"Lama banget bangunnya."
Aku menoleh ke arah suara yang sering sekali terdengar di telingaku.
Dia duduk diatas karpet bersandar pada tepi ranjang yang kutiduri hingga aku hanya bisa melihat punggung dan rambutnya. Dia asyik bermain game di ponselnya.
Inilah alasan kenapa aku hampir tidak pernah mengunci pintu kamar. Karena dia, Arsya, sering keluar masuk sesuka hatinya.
Arsya sekilas menoleh kebelakang melalui bahunya. "Lo itu nggak bersih-bersih, ya. Bisa-bisanya tidur masih pake seragam. Cepet bangun. Ini udah jam 6!" Arsya meletakkan ponselnya diatas nakas, lalu memutar tubuhnya kearahku.
Mata kami bersitatap beberapa detik. Sampai aku berhasil meraba guling dan melemparkan kearahnya.
"Aduh! Apaan, sih!" Arsya memberi perlindungan dengan menyilangkan kedua tangannya.
Aku duduk dan mencoba merapikan rambut. "Kan, udah gue bilang jangan berlagak kenal di sekolah! Gue nggak mau orang-orang tau kalo gue kenal sama lo."
Arsya berdecak setiap kali aku mengatakan itu.
"Kenapa, sih. Padahal gue nggak ngapa-ngapain lo tadi."
Pada awalnya, Arsya memang ngga mau waktu aku minta dia pura-pura ga kenal aku di sekolah. Maksudnya, buat apa?
Well, aku kesulitan kalau orang-orang tau aku deket sama Arsya.
Seperti yang sudah-sudah saat SMP. Banyak cewek-cewek yang ngedeketin aku cuma untuk menyampaikan surat, salam, dan hadiah-hadiah untuk Arsya. Belum lagi aku diteror karena dianggap penghalang sebab Arsya sulit didekati oleh mereka. Masalahnya.. Ya mana aku tau kalo Arsya nolak mereka.
"Pokoknya gue nggak mau ada orang yang tau. Titik!" Tekanku lagi padanya.
"Emang gue negur lo? Enggak, kan! Lagian ngapain juga kalian ngomongin gue."
"Mana gue tau kedengeran sampe sana."
Aku meregangkan leher ke kiri dan kanan. Kenapa terasa agak sakit, ya. "Keluar, gih. Gue mau mandi."
Senyum liciknya mulai muncul.
"Yauda, mandi aja sana. Emang kenapa kalo ada gue?"
"Jangan sampe gue tampol, ya!" Ancamku bersiap menyerangnya dengan guling.
"Udah dari kecil kita berteman, masa gue ga pernah-"
BUK! BUK! BUK!
"I-iya iya, gue keluar. Hahaha." Arsya terus tertawa saat aku memukulinya dengan guling sampai ia keluar dari kamar dan akupun menguncinya. Sialan, menghabiskan energiku saja.
...🍭...
Sebenarnya males banget kalo malam-malam gini cuma duduk nemenin Arsya main game diatas genteng. Mana dingin, lagi. Untung aja nih anak ngerti, sampe bawa semua makanan kesukaan aku supaya aku ngga bosen.
"Sya."
"Hm." Jawabnya sambil terus fokus pada game-nya.
"Lo tau, nggak. Tadi.. kak Juna ngeliatin gue, loh."
Aku masih saja tersenyum-senyum membayangkan kejadian siang tadi di sekolah walau entah benar atau tidak Arjuna melihatku.
Hening. Tak ada suara kecuali sound game Arsya.
"Syaaaaa!!"
"Adooh. Apa, sih!!" Arsya mengubek-ubek telinganya yang kuteriaki.
"Gue ngomong! Lo nggak dengerin?!" Teriakku padanya.
"Ngomong apaan!" Balasnya ketus. Lalu fokus lagi ke ponselnya.
Huff. Sialan. Arsya memang gitu, kalo udah main game, apapun ocehanku ngga akan didengarkan.
"Siapa yang telpon Anj-" Makian Arsya terhenti saat menatap ponselnya menampilkan nama penelepon.
Aku ikut mengintip. "Ehh?"
Buru-buru Arsya menjauhkan ponselnya. Tapi tadi nama yang kubaca itu... Vita? Vita yang mana nih? Anggota cheers? Serius Vita yang itu?
