"Syaaa.. Syaaa.."
Duk..duk.. duk..
Aku mengetuk-ngetuk jendela Arsya dengan penggaris. Aku butuh bantuannya.
"Syaaa. Lo belom bangun, ya? Astaga kebo banget. Bangun, udah jam 7 heeii." Teriakku keras supaya Arsya mendengarnya.
Arsya menggeser jendela sambil menguap lebar. Wajah bantal dan rambut acaknya membuatku selalu ingin tertawa.
"Apaa. Lo bisa gak, jangan ganggu gue tidur kalo hari minggu!"
Pagi-pagi aku udah kena omel. Lagian emang salahku juga, sih.
"Syaa. Ntar anterin gue, yaa. Gue mau nge-date sama kak Juna tapi gue ga minta dia jemput kesini."
Mata Arsya yang separuh terbuka menatapku. "Kenapa gak sampe sini?"
"Gue belom cerita ke dia kalo gue anak panti."
Arsya termangu. "Emang ada yang salah?"
"Enggak, sih. Cuma.. gue malu. Eh Maksudnya, gue belum mau jujur soal itu. Pelan-pelan, lah. Sekarang lo bantuin gue, ya. Please anterin guee.." bujukku pada Arsya.
"Males. Gue mau ke toko buku siang nanti."
"Yaelah, Sya. Anterin gue sekalian, dong. Lo tega banget sama gue."
"Bukannya lo yang bilang, gak butuh bantuan karena udah ada Juna?"
Aku menyengir. Hehe. Iya, sih. Tapi kan, ini beda.
"Gue traktir, deh. Lo mau apa, gue beliin."
Arsya menggaruk-garuk lehernya sembari menatapku dengan malas.
"Yaudah. Jam berapa?"
"Hehe. Jam 12."
"Hmm." Jawabnya lalu pergi tanpa menutup jendelanya lagi. Kulihat dia langsung menjatuhkan diri keatas tempat tidur. Masih ngantuk banget, rupanya. Aneh, biasanya tuh anak bangun pagi dan olahraga. Sekarang kayanya Arsya sering begadang dan lambat bangun.
Ah, entahlah. Aku mau bersiap dulu. Untuk kencan pertama, aku harus tampil maksimal pada acara kami yang masih 5 jam lagi. Hehehe.
...🍭...
Aku sudah bersiap. Sekarang tinggal nunggu Arsya. Dari tadi aku ketuk jendelanya enggak dijawab. Aku telepon juga ga diangkat. Akhirnya aku turun dan menghampiri Arsya di rumahnya.
"Bunda."
"Ari, masuk, Nak."
Aku masuk, kudapati Bunda dan Papa Arga duduk berduaan. Pasangan ini masih saja mesra walau usia mereka sudah menginjak 40an tahun. Apalagi Papanya Arsya bener-bener masih segar dan ganteng banget.
"Arsya ada kan, Bun?"
"Ada, kayaknya." Jawab Bunda.
"Mau kencan, ya." Samber Papa Arga dengan senyum penuh keingin tahuan.
"Eh." Kencan gimana ya, maksudnya. Sama Arsya, atau akunya yang pergi kencan?
"Itu dia Arsya." Bunda Syahdu menunjuk Arsya yang sedang menuruni anak tangga.
"...Mau pergi kemana? Rapi banget."
"Mau nganter Ari kencan."
Gila. Masa Arsya jawab gitu. Mataku melotot pun Arsya tak peduli.
"Eh, beneran kencan? Ari udah punya pacar, ya?" Tanya Bunda serius.
"Oh, kalah cepat dong, Arsya." Sahut Papa Arga.
"Kalah cepat apanya, Pa. Arsya duluan yang punya pacar."
Gantian, dong. Emang lo doang yang boleh ngebocorin soal gue! Kira-kira begitulah maksud senyumku saat Arsya membelalak kearahku.
"Lho, kok punya pacar nggak bilang-bilang?" Papa Arga sampai meletakkan kopi yang sejak tadi digenggamnya. "Siapa? Kenalin dong, sama Papa."
"Ada, Pa. Namanya Vita. Anaknya cantik banget." Arsya buru-buru mendekap mulutku dan merangkulku.
"Kita pergi dulu, Pa, Ma." Arsya membawaku berjalan sambil terus merangkul.
"Nanti cerita ya, Syaa." Teriak papa Arga.
"Iya, Pa. Nanti Ari bantu ceritain." Teriakku saat Arsya melepas dekapan mulutku.
"Apasih. Berisik lo!" Sungut Arsya sambil terus merangkulku keluar dari rumah mereka.
"Hehee." Aku nyengir tak karuan melihat wajah bete Arsya.
"Ngapain sih, lo bilang ke bokap gue. Kayak ga tau bokap gue aja." Arsya bersedekap.
"Hehe. Soalnya bokap lo sering banget ngejekin lo ga laku. Gue kasi tau aja sekalian."
Arsya malah menatapku dari atas sampai bawah.
Kenapa? Apa yang salah? Aku sampe ikut memperhatikan penampilanku. Aku cuma pakai dress jeans selutut dan sepatu balerina karena gak mau dibilang terlalu tampil all out di depan kak Juna.
Arsya membuka pintu mobil tanpa sepatah kata. Aku pun ikut masuk dan duduk di kursi penumpang.
Senandung indah keluar dari bibirku. Sebentar lagi aku ketemu kak Juna. Tadi dia udah ngirim pesan kalau dia udah mau sampe. Seharusnya akupun cepat, kan.
"Sya, gue turun disitu."
"Nggak masuk?"
"Ga usah. Ntar lo ribet, lagi. Gue disini aja biar lebih deket masuknya."
Arsya menghentikan mobil tepat di tempat yang kutunjuk. Sebelum turun, aku melihat wajahku di spion depan Arsya.
"Sya, gimana? Aku cakep, kan."
Arsya memperhatikanku, lalu mengalihkan wajahnya. "Sejak kapan sih, lo cakep. Udah buru. Gue mau ke toko buku."
"Ck! Iyeee." Aku membuka pintu dan langsung berlari kecil kearah pintu masuk mall. Ah, tak lupa aku berbalik dan melambaikan tangan pada Arsya. Aku lupa bilang makasih. Nanti aja, deh.
~
"Hai." Kak Juna menyapa. Dia tampak rapi dengan kemeja broken white yang digulung bagian lengan hingga siku. Jam tangan hitam, juga sepatu senada membuat tampilannya sangat keren.
"Hai." Aku sampai salah tingkah.
"Aku belom pesan tiket. Takut kamu ga suka film yang aku tunjuk." Ucapnya.
Aku dan kak Juna pun mulai memilih. Setelah menentukan, kami memesan tiket, popcorn, dan cola.
Kak Juna, dia terlihat canggung. Beda dari dia yang biasa.
Setelah menonton, kami makan malam berdua. Waktu itu, aku menurut saja kemana kak Juna membawaku.
Ke sebuah taman kecil yang penuh lampu dan tak begitu ramai pengunjung.
Kami berdiaman cukup lama. Aku ga paham kenapa kak Juna sejak tadi cuma diam mematung. Diajak ngobrol pun, nggak nyambung. Aku mulai merasa, dia punya masalah. Mungkin segan untuk memintaku pulang.
"Kak.."
"Eh, iya?"
"Kalo kakak lagi sibuk, kita bisa pisah disini aja."
"Eh, loh. Kenapa?"
"Emm.. kayaknya kakak banyak pikiran. Dari tadi bengong trus kayak ga nyaman, gitu."
Kak Juna langsung memiringkan duduknya kearahku. "Enggak, bukan gitu. Aku cuma lagi ada pikiran aja."
"Iya, kak. Aku ngerti, kok. Makanya, gak apa kalau kita pisah disini. Aku ga papa kok, pulang sendiri. Lagian, hari ini asyik banget." Ungkapku pada kak Juna supaya dia gak ngerasa bersalah.
"Eh. Gitu, ya?" Kak Juna menggaruk kepala. "...eemm. sebenarnya gini, Riv. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Hm? Mau bilang apa?" Telingaku siap mendengarkan.
