"Sekarang katakan padaku, dari klan mafia mana yang menyuruhmu masuk dalam rumahku dan mengganggu keluargaku? Jangan sembarangan bermain main denganku," ucap Aiden masih dengan senjatanya yang kini sudah menyentuh dahi Fressia.
Tubuh Fressia sudah bergetar saat ini, apalagi melihat senjata api yang ditodongkan padanya. Sekelebat ingatan kembali masuk ke dalam kepalanya. Teriakan Daddy dan Mommy nya seakan terdengar begitu jelas di telinga Fressia.
"Daddy!"
Grey yang baru saja masuk setelah mengambil beberapa berkas yang ia letakkan di dalam mobil, langsung meletakkan berkas berkas itu di sofa dan mendekati Aiden dengan perlahan.
Terlihat bahwa atasannya itu sudah dikuasai oleh amarah dan pikirannya sudah berkabut dengan dendam. Bahkan teriakan dari Tristan yang melihat kejadian itu pun tak dihiraukannya.
Saat Aiden sedikit lengah dan mengendurkan cengkraman tangannya pada senjata yang ia pegang, Grey langsung menekan lengan bagian bawah Aiden agar senjata itu mengarah ke atas, kalau perlu terlempar.
Namun, Aiden sempat menekan pemicunya hingga terdengar suara tembakan itu di dalam Kediaman Aiden.
"Aahhh!!!" teriak Fressia dan kemudian jatuh tak sadarkan diri.
"Aunty!"
Grey menarik Aiden menjauh dari Fressia, "Tuan, jangan lakukan itu."
"Lepaskan aku, Grey! Aku tidak akan membiarkan ia berkeliaran di sini dan mengganggu keluargaku."
Tristan yang masih berada di samping Fressia pun tampak menangis sesengukan. Hal itu semakin membuat Grey kewalahan. Untung saja datang beberapa pelayan. Grey meminta bantuan mereka untuk membawa Fressia ke kamar tidurnya, sementara dirinya akan membawa Aiden pergi dari sana untuk sementara waktu.
Aiden yang dibawa pergi oleh Grey, masih terus berusaha melepaskan diri. Ia terus saja melawan cekalan Grey.
"Lepaskan aku, Grey! Atau aku akan memecatmu!" teriak Aiden yang memang sedang diliputi amarah dan emosi yang tidak tertahankan.
"Sadar, Tuan! Di sana tak hanya ada anda dengan Nona Fressia, tapi juga ada Tristan. Ia melihat semuanya dan ia bisa trauma karena melihat apa yang anda lakukan," ucap Grey mengingatkan atasannya itu.
Aiden terduduk di soda ruang tamu. Seorang pelayan datang sambil membawakan secangkir teh hangat yang tadi diminta oleh Grey.
"Terima kasih," ucap Grey pada pelayan itu.
"Minum dulu, Tuan," ucap Grey.
Aiden menghela nafasnya pelan, kemudian mengambil cangkir teh yang tadi dibawakan. Ia menyesap teh tersebut dan mengambil nafas dalam dalam.
"Aku ingin kembali ke New York dulu, Grey," ucap Aiden.
"Baik, Tuan. Kita akan langsung berangkat."
"Tetap awasi dia. Jangan biarkan ia pergi ke mana mana. Aku tak mau sampai kehilangan jejak musuh kita. Cari tahu semua hal tentangnya, jangan sampai tertinggal satu informasi pun," perintah Aiden.
"Baik, Tuan."
"Siapkan juga penjaga di sini untuk mengawasi Tristan. Aku tak ingin wanita itu melukai Tristan."
Grey meng-iya-kan semua perkataan Aiden. Setidaknya atasannya itu sudah lebih tenang. Grey juga menghubungi Ivander untuk mengambil alih kembali kepemimpinan Anlee Group di Washington selama Aiden berada di New York. Selain itu, ia meminta Ivander mencari tahu semua informasi mengenai Fressia.
*****
Fressia yang dibaringkan di kamar tidurmya, mendapat bantuan dari seorang pelayan wanita paruh baya. Ia membantu pengasuh putra majikannya itu agar cepat sadar.
"Fre," panggil wanita itu sambil terus menggoyangkan sejumput kain yang sudah diberi alkohol, di depan lubang hidung Fressia.
Fressia mengerjapkan matanya, kemudian ia kembali berteriak saat merasakan sinar masuk ke dalam matanya.
"Tenanglah, tenang," ucap pelayan wanita paruh baya itu sambil mengusap bahu Fressia.
