Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Kok lo tau gue urutan 173?"
Dan saat itu pula wajah Kai berubah. Dia menoleh kearah lain dengan kedua tangan berkacak di pinggang. Terlihat pula hembusan napas dari mulutnya.
"Lo.. ngapain nyari nama gue?"
Mata Kai tiba-tiba menghunus tajam ke arahku. "Sengaja, pengen liat urutan berapa sih, cewek Juna ini. Gue semakin yakin Juna buta. Bisa-bisanya cowok nomor satu kayak dia dapat cewek nomor trakhir kayak lo. Kalo gue sih, ogah."
Mataku membulat sempurna. Bener-bener nih anak. "Heh, ga ada urusannya sama lo, ya! Gue juga Nggak mau sama lo! Mending lo urusin aja hidup lo sendiri. Lo pikir lo ganteng? Gaya tengil aja belagu banget." Tegas aku mengatakan itu, kemudian berbalik badan melangkah pergi.
"Heeh, GUE JUGA GAK MAU SAMA LO!" Teriak Kai terus-terusan seolah ingin terus berdebat denganku. Namun aku mengabaikannya, tak ingin sampai aku menjambak rambutnya.
"Hiiihhhhh!!" Aku menyentak-nyentakkan kaki setelah berbelok ke balik tembok. "Gilaa! Kok ada orang kayak dia. Ngeselin bangettttt!! Pengen tak hiiihhhh." Aku meremat-remat udara dengan kedua tangan mengepal kesal tanpa memperdulikan Arsya yang sudah bersandar di tembok menungguku.
"Ck. Yaudah ayo balik. Bunda nyariin, kita belum makan siang." Arsya menarik sebelah tanganku, yang masih terus mengutuk Kai sambil meninju angin dengan tangan lain sebagai pelampiasan.
Another bad day in a day. Dua kali kesal khusus untuk hari ini aja. Jadi beneran nyesel aku udah datang ke sini.
Untung di hari lain aku ga ketemu lagi sama Kai. Gak tau dia kemana dan ga mau tau juga. Dan kami pun pulang setelah dua hari aku disini karena aku tidak mau berlama-lama di tempat yang aku sendiri belum bilang ke kak Juna kalau aku ada di luar negeri.
...🍭...
Libur telah usai. Akhirnya kami masuk sekolah lagi dan kali ini aku menghembuskan napas berulang -ulang. Soalnya di kelas dua ini, seluruh siswa kelas XI akan dibagi menjadi 3. IPA, IPS, dan Bahasa.
Sebelumnya, aku udah diskusi soal ini ke Arsya. Pasalnya, aku ga tau harus kemana. IPA? Aduh, udah pasti bikin otakku keriting.
IPS? Aku ga suka yang berbau sejarah, apalagi pasal-pasal dan hukum NKRI, bawaannya ngantuk dan pengen tidur. Maafkan aku, pahlawanku😭. Tapi ini serius. Apalagi tentang pergeseran bumi dan lain sebagainya yang membuatku bener-bener ingin tidur.
Lalu, jurusan bahasa. Ini pelajaran yang menipu karena sekilas terlihat mudah sebagai bahasa sehari-hari, namun nyatanya, bahasa adalah pelajaran yang paling sulit bagiku. Berapa kali aku mengotot pada guru bahwa bahasa indonesia yang kutulis sudah benar, tapi menurutnya malah salah. Padahal selama ini kita tuh gak pake bahasa yang kaya gitu juga kan, untuk sehari-hari? Ck!
"Itu sih, fix karena elo yang malas belajar."
Celetukan Arsya waktu itu berhasil membuatku nyengir sampai gigiku kering. Yah, habisnya gimana. Memang aku ga pinter, kan.
"Kalo lo, kemana?" Tanyaku pada Arsya, yang sudah kutebak jurusannya.
"IPA." jawabnya santai sembari terus bermain game di ponselnya.
Ya, sih. Arsya emang cocoknya di IPA. Tapi masa aku harus ikut-ikut dia?
Sampe akhirnya, dengan keputusan berat, aku memilih... IPA!!
Kenapa IPA? Ya nggak apa-apa. Gak tau lagi aja mau kemana.
Untungnya, aku lulus dan diizinkan masuk kelas IPA dengan nilai pas-pasanku itu.
Dan disinilah aku sekarang. Kelas XI IPA...
Mataku menatap layar ponsel yang menampilkan web sekolah. Melihat informasi tentang kelasku saat ini.
Ah, IPA2. Aku ga kaget, kok, walau ada diposisi IPA2 dari 4 kelas IPA. Karena kata kak Juna, kelas itu tidak menentukan mana yang paling pintar. Karena bisa aja IPA4 yang mendapat predikat siswa-siswa terbaik.
