Siang itu walau terik, aku tak merasakan panas. Yang terasa saat ini hanyalah getaran yang ada di hatiku. Sampai aku sendiri tidak bisa mengendalikan sesuatu yang meledak-ledak dalam dada.
Terpaan angin yang menerbangkan rambutku terasa begitu lembut. Ini indah banget. Kuangkat hari ini menjadi hari terbaik sepanjang sejarah hidupku. Hehe. Aku naik motor dibonceng kak Juna, sesuatu yang aku nggak pernah pikir akan terjadi, sampai tanpa sadar tanganku melingkar di pinggangnya saat ia menambah kecepatan motornya.
Aku langsung melepaskan tanganku ketika motor berhenti di lampu merah. Ini nggak sengaja. Sumpah, aku cuma terbawa suasana.
"Sebelum pulang, mau makan siang?"
Eh? Pertanyaan itu menandakan kak Juna nggak mempermasalahkan itu, kan?
"Ariva?"
"Eeh. Iya, kak?"
Kak Juna melihatku dari balik bahunya. "Diatas motor jangan ngelamun. Aku tanya, kamu mau makan siang dulu? Soalnya aku laper nih, belum sempat makan tadi."
Aku nggak mau ngelewatin kesempatan ini. "Iya, kak. Nggak apa-apa, terserah kakak aja."
"Okee." Katanya sambil tersenyum, bisa kulihat itu dari matanya yang menyipit.
Entah kemana dia membawaku. Aku benar-benar nurut walau bertanya-tanya juga dia mau makan dimana.
Tak lama, motor berhenti di sebuah kafe kecil. Aku turun memperhatikan kafe kopi itu. Tempatku dan Arsya sering nongkrong dulu waktu SMP. Udah lama juga nggak kesini.
"Mau pesan apa?" Tanya kak Juna sembari membuka jeketnya lalu ia letakkan di badan kursi.
Dia menaikkan tangan menyapa seseorang dibalik meja bartender. Sepertinya itu kenalannya.
Aku ngga suka kopi. Tapi selama disini aku selalu memesan makanan yang sama.
"Chocolate chip mint."
Alis kak Juna mengerut. "Emang ada?"
"Adalah." Sahut temannya yang dibalik meja bartender tadi. Dia datang membawa sepiring burger yang mungkin sudah dipesan kak Juna duluan sebelum sampai kesini. "Tunggu sebentar ya, manis." Katanya padaku lalu kembali ke tempatnya.
Kak Juna mengerutkan dahi. "Kamu pernah kesini, ya?"
"Iya, dulu. Udah lama banget nggak kesini lagi."
Kak Juna mengangguk-angguk. Lalu mulai mengarahkan wajahnya tepat menghadapku. "Maaf, ya. Aku jadi ngambil waktu kamu."
"Nggak apa-apa, kak. Aku juga di rumah ga ngapa-ngapain." Jawabku dengan kaki yang bergoyang dibawah meja. Aku gugup. Kami duduk berdua saling berhadapan. Ini mirip kencan. Aku gak pernah kaya gini sama cowok lain. Biasanya cuma sama Arsya. Itupun lebih sering duduk samping-sampingan.
"Berarti sore nanti luang, dong?"
Apa ini? Dia mau ngajak kencan???
"Eeng.. Gitu, deh." jawabku berusaha tenang dikala dada bergetar.
"Aku tanding futsal sore nanti. Kalau kamu ga sibuk, kamu datang, ya?"
Mataku ini langsung melebar. Dia.. memintaku menonton dirinya yang bertanding? Ini real kisah SMA yang manis.
".. tapi aku ngga bisa jemput. Soalnya sejam lagi udah harus ngumpul. Ntar lokasinya aku kirim."
Aku mengangguk-angguk. Duh gimana, ya. Aku pengen banget dateng. Tapi.. Apa aku punya nyali datang sendiri?
~
"Disini aja? Yakin?" Tanya kak Juna saat aku turun di depan sebuah mini market yang tak jauh dari panti.
