAAAAAAAAAAAAAA!!!"
"ARRRIIII!! KENAPAAA?!"
Suara Arsya pun ikut meninggi. Menanyakan apa yang terjadi padaku yang gila ini.
Aku bangkit dan mendekati jendela dimana Arsya sudah berdiri tegang disana. Ketegangannya terasa sia-sia setelah melihatku tersenyum tak berdaya di depannya.
Aku bertopang dagu di bingkai jendela.
"Malam ini... indah banget, ya." Ucapku dengan penuh penghayatan.
Arsya menatap keatas langit yang dihiasi sambaran kilat. Wajahnya mengekspresikan keanehan menatapku.
"Lo gila, ya?"
Aku mengangguk dengan senyuman yang sama sekali ga akan pudar. Padahal aku tadinya masih ingin marahan dengan Arsya. Tapi jadi lupa.
Duk..duk..dukk.. "Arii. Kamu kenapaa?" Suara kak Adit ikut terdengar dibalik pintu kamarku.
"Ngga apa-apa, kak. Dia cuma gilaa!" Teriak Arsya dari jendelanya. Karena dia tahu, aku tak berdaya untuk menjawab pertanyaan tak penting mereka.
"Hei, Ri. Lo nggak kesambet, kan?"
Tiba-tiba nada bicara Arsya terdengar khawatir. Masih dengan senyuman aku menggeleng lambat. Bagiku, jikapun ini kesambet, aku rela asal kak Arjun meneleponku.
"Lo itu kebanyakan ngehalu. Makanya jadi gitu." Arsya menggeser jendelanya dan menutup tirai.
Hehe, Arsya. Terserah deh, lo mau kencan sama siapa. Yang penting saat ini, gue lagi dideketin kak Arjuna sampe dia yang cariin nomer gueee. Aaaakkk senangnyaaaaaa!
(Visual Arjuna Kartawijaya, yang ditaksir berat oleh Ariva sejak awal masuk SMA)
(Arsya Alexander Loui, sahabat sejak kecilnya Ariva dan tetanggaan. Jendela kamar juga sebelahan. Ariva suka curhat tapi jarang ditanggepin karena Arsya adalah gamers yang harus fokus pada ponselnya)
(Visual Hajoon, siswa keturunan korea: Btw Hajoon belum nongol ya kisahnya disini. Tunggu aja)
(Visual Vita, cewek tercantik di SMA Garuda yang deket dengan Arsya)
(Visual Ariva Tania, cewek yang menganggap dirinya sama sekali nggak cantik namun mengharapkan kisah cinta yang manis saat SMA)
(Kai Samuran, Cowok yang entah kenapa ga suka Ariva, namun sialnya dia selalu berhadapan dengan cewek itu.)
(Karin, Bakalan muncul di eps tengah)
**Ditunggu cerita selanjutnya, ya **
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Bunga Istiqomah
siip iki... ndelok poto e tok ae .. weteng q geter".. uhhhjhhj
2023-07-13
2
Euis Yohana
KAI sama hajoon cakep pisan iiiih,,Napa bkn Arsya aja tuh salah satunya visual Arsya kurang jelas aaah ...
2023-06-13
1
Novita Sari
tak baca alon2 ae pen,biar bab nya gak cepet habis🤭🤭
2023-06-08
1