Bangun pagi terasa berbeda. Aku sampai berulang kali berdiam hanya untuk mengingat ulang ucapan kak Juna malam tadi. Sangat menggetarkan jiwa. Aku sampai tak ingat harus melakukan apa sekarang.
Saat aku melewati jendela, kulihat Arsya tengah berdiri di depan cermin sambil mengikat dasi. Akupun menatapnya dengan senyuman tercerahku.
"Pagi, Syaaa.."
Arsya menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke cermin.
"Tumben pagi-pagi udah pake dasi. Takut dimarahin Bunda, yaaa."
Dia tak menyahut. Seorang Arsya memang hanya memiliki satu fokus. Kalau sudah satu perhatian, dia sulit mengarah pada yang lain.
"Gue sarapan disitu, yaa."
Arsya mendekati jendela setelah dasinya sudah rapi melilit kerah leher.
"Ceria banget."
Senyumku semakin mengembang. "Jelas, dong. For the first time in forever, gue punya pacarrrr."
Arsya mengangguk-angguk dengan senyum mengulum. "Seneng?"
"Bangeeetttt!!"
Dia tertawa. "Selamat, deh. Bisa juga lo jadian sama Juna."
"Heii. Panggil dia kakak. Dia kakak kelas lo."
"Lo aja adekan gue."
"Gue kakak lo, ya!" Pekikku dan dia mengambil tas, keluar dari kamar.
Isss. Sial, aku buru-buru meraih tas dan keluar dari kamar menuju rumah Arsya untuk sarapan disana.
...~...
Biasanya memang begini. Kalau ga aku yang sarapan di rumah Arsya, Arsyalah yang sarapan di panti. Tapi kali ini, aku mau sarapan di rumah bersama Bunda dan Papa Arga. Ada yang mau aku omongin ke mereka.
Kami duduk di meja makan yang cukup besar namun diisi empat orang saja.
Arsya tengah lahap memakan roti isi keju, papa Arga juga sama, bunda sendiri makan nasi goreng kesukaannya karena dia tak terbiasa makan roti seperti anak dan suaminya. Kalau aku, jelas makan nasi goreng enak buatan papa Arga.
"Emm.. Bun, ada yang mau Ari bilang sama Bunda."
"Iya, mau bilang apa, sayang?" Tanya Bunda lembut. Aku melirik Arsya yang juga melirikku.
"Eemm.. gini, Bun. Ari sekarang.. udah punyaa.. temen deket."
"Temen dekat?" Ulang Bunda.
"Pacar maksud lo? Ngapain sih, pake disamarin."
Aku melotot pada Arsya yang seenak itu mengatakannya.
"Oh, serius? Wah.. udah punya pacar rupanya. Siapa? Kenalin dong, ke Bunda."
"Baru jadi, Bun. Gini, maksud Ari, Ari mungkin bakalan sering diantar jemput sama kak Juna. Jadi, biar Bunda ngga bingung kalo liat Ari sama orang lain."
"Juna, ya? Kayanya sih, anaknya keren kalau diliat dari namanya."
"Bener, Bun. Keren bangettt." Sambarku terus, sampai membuat bunda tertawa.
"Hmm. Pantes. Ari seleranya pasti keren, bunda tau itu."
Kami pun bersenda gurau di meja makan bersama keluarga hangatnya Arsya, yang menjadi pedomanku, jika suatu hari aku berumah tangga, aku akan membuatnya seperti ini.
"Pergi bareng gue?" Tanya Arsya saat kami berjalan menuju pintu depan.
"Ngga. Katanya kak Juna jemput." Baru aku mengatakan itu, kulihat kak Juna baru sampai dengan motornya. Sontak aku mendorong tubuh Arsya supaya masuk kedalam dan kututup pintu. Tak lupa melambaikan tangan pada kak Juna.
Aku berlari kearahnya. Menerima helm yang sekarang dibawanya dua. Kami pun berangkat bersama.
...🍭...
"Aku ke kelas, ya."
Aku mengangguk setelah kak Juna mengantarku sampai ke depan kelas.
"Oh, ya. Siang nanti aku ga bisa nganter. Soalnya ada rapat osis. Kamu ga apa, kan?"
"Ga apapa, kak."
"Pulang sama temen, ya. Jangan sendiri."
Aku mengangguk. "Emang kakak pulang jam berapa?"
"Aku juga belum tau. Kamu mau nunggu?"
Aku berpikir sebentar. Kayanya kemarin Arsya bilang, pulang sekolah akan ada latihan basket. Jadi sekolah pasti ngga sepi.
"Iya. Aku tunggu. Kita pulang bareng."
Senyum kak Juna mengembang. "Okee." Katanya sembari memegang puncak kepalaku dan berlalu pergi.
Hiiiyyyy.. gemes bangett!
Setelah kepergian kak Juna, Hani dan Salma mendatangiku dengan cepat.
"Riv. Elo dan kak Juna.." Hani menggantung kalimatnya, dan aku mengangguk dengan senyuman yang tak bisa kusembunyikan.
Mereka memelukku girang. Kami melompat bersama. Tak lupa ucapan selamat dari mereka berdua yang ikut senang dengan hubungan baruku.
...~...