"Iya. Ada yang mau aku beli."
"Kamu tinggal disini?"
"Iya, disekitar sini. Hehe."
"Rumah kamu dimananya?" Kak Juna mulai memperhatikan deretan rumah-rumah yang ada disana.
"Emm.. disekitar sini." Jawabanku mutar-mutar karena aku tidak ingin dia tau kalau aku tinggal di sebuah panti. Aku takut dia berpikir lain soal diriku. Aku belum siap...
"Gitu, ya." Katanya masih dengan memperhatikan komplek elit ini. "Kalo gitu, aku balik, ya." Kak Juna memakai helmnya.
"Makasi ya, kak, udah ngantar dan traktir aku. Maaf kalo ngerepotin."
"Aku ngga ngerasa direpotin. Kalau bisa, tiap hari aku anter."
Whatt? Aih jantungku...
"Bye.." aku melambaikan tangan saat dia menarik gas. Kuperhatikan dia yang dari belakang aja keliatan tampan. Luar biasa. Ini nggak bisa didiemin. Aku harus catat tanggal dan hari dimana kak Juna dan aku mulai menjalin hubungan. Maksudku, berteman.
...🍭...
Aku mengetuk-ngetuk jendela Arsya dengan penggaris karena tanganku tak sampai ke jendelanya.
"Arsyaaaa."
Aku memanggilnya karena ingin memarahi anak itu. Bisa-bisanya dia nggak jemput. Malah chat ku tidak dibaca.
"Apa belom pulang, ya?"
Kayaknya dia memang belum pulang. Biasanya jendela Arsya akan terbuka saat dia berada di kamar siang begini.
Hah. Ya sudahlah. Toh, aku diantar kak Juna.
Hehe. Kak Juna. Asyik banget bisa deket sama orang yang ditaksir begini. Aku jadi mengharap-harap, mungkinkah kak Juna juga... suka padaku?
~
Aku berdiri di depan cermin. Merapikan rambut yang kubiarkan terurai dengan pita kecil diatasnya.
"Beneran pergi, nih?"
Kupandangi diriku. Udah rapi dengan celana jeans dan kaos navy. Tak lupa tas selempang kecil untuk menyimpan Hp dan uang.
Tapi, aku ragu.
Tadinya aku ingin ajak Arsya pergi bareng. Sampai disana kita akan pisah tempat. Setidaknya aku nggak sendiri selama masuk kedalam gedung olahraga itu.
Tapi pesanku cuma ceklis satu. Nggak biasanya dia kaya gini. Arsya kemana, sih. Kamarnya juga masih gelap.
Aku duduk di tepi ranjang. Bener nih, pergi aja? Aku ragu banget. Apa.. nggak usah dateng aja?
Baru menimbang, Hp ku bergetar. Chat dari kak Juna. Untuk pertama kali dia mengirimiku pesan. Dan isinya.. dia mencariku?
Kalau begini, mana mungkin aku nggak datang. Aku harus datang dan menonton pertandingannya. Ya, harus.
...🍭...
Aish! Ngga ada seorang pun yang kukenal. Maksudku, yang akrab denganku.
Aku agak nervous. Kuperhatikan sekeliling. Disana kebanyakan siswa Garuda, tapi hanya orang-orang yang famous saja yang terlihat. Nampaknya aku cupu sendiri.
Tapi kuberanikan melangkah masuk, mencari bangku kosong dan duduk disana. Deg-degan.
Ini bener aku duduk disini, kan? Kali pertama aku keluar sendirian ke tempat seperti ini. Terus terang, aku hampir ga pernah keluar sendiri kecuali ke mini market di komplek, atau ke sekolah dengan taksi. Biasanya aku selalu bersama Arsya, kak Adit, atau anak-anak panti lainnya.
Tanganku dingin. Ini pasti karena gugup di tempat ramai sendirian. Huh, kalau aja ada Arsya. Setidaknya aku tahu dia disini, itu akan membuatku sedikit lebih baik.