Arsya menempelkan ponselnya ke telinga sembari mendorong kepalaku dengan tulunjuknya supaya aku menjauh.
Bibirnya menyunggingkan senyum. "Halo?"
Setelahnya, entah apa percakapan mereka sebab Arsya malah beranjak menjauh dariku.
Kuperhatikan dia yang berdiri diatas balkon. Tingkahnya aneh dengan gaya khas orang kasmaran.
Arsya.. sama Vita? Yang bener?
Akupun turun dari atas genteng ke balkon, tepat dimana Arsya tengah bertelepon ria. Melihatku mendekat, Arsya menyuruhku tidak berisik dengan meletakkan telunjuk di bibirnya.
Sementara dia, cengengesan dan tertawa dengan obrolan mereka.
"Siapa?" Tanyaku berbisik.
Arsya melihatku sebentar lalu membuang wajah kearah lain sambil terus mengobrol. Sialan, dia mengabaikanku.
"Siap-"
Arsya membungkam mulutku dengan tangannya, membuatku melotot kesal. Dengan cepat aku memukul tangannya sampai terlepas dari mulutku.
"Oke, nanti aku telpon balik. Bye~" Wajah cerahnya kembali masam. "Apa, sih? Kepo banget."
"Itu siapa? Vita anggota cheers? Vita kelas X4?" Tanyaku penasaran.
"Kalo iya, kenapa?"
Aku menghela napas. "Kok tiba-tiba lo deket sama dia? Kok gue nggak tau? Kenapa lo nggak cerita ke gue soal ini?"
"I-yaa.. gue lupaa." Jawabnya asal. Tentu terlihat darinya yang malas melanggatiku.
"Masa lo lupa padahal lo ngekorin gue hampir 12 jam sehari!"
Arsya menggaruk-garuk kepalanya. "Yaudala yang penting sekarang kan, lo udah tau."
Aku mendesah kuat. "Lo gausa dekat sama dia, deh. Cari aja yang lain tapi jangan Vita!" Ucapku tiba-tiba.
"Loh, kenapa?"
"Dia sukanya sama Hajoon, bukan sama lo."
"Hah? Apaan, sih. Orang Vitanya yang ngedeketin gue duluan. Lagian dia cantik. Nggak seneng banget liat gue happy."
Aku kok kesal banget sama jawaban Arsya. "Tapi gue nggak suka. Dia tuh kayak bukan cewe baik-baikk. Dia itu masuk cheers cuma buat deketin cowo-cowo basket!!"
Alis Arsya bertaut. "Emang lo kenal sama dia? Dia pernah bilang langsung sama lo? Sejak kapan lo ngobrol bareng Vita?"
Deretan pertanyaan itu membuatku terdiam. Aku memang nggak pernah ngomong sama Vita. Tapi entah kenapa feelingku bilang begitu.
"Itu.. gue.. gue feeling aja." Jawabku dengan terputus-putus.
Arsya menatapku dengan dahi berkerut. Terasa aneh mungkin baginya, saat aku menilai orang seperti itu. Tak mirip dengan aku yang biasa.
"Feeling?" Arsya lalu tertawa. "Hei, Ri, gue nggak pernah tuh ngelarang lo naksir sama si Juna-Juna itu. Kenapa lo ngelarang gue?"
"...Emang kalo gue bilang si Juna itu brengsek, lo percaya?"
Mataku membulat. "Kak Juna nggak gitu! Emang lo tau?!"
Arsya tersenyum miring. "Nah."
Aku langsung bungkam. Tapi aku udah terlanjur kesal, tiba-tiba Arsya bersikap begini padaku cuma gara-gara cewek yang baru dia kenal.
"Gue gak pernah tuh, ngatur lo mau suka sama siapa. Gue bilang Juna brengsek aja lo ngga percaya. Masa gue harus percaya sama lo yang cuma bermodalkan feeling."
Sumpah. Aku kesal mendengar ucapan Arsya ini. Aku pun enggan terus disana dan memilih turun saja.
"Eh, Ri!"
Panggilan Arsya pun aku abaikan. Si sialan itu, bisa-bisanya dia berkata begitu padaku.
Aku mengunci pintu dan duduk di meja belajar. Akhh sialan-sialan-sialan.