"Aku harus pergi dari sini, ia akan membunuhku. Tuan Aiden akan membunuhku Aunty. Aku harus segera pergi dari sini," ucap Fressia. Namun baru saja ia mau bangkit dari tempat tidurnya kepalanya merasakan sakit yang amat sangat, hingga membuatnya kembali duduk dan terdiam beberapa saat.
Wanita paruh baya itu mengusap punggung belakang Fressia dan sekali lagi menenangkannya, "jangan terburu buru, kamu masih belum sehat."
"Tapi aku harus segera pergi dari sini, Aunty. Tuan Aiden sudah mengancamku, bahkan meletakkan senjatanya di sini," ucap Fressia sambil menunjuk dahinya. Air matanya mengalir dan tubuhnya bergetar. Ia masih bisa merasakan teriakan serta tatapan tajam yang Aiden berikan padanya.
"Apa kamu merasa melakukan kesalahan?" Fressia menggelengkan kepalanya. Ia memang melakukan kesalahan, yakni tak bisa menjaga Tristan kemarin. Namun selain itu, ia tak melakukan apapun seperti yang dituduhkan Aiden padanya.
"Aku takut, Aunty. Bagaimana jika Tuan Aiden kembali melakukannya?" tanya Fressia.
"Tidak akan. Tuan Aiden sepertinya hanya sedang emosi, apalagi saat mendengar Tristan kemarin sempat diculik. Aunty berharap kamu bisa memaklumi sikapnya. Aunty sangat tahu, ia sangat menyayangi Tristan, hingga sangat takut kehilangannya."
"Tristan? Di mana dia?" Fressia ingat bahwa sebelum ia tak sadarkan diri, ia mendengar Tristan berteriak memanggil dirinya dan juga Aiden.
"Tristan ada di kamarnya," jawab pelayan wanita paruh baya itu.
"Terima kasih, Aunty."
Fressia langsung bangkit ketika ia merasa sudah lebih baik. Ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar tidur Tristan. Ia juga melihat ke kanan dan ke kiri, ia tak mau lagi bertemu dengan Aiden.
Ceklekkk
Pintu kamar tidur Tristan terbuka dan Fressia melihat Tristan sedang berada di atas tempat tidur sambil menekuk kedua kaki dan memeluknya. Seorang pelayan juga berada di sampingnya dan berusaha menenangkannya.
"Tris," panggil Fressia.
Tristan langsung menoleh saat mendengar suara pengasuh yang ia sayangi. Pelayan yang menjaga Tristan pun undur diri dari sana dan membiarkan Tristan berdua dengan Fressia.
"Aunty!" teriak Tristan, kemudian beranjak dari atas tempat tidur untuk menghampiri Fressia.
Tristan langsung memeluk Fressia dengan erat. Raut wajah kekhawatiran yang sejak tadi tercetak di wajah Tristan kini sudah berubah. Ia bisa tersenyum meski belum terlalu lebar.
"Apa Aunty masih sakit?" tanya Tristan.
Fressia berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Tristan. Ia tersenyum sambil mengusap rambut anak asuhnya itu.
"Aunty tidak apa apa, sayang," jawab Fressia yang tak ingin Tristan khawatir.
"Maafkan Daddy, Aunty. Aku minta maaf atas nama Daddy. Daddy pasti salah dan tidak sengaja melakukan itu pada Aunty," ucap Tristan yang kembali memeluk Fressia.
Fressia bisa mendengar suara isakan pelan dari balik tubuhnya. Ia tahu bahwa saat ini Tristan sedang menangis. Fressia kembali mengusap punggung belakang Tristan untuk menenangkan anak asuhnya itu.
"Sayang, Aunty minta maaf juga karena kamu harus melihat hal seperti itu. Maafkan Aunty yang tidak becus menjagamu," ucap Fressia.
"Aunty tidak salah. Daddy yang salah. Nanti aku akan memarahi Daddy."
"Tapi sayang, Daddy sepertinya sudah tidak menyukai Aunty. Sebaiknya Aunty pergi dari sini, agar tak menimbulkan masalah yang baru," ucap Fressia.
"Aunty jangan pergi! Aunty tidak boleh pergi! Kalau Aunty pergi, siapa yang akan menemaniku? Nanti teman temanku juga akan mengejekku lagi. Apalagi di sekolah hanya rambutku yang berwarna merah dan mereka berkata aku bukan anak Daddy," ucap Tristan sambil sedikit terisak.
🧡 🧡 🧡
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments