Hehehe..
Aku terus tersenyum sepanjang jalan menuju kelas. Nggak nyangka banget, kak Juna mulai terang-terangan kaya gitu. Dia bilang aku imut dan cakep. Walau aku tau mungkin itu cuma gombalan, tapi dengernya dari kak Juna buat aku gak bisa berenti senyum, serasa melayang.
"Kiri, Jek. Lo ngapain kesana!"
Eh. Itu kan, suara Arsya.
"Aduuhhh. Lo bisa maen nggak, sih?"
Aku mencari suara Arsya. Sepertinya ada dibawah tangga.
"Lo juga, ngapain pake yang culun gitu. Kalah, kan!"
"Marah-marah mulu, lo!" Arsya spontan menoleh padaku yang sudah berdiri di depannya.
"Eh, Ari. Tumben nyapa. Hehe." Danu, salah satu temen Arsya saat di SMP, pernah nembak aku tapi dengan sangat menyesal aku menolaknya karena nggak tertarik padanya sedikitpun.
"Tau, nih. Katanya kita harus pura-pura ga kenal." Sambung Zaki, satu sirkel dengan Arsya dan Danu. Dua orang yang ga terkenal tapi mengekor dibelakang Arsya karena sesama gamers. Tapi, rank mereka masih kalah dari Arsya.
"Kan, lagi ga ada orang." Mataku beralih pada Arsya. "Lo nggak sama cewe lo. Di kantin, tuh."
Arsya melirikku sekilas, lalu fokus memainkan game-nya lagi.
Lho, ada yang aneh. "Kenapa dia?"
"Ohh. Tadi dimarahin pak Hendri. Nggak ngerjain PR." Jawab Danu.
"Hah? Serius lo gak ngerjain PR, Sya? Bukannya lo rajanya fisika?"
"Katanya banyak pikiran, Ri." Ujar Zaki padaku.
"Pikiran? Hahaha." Aku tertawa lebar. "Sejak kapan lo mikir, Sya?"
"Diem lu!" Ketusnya padaku yang tertawa tanpa henti.
"Eh, Ri. Siang nanti kita mau nongkrong di kafe kopi tempat biasa. Mau ikutan, gak?"
"Ngapain lo ajakin dia." Arsya mengomel pada Danu yang mengajakku bergabung.
Melihat Arsya yang marah, aku jadi tertarik mau ikut.
"Oke. Siang nanti gue langsung kesana."
"Sssipp!!" Danu mengangkat jempolnya tinggi-tinggi.
Aku langsung pergi karena tak ingin ada yang tahu aku bergabung dengan mereka. Kalau kafe kopi, kan agak jauh dari sekolah. Aku nggak perlu khawatir, dong.
...🍭...
Aku sampai duluan di kafe kopi. Sebelumnya, Zaki dan Danu udah chat aku mau pesan apa. Jadi saat mereka datang, pesenan mereka sudah ada.
"Ini aja, manis?" Tanya bartender itu padaku. Bartender yang sama saat aku dan kak Juna kesini.
"Emm.." Arsya nggak bilang sih, dia pesen apa. Tapi dia pesen yang sama, kan.
"Vanila latte yang less sugar."
"Oke. Ice cream minty?" Tawar bartender itu padaku. Aku tersenyum lalu mengangguk. Dia sudah hapal keinginanku.
"Ditunggu ya, manis."
Aku memilih meja yang ada di dalam, duduk di dekat tembok kaca. Karena nampaknya akan hujan dan awan terlihat sedikit lebih gelap.
Aku membuka novel sembari menunggu. Novel terbaru yang dibelikan Arsya minggu lalu. Kisah tentang perjuangan seseorang menemukan cintanya. Agak lucu rasanya saat Arsya memberikan ini padaku. Padahal biasanya dia nggak pernah peduli. Katanya, ini novel best seller yang dia lihat saat nggak sengaja lewat di toko buku.
"Ari, udah lama?" Zaki, Danu, dan Arsya baru datang. Aku menutup novelku.
"Baru. Pesenan kalian bentar lagi datang." Jawabku. Zaki dan Danu duduk didepanku, sementara Arsya duduk disebelahku.
