INGAT PESANKU

Hari liga sepak bola telah tiba. Wajah Tristan terlihat sangat bahagia, apalagi ketika ia mengetahui dari Fressia bahwa ayahnya akan ikut menghadiri acara tersebut. Rasanya hatinya tak pernah sebahagia ini. Tak akan ada lagi yang mengejeknya karena ia akan datang bersama dengan Dad Aiden dan Fressia sebagai Mommynya.

"Kamu siap, Tris?" tanya Fressia saat memakaikan pakaian olahraga pada Tristan.

"Siap!!" jawab Tristan dengan senyuman di wajahnya.

Sejak ia bangun tadi pagi, ia sudah sangat bersemangat. Bahkan ia membersihkan dirinya sendiri tanpa bantuan Fressia. Setelah selesai berpakaian, Fressia menemani Tristan keluar. Mereka menuruni tiap anak tangga bersama.

Aiden yang sudah menunggu di ruang tamu, melihat kehadiran mereka. Aiden terdiam sesaat saat melihat penampilan Fressia yang begitu cantik dan segar. Ia mengenakan sebuah kaos berkerah berwarna putih dengan celana jeans. Rambutnya dikuncir kuda.

Mengapa ia cantik sekali? - batin Aiden.

Namun dengan cepat ia langsung menggelengkan kepalanya, menepis semua pikiran itu karena tujuan pentingnya saat ini hanya satu, yakni menemukan ibu kandung Tristan.

Grey sudah siap di balik kemudi, sementara Aiden, Tristan, dan Fressia duduk di kursi belakang. Mereka benar benar terlihat seperti sebuah keluarga, yang membuatnya sedikit berbeda hanya lah rambut Tristan yang berbeda dari keduanya.

Jalanan saat ini tak terlalu ramai karena waktu masih pagi dan hari ini adalah akhir minggu. Orang orang masih banyak yang berada di rumah dan menikmati istirahat mereka.

"Kita sudah sampai, Tuan," ucap Grey. Ia pun langsung turun dan membukakan pintu untuk atasannya itu.

Kedatangan mereka menjadi perhatian beberapa orang tua siswa siswi yang berada tak jauh dari sana. Tristan pun turun dengan senyuman di wajahnya karena merasa senang bisa menutup mulut teman temannya yang selalu saja mengejeknya tidak memiliki ibu.

Tristan langsung menggandeng tangan Aiden dan juga Fressia, hingga ia kini berada di tengah tengah mereka. Saat ia mendekati lapangan tengah di mana liga sepak bola akan diadakan, Tristan melepas tangannya dari Aiden dan Fressia, kemudian mendorong Fressia agar mendekat pada ayahnya.

"Aunty, berakting lah dulu, okay," pinta Tristan sembari berbisik.

Aiden yang juga mendengar permintaan Tristan, langsung melingkarkan tangannya di pinggang Fressia, membuat Fressia terkejut dan menoleh pada Aiden.

"Demi Tristan," bisik Aiden.

Hal itu membuat tubuh Fressia merasakan getaran yang tak biasa, bahkan ia merasa tengkuknya meremang. Ia juga tak mungkin menolak karena ini semua demi kebahagiaan Tristan. Fressia tak ingin melihat anak laki laki itu menangis lagi.

"Hai teman teman!" sapa Tristan pada teman teman sekelasnya yang sudah berkumpul di kursi di lapangan tengah.

"Kenalkan ini Daddy dan Mommyku," ucap Tristan memperkenalkan keduanya. Aiden diam dan menampakkan wajah datar, sementara Fressia tersenyum ke arah teman teman Tristan.

Tristan sangat bangga memperkenalkan kedua orang tuanya. Ia menatap teman teman yang biasanya suka mengejek dirinya, kini hanya diam tak bisa berkata kata.

Tristan bersiap siap bersama teman temannya karena ia juga akan mewakili kelasnya untuk bermain. Ia sangat bersemangat karena permainannya kini akan disaksikan oleh ayahnya dan juga ibunya, meski pengasuhnya hanya berakting.

Permainan sepak bola pun dimulai, Tristan bermain dengan sangat luar biasa hingga menghasilkan sebuah tendangan tepat ke gawang lawan. Ia melompat senang sambil melihat ke arah kursi di mana Dad Aiden dan Aunty Fressia duduk. Ia bahkan melambaikan tangannya. Teman teman Tristan pun ikut melompat karena senang.

