Hah. Berulang kali aku menarik dan membuang napas. Aku sudah hampir dekat dengan sekolah, tapi perasaanku sungguh tak setenang biasanya. Ini terjadi sejak tadi malam, setelah kak Juna meneleponku. Walau aku menantikan hari ini, tetapi aku juga seperti tidak sanggup memulainya.
'Besok ketemu lagi di sekolah, ya.'
Arrrghhh.. kalimat kak Juna terus terngiang di kepalaku. Cuma kata sesederhana itu telah mampu membuatku gelisah karena ingin segera bertemu namun malu. Ternyata begini rasanya jatuh cinta. Luar biasa.
Taksi berhenti di depan gerbang sekolah. Sebelum berhenti, kupastikan sekitar dulu. Para siswa berjalan santai masuk kedalam sekolah. Ada beberapa yang menunggu teman mereka dahulu sebelum masuk.
Nggak ada kak Juna, kan? Ya, nggak ada. Aku ga tau harus kaya gimana kalau pagi-pagi sudah melihatnya.
Sebelum turun, aku merapikan rambut dan penampilanku. Setelah beres, akupun turun.
Kupandang gedung sekolah yang tinggi. Untuk kali pertama, aku merasa ada yang berbeda dari sekolah ini. Semua terlihat merah jambu dengan bulir-bulir berbentuk hati kecil melayang di udara.
Ah, senangnya. Aku melangkah masuk dengan suasana hati yang seperti dilanda bahagia dan senyuman di bibir yang sulit sekali kusembunyikan. Semalaman aku terus memikirkan alasan yang membuat kak Juna sampai mencari nomor Hp-ku.
Apa dia menyukaiku?
Apa dia suka padaku?
Apa benar begitu?
Astagaaa. Aku ini memikirkan apa! Padahal bisa saja dia hanya iseng, kan? Iseng, ya, iseng yang kusukai.
Lagian, aku ini nggak cantik. Gak secantik anggota cheers atau bintang sekolah lainnya. Sudah kubilang, kan. Aku hanya orang dibelakang layar yang kehadirannya kadang tak disadari.
Ya, begitulah.
Lalu aku terhenti dengan senyuman memudar. Cukup lama berdiam diri memperhatikan koridor seberang tempatku berdiri. Jelas sekali aku melihat Arsya dan Vita sedang mengobrol berdua. Tampak asyik sekali sampai aku benar-benar bisa melihat tawa lebar Vita yang tak pernah kulihat sebelumnya. Arsya ngomong apa sampai Vita ketawa seperti itu?
Padahal ini masih pagi. Bisa-bisanya mereka sudah berduaan begitu. Hah. Bikin kesal saja.
"Liatin apa?"
"Ngga liatin apa ap-" Dug! Kepalaku sampai terantuk tiang penyangga koridor disebelahku saat aku kaget melihat Kak Juna sudah berdiri ikut memperhatikan kearahku memandang.
"Aww.." ringisku memegangi belakang kepala yang sakit.
"Aduh, sakit, ya? Sorry, aku nggak bermaksud ngagetin kamu." Kak Juna ikut terlihat kaget saat aku terhantuk tembok.
"Masih sakit?"
Aku membeku tatkala tangan kak Juna terangkat dan ingin memegang kepalaku, membuat dadaku semakin bergemuruh. Tapi tangannya malah menggantung diatas. "Ah, maaf.." katanya seraya menurunkan lagi tangannya.
"Nggak sakit, kok." Jawabku sedikit kecewa.
Kami pun saling diam beberapa saat. Mataku kembali menatap depan. Tak lagi kutemukan Arsya dan Vita disana. Kemana mereka?
"Nggak masuk kelas?"
"Oh, iya. I-ini mau masuk. Aku.. duluan, ya." Pamitku dengan kaku. Lalu dengan cepat membalikkan badan menjauh. Berulang kali aku menarik dan mengeluarkan napas demi menstabilkan detak jantungku yang tak karuan.
"Buru-buru banget jalannya. Belum siap PR, ya?"
Lho, aku menoleh dan kudapati kak Juna mengekoriku dibelakang. Dia.. ngikutin aku?
"Ee.. enggak, kak." Akhirnya aku memperlambat jalanku supaya bisa bersamaan dengannya. Duuh, ini kaki rasanya mau copot karena gemetar.
"Kamu udah sarapan?"
Aduh, jantungku. Bisa-bisanya kak Juna perhatian begini. Bisa repot hatiku ini!
"U-udah kok, kak." Tanya balik nggak, ya? Sebenarnya ini aji mumpung banget supaya bisa deket. Tapi jantungku bener-bener norak sampe terus berdetak kencang.
Ngomong-ngomong, sampe aku naik tangga, kak Juna kok terus ngikutin? Dia.. nganterin aku ke kelas, ya. Hihi. Tanya, ah.
"Engg.. kakak naik juga?" Tanyaku dengan hati-hati. Dia malah tertawa kecil.
"Iya. Kan, kelas aku juga di lantai dua."
Duar. Goblok. Padahal jelas aku tahu kelasnya di lantai dua.
"O-oh.." akhirnya hanya itu yang terucap karena aku merasakan malu yang sungguh luar biasa.
"Kalau gitu, aku duluan, ya." Kak Juna tersenyum dan melanjutkan langkah ke kelasnya yang berbeda sekitar 4 kelas dari kelasku.
Aihh. Aku sampai menghantukkan kepalaku ke pintu kelas. Padahal tadi sudah lancar. Kok bisa-bisanya aku merusak suasana.
