Keesokan harinya, Aiden berangkat menuju New York untuk menemui kedua orang tuanya, terutama ayahnya. Ia sampai di sana saat siang hari, setelah di pagi hari ia menyempatkan diri untuk sarapan bersama dengan Tristan.
"Halo, Dad," sapa Aiden yang langsung pergi ke Anlee Group bersama dengan Grey. Ia meninggalkan Ivander di Anlee Group Washington untuk mengurus semuanya, sekaligus menjaga putranya kalau kalau Fressia menghubunginya.
"Akhirnya kamu kembali juga," ucap Anthony yang memang sangat merindukan putra sulungnya itu.
Anthony langsung berdiri dan menghampiri serta memberikan pelukan, "Mommy selalu menanyakan keadaanmu. Ia ingin sekali menghubungimu, tapi selalu takut kalau itu mengganggumu."
Mengingat Mom Kimberly, membuat hati Aiden merasa bersalah. Ia sangat tahu Mom Kimberly begitu menyayanginya, tapi ia jarang sekali menghubungi.
"Apa Mommy di rumah?" tanya Aiden.
"Ya, tapi lusa kami akan segera berangkat menemui Adeline. Saat ini ia sedang hamil."
"Benarkah?!"
"Hmm ... akhirnya Adeline bisa meraih kebahagiaannya lagi setelah kecelakaan itu. Dad sangat tahu bagaimana perasaannya, tapi ia beruntung memiliki Reyn yang begitu menyayangi dan mencintainya, juga dengan keluarganya."
"Jangan bersedih, Dad," ucap Aiden.
"Oleh karena itu, Dad meminta tolong padamu untuk mengurus Anlee Group di sini karena Dad dan Mom akan menemani Adeline sampai ia melahirkan nanti. Mommy ingin ia berada dalam suasana bahagia dan nyaman agar tak mempengaruhi kehamilannya."
Aiden menghela nafasnya pelan. Ia mulai berpikir kembali. Bagaimana ia bisa meninggalkan Tristan sendiri di Washington hanya dengan pengasuhnya, apalagi Aiden memiliki beberapa musuh yang saat ini perlu ia curigai, termasuk Fressia.
"Baiklah, Dad. Jangan khawatir, aku akan membantumu memimpin Anlee Group di sini," ucap Aiden.
"Kamu tidak hanya sekedar membantu, tapi kamu akan sepenuhnya memimpin Anlee Group New York. Dad akan mengumumkan pada jajaran direksi esok."
"Tapi, Dad. Bagaimana dengan Anlee Washington?" tanya Aiden.
"Kamu bisa mengangkat siapapun untuk membantumu di sana. Dulu Dad juga meminta sahabat Dad untuk memintanya memimpin Anlee Group di Indonesia," jawab Anthony.
"Uncle Hansel?"
"Hmm ..."
"Uncle Hansel adalah sahabat Dad dan tentu saja bisa dipercaya, sementara aku ....," Aiden menghentikan ucapannya.
Ya, Aiden baru merasakan bahwa ia tak memiliki sahabat. Ia yang pergi meninggalkan mereka semua karena kekecewaannya pada hukum yang terasa tak bertanggung jawab dalam mengusut kematian kakek dan neneknya.
Ditambah lagi dengan kejadian malam itu yang menghasilkan Tristan, tapi wanita berambut merah yang melahirkannya justru tak pernah muncul. Hal itu semakin membuat Aiden ingin menjauh dan menyendiri.
"Sahabat sahabatmu selalu menunggumu datang pada mereka lagi. Kamu jangan menutup diri lagi. Dad sendiri sudah menerima apa yang terjadi pada Grandpa dan Grandma dan lebih memilih untuk tenang demi kebahagiaan keluarga Dad. Dad juga yakin, Grandpa dan Grandma tak ingin kamu menaruh dendam yang tak akan selesai selesai."
Aiden menghela nafasnya pelan. Dad Anthony tak tahu bahwa masalah yang dihadapi oleh Aiden bukan hanya itu saja. Apa yang akan dilakukan oleh kedua orang tuanya jika mereka mengetahui tentang keberadaan Tristan?
"Ayo kita pulang sekarang, Mommy pasti akan senang kamu pulang," ajak Dad Anthony. Ia pun meninggalkan Anlee Group pada asisten pribadinya yang bernama Morgan. Morgan menggantikan Rod yang Anthony kirim ke Inggris untuk memimpin Anlee Group di sana sebagai pusat dari Anlee Group di Benua Eropa.
