PASTI AKAN MENEMUKANMU

Semalaman, Tristan tak mau lepas dari Fressia. Ia selalu berada dekat karena takut jika ia membiarkan Fressia jauh, maka pengasuhnya itu akan pergi meninggalkannya.

"Aunty sangat menyayangimu," ucap Fressia kemudian mencium kening Tristan.

Fressia menatap wajah Tristan dan tiba tiba saja air mata mengalir di pipinya. Ada perasaan di dalam hatinya yang seakan bergetar ketika ingin meninggalkan anak asuhnya itu.

"Tidak bisa. Aunty tak bisa meninggalkanmu," Fressia menghapus air mata di pipinya dan kembali mencium kening Tristan.

Sementara itu di Kota New York,

Aiden yang bingung serta mulai gelisah karena tadi Tristan melihat apa yang dilakukannya, menjadi kacau. Ia pergi ke klub malam untuk menenangkan pikirannya.

"Sebaiknya kita pulang sekarang, Tuan," ajak Grey yang terus berada di sampingnya, untuk menemani atasannya itu.

"Tinggalkan aku sendiri, Grey. Aku masih ingin di sini," ucap Aiden dengan sedikit mabuk.

"Anda sudah mabuk, Tuan."

"Aku tidak mabuk! Ingat itu, aku tak bisa mabuk!" racau Aiden.

Grey hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Aiden. Ia melihat ke arah bartender dan menggelengkan kepalanya lagi, sebagai tanda agar tidak memberikan minuman beralkohol lagi pada atasannya. Sebagai gantinya, Grey meminta bartender itu mengisi botol kosong dengan air mineral saja.

Pranggg

Aiden membanting gelasnya setelah ia baru saja merasakan apa yang ada di dalamnya.

"Cepat berikan gelas lagi padaku dan beri aku satu botol lagi," ucap Aiden.

Grey menggelengkan kepalanya lagi pada bartender untuk tidak memberikannya. Tiba tiba seorang wanita dengan pakaian seksi datang mendekati Aiden. Ia langsung saja menyentuh Aiden dan ingin memeluknya.

Bruggghh

Aiden langsung mendorong wanita itu hingga terjatuh, membuat Grey hanya bisa menghela nafas dan menutup matanya.

"Pergi kamu! Jangan berani berani kamu menyentuhku!"

"Kita pulang sekarang, Tuan," ajak Grey.

Melihat tak ada perlawanan lagi dari Aiden, Grey pun membawa Aiden pergi setelah membayar semua minuman atasannya itu. Grey bisa sedikit bernafas lega karena Tuan Anthony dan Nyonya Kimberly tak ada di New York, jadi ia tak perlu membawa Aiden ke hotel.

Setelah membaringkan Aiden di atas tempat tidur, Grey membantu melepas sepatu yang dikenakan oleh Aiden, kemudian menyelimutinya.

"Seharusnya anda segera menikah saja, Tuan. Jadi ada seseorang yang akan mengurus anda. Mengapa anda terus saja mencari wanita itu dan menunggunya? Apa mungkin ia juga akan menunggu anda? Bagaimana jika ternyata ia sudah menikah?" gumam Grey yang kemudian keluar dari kamar tidur Aiden.

Untuk berjaga jaga, Grey tidur di kamar tamu selama Aiden berada di Kota New York. Ia tak akan membiarkan atasannya itu sendirian karena bisa saja kejadian seperti hari ini terulang kembali dan akan menyebabkan sesuatu yang lebih parah.

Setelah membersihkan diri, Grey menyempatkan diri untuk menghubungi penjaga keamanan yang ada di Kediaman Aiden di Washington. Ia cukup lega mendengar kalau Fressia masih berada di sana dan tetap menjaga Tristan seperti biasa. Ia pun akhirnya tertidur setelah melewati hari yang terasa begitu berat.

*****

Aiden terbangun dengan sakit di kepalanya. Ia pun merasa perutnya bergejolak, hingga membuatnya berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya.

Setelah selesai, ia terduduk di lantai kamar mandi dan menyandarkan kepalanya di dinding dengan sebelah tangan yang menahan kepalanya. Kejadian kemarin kembali terlintas di kepalanya, apalagi saat ia melihat Tristan berteriak memanggilnya.

Aiden sadar saat itu, akan tetapi jiwanya sudah diliputi oleh emosi dan amarah hingga tak peduli akan keberadaan Tristan di sana dan melihat semua yang dilakukannya.

Ia pun mengusap wajahnya dengan kasar, "apa yang telah kulakukan? Apa yang akan Tristan pikirkan tentang aku?"