Lagian kenapa sih, aku harus ngomong gitu ke Arsya soal Vita? Padahal aku memang gak pernah kenal Vita. Selama ini aku cuma tau dia karena Salma dan Hani yang cerita soal cewek itu.
Drrtt! Suara jendela tergeser pun terdengar.
"Rii. Ari. Lo udah didalam, kan?"
Aku beranjak dari kursi menuju jendela. Kulihat Arsya sudah berdiri depan jendelanya yang hanya berjarak satu meter dari jendelaku.
"Lo marah?"
Si gila itu. Bisa-bisanya dia masih bertanya. Kesal, akupun menutup jendela dan tirai, membiarkannya memanggil-manggil namaku dari seberang sana. Kupadamkan lampu sebagai tanda bahwa aku mengakhiri interaksi malam itu.
...🍭...
Hari ini pertandingan basket antar kelas masih berlangsung. Jadi tidak ada proses belajar mengajar. Yah, tidak apa-apa. Itung-itung istirahat sebentar.
Setelah merapikan dasi di depan cermin toilet sekolah, akupun keluar.
Tepat setelah beberapa langkah keluar dari toilet, aku melihat kak Juna berjalan dengan kaki panjangnya kearahku.
Aku langsung menjadi patung. Ini kali pertama aku bisa melihatnya sedekat ini. Dia berjalan tanpa melihat kearahku saja sudah membuat degup jantungku berantakan.
Berulang kali aku menelan ludah saat merasa ia semakin dekat denganku, sampai ia melangkah dan akan melewatiku. Kulirik wajahnya, ya ampun.. dia begitu tampan.
Kak Juna menolehkan wajahnya kearahku. Tepat di dekatku, dia menatapku hanya satu detik, tapi mampu membuatku menahan napas seketika.
Membeku, itulah yang kurasakan saat seluruh tubuh rasanya lumpuh. Kusentuh dada yang bergemuruh. Dia.. menatapku? Aku yakin dua ribu persen. Dia menatapku walau hanya sedetik. Ah ya ampun, rasanya ingin pingsan. Beruntungnya aku hari ini...
"Tunggu.."
Kakiku semakin bergetar saat mendengar suaranya. Spontan aku menoleh kebelakang.
"Tunggu bentar.." ucapnya. Tapi ke siapa? Aku?
Dia berjalan lagi kearahku dengan senyuman yang memperlihatkan jejeran giginya yang rapi. Sumpah. Dia berjalan kearahku. Matanya menatapku. Jadi, senyum itu dia berikan untukku?
Berulang kali aku menelan ludah. Apa dia akan menghampiriku? Apa dia sadar kalau aku menyukainya? Pikiranku mulai kesana kemari.
Senyumanku sempat hampir mengembang tatkala ia mendekat, semakin dekat. Lalu dia tak berhenti, malah terus melangkah melewatiku. Eh, bukan aku? Senyumanku pun luruh detik itu juga.
"Ada apa?" Tanya temannya.
Ah, sial sial sial. Aku berharap apa, sih? Jelas dia tidak kenal denganku. Dia tidak tahu aku. Kenapa malah aku yang ngerasa. Aduhh malunyaaa! Untung aja dia nggak liat aku yang udah kadung senyum.
"Riva!"
Aku menoleh. Ternyata Hani memanggilku. Dia melambaikan tangan, memintaku untuk segera datang.
Kulihat lagi kak Juna. Dia masih mengobrol dengan temannya. Ah, tampan sekali. Tapi sayang, aku tidak bisa menatapnya lama-lama, terlebih jarak kami tidak begitu jauh. Bisa-bisa dia mencurigaiku.
"Iya, sebentar." Sahutku dan berlari kecil kearah Hani yang sudah menungguku.
** Bersambung **
(Visual Arsya Alexander Loui)
**Mirip nggak sama bapaknye? Kalo dari gw sih ini mirip emaknye. Kelakuan dan tingkah laku mirip bapaknye plek ketiplekk **
SUBSCRIBE AND VOTE YEAAA~~~~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Intan Anggraeny
kayaknya seruu
2023-11-05
0
Asma
grrrrr 😡
2023-07-28
1
Asma
huh... 😤
2023-07-28
1