Malu banget, kayak.. terlalu kepedean karena nganggap kak Juna ngikutin aku padahal dia juga mau ke kelasnya. Tapi.. tadi lucu banget nggak, sih. Jalan ke kelas bareng..
Besok-besok kaya gini juga nggak, yaaa.. Hehehe.
"Ngapain sih, Riv?"
Hani yang baru datang terheran melihatku menempelkan dahi di daun pintu. Aku langsung memeluknya erat.
"Hei, kenapa lo?"
"Han. Gawat, Han." Kataku dengan nada lemah. Cepat-cepat Hani melepaskan pelukan.
"Apanya yang gawat, Riv??"
"Gawat. Hatiku berbunga dan berdebar nggak karuan."
"Hah?" Mendadak ekspresi Hani bingung menatapku yang udah mirip orang sakau.
~
"Nggak salah lagi. Kak Juna sukak sama lo!"
"Ssttt!" Cepat-cepat aku menutup mulut Salma. Jangan sampe ada orang lain yang denger.
"Wah. Selamat ya, Riv. Kalo udah gitu sih, tinggal tunggu doi ajak jalan aja."
Aduh. Jalan? Mendengar itu dari Hani jadi membuatku mengharapkan itu terjadi.
"Kaget banget pasti ya, Riv. Padahal lo kan, naksir berat sama kak Juna."
"Iya, Ma. Gue sampe ngga sanggup berdiri. Kaget banget tiba-tiba ditelpon kak Juna."
"Sampe dicari lho, nomornya. Ini sih udah fix naksir elo, Riv." Sahut Hani dan aku langsung memejamkan mata kuat-kuat tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaan. Benarkah kak Juna juga naksir aku?
Eh tapi..
"Gak mungkin." Jawabku cepat. Kembali ke mode serius.
"Kenapa gak mungkin? Kalo dia sampe nyari nomor lo artinya naksir. Kalo engga, kenapa dia repot-repot?" Kata Salma mencoba menyakinkan. Tapi tetap aku tak yakin.
Kata cewek-cewek yang dulu deketin Arsya, aku ini nggak cantik. Makanya Arsya mau berteman lama sama aku. Kalo aku cantik, pasti dari awal Arsya udah naksir sama aku. Terus.. aku juga bukan idola di sekolah kayak Vita dan yang lain. Ah, Vita. Dia dideketin Arsya juga karena cantik, kan?
Mendadak aku menumpukan dagu diatas meja. Kepercayaan diri langsung menurun.
"Kak Juna ga punya catatan buruk, Riv. Dia siswa pintar yang dapat peringkat. Aku denger dia cuma pacaran satu kali sama kak Dinda, kelas XI IPA3." Jelas Hani.
"Hm. Bener. Jalani aja dulu. Inget ya, Riv, kesempatan nggak datang dua kali. Lo gak perlu jaim-jaiman segala." Saran Salma. Dan aku pun mengangguk.
Benar kata mereka. Lebih baik aku lihat dulu kedepannya seperti apa. Siapa tahu kak Juna cuma mau berteman. Aku jangan langsung kepedean dulu supaya nggak malu dan kecewa dalam waktu bersamaan.
...🍭...
Aku berdiri di tepi jalan, menunggu Arsya yang katanya akan menjemputku. Tapi ini udah dua puluh menit, Arsya nggak juga datang. Mana panas lagi. Sial banget. Kalo dia dateng, gue timpuk nih, pake sepatu.
Tak lama setelah menggerutu, sebuah motor sport berwarna hitam melaju lambat dan berhenti di depanku.
Mataku terus menyorot pada wajah yang tertutup helm hitam. Siapa ini? Kenapa berhenti di depanku? Tapi dari celana yang dipakai, dia satu sekolah denganku.
"Riva?"
Mataku membulat melihat kaca helmnya yang terbuka. Aku bisa melihat senyumannya walau hanya mata sipitnya yang terlihat.
"K-kak Juna.." Gila, dia keren banget padahal cuma keliatan mata doang.
"Lagi nunggu siapa?"
"Ee.." aku berpikir keras. Nggak mungkin aku bilang nunggu Arsya. Kulihat ke kiri dan kanan memastikan mobil Arsya nggak ada disekitaran.
"... Nunggu ojek, kak."
"Mau pulang, ya? Yuk, aku antar."
"Hah?" Aku melongo. Apa katanya tadi?
"Ayo. Naik." Kak Juna menepuk jok belakang motornya. Serius, nih, dibonceng?
Kulirik ponselku. Arsya belum membaca pesan yang kukirim. Dia kemana, ya? Kulirik motor kak Juna. Aku.. belum pernah naik motor beginian.
Bodo amat, ah. Ingat kata Salma dan Hani, nggak boleh ngelewatin kesempatan emas karena belum tentu datang lagi.
Dengan mata berbinar dan cerah, aku naik keatas motornya. Dan inilah dia. Debaran yang bisa kudengar degubannya. Aku, untuk pertama kali naik motor dibonceng oleh orang yang paling kusukai selama ini. Kak Juna.
"Pegangan, ntar jatoh lagi." Katanya menoleh kebelakang. Bisa kulihat mata yang menyipit dengan tahi lalat dibawahnya. Manis sekali. Sampai tak sadar ternyata kedua tanganku melingkar di pinggangnya.
*Bersambung*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Nurul Hanifah
lahh w ketularan gila ikut2 senyum² sendiri/Facepalm/
2024-03-18
1
Bunga Istiqomah
mboh yo.. tulisan mu kuwi uwenak diwoco e
2023-07-13
2
Novita Sari
peeen...aq udah terbang di angkasa baca cerita riva juna,jangan dihempaskan ke bawah ya...biar aq gak mewek🤩🤩
2023-06-08
1