****
"Aunty!!" Tristan tersenyum lebar ketika jam pulang sekolah telah tiba. Ia langsung berlari dan memeluk Fressia.
Sebelum berangkat tadi, Fressia telah berjanji akan menemaninya makan es krim di salah satu cafe yang tak jauh dari sana. Tristan sangat menyukai es krim, bahkan ia bisa makan es krim sampai tak perlu lagi makan siang. Namun, Fressia tak pernah mengijinkannya karena tak ingin Tristan sakit.
Bersama seorang supir, Fressia membawa Tristan ke sebuah cafe yang menyediakan es krim dengan berbagai rasa. Tristan tampak sangat bahagia, membuat hati Fressia pun ikut bahagia.
Aunty akan sangat senang sekali memiliki seorang anak sepertimu, Tris. Tapi, tak mungkin rasanya. Mencari jati diri Aunty sendiri saja Aunty kesulitan. Hal itu pasti membuat orang orang menatap rendah pada Aunty yang dianggap tak memiliki asal usul yang tak jelas. - batin Fressia.
"Ayo makanlah! Setelah ini kita pulang," ucap Fressia.
"Baik, Aunty. Aku sangat sayang pada Aunty."
"Aunty juga menyayangimu, Tris," Fressia mengusap pucuk kepala Tristan dan tersenyum.
Mereka menghabiskan waktu bersama di cafe tersebut hingga sekitar jam dua siang. Setelah itu, Fressia kembali menggandeng tangan Tristan dan membawanya ke mobil.
Setelah memasukkan Tristan ke mobil, tangan Fressia terasa ditarik ke belakang dan pintu mobil pun tertutup. Mata Fressia yang awalnya ingin melihat siapa yang menariknya, kini beralih pada pintu mobil yang sudah tertutup dan membawa Tristan pergi begitu saja.
"Tristan!" teriak Fressia yang kini terduduk diam karena syok, sementara orang yang menariknya tadi sudah tak terlihat lagi keberadaannya.
Dengan tangan gemetar, Fressia langsung menghubungi Aiden, tapi tak diangkat sama sekali. Ia pun kembali mencoba menghubungi salah satu asisten pribadi majikannya itu.
"Halo, ada yang bisa saya bantu, Nona Fressia?" tanya Ivander.
"T-tuan, tolong. M-mereka mem-membawa Tristan," ucap Fressia dengan terbata.
"Mereka? Mereka siapa?!"
"Aku tidak t-tahu, Tuan. Mereka menarikku dan meninggalkanku di jalan," ucap Fressia lagi.
"Sekarang kembali ke rumah, aku akan mengatasi semuanya," ucap Ivander.
Fressia merasa sedih, bahkan hatinya hancur saat melihat mobil itu membawa Tristan pergi begitu saja. Anak asuhnya itu pasti sangat ketakutan saat ini. Bulir air tak henti hentinya mengalir di pipi Fressia selama perjalanan ke rumah menggunakan taksi online.
Sesampai di rumah, ia melihat mobil yang tadi membawa Tristan pergi sudah berada di pekarangan rumah. Matanya melebar dan langsung berlari masuk.
"Tristan!"
Di ruang tamu, hanya ada supir yang tadi membawa mobil dan juga Ivander. Supir itu terlihat memar dan terluka di beberapa bagian tubuhnya.
Cepat sekali ia sampai di sini. - batin Fressia saat melihat keberadaan Ivander di sana.
Pria berkacamata itu tampak sedang sibuk dengan laptopnya dan sesekali menghubungi seseorang. Fressia langsung melangkah mendekati supir tadi.
"Tony, di mana Tristan?" tanya Fressia sambil menggoyangkan lengan Tony.
"Tony! Cepat katakan padaku!" tanya Fressia lagi dengan sedikit berteriak.
"Mereka membawanya."
Deghhh
Mata Fressia membulat dan jantungnya berdetak dengan cepat saat ini. Ia bahkan hanya bisa diam sambil terduduk di lantai.
🧡 🧡 🧡
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Ita rahmawati
fressia amnesia makanya gk inget sm aiden
2024-05-12
0
StAr 1086
tuh kan kayaknya emang fressia si rambut merah itu deh dan lupa ingatan.
2023-10-25
0