Bener-bener, ya! Baru juga hari pertama sekolah, aku udah harus kena masalah yang teerrruuss berkaitan dengan Kai!
"Sial, nggak ilang lagi." Aku menggerutu sembari mengucek-ucek seragam putih Kai. Ini noda jeruk emang susah dibersihkan. Haduh, pake acara nyembur lagi nih mulut.
Aku kan, jadi sial 2 kali. Pertama, aku minum bekas Kai. Kedua, terpaksa bertanggung jawab atas apa yang kulakukan.
"Makanya, kalo mau minum liat dulu itu punya siapa."
Aku tahu itu suara siapa. Kulihat Kai berdiri dengan kaos tanpa lengan berwarna hitam. Menampilkan otot-otot tak seberapa itu. Dia bersandar di pintu toilet cewek. Sudah jam pulang sekolah, jadi udah gak ada orang di toilet ini.
Ku abaikan dia dan kembali mencuci noda jeruk dengan hand soap.
"Gue ga mau tau, ya. Pokoknya seragam gue besok harus lo bawa." Tegasnya dengan tangan bersedekap di dada.
"Hah. Iyaaa."
Kai membalik badan dan melangkah keluar. "Baru juga sehari sekolah udah sial aja gua." Gerutunya sambil berjalan.
Heeehh. Yang ada gue yang sial hari iniiii. Aaaah. Aku kesal setengah mati dan melampiaskannya dengan menghentakkan kaki kuat-kuat.
Setelah selesai, aku kembali dan berniat pulang. Jelas aku udah gak semangat mau ngumpul, terlebih setelah kejadian ini tadi, banyak yang menatap kearahku. Aku jadi nggak enak sendiri.
Hani. Dia benar-benar udah berbaur dengan baik, ya. Dia tertawa bercanda bahkan ada kak Juna, Arsya, Kai, dan Hajoon juga. Hebat banget. Kenapa aku gak bisa kaya gitu, ya?
"Kak."
Kak Juna menoleh kebelakang.
".. aku pulang duluan, ya."
Dia mengangguk. "Iya. Hati-hati, ya. Maaf aku ga bisa antar. Abis ini aku mau langsung beli hadiah."
"Iya, gak apapa." Mataku kini beralih pada Hani yang duduk dihadapan kak Juna.
"Han, mau pulang bareng?" Aku mengajaknya karena kami punya tujuan yang sama, kan?
"Duluan aja, Va. Ntar lagi aku balik." jawabnya dengan senyum cerah, yang artinya misi sukses.
Gitu, ya. Ternyata aku sendirian. Kulirik Arsya yang masih santai dengan ponsel walau Vita tengah bercerita sengan tangan melingkar di lengan kanan Arsya.
Semua masih tampak asyik dengan kegiatan masing-masing.
Ya sudahlah. Aku pulang.
Kayak ditikung ya, rasanya. Maksudku, aku yang duluan gabung sama mereka aja gak bisa seakrab itu dengan yang lain. Bahkan aku merasa sebagian dari mereka gak suka sama aku. Termasuklah Kai. Tapi Hani, dia segampang itu menyatu dengan mereka. Akrab lagi.
Huuuh. Aku menarik dan menghela napas perlahan sembari terus melangkah sendirian di koridor sekolah. Masih terdengar pula gelak tawa mereka, seolah kepergianku membuat semua semakin bahagia.
Ayo, Ariva. Gak boleh berpikir negatif, gak boleh iri juga sama Hani. Dia temen kamuu. Bisikku mempengaruhi pikiran yang mulai tak benar.
Yah, beginilah. Sejak tadi aku berdiri di depan gerbang, menunggu taksi atau angkutan umum lainnya, namun tak ada satupun yang lewat.
Aku kembali berjalan sambil menunggu taksi online yang sejak tadi kupesan tak kunjung diterima. Benar-benar hari yang melelahkan. Rasanya ingin langsung masuk kamar dan menjatuhkan diri di tempat tidurku yang empuk.
Brumm!!
Suara motor dan gesekan ban di aspal terdengar. Napasku langsung menghela spontan tanpa kuatur. Lega, saat tahu siapa yang datang.
"Naik." Ucapnya tanpa membuka helm.
Aku naik ke motor sport hitam dan langsung melingkarkan tanganku di pinggang pengemudi.
Ah. Ya ampun. Ada juga tempat bersandar. Ya, sekarang aku merebahkan pipi di punggung Arsya, si penyelamatku.
Makasih, Sya. Lututku lelah, suasana hatiku pun lagi ngga baik-baik aja karena kejadian seharian ini. Aku hampir nangis sebenarnya cuma gara-gara gak dapet taksi online. Syukurnya kamu dateng di waktu yang tepat.
Ucapku dalam hati dengan pipi di punggung dan tangan yang tak lepas dari pinggang Arsya. Aku belum mengatakannya karena tengah menikmati angin dan menutup mata. Yang pasti, Arsya bisa ngerasain betapa lega dan lelahnya aku sekarang.
Tak lama, motor berhenti. Aku membuka mata tetapi ini bukan rumah kami. Melainkan sebuah resto cepat saji.
"Kok kesini?" Tanyaku pada Arsya yang baru membuka helm full face-nya.
"Laper. Lo juga belum makan, kan?"
Iya. Aku sampe lupa sama perut kosong ini. Aku turun dan langsung masuk untuk memesan makanan.
Mataku menatap display menu yang terpampang di depan.
"Yang biasa, kan?" Tanyaku tanpa menoleh pada Arsya yang baru datang.
"Iya." Jawabnya, mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkan di atas meja kasir. Dia langsung mencari tempat untuk duduk.
Setelah memesan, aku membawa sebuah nampan berisi full makanan. Pelan-pelan meletakkannya di meja yang sudah diduduki Arsya. Seperti biasa, dia kembali bermain game di ponsel.