Aku masuk ke kelas IPA2. Langkah yang tadi lebar langsung melambat saat mendapati Hajoon duduk di bangku nomor dua dari belakang.
Hajoon, jadi aku sekelas bareng dia?
"Ariva. Lo nomor berapa kursinya?"
Oh, dia Rosa, teman sekelas semester lalu.
"Nomor?"
"Liat deh, di web. Kita tuh duduknya diatur. Siapa tahu kita sebangku."
Begitu, ya? Akupun kembali mengecek ponsel dan mendapati bangku paling belakang.
"Iyeess!!" Sontak aku teriak sampai membuat beberapa orang melirik kearahku.
"Aku duduknya diujung sana, Sa."
"Oh, gitu, ya. Oke deh." Jawabnya dengan lesu. Mungkin dia lebih suka kalo sebangku dengan yang udah kenal.
Aku berjalan di lorong bangku, memastikan dengan benar posisi bangkuku melalui ponsel.
Lalu ternyata, aku duduk di belakang Hajoon.
"Hai. Ternyata kita satu kelas." Sapa Hajoon dengan ramah tersenyum menampilkan lesung pipinya.
Aku mengangguk dan tersenyum canggung. Dia teman Kai, walau tidak langsung mengejek, Hajoon menjadi orang yang ikut tertawa dengan ejekan itu. Bahkan mungkin dia yang memberi label Pabo waktu itu.
Eh? Tas siapa ini? Jadi teman sebangkuku udah duluan datang, ya.
Aku masih berdiri mengetuk-ngetuk meja. Karena ada Hajoon, entah kenapa perasaanku tidak enak.
"Joon, dipanggil anak basket ngumpul di lapangan. Kuy!"
Suara ini...
Aku berbalik dan mendapati Kai berdiri di belakangku. Wajahnya sama terkejutnya denganku, tak menyangka kami bisa satu kelas walau aku udah curiga sejak melihat Hajoon.
"Astaga, elo lagii!"
Aku berdecih dalam hati. Sial banget bisa satu kelas dengan nih anak!
Dahi Kai mendadak mengerut. Dilihatnya bangku kosong di belakangku.
"Jangan bilang lo sebangku sama gue?"
Damn! Beneran sebangku, nih???
"Heiii. Gue juga ga mau sebangku sama lo!" Mataku langsung mencari Rosa.
"Rosa, gue sebangku sama lo, ya. Gue disitu, ya!" Teriakku pada Rosa yang kini menatapku.
"Mana bisa, Va. Ini kan, udah tercatat."
Ukh! Kenapa pake diatur segala sih, tempat duduknya. Apakah ini akan menjadi masa-masa SMA tersial dalam hidupku? Ah, entahlah. Yang penting meletakkan tas dulu.
Aku menggeser tas Kai yang ada di dekat jendela. Aku mau duduk disana, biar bisa melihat-lihat keluar.
"Hei-hei-heiii! Itu bangku gua!" Seru Kai.
Aku langsung duduk dan memeluk tas diatas meja.
"Gue duluan."
Kai berdecak. "Jelas-jelas gue duluan yang datang!"
"Ngalah dong, sama perempuan! Masa perkara bangku aja sampe sewot."
"Gue emang suka ngalah sama perempuan tapi gakk sama lo!"
Aku menatap Kai nyalang. Dia ini ada masalah apa sih, sama aku. Masa iya masih sakit hati soal futsal kemarin?
Aku mendongak, melihatnya yang masih berdiri di sisi meja. "Lo itu emang senyebelin ini, ya?"
"Gue gak peduli. Yang penting lo minggir, itu bangku gue."
Bodo amat. Aku langsung merebahkan kepala diatas tas membelakangi Kai. Terdengar tawa kecil Hajoon di depan.
"Yaudala, bro. Biarin aja. Lagian kalian akan satu bangku selama setahun, kan?" Ujar Hajoon diselingi tawa. Dia berdiri dan merangkul Kai keluar dari kelas yang masih bisa kulihat pantulannya dari kaca jendela.
Huhh. Untung aja. Tapi ini gimana..? Serius gue sebangku sama Kaiii?
AAAAAAA AKU GAK MAU SEBANGKU SAMA KAAAIIIII
Teriakku dalam hati.
TBC...
Kai Samuran
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Asma
jaga imej... jaim2 jgn sampe ketauan...
2023-08-16
1
Asma
gue ngintilin elu ariva...
2023-08-16
1
Sri Mulyaningsih
lucu banget si.....emang seru masa SMA
2023-07-03
1