Begitulah hari itu berakhir dengan pembagian laporan nilai selama satu semester yang kebetulan kak Tari yang mengambil raporku, dan Bunda mengambil rapor Arsya. Kenapa gak sekalian aja? Jelas aku memohon pada kak Tari untuk menyempatkan waktu, karena yah, sudah berulang kali aku jelaskan pada kak Tari bahwa aku dan Arsya tidak saling mengenal di sekolah. Walau sempat mengomel, tetap kak Tari mau membantuku.
Libur cuma ada dua minggu. Bunda dan Papa Arga mengajak kami liburan ke luar negeri. Tapi aku menolak pergi karena lebih ingin di rumah. Enggak, sih. Sebenarnya karena ga mau ganggu waktu mereka aja. Soalnya mereka ngga pernah bener-bener ngabisin waktu bertiga. Dan aku selalu jadi perhatian mereka.
Kenapa? Karena tahun lalu, aku malah jatuh sakit waktu liburan di Bali. Tentu semua pada panik dan gak bener-bener nikmatin alam karena aku. Hufft.
"Ayo, lah. Lagian ngapain sih, di rumah terus." Ajak Arsya waktu itu, melalui jendela kamar kami yang berhadapan.
Lagi-lagi aku menggelengkan kepala, menolak untuk yang kesekian kali.
"Aku males, Sya." Elakku.
"Ck! Nggak seru lo!" Decak Arsya.
Yah, begitulah. Selama ini aku hampir ga pernah nolak kalau Arsya meminta ini itu atau mengajakku kemanapun dia pergi.
"Aku.. ada janji sama kak Juna, mau kencan setiap hari." Jawabku dengan wajah meyakinkan, padahal aku berbohong.
Dia diam sebentar, lalu menghela napas. "Ya udah, deh." Ucap Arsya akhirnya.
Setelah itu, aku bener-bener kehilangan Arsya selama seminggu ini. Biasanya, dalam satu hari aku dan Arsya pasti sempet ngobrol melalui jendela. Seperti kebiasaan, aku selalu menoleh ke jendela Arsya yang tertutup rapat dan gelap.
Tring!
Ponselku berdering. Ternyata Arsya. Tapi saat membaca pesannya, aku langsung bergegas menyusun barang-barangku menuju ke Australia.
...🍭...
Hah. Untung bukan kali pertama ke negara Aussie, jadi gak bingung lagi.
Tapi kalo dipikir-pikir, kenapa bunda ngirim map hotel, ya. Bukannya Arsya seharusnya ada di rumah sakit? Atau udah balik hotel kali, ya. Entahlah. Aku menuju ke alamat yang bunda kirim dari chat.
Tak butuh waktu lama hingga aku tiba, bunda dan papa sedang makan siang, sementara Arsya masih ada di kamar.
Tok..tok..
Beberapa detik setelahnya, pintu dibuka dengan kepala yang menyembul dari balik pintu.
Aku memiringkan kepala ke kiri, ini benar Arsya dengan wajah lesu dan pandangan sayu menatapku.
Dia melebarkan pintu dan berjalan masuk, membuatku bingung. Kok dia kelihatan gak kaya kecelakaan? Aku pun mengikuti dari belakang sembari menyeret koper.
"Katanya kecelakaan?" Kok bisa jalan dengan lancar gitu. Ngga keliatan ada yang luka, lagi.
"Emang."
"Mana?" Mataku memindai tubuh Arsya dari atas sampai bawah. Ga ada tuh, lukanya.
"Nih!" Dia menunjukkan siku kanannya yang ditempel plaster, membuatku seketika melongo.
"Itu doang??"
Tanpa dosa Arsya mengangguk-angguk lalu duduk bersandar di kepala ranjang.
Hah. Ini sih namanya gue dipermainkan!
"Syaaaa!!"
Lelaki itu menutup telinga kuat-kuat saat aku teriak, tak suka dibohongi perihal kecelakaan begini. Harusnya dia udah tau itu, kan!
"Kecelakaan apa, hah?? Gue pikir lo tuhh penuh luka lebam ato apalah yang nunjukin kalo lo abis kecelakaan! Kok lo malah bisa dengan santai? Bukannya lo tuh seharusnya di rumah sakit?" Omelku panjang lebar dengan dada naik turun menatapnya.
Mata Arsya membulat. "Lo doain gue kayak gitu?"
Aku menghela napas lewat mulut sangkin kesalnya, lalu duduk di sisi ranjang.
"Syaa. Ayolah. Masa lo boongin gue. Seharusnya hari ini gue jalan sama kak Juna. Tapi terpaksa banget gue cancel karena lo." Dengkusku dengan kesal.