Kak Juna duduk tegak. Dia mulai meraih tanganku perlahan dengan jarinya.
Jantungku...berdegub...
"Ariva. Mu-mungkin kamu nganggapnya.. ini terlalu cepat. Tapi aku ngerasa, aku perlu banget bilang ini ke kamu."
Tunggu. Ini kok.. kayak...
"Ariva. Aku tau kita butuh kenalan lebih lama karena kita baru semingguan kenal. Tapi aku ngerasa nyambung dan nyaman sama kamu. Kupikir, kita bisa jalani perkenalan sambil pacaran. Kalau kamu ga keberatan. Mau pacaran denganku, Riva?"
Aku... terpaku.
I-ini memang terlalu cepat tapi aku gak bisa nolak dia. Aku gak punya alasan. Dia terlalu manis dan sempurna untuk aku yang biasa-biasa aja.
"Ah, Riva. Kamu ga perlu jawab sekarang, kok. Kamu bisa pikir-pikir dulu."
Kupandang tangannya yang menggenggam tanganku. Dia benar, kok. Ga ada salahnya kan, sambil kenalan, kita pacaran. Apalagi aku juga suka banget sama kak Juna.
"Kak.."
Alis kak Juna terangkat.
"Aku.. ga tau harus bilang apa."
"Iya. Enggak apa-apa, Riva. Kan, aku bilang jawabnya gak harus sekarang."
"Bukan gitu." Aku menarik napas, menghembuskannya perlahan. "Aku.. udah naksir sama kakak dari awal masuk SMA Garuda. Mana mungkin aku nolak kakak."
Kak Juna, dari wajah tegang, kini kulihat dia tertawa sambil terdongak melihat langit. Dia pasti lega..
"Berarti.. kita.."
Aku tersenyum dan menggenggam erat tangannya. Bukan main. Luar biasa. Ini benar-benar luar biasa. Tanggal 23 November, aku dan kak Juna.. jadian.
...🍭...
"Makasih udah anter aku, kak."
Kak Juna mengangguk. Dilihatnya keluar sebentar. "Jadi rumah kamu ini?"
Aku mengangguk lambat. Maaf, aku belum jujur. Terpaksa aku mengaku rumah Arsya sebagai rumahku.
"Kalau gitu, aku masuk dulu."
"Iya. Makasih, ya, Ariva."
"Makasih.. buat apa?" Tanyaku heran.
"Makasih udah nerima aku. Aku pikir, aku bakalan ditolak." Katanya kembali menggenggam tanganku. "Besok aku jemput, ya."
Aku mengangguk. Lalu, kak Juna tiba-tiba mengecup punggung tanganku. Hampir aku menjerit menahan ledakan dalam dadaku.
"Hati-hati.." Ucapku padanya. Lalu ia mengangguk dengan senyum lebarnya.
Aku melambaikan tangan dan berdiri disana sampai mobil kak Juna hilang dari pandangan.
"Aaaakkkkhh yassshh!!" Aku memegang dadaku yang terus berdetak hebat. Lalu mengibaskan tangan yang dikecup kak Juna.
Aaaaahhhh ini gilaaa. Akuu.. jadi pacarnya Arjuna Kartawijayaaaa!
Saat aku berbalik, aku mendapati Arsya ternyata berdiri di balkon dengan segelas minuman di tangannya.
"Syaaaaa!" Teriakku tak karuan. Membuatnya bingung diatas sana.
"Guee.. udaah.. jadiaaan." Aku tertawa lagi. Indah banget. Dadaku rasanya meledak-ledak.
"Gueee.. jadiaan.. samaa.. kak Junaaa yeaayyy!!" Aku ingin menari bersama angin malam. Aku terus kegirangan di tempatku, diperhatikan Arsya dari atas sana.
Arsya tersenyum sembari mengangkat gelasnya keatas, tanda ia turut senang dengan apa yang kualami barusan.
Aaah. Arsya. Senengnyaa, akhirnya kamu jadi orang pertama yang aku beritahu soal ini.
(Arjuna Kartawijaya)
**Bersambung**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
moona
lanjut pen...penasaran bgt🥹
2023-06-06
1