"Masih bete aja mukenyee.." aku menarik telinga Arsya sampai kepalanya mengikut miring. Tapi dia tak protes sedikitpun.
"Kalah war, dia." Sahut Zaki.
"Gara-gara lo!" Sungut Arsya, membuat Zaki menyengir.
"Yauda sih, game doang. Ntar main sama gue di rumah." kataku pada Arsya.
"Yang ada makin kalah gue." Ucapnya dingin. Membuatku tergelak sambil mengacak rambutnya.
"Jek, lo kok betah temenan sama Arsya." Tanyaku iseng pada Zaki.
"Lah, gue yang mau nanya itu sama lo. Kan, elo yang lebih lama temenan sama Arsya." Tukasnya dan berhasil membuatku terkekeh.
Aku menggantungkan siku kananku di bahu Arsya. "Gue tuh, nganggep Arsya kayak adek gue. Jadi, gue pasti sabar."
"Gue lebih tua enam bulan dari lo." Sungutnya dengan menepuk tanganku yang bertengger di bahunya. Aku terkekeh lalu menurunkan tangan.
"Cuma enam bulan doang. Kalo dari sikap dan sifat, gue lebih cocok jadi kakak lo."
"Ga ada kakak yang penakut dan dikit-dikit minta temenin gue." Gerutunya dengan mata yang fokus pada game di ponsel.
"Wajar kali, namanya juga nggak terbiasa sendiri. Ya nggak, Jek, Dan?" Tanyaku meminta persetujuan dua orang di depan kami.
"Ini nih, yang buat gue khawatir lo bedua jatuh cinta." Kata Zaki, membuat aku dan Arsya saling tatap.
"Bener, haha. Nggak ada sahabat cewe cowo, bro." Sambung Danu.
"Hah? Gue.. cinta sama lo?" Kataku menyentuh dahi Arsya dengan telunjuk. "Ppfftttt.." aku menutup mulut menahan tawa. Ini sih, geli.
"Awas kemakan omongan sendiri, ya." Kata Arsya tajam menatapku.
"Uluuhh huluhhh.. adek guee." Aku mencubit kedua pipi Arsya gemas. "Lo mah, udah gue anggep adek sendiri. Lo pipis aja gue pernah liat."
Mendengar itu, Zaki dan Danu cekikikan.
"Lepasin." Ucap Arsya dengan pipi mengembang. Dia gak memberontak walau dia bisa menepis dengan tangannya.
"Mau gue lepasin? Bilang dulu, 'kak, lepasin pipi gue dong, please'." Ucapku sembari tertawa tanpa mau melepaskan pipi chubby Arsya.
"Uluuuhhhh.." aku terus meledek Arsya yang hanya kesal melihatku.
"Oh, Vita, tuh."
Aku menoleh kearah pintu dibelakangku tanpa melepas tangan yang masih asyik mencubit pipi Arsya. Kulihat Vita dan dua orang temannya baru keluar dari mobil.
Arsya ikut menoleh sampai tanganku terlepas dari pipinya. Sialan, dia malah mengajak Vita? Padahal dia tau aku mau ikut kesini karena cuma ada kita berempat.
Buru-buru aku meraih tas dan berdiri. Aku akan keluar dari pintu belakang.
"Loh, Ri, mau kemana?" Tanya Danu, tapi aku tak menjawab dan langsung beranjak dari kursi.
"Manis, ini pesanannya baru datang." Bartender itu membawa pesanan kami.
"Numpang keluar dari belakang, kak." Kataku pada Bartender yang hanya melongo menatapku buru-buru masuk kedalam dapur kafe.
Haihh. Gimana sih, Arsya. Kesal banget dia tiba-tiba bawa pacarnya kesana. Padahal tadi aku sampe nolak Salma dan Hani yang ngajak aku hang out bareng diluar demi kumpul sama mereka yang udah lama banget nggak nongki. Ehh.. tau-tau dikasih kejutan kaya gini. Ngeselin banget, Arsya.
Mana mau ujan, lagi.
