Kuperhatikan sekitarku sebelum turun dari taksi. Anak-anak yang masuk ke gerbang sekolah tak ada yang kulihat muncul di gedung olahraga kemarin. Oh, syukurlah. Artinya aman dan akupun turun.
Yah, namanya meminimalisir pertemuan. Soalnya aku masih merasa malu banget kalo ingat kejadian kemarin. Yang buat kekacauan kemarin kan, aku.
"Hoii!"
Aku tersentak kaget saat dari belakang Arsya memekikkan suaranya di telingaku.
Mataku membulat. "Ngapain lo!"
"Lo yang ngapain berdiri-berdiri disini." Gerutunya.
Aku langsung mendorong kuat tubuh Arsya. "Sanaa! Jangan deket-deket gue."
Dia menoleh kebelakang sambil berdecak. Tak kupedulikan dia karena aku harus cepat masuk ke kelas sebelum ada yang menyadari keberadaanku.
Aku berjalan setengah berlari. Ini gara-gara kejadian kemarin, rasa malunya mungkin ga akan hilang beberapa hari kedepan. Aku juga udah bertekat ga akan keluar kelas sampai berita ini menghilang. Aku cuma perlu masuk ke kelas yang ada di lantai dua dan...
BRUK!!
"Awww!" Aku meringis memegangi bokong yang berhasil menghantam lantai.
Tapi siapa yang tiba-tiba nongol dari ruangan ini? Kenapa nggak pake otak banget kalo keluar tuh, liat kiri kanan dulu, kek.
"Eh?"
Aku kaget melihat siapa yang membungkuk menatapku dengan senyuman manis hingga lesung pipinya muncul.
Hajoon. Dia mengulurkan tangan padaku. "Sorry. Aku ga liat-liat." ucapnya dengan logat yang masih terdengar kaku di telinga.
"Hah. Dia lagi."
Kai Samuran. Berdiri dibelakang Hajoon dengan tatapan tajam padaku.
"Dia? Siapa?" Tanya Hajoon memperhatikan wajahku dengan seksama.
"Cewek pembuat onar di pertandingan futsal kemarin."
"Apa?!" .. Cewek pembuat onar?? Jadi, aku udah dapet julukan??
"Oh. Dia orangnya." Kata Hajoon dengan masih tersenyum. Tapi kini berbeda. Senyumnya agak...
"Udah, ayo cepat. Anak-anak basket udah nunggu." Kai meraih bahu Hajoon dan langsung pergi meninggalkan aku yang masih terduduk.
Kepalaku memutar mengikuti perginya mereka. Sialan. Rupa doang yang tampan. Tapi atitud nol besar! Siapa sih, yang bisa-bisanya ngidolain mereka padahal nggak banget kelakuannya. Aku ini jatoh, ditolong dulu, kek!
"Ariva?"
Kepalaku langsung memutar. Nah, ini dia. Sosok yang patut untuk dipuja dan diidolakan. Kak Juna. Dia mengulurkan tangan padaku yang langsung kusambut.
"Ditabrak mereka, ya?" Tatapan kak Juna sedikit menajam melihat kearah Hajoon dan Kai yang berlalu tanpa menolongku.
Aku nyengir. Ogah membahas soal itu.
"Lain kali hati-hati, ya."
"I-iya, kak." Kataku sembari menepuk-nepuk rok belakang.
"..kak, soal kemarin.."
"Udah, ga usah dibahas. Masalahnya udah clear. Tadi malam aku udah selesein sama anggota futsal Binakarya." Katanya memotong kalimatku.
"Tapi.."
"Udah sarapan?" Tanya kak Juna. Aku mengangguk sambil tersenyum. Sungguh perhatian.
"Ya udah, kalo gitu aku ke ruang osis dulu, ya. Ada yang perlu dibahas."
"Soal kemarin, ya?" Tanyaku cemas.
Dia hanya tersenyum. "Jangan khawatir. Aku pergi dulu. Nanti ketemu di jam istirahat. Oke?"
Kak Juna berjalan kearah Hajoon dan Kai tadi. Mereka mau bahas soal kemarin, ya. Aku jadi takut.
Eh tapi, sampai ketemu jam istirahat, katanya? Hihiii.. Jadi nggak sabar nunggu jam istirahat.
~
Walau pada awalnya aku enggan keluar, tapi karena ingat kalau kak Juna mau ketemu di jam istirahat membuatku mau tak mau melangkah keluar kelas juga pada akhirnya.
Aku dan teman-teman udah duduk di kantin. Aku memesan bakso kosong, sedangkan Salma dan Hani memesan mie ayam. Baru aku mau memasukkan bakso bulat ke mulutku, Salma berujar.
"Aku denger acara pertandingan futsal kemarin ricuh. Kai sama Hajoon sampe adu jotos sama anak sebelah, loh."
"Hah, serius?"
Aku meletakkan kembali bakso yang mau kumakan.
