Mereka pergi hanya bertiga saja. Aiden tak meminta pada Grey atau pun Ivander untuk menemaninya. Aiden yang mengambil alih kemudi, Fressia duduk di kursi penumpang sebelah kemudi, sementara Tristan berada di kursi belakang.
Awalnya Fressia ingin di belakang dan membiarkan Tristan di kursi depan, akan tetapi Tristan beralasan bahwa ia ingin tiduran dan Fressia harus menunjukkan jalan untuk Dad Aiden. Pada akhirnya, Fressia menyetujui dan tak terlalu banyak membantah. Ia pikir semua akan lebih cepat selesai jika ia juga tak membuat waktu menjadi semakin lama.
Bagi Fressia, perjalanan mereka terasa begitu lama. Ntah mengapa ia merasa tak nyaman duduk di samping Aiden. Perjalanan yang mereka tempuh serasa memakan waktu ber jam jam. Aiden sendiri sesekali menoleh ke arah Fressia yang terlihat tak nyaman.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah rumah dengan taman bunga di bagian depan. Bunga bunga itu tampak sedang bermekaran dengan cantiknya, seakan menyambut kedatangan tamu istimewa.
"Halo, Mom!" sapa Fressia. Namun, tak terlihat siapa pun di ruang tamu.
Tampak seorang wanita seusia Fressia keluar dari sebuah pintu. Ia tersenyum terus, membuat Fressia berdecak kesal karena tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sahabat serta saudara angkatnya itu.
"Jangan berpikiran macam macam," bisik Fressia.
"Loh memangnya aku berpikir apa?!" ucap Karen balik berbisik, tapi dengan senyum yang terus ada di wajahnya.
Fressia masuk ke dalam rumah dan memeriksa kamar tidur Mom Roxane, tapi tak melihat keberadaan Mom Roxane, membuat ia kembali menoleh pada Karen.
"Mommy sedang menemui Aunty Teresa. Sebentar lagi juga kembali," ucap Karen, berbisik lagi pada Fressia. Ntah mengapa mereka jadi berbicara sambil berbisik bisik.
"Ayo silakan duduk, maaf kalau rumah kami terlalu sempit," ucap Karen mempersilakan Tristan dan Aiden untuk duduk.
"Aunty, di mana Grandma Roxane?" tanya Tristan.
"Grandma sedang menemui sahabatnya. Sebentar lagi juga pulang. Tristan mau minum apa? Biar Aunty buatkan," ucap Fressia menawarkan.
"Aku kopi saja," jawab Aiden.
Ishhh, padahal aku tak berbicara dengannya. Mengapa justru dia yang menjawab? - batin Fressia.
"Bolehkah aku meminta segelas susu, Aunty?" tanya Tristan.
"Tentu saja boleh, sayang. Sebentar Aunty ambilkan," Fressia pun pergi ke dapur untuk membuatkan susu dan juga kopi.
Karen yang tadi kembali masuk ke kamar tidur, kini keluar setelah memeriksa ponselnya. Ia juga mengirimkan pesan untuk Mom Roxane dan memberitahukan padanya bahwa Fressia sudah tiba bersama dengan Tuan Aiden dan putranya.
"Hei, kamu tampan sekali! Siapa namamu?" tanya Karen.
"Tristan," jawab Tristan sambil tersenyum.
Tak lama, Fressia kembali dari dapur sambil membawakan nampan yang berisi minuman untuk mereka.
"Apa Mommy masih lama di rumah Aunty Teresa?" tanya Fressia setengah berbisik.
"Tidak, Mommy sudah dalam perjalanan," jawab Karen.
Fressia meletakkan cangkir kopi di depan Aiden dan segelas susu di depan Tristan, lalu Fressia memeluk nampan yang tadi ia bawa dan mengembalikannya ke dapur.
Suara pintu pagar terbuka, membuat Karen langsung berdiri untuk menyambut kedatangan Mom Roxane.
"Mom," Karen mengambil alih barang bawaan Mom Roxane dan meletakkannya di dalam kamar Mommynya itu.
Mom Roxane melihat ke arah Tuan Aiden, kemudian mengangguk. Lalu ia menatap seorang anak laki laki yang