Terdengar suara ketukan di pintu kamar tidurnya, membuat Aiden akhirnya bangkit dan berjalan menuju pintu. Ia membukanya dan melihat sosok Grey yang sudah berdiri tegap di sana dengan pakaian kerjanya.

"Ada apa?" tanya Aiden.

"Apa hari ini anda akan ke Anlee?" tanya Grey.

"Ya. Aku akan mandi dulu."

"Baik, Tuan. Saya akan menunggu anda di bawah," Grey pun segera berlalu dari sana.

Aiden pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Bau alkohol masih tercium dari tubuhnya, hingga membuatnya kembali mual karena ia tak terbiasa minum sebenarnya.

Ia keluar dari kamar tidur sudah dalam keadaan rapi. Di meja makan sudah tersedia sarapan pagi untuknya.

"Grey, duduklah. Sarapan dulu bersamaku," Grey pun duduk tanpa sungkan. Ia dan Ivander sudah terbiasa melakukannya, karena Aiden tak pernah menganggapnya sebagai bawahan.

Setelah sarapan, mereka langsung pergi ke Anlee Group. Hari ini Aiden akan meeting dengan beberapa divisi di sana untuk melihat bagaimana perkembangan Anlee Group New York.

Di dalam mobil, Aiden menatap ke arah jendela, melihat pemandangan luar di mana mobil banyak berlalu lalang. Tak berapa lama, ia kembali menoleh ke arah Grey yang memegang kemudi.

"Grey, bagaimana keadaan Tristan?" tanya Aiden.

"Tristan sempat menolak makan dan minum. Ia merasa khawatir dengan keadaan Nona Fressia yang tak sadarkan diri."

Aiden berdecak kesal. Ia masih tak terima jika putranya begitu menyayangi pengasuhnya. Aiden mulai berpikir untuk perlahan melepaskan Tristan dari pengaruh Fressia, apalagi jika benar bahwa Fressia adalah sang mata mata.

"Tapi akhirnya ia mau makan setelah Nona Fressia yang membujuknya. Ia juga tak mau berjauhan dengannya, hingga akhirnya Nona Fressia menemaninya untuk tidur," jelas Grey.

Aiden menghela nafasnya pelan, tapi Grey bisa mendengar itu. Ia melihat ke arah spion tengah untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh atasannya itu.

"Kamu sudah meningkatkan penjagaan di sana kan, Grey?" tanya Aiden.

"Sudah, Tuan," jawab Grey.

"Minta juga pada Ivan untuk menggantikanku sementara waktu di sana," lanjut Aiden.

"Sudah, Tuan."

Aiden sebenarnya tak perlu bertanya ataupun memerintahkan apapun pada Grey dan Ivander. Keduanya sudah seperti tangan kanan dan kirinya. Mereka akan bekerja dengan baik tanpa disuruh dan sangat tahu apa yang diperlukan dan dibutuhkan oleh Aiden.

"Terima kasih," ucap Aiden mengakhiri percakapan mereka. Ia kembali menatap jalan raya.

Grey memarkirkan mobil mereka persis di dekat lobby di mana disediakan slot parkir khusus, kemudian bersama dengan Aiden memasuki lobby. Mereka menaiki lift bersama dengan para pegawai yang lain. Sudah menjadi kebiasaan di Anlee Group, tak ada pemisahan antara lift pegawai maupun para petinggi. Mereka sama sama bekerja untuk kesuksesan perusahaan dan Anthony terus menerapkan hal itu seperti yang ayahnya lakukan.

"Selamat pagi, Tuan," sapa beberapa orang pegawai.

Mereka semua, terutama para wanita, selalu menatap Aiden dengan tatapan kagum. Yang berbeda antara Anthony dengan Aiden hanya keramahannya. Anthony sangat ramah dan sudah terbiasa menyapa para pegawainya, sementara Aiden selalu bersikap dingin dan datar, terutama sejak hari pernikahan adik perempuannya, Adeline, dengan Reyn Elden Frederick.

"Siapkan meetingnya sekarang juga, Grey! Aku tak mau ada yang terlambat!" perintah Aiden dengan mata yang menatap tajam. Suasana hatinya saat ini sangat kacau, apalagi jika mengingat surat ancaman dengan helaian rambut berwarna merah di dalamnya.

Apa benar kamu bersama mereka? Bagaimana keadaanmu? Aku pasti akan menemukanmu dan membebaskanmu dari mereka. - batin Aiden.

🧡 🧡 🧡

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!