"Bon appétit" ucapku, lalu melahap BBQ beef burger.
Entah karena lapar atau tersumbatnya pikiran, aku merasa kali ini makanku sungguh banyak. Lihatlah yang kupesan. Sampai nampan yang kuletak diatas meja tak memberi spasi untuk makanan lain.
Arsya yang baru meletakkan ponsel terkejut melihat makanan porsi 5 orang ini.
"Banyak banget. Siapa yang makan ini semua?"
Dengan mulut penuh, aku berucap. "Tenang, ada aku."
Alisnya mengerut sesaat, lalu menggelengkan kepala tanda dia sedang berusaha mengabaikanku.
Arsya mendekatkan ayam goreng dan nasi. Lalu mulai memegang ayamnya.
Aku yang melihat itu langsung memukul tangan Arsya. "Cuci tangan dulu!"
"Ck. Udaah." Sahutnya cepat, dan mulai mengunyah.
Kami diam beberapa saat menikmati makanan, sampai Arsya yang mulai bertanya. Pertanyaan yang membuatku heran karena Arsya tak pernah peduli soal orang lain.
"Yang tadi, temen lo?"
Aku menyelesaikan makanan yang ku kunyah sebelum menyahutinya.
"Hani, maksudnya?" Tanyaku memastikan, namun Arsya angkat bahu.
"Iya, tadi dia datang sama aku. Katanya sih, pengen deket sama Vita. Tapi dia jadi bisa deket sama semuanya gitu."
Arsya mengunyah lambat, menatap ayam goreng kesukaannya. "Lo.. gak curiga?"
"Curiga? Sama Hani?" Aku mengunyah dengan bola mata ke atas, berpikir. Kenapa Arsya jadi bicarain Hani.
".. enggak lah. Dia temen sebangku gue dari kelas satu. Anaknya baik banget, peduli sama gue. Dari dulu kayaknya dia nge-fan sama Vita. Trus pas liat aku gabung sama mereka, dia jadi kek yang pengen ikutan gitu." Jawabku panjang lebar, namun Arsya tak lagi menanggapi.
Setelah menyelesaikan makan, aku merebahkan kepala di atas meja. Sedangkan Arsya yang sudah dulu selesai, kembali bermain game.
"Aah. Kenyangnya.."
Ini memang salahku yang terlalu bernapsu sampai memesan makanan begitu banyak. Terpaksa harus ku makan demi rasa tanggung jawab telah menghabiskan uang Arsya walau kuyakin dia tak peduli soal uangnya.
Tapi ini lebih baik. Perasaanku walau belum normal, setidaknya pikiranku tidak lagi keluyuran ke arah negatif. Termasuk menanggapi Arsya soal Hani. Aku percaya dia nggak punya maksud lain selain berteman dengan Vita. Lagi pula, kenapa aku harus memikirkan hal buruk soal Hani, di saat dia tak punya alasan melakukan itu padaku. Iya, kan?
Aku mengirim pesan pada kak Juna. Menanyakan apakah dia sudah pulang atau belum. Kak Juna membalas singkat dan mengatakan bahwa dia pergi mencari kado bersama temannya.
Hah. Aku jadi merasa bersalah. Padahal sebenarnya aku bisa nemenin dia sebentar. Tapi karena fokusku terbelah dua antara mendengar Hani atau kak Juna, aku jadi gak bisa berpikir lagi.
"Syaaa.."
Aku memanggil tanpa mengangkat kepala. Rebahkan kepala begini rasanya enak juga.
"Hm."
"Gue pengen nanya, deh. Soal.. iri dengki." Aku memberi jeda dari pertanyaanku yang entah didengar Arsya atau tidak.
"... menurut lo, gue iri gak ya, sama Hani."
'Enemy has been slain.' Jawab ponsel Arsya.
"Tadi, gue sempet kayak gak suka gitu liat Hani duduk bercanda disana. Padahal dia cuma mau gabung doang. Tapi gue.. kok bisa-bisanya iri."
Aku menggeser kepala supaya bisa melihat Arsya, sahabat yang hanya padanya aku terbuka. Dia masih fokus pada ponselnya.
"Menurut lo, gue cuma lagi kesel soal nyembur Kai, atau emang gue iri sama Hani?".
"Hm, iri." Sahut Arsya tak menoleh. Kedua ibu jarinya menekan-nekan layar ponsel dengan cepat.
"Gitu, ya. Emang gue keterlaluan banget, ya. Bisa-bisanya sama Hani aja kaya gitu."
Aku mendongak melihat Arsya, lalu meletakkan telunjuk di ponselnya, kutekan dengan perlahan ponsel itu sampai turun dan terletak di atas meja.
Mataku menatap Arsya dengan wajah cemberut. Aku butuh jawabannya yang menyakitkan itu.
"Gue.. lagi ga enak hati. Perasaan gue ga tenang sejak tadi. Kenapa ya, Sya?"
'You has been slain.'
Aku tau suara itu adalah suara kekalahan. Tapi wajah Arsya gak keliatan sedih atau marah karena aku mengganggunya. Justru dia menatapku dengan wajah yang sulit ditebak.
"Temen lo itu lagi jalan sama Juna sekarang."
"Hah?" Kepalaku langsung tegak dan menganga seketika.
"Hm. Cari kado, katanya."
Ah.. jadi cari kadonya sama Hani, ya. Kenapa.. aku jadi semakin berpikir buruk soal Hani?
(Arsya Alexander Loui)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Novita Sari
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍meleleeeeeh🤤🤤
2023-06-25
1
Elia
othor sehari 2 bab gtuuu
2023-06-22
1
ega
lanjuttt......
2023-06-22
1