"Iya. Denger-denger, ada cewek gila yang duduk di bangku pendukung SMA Binakarya. Trus entah gimana Binakarya nganggep kalo cewe gila itu adalah mata-mata dari sekolah kita." Jelas Salma sambil memasukkan saos dan kecap kedalam mie ayamnya.
"Wah, gila. Kok bisa tu cewek disana?" Lalu Hani beralih kepadaku. "Eh, Riv, lo kemaren ngga jadi dateng kesana?"
"Jadi.."
"Berarti lo tau dong kejadian kemaren?" Tanya Salma antusias.
"Tau.."
"Trus, cewek gila itu siapa, Riv?" Tanya Hani.
"Iya, siapa? Kok bisa-bisanya bantu megang spanduk penghinaan itu!"
"Gue."
"Haaahh??!!" Serentak Hani dan Salma bersamaan menggebrek meja, sampai kuah baksoku tumpah.
"Aduh, jangan keras-keras, dong." Tekanku pada mereka yang sontak menutup mulut.
Aku melirik sekitar, orang-orang memperhatikan kami.
"Serius itu lo?" Tanya Salma dengan mata membulat.
"Iya. Gue cewek gila yang lo sebut. Gue yang salah duduk dan malah megang spanduk yang tulisannya, 'Go Binakarya, Pecundangi Garuda'." Jelasku sembari mengelap bekas kuah yang tumpah dengan tisu.
Salma sampai menganga mendengar penjelasanku.
"Te-terus.. lo gimana?"
"Ya gimana. Malu banget gue. Apalagi pas bentrok gitu. Gue takut bangett. Cewek-cewek Binakarya juga nyeremin. Untung ada kak Juna yang nolongin gue."
Kemudian aku menghentakkan sendok dengan keras. "Lo tau nggak, Kai dan Hajoon sampe ngeliatin gue sinis disana. Mana rame banget ada Vita dan anak-anak lain. Gue malu bangeettt." Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
"Wajar sih, Riv, soalnya kan.. lo tau lah gimana sekolah kita sama Binakarya." Kata Hani.
"Gue ga tauuu. Gue kan, ga pernah keluar sendirian. Gue nekat karena kak Juna yang ngajak guee."
"Haaah?" Lagi, kedua kalinya Salma dan Hani menganga.
Akupun menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi. Dimulai dari kak Juna yang menemuiku di pinggir jalan, hingga berakhir di pertemuan pagi tadi setelah aku ditabrak Hajoon dan Kai di koridor lantai satu.
Mereka masih melongo, tak percaya dengan cerita yang ku sampaikan.
"Ini sih, gila, Riv. Beruntung bangett." Seru Salma histeris.
"Beruntung apanya! Apalagi wajah Kai itu ikhhhh!" Memikirkannya lagi saja aku kesal.
"Gue juga mau kali, ditabrak sama Kai." Celetuk Hani dengan wajah cemberut dan mendapat puk-puk dari Salma di punggungnya, membuatku terkekeh geli.
"Ariva."
Mata kami mengarah pada seorang yang berdiri menjulang disampingku. "Lagi makan, ya."
"Eh, kak. I-iya." Jawabku kaku, sementara Hani dan Salma saling senggol.
"Boleh gabung?"
"Boleh, kak. Duduk aja, duduk." Salma langsung merespon cepat, sementara aku masih membeku terlebih saat kak Juna menggeser kursi dan duduk disampingku.
"Ee.. kalo gitu, kita pindah aja, deh, ya." Hani mengangkat mangkuknya, disusul Salma.
"Hah. Ma-mau kemana.."
Keduanya pindah ke meja yang kosong, meninggalkan aku dan kak Juna berdua.
Tak jauh dariku duduk, ternyata ada Vita dan kelompoknya yang duduk menghadapku. Apalagi Vita dan teman-temannya melihat kearahku. Beberapa tatapan juga keliatan sinis, ditambah ada kak Juna disebelahku. Aku yakin, saat ini aku jadi bahan omongan mereka semua.
"Dimakan, dong. Masa diaduk terus."
Aku menghela napas. Gimana mau makan, dia liatin aku sambil bertopang kepala begitu!
"Kakak gak pesen? Mau aku pesenin?"
"Enggak. Aku gak laper." Katanya sambil terus tersenyum menatapku.
Aku lirik dia dengan helaan napas. "Jangan liatin aku kaya gitu dong, kak.."
Kak Juna malah tertawa renyah. "Abisnya kamu imut bangett.."
Hah. Apa katanya. Aku.. imut? Tapi melihat dia dari dekat, dan sorot matanya yang menatapku, aku yakin dia gak bohong. Jadi, kak Juna.. suka sama aku??
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
wulan
kalo kyk gini jadi kepengen SMA lagi akuh nya pen,,,telat mamir nih ternyata semua karyamu luar biasa pen😘😘
2024-01-16
1
Bunga Istiqomah
rasane aq koyok dadi bocah tuwek😆😆😆
2023-07-13
2
ega
😘😘😘😘
2023-06-03
1