Aku udah janji bakalan nunggu kak Juna rapat osis, jadi aku memilih duduk di balkon saat kelas sudah kosong. Aku juga ga berani kebawah. Malu dan takut, karena orang-orang yang ada disana, adalah orang-orang yang juga ada waktu pertandingan futsal kemarin.
Kuedarkan pandangan kebawah. Ada Arsya juga bersama Vita duduk berdua. Arsya, seperti biasa, dia bermain game di ponselnya. Sementara Vita menonton pertandingan basket Hajoon dan Kai.
Tak terdengar pembicaraan mereka, namun nampaknya Vita kesal karena Arsya terus berkutat pada ponselnya. Sampai entah bagaimana, bola dilemparkan kearah Arsya dan dia menangkapnya.
Arsya berjalan menuju lapangan dan ikut bermain disana.
"Huh. Giliran gue yang nyuruh, lo ga mau. Giliran Vita aja, langsung nurut." Gerutuku kesal.
Tapi walau gitupun aku tersenyum. Akhirnya dari sekian lama, Arsya mau kembali bermain basket di sekolah. Terlihat pula Vita dan teman-temannya bersorak ria menyemangatinya.
Emang dasar laki-laki kalo udah naksir, apa aja bisa dilakuin, ya. Arsya, laki-laki dingin yang ga bisa diatur, akhirnya nurut kalo Vita yang ngomong.
"Ariva."
Ah, kak Juna. Udah selesai rupanya.
"Kenapa disini? Ga nunggu dibawah?"
Aku menggeleng lambat. Mana aku berani. Tapi dia sepertinya tahu itu.
Kak Juna menggandeng tanganku.
"Mereka baik, kok. Karena kamu belum kenal aja."
Aku tahu. Tapi mereka gak sesirkel denganku. Maksudnya, kalian kan, orang-orang yang punya previllage. Arsya tuh, yang cocok gabung disana. Kalau aku mah, ngga cocok sama sekali. Apalagi kalo mereka semua tahu aku anak panti asuhan.
Dan kami pun turun. Bersamaan dengan kedatangan kami, beberapa mata menatap. Ada pula yang berbisik melihat kami bergandengan tangan. Termasuk Vita dan kelompoknya.
Sempat ingin kutarik tanganku. Namun kak Juna menahannya dengan kuat. Lalu berbisik, "Nggak apa-apa. Ada aku." Ucapnya, walau tak membuat diriku menjadi lebih baik. Aku takut, apalagi tatapan mereka seperti mengintimidasiku.
"Weh. Ada yang baru jadian, nih!" Celetuk seseorang hingga membuat yang lainnya menoleh pada kami.
"Yang bener? Pajak jalan, dong!" Teriak yang lain.
Bisa kulihat Hajoon dan Kai memperhatikan kami. Begitu juga Arsya.
"Apaan. Ga ada pajak-pajakan. Gue balik dulu." Tukas kak Juna dan kembali menggandengku berjalan melewati mereka semua.
"Kok pulang? Ga seru lo, Jun."
"Iya. Main basket dulu dong, kak."
"Tau nih, si Juna. Punya cewe aja lu, langsung lupa."
"Bentarrr. Gue nganter cewe gue dulu." Katanya. Aku yang mendengar itu langsung tersipu malu. Cewe gue, katanya? Hihii.
Kami pun melangkah menuju gerbang sekolah.
"Kak.."
"Hm?"
"Kalo kakak masih mau ngumpul, aku ga apapa kok, pulang sendiri." Ucapku padanya.
Kak Juna menarik napas perlahan. "Kalo gitu kamu juga ikut ngumpul disitu, ya."
"Hah. Aku.. pulang aja deh, kak."
Kak Juna tersenyum padaku. "Aku tau kamu ga nyaman ada disana bareng mereka. Makanya aku ga ajak kamu ngumpul disana."
"Eh, Enggak. Bukannya gitu. Aku cuma mau pulang cepat." Aku bukan orang yang gampang berbaur dan punya sangat-sangat sedikit teman. Dan gabung sama mereka juga bukan keinginanku.
".. kalo kakak masih mau ngumpul, aku ga apapa. Beneran."
"Enggak. Aku mau bareng kamu. Kalo sama mereka, mah, udah puas banget."
Aku sampai tersenyum mendengarnya. Kalimat yang keluar dari bibir kak Juna rasanya sungguh manis.
"Kita makan siang dulu, ya, sebelum pulang."
Sebelum melangkah lebih jauh, aku menyempatkan menoleh kebelakang. Dan kudapati Vita tengah mengelap keringat Arsya dengan handuk kecil.
Aku tersenyum. Syukurlah, Arsya juga sudah menemukan kekasih hatinya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
S.Syahadah
dulu pas sekolah aku juga punya sahabat gini, aku punya pasangan dy juga punya pasangan tp percaya lah tidak ada yg nama ny sahabat antara laki laki dan perempuan,, sekilan lama ga ketemu kurang lebih 3 tahun, pas ketemu sama sama singel konyol ny kita baru mengetahui perasaan itu dan sekarang udh punya dua anak hihihi
2023-08-02
3
Novita Sari
jangan dibikin 3hari sekali dooonk...dibikin sehari 3kali ajah🤩🤩
2023-06-08
1
Siti Umi
berasa muda lagi pennn😊😊😊😊
2023-06-07
1