"Gue emang kecelakaan waktu gue bawa sepeda. Ditabrak motor dari samping. Makanya yang kena sikut gua, nih." Dia menunjukkan luka tak seberapa itu.
"...trus gue juga tadi demam. Gak tau nih, tiba-tiba reda aja."
Mataku menghunus padanya, tak suka dengan situasi ini.
"Ya udah, sih. Uda nyampe juga. Istirahat sana di kamar lo. Tadi papa udah pesenin di sebelah. Tuh, cardlock-nya." Dengan dagunya Arsya menunjuk kunci kamar di atas nakas dekatku.
Aku masih merasa kesal. Paling ga suka dibercandain kaya gini.
"Ah, gue inget tadi pas gowes pagi, gue liat ada kafe es krim. Mau kesana?" Ajak Arsya, dengan alis yang naik turun menatapku.
Ck. Sialan. Selalu aja tepat sasaran. Aku kalo lagi kesel emang suka makan es krim.
Yah, dengan wajah yang masih manyun, aku meninggalkan koper di kamar Arsya. Dan kami pun menuju tempat yang dimaksud oleh Arsya.
Sambil berjalan santai, kami memasuki kafe es krim yang tak jauh-jauh dari Elizabeth Quay.
Pada saat akan masuk, mataku tak sengaja menangkap seseorang yang tengah berjalan santai menuju kearahku dan Arsya.
Bentar-bentar. Ini sih, dari cara jalannya aja aku tahu. Tapi masa dia?
Mulutku menganga seketika.
"Syaa. Syaa." Buru-buru aku mendorong Arsya ke balik tembok.
"Apa?" Arsya menahan tubuhnya saat aku ingin dia bersembunyi.
"I-itu. Ada Kai."
"Hah?"
Aku mendorong Arsya hingga dia berada tepat dibalik tembok sebelahku.
Kai menghentikan langkah. Kacamata hitam yang dipakai pun dengan cepat ia turunkan bersamaan ekspresi tak percaya melihatku.
"E-eloo?"
Hadeh. Kadang heran, kenapa bisa terus ketemu sama Kai, sih. Emang Australia sekecil ini?? Hufft.
"Lo ngapain disini??" Sentaknya padaku, yang tak mau dibentak, apalagi di tempat umum.
"Lo tuh, yang ngapain disini!" Balasku namun dengan nada cukup santai. Enggan bertengkar dengan orang seperti Kai.
"Liburan lah! Lo ga liat nama gue diurutan nomor satu?"
"Gue ga tau tuh, ga peduli juga." Jawabku angkat bahu. Tanganku mendorong pintu, hendak masuk.
"Heh. Lo ngikutin gue, ya?"
Langsung aku menoleh kearahnya. Apa katanya? Ngikutin?
"Lo pikir gue kurang kerjaan, apa? Emang lo siapa sampe harus gue ikutin?"
"Ya siapa tau lo sebenarnya sukak sama gue. Diam-diam ngintilin gue."
"Ppfftttt.." tak bisa menahan, aku pun tertawa terbahak-bahak di depannya. Sepede itu kah seorang Kai?
Kai dengan kerutan di dahinya terus menatapku yang tertawa lebar. Tak lupa menepuk-nepuk paha sangkin asyiknya menertawakan ke pedean si Kai.
"Bisa ya, lo ketawa dengan nilai di bawah standar lo itu. Apaan, ranking 173 dari 220 orang."
Ucapannya sukses membuatku bungkam. Kok jadi bahas nilaii?
"Kalo gue, sih. Bakalan malu banget. Malah milih pindah dari sekolah. Nutup muka supaya orang-orang ga liat gue."
Badanku tegak seketika. Bisa-bisanya dia ngucapin ini padaku.
"Heh! Lo pikir karena lo nomor satu, lo bisa seenaknya sama gue, hah?" Aku menunjuk-nunjuk wajah Kai sampai kepalanya mundur perlahan.
"Lo tuh masuk nomor 1 pasti karena bokap lo!"
Wajah Kai pula berubah geram. "Apa lo bilang??"
"Gue yakin lo tuh sebenarnya biasa aja. Ato mungkin di bawah gue. Sekolah yang buat lo nomor satu karena segen sama bokap lo! Bisa-bisanya ngehina gue yang nomor 173. Eh?"
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Kok lo tau gue urutan 173?"
Dan saat itu pula wajah Kai berubah...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
ega
kai diam diam suka ariva nich
2023-06-19
2
moona
kai naksir ariva nih kayaknya 🤔
2023-06-19
2
랟 팰퍁
makin seru..lanjut thor...
2023-06-19
1