Liga sepak bola itu pun akhirnya selesai. Kelas Tristan mendapatkan juara kedua setelah melawan kelas lainnya lagi. Ia berlari menuju Dad Aiden dan Aunty Fressia berdiri dan memperlihatkan sebuah piagam kalung yang kini menggantung di lehernya.

"Lihat Dad, aku hebat kan?" tanya Tristan dengan bangga. Meskipun hanya mendapat juara kedua, tapi Tristan bangga dengan pencapaiannya.

Aiden sedikit berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan Tristan, "kamu hebat, sayang. Dad bangga padamu."

Aiden mengusap rambut Tristan dan senyum Tristan semakin lebar saat mendengar pujian dari ayahnya. Aiden berdiri dan langsung menautkan kedua alisnya karena tak melihat Fressia yang tadi ada di dekatnya.

Di mana dia? - batin Aiden.

"Itu Mommy!" teriak Tristan saat melihat Fressia sedang berbicara dengan seorang pria, yang Tristan tahu adalah ayah dari salah satu temannya.

Tristan langsung berlari mendekati Fressia. Fressia memegang Tristan dan Tristan pun langsung tersenyum pada pria itu. Sementara itu, Aiden yang melihatnya pun mengepalkan tangannya. Ia tak suka melihat Fressia berbicara dengan pria lain.

Dengan amarah di daddanya, Aiden berjalan mendekati Fressia. Ia langsung merangkul bahu Fressia dan membawanya pergi dari sana tanpa sepatah kata pun pada pria tadi. Hal itu tentu saja membuat Fressia bingung dan juga takut, karena ia melihat amarah di wajah majikannya itu.

Aiden segera membawanya menuju mobil. Grey yang melihat kehadiran mereka pun langsung membukakan pintu. Aiden tak banyak bersuara, membuat Fressia terus bertanya tanya dalam hatinya, apa kesalahannya?

"Apa kamu senang berbicara dengan pria tadi, hah?! Seenaknya saja kamu berbicara dengan orang lain dan meninggalkan putraku sendirian. Kamu ini hanya pengasuh, jangan menganggap dirimu adalah ibu kandungnya! Apa kamu ingin kupecat?!" ucap Aiden ketus dan setengah berbisik. Ia tak ingin Tristan yang sudah berada di dalam mobil mendengar ucapannya.

Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang, tak ada yang bersuara. Bahkan Tristan yang saat pergi terlihat bahagia, kini terdiam karena melihat raut wajah yang berbeda pada ayahnya.

Sesampainya mereka di rumah, Fressia langsung masuk ke dalam kamar tidur Tristan dan membantu anak asuhnya itu membersihkan diri kemudian berganti pakaian.

"Apa Daddy marah?" tanya Tristan yang juga menyadari perubahan raut wajah ayahnya.

"Tidak, Tris. Sepertinya Daddy hanya kelelahan. Sekarang kamu beristirahatlah dulu, Aunty akan menyiapkan makanan, okay?" Tristan pun menganggukkan kepalanya.

Fressia pun keluar dari kamar dan bermaksud langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Namun ia melihat Aiden tengah berdiri menatapnya dengan tajam.

"T-tuan?" ucap Fressia sedikit terbata.

"Ikut aku!" perintah Aiden.

Fressia pun melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Aiden. Ia berjalan tepat di belakang Aiden, setelah sebelumnya menutup pintu.

"Apa ada sesuatu yang anda inginkan, Tuan?" tanya Fressia.

Aiden menatap ke arah Fressia dengan tatapan tajam. Masih sangat jelas terlintas di dalam kepalanya saat Fressia berbincang dengan pria lain tadi. Aiden menghela nafasnya kasar.

"Kamu masih ingat pesanku tadi kan?! Jangan lupa di mana posisimu. Aku juga tak mau Tristan terluka karena melihat sikapmu yang terlalu murahhan," ucap Aiden.

Plakkkk

🧡 🧡 🧡

Terpopuler

Comments

Arie

Arie

kok tristan, aiden yo

2024-11-15

0

Ita rahmawati

Ita rahmawati

mulutmu tristan²,,laki² kok pedes bgt mulutnya 😏😏

2024-05-12

0

Bilal Muammar

Bilal Muammar

aduh....🥴

2023-10-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!