Ngomong-ngomong soal Arsya.. Itu.. Arsya, kan?
Mataku mengarah pada kursi penonton yang ada diseberangku. Benar kan, itu dia yang lagi duduk dengan tangan bersedekap di dada. Jadi dia datang kesini, makanya nggak balas pesan aku? Trus dia sama siapa? Sendiri? Nggak biasanya.
Eh? Vita? Dia datang membawa air meniral dan memberikannya pada Arsya.
Haisshh! Rupanya dia nggak jemput aku, tapi kesini sama Vita?? Awas aja ya, Sya. Aku akan aduin sikap kamu ke bunda! Aku menggerutu kesal apalagi melihat dua orang itu. Pengen banget nimpuk pake bola!
PRITTT!!
Tim futsal sudah masuk lapangan. Tentu aku langsung bisa mengenali wajah kak Juna.
Aku tersenyum melihat kak Juna yang nampak tampan dengan baju futsalnya. Dia mengambil posisi sembari melakukan peregangan. Ia arahkan pandangannya ke bangku penonton. Apa dia lagi cari aku, ya? Pengen aku teriak dan bilang kalau aku ada dibelakangnya.
Tapi ya sudahlah. Yang penting aku beneran dateng dan nonton dia.
Dan dimulailah pertandingan. Aku sangat antusias dan benar-benar fokus pada kak Juna seorang. Bener-bener keren. Apalagi saat kak Juna menyugar rambut basahnya kebelakang. Aaakhhh!! Ga bisaa, ga bisaaa.. dia terlalu keren!
"Eh, lo anak baru, ya?"
Perempuan yang duduk di sebelahku memulai obrolan.
"E.. enggak, kak. Anak kelas satu." Ya kali, udah mau naikan kelas, apa namanya masih anak baru?
"Ooh. Baru liat. Pegangin ini, dong. Bisa, kan?"
Cewek itu mengulur sebuah spanduk panjang hingga ujungnya mencapai tempatku duduk.
"Bisa, kak." Akupun memegang ujung spanduk tanpa melihat tulisan apa yang ada disana.
Btw, ini kenapa nambah rame, yak. Emang ini pertandingan apa, sih? Aku baru tau sekolah sering tanding-tanding kaya gini.
Aku pun fokus lagi pada kak Juna yang menggiring bola. Dia terlihat mahir menggulirkan bola. Sesekali ia mengoper dan menerima bola hingga saat tak jauh dari gawang, ia menendang kuat dan...
"GOOOLLLL!!" Teriakku saat Kak Juna berhasil menembak bola kegawang lawan. Aku pun ikut melompat girang tak karuan sembari menggoyang-goyangkan spanduk. Keren bener gebetan guee.. Hehehe. Eh, udah bisa dibilang gebetan kan, yak.
Eeiii.. liat tuh, Kak Juna ngeliat aku dari tempatnya berdiri. Aku melambaikan tangan padanya sambil tersenyum bangga. Tapi kok.. responnya aneh banget.
Tunggu dulu, bentar. Aku juga ngerasa ada yang aneh. Kenapa sekelilingku pada ngeliatin aku kaya gitu?
"Lo sukak, ya, sama kosong tujuh?" Tanya cewek yang ada disebelahku tadi dengan alis yang mengerut heran.
"Hah?" Gimanaa. Masa aku bilang naksir sama kak Juna. Kan, nggak mungkin. Bisa-bisa kesebar satu sekolah, lagi.
Ponselku bergetar. Aku membuka pesan dari kak Juna dan seketika mataku melotot.
"WHAATTT???!"
*** Bersambung***
*Heyyoo JANGAN LUPA SUBSCRIBE, LIKE, AND VOTEE🫶
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Bunga Istiqomah
yo ngene nek gak tau ocol teros ocol dewe.. mbelarahhh pasti
2023-07-13
1
Sri Mulyaningsih
😂😂😂😂😂😂😂😂😂🤭
2023-07-03
1
Novita Sari
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-06-08
2