Aku berhenti di trotoar jalan yang sepi menatap langit gelap. Hari ini.. banyak hal yang terjadi. Aku yang nggak pernah sangka bisa dikenal kak Juna hingga akhirnya deket sama dia. Bahkan Kai dan Hajoon, bintang di sekolah juga sekarang mengenalku. Yah, walaupun dalam hal yang menjengkelkan mereka.
TIN!
Aku tersentak saat sebuah motor sport hitam mendekat dan berhenti tepat di depanku. Aku tahu, ini kak Juna.
Kak Juna membuka kaca helmnya. "Suka banget berdiri di pinggir jalan."
Senyumku mengembang. Akupun naik ke motornya saat dia menepuk jok belakang.
"Pegangan. Ntar jatoh."
Aku dengan ragu ingin melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Lalu kak Juna yang langsung melekatkan kedua tanganku di pinggangnya. Dia menancap gas, membuatku tersenyum dibalik punggungnya.
Ditengah jalan, kami kehujanan. Kak Juna menghentikan motornya tepat di sebuah halte kosong. Kami buru-buru turun dan berteduh disana. Hujannya sangat deras.
Aku menepuk-nepuk bahu yang setengah basah. Berbeda dengan kak Juna yang memakai jeket kulit dan helm, dia lebih aman walau celananya sedikit basah.
"Maaf, ya. Gara-gara aku bawa motor, kamu jadi ikut basah."
Aku duduk di bangku panjang yang ada disana. "Eh, nggak papa, lagi. Namanya juga cuaca, sulit ditebak." Jawabku sok bijak.
Dia ikut duduk disampingku. Dan kami diam beberapa saat menatap hujan yang jatuh dan mengalir menuju tempat yang lebih rendah.
"Besok.. kamu ada acara?" Tanya kak Juna.
Aku menyembunyikan senyuman yang sudah kusadari bahwa dia akan mengajakku pergi.
"Eng.. kayaknya.. ga ada."
"Kalau gitu, nonton yuk."
Suara gemuruh bersambut seolah menjadi sorakan gembira dari langit. Aku senang sekali.
"Nonton, ya? Hmm.." gumamku sok jual mahal. "Mau nonton apa?"
"Nggak tau juga. Hehehe. Soalnya, aku belum liat film apa yang bagus." Dia menggaruk belakang kepala yang kuyakin nggak gatal. Wajahnya bersemu merah. Ternyata, kak Juna bisa juga malu-malu.
"Oke."
"Hm? Kamu mau?"
"Maulah. Sama kak Juna.. berdua, kan?" Tanyaku memastikan. Tanpa malu aku mengatakan itu.
"Iya. Cuma berdua. Namanya juga nge-date." Ucap kak Juna disertai suara gemuruh langit.
"Apa?" Tanyaku ulang. Dia bilang, nge-date? Serius, nih...
"Apa?" Tanyanya balik sembari tersenyum-senyum.
"Tadi bilang apa?"
"Bilang apa? Aku nggak bilang apa-apa." Elaknya lalu menoleh kearah lain. Dia pasti lagi ketawain aku.
Ishh. Dia kira aku nggak denger, apa. Aku kan, cuma mau denger sekali lagi kata manis yang keluar dari mulutnya itu.
"Eh." Aku terperangah saat kak Juna membentangkan jeketnya di pundakku.
"Dingin. Nanti kamu masuk angin."
Aku buru-buru membuang wajah kearah lain. Ini gilaaa. Boleh teriak nggak, sihh. Aku mau teriaaak aku mau teriaakk. Dia manis bangeeetttt astaga!
Nggak bisa. Aku gak bisa diginiin. Hatiku meleleh. Aku dari dulu naksir berat sama kak Juna. Dan sekarang, aku malah semakin tergila-gila sama sikap dan perilakunya padaku. Aku.. apa boleh berharap lebih dari ini?
(Arjuna Kartawijaya)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Yoan
uppp penn
2023-06-04
1
Elia
bisa up lebih banyak g thor hhhh
2023-06-03
1
ega
lama bnget up nya,,,
yang syahdu juga,,,, tp q sllu menanti, 😘😘
2023-06-03
1