'You has slain an enemy...'
Aku terbangun saat mendengar suara itu.
'Double kill. Triple kill. Maniac!'
Aku menoleh kesamping. Ternyata Arsya sudah duduk dilantai bersandar tepi ranjangku. Bisa kulihat dia tengah sibuk memencet-mencet ponsel dengan kedua ibu jari antusias.
Aku melirik jam dinding. Ternyata sudah dua jam aku tertidur.
"Berisik banget."
Arsya tak peduli dengan protesku padanya.Tangannya masih terus memencet layar Hp dengan semangat.
"Ngga belajar, Sya.." tanyaku masih dengan suara serak.
"Udah tadi."
"Seneng ya, bisa belajar bareng Vita."
Arsya membalikkan tubuhnya menghadapku. "Kenapa lo gabung?"
Alisku mengernyit. "Kenapa emang?"
Arsya bungkam dengan wajah beralih kesamping.
"Lo keganggu, ya?"
Alis Arsya mengerut. "Ngomong apa, sih."
Arsya berdiri dari tempatnya. Akupun duduk di tepi ranjang dengan rambut yang berantakan.
"Ayo belajar lagi. Katanya tadi masih belum paham."
Aduh, sejujurnya aku males banget. Tepat saat bibirku terbuka untuk menolak, ponselku bergetar.
Salma? Kenapa menelepon?
"Halo." Jawabku malas. Sedetik kemudian mataku membulat. Buru-buru kubuka twitter sesuai ucapan Salma, dan detik itu juga aku menganga dengan aliran darah yang mendadak beku.
"Syaa.. Syaa.." Aku meraih lengan Arsya yang kebingungan melihat sikapku. Lalu ia meraih ponselku dan diam cukup lama menatapnya.
Unggahan di laman sekolah, aku dan Arsya yang tengah berboncengan berhenti di lampu merah. Aku memang tidak memakai helm, jadi lebih gampang dikenali. Tapi Arsya, ternyata banyak yang mengenalinya walau dari helm dan motornya saja. Astaga. Apa ini?
"Yauda sih, gini doang." Arsya menyerahkan ponselku.
"Kok gini doang? Ini gimana cara jelasinnya? Emang lo nggak takut kalo Vita khawatir??"
"Enggak. Tinggal bilang lo sahabat gue."
Aku menepuk jidat. Astaga! Arsya emang selalu memikirkan jalan termudah menurut versinya. Tidak denganku yang tak mau banyak orang tahu soal siapa aku dan Arsya, atau hubungan kami berdua.
"Syaaa.." baru aku ingin merengek sembari menghentak-hentakkan kaki, ponselku bergetar lagi.
"Haah! Kak Juna!"
Arsya hanya menggeleng heran saat menurutnya sikapku berlebihan. Dia duduk bersandar di ranjangku untuk memulai bermain game lagi.
Aku menarik ulang napas sebelum mengangkatnya. Tapi gagal untuk tenang, yang ada aku malah panik.
"Syaaa. Ini gimana cara jawabnyaa."
"Sini biar gue jawab." Arsya berusaha meraih ponselku.
"Enggak. Biar aku aja." Akupun menjauh dari Arsya, duduk di kursi belajar dengan perasaan cemas.
"Ha-halo."
'Ariva, lagi dimana?'
Mendengar suara tenang kak Juna membuatku sedikit lega.
"Di rumah. Eng.. ada apa, kak?"
'Ada yang mau aku tanyain.'
Deg! Ini udah jelas, pasti bahas yang lagi rame di twitter.
"Oh. I-iya. Tanya aja, kak." Aku melirik Arsya yang masih setia dengan ponselnya.
'Keluar, ya. Aku udah didepan.'
Brak! Kursi tergeser kasar kebelakang saat aku berdiri tiba-tiba.
"Eee.." aku memejamkan mata kuat-kuat. Ayolah, otak. Berpikirlah..
'Aku tunggu ya, sayang.' Bersamaan dengan itu, sambungan terputus.
"Syaaaa!!"
"Adooh. Apasih!" Arsya sampai menutup ponselnya saat aku menjerit kearahnya.
"Kak Juna.. kak Juna didepan."
"Ya udah sana temuin!"
"Bukan gituuu. Masalahnya kan, dia nunggu didepan rumah lo. Ntar kalo dia liat gue turun dari sini, gimanaa." Aku menggaruk kepala yang tak gatal.
Arsya menghela napas. Lalu menarik ponselku tiba-tiba. Ia mengetik-ngetik disana.
"Nih. Buru pergi."
Aku melongo membaca pesan yang diketik Arsya untuk kak Juna.
'Ke taman komplek ya, kak. Aku nyusul kesana. Love you.'
Dan dibalas 'ok' oleh kak Juna.
Eh? Wehehe. Aku tertawa cerah. "Encer juga otak lo."
Aku pun bersiul sembari menyambar jeket yang tergantung dibalik pintu.
"Gue keluar, ya. Jangan tungguin. Oke?"
Arsya lagi-lagi menggelengkan kepala aneh melihatku yang berubah-ubah ekspresi, sementara aku langsung keluar dari kamar untuk menemui kak Juna.
Yah, kesenanganku hanya sebatas itu. Kakiku melangkah gontai menuju taman komplek sembari memikirkan jawaban yang tepat kalau kak Juna menanyakan soal gosip di internet. Apa aku jujur aja? Toh, dia kan, pacarku.
"Kak." Sapaku padanya yang lantas tersenyum melihatku datang. Dia menepuk sisi bangku disebelahnya.
"Duduk sini."
Aku pun duduk disampingnya. Kami diam beberapa saat, merasa sedikit canggung, tak seperti biasa.
"Udah makan?"
Aku mengangguk. Padahal belum. Aku saja baru bangun tidur.
Kak Juna memiringkan duduknya, dengan sedikit membungkukkan tubuh, dia menggenggam tanganku.
"Kamu udah liat twitter?"
Nah kan, sudah kuduga. Walau wajah itu tampak sangat bersahaja, tapi nada yang terdengar begitu mengusikku.
"Kak, soal itu.. aku minta maaf nggak cerita ke kakak." Akhirnya aku memutuskan untuk cerita soal aku dan Arga, hubungan kami selama ini. Sejujurnya, melihat wajah kak Juna saat ini tak bisa membuatku mengelak banyak hal. Kecuali dibagian aku adalah anak panti.
"Kalau kakak ga percaya, kakak bisa tanya sama anak-anak yang SMP di Pelita. Mereka semua pada tau, kok."
Kak Juna tertawa kecil. "Percaya. Aku percaya sama kamu."
"Tapi tolong ya, kak. Please, banget. Jangan bilang ini sama siapapun."
Kak Juna hanya manggut-manggut, sebab dia sudah mendengar alasanku kenapa tak ingin akrab di sekolah dengan Arsya.
"Ya udah, kalo gitu. Maaf ya, aku ganggu belajar kamu cuma untuk hal ga penting kaya gini."
"Penting semua kalo berkaitan sama kakak."
Kak Juna ketawa lagi, lalu mengelus puncak kepalaku dengan lembut. "Kita balik, ya."
Aku mengangguk, lalu menggenggam tangan kak Juna menuju parkir motornya.
...🍭...
Aku lega saat kak Juna tahu soal aku dan Arsya. Minimal orang yang paling kusayang tahu tentang Arsya, sahabat baikku.
Walau saat ini, banyak pasang mata yang menatap kearahku. Tapi kucoba abaikan dan terus berjalan menapaki lorong sekolah. Masih pagi, aku ga mau mood-ku rusak.
"Eii. Pabo."
Aku terhenti saat ternyata dua orang laki-laki menghalangi jalanku. Tebak siapa mereka. Ya, Kai dan Hajoon.
"Pabo?" Gumamku.
"Pabo. Itu singkatan dari pembuat onar." Ujar Kai dengan wajah menyebalkan. Sementara Hajoon terkikik lembut disebelahnya.
Jadi, mereka udah buat julukan yang lebih singkat untukku, ya. Padahal masalahnya udah kelar lama, tapi nampaknya masih menyisakan kesal di hati mereka.
"Pabo, lo buat masalah lagi, ya?" Tanya Kai Samuran dengan nada mengejek.
Aku memutar bola mata dengan kesal, lalu sedikit menyingkir untuk melanjutkan jalanku.
"Eitts!"
Kai sialan. Dia menghalangiku.
"Boncengan naik motor bareng Arsya, gimana rasanya?"
"Bukan urusan lo!" Ketusku, dan ingin melangkah. Dan lagi-lagi Kai menghalangi.
"Apasih yang diliat Juna dari lo."
Aku mendelik mendengar ucapan Kai. Ingin aku melawannya, tapi urung kulakukan mengingat aku tak ingin masuk ruang BK. Atau bisa saja aku dikeluarkan mengingat orang tua Kai punya kekuasaan disini.
"Terserah lo deh, mau nganggep gue apa. Mending lo minggir, jangan ngabisin waktu lo buat gue." Aku menerobos sampai menyenggol bahu Kai yang terdiam. Kudengar tawa Hajoon bersamaan dengan gerutuan dari Kai.
Ah, sial. Kai itu cewek apa cowok, sih?
"Arivaaaa!" Teriakan Hani membuatku menoleh. Dia langsung menarikku duduk di bangku koridor.
"Lo tadi ngomong apa sama Kai?" Tanyanya antusias.
Hah. Padahal bisa tanya ini pas di kelas, kan?
"Ngga ada. Dia ngina gue dengan bilang pabo."
Hani malah terbahak-bahak. "Kok dia bisa bilang lo bego, sih??"
Apa? Bego?
"Kok bego?" Perasaan dia bilang Pabo, bukan Bego.
"Iyaa. Pabo itu artinya bego. Itu sih, pasti Hajoon yang ngajarin. Kan, bahasa korea."
Hah?? Sialan. Aku dapat dua julukan sekaligus!!
"Eh, Va. Kemaren.. lo duduk bareng Vita, ya?" Tanya Hani lagi dan aku mengangguk.
"Emm.. gini, Va." Hani mulai bergelagat aneh. "Lo.. bisa nggak, buat gue bisa gabung sama kelompok Vita."
"Whatt??"
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
moona
lagi...lagi....🤗
2023-06-14
1
ega
up nya dikit amat tor,,, lanjot 👍👍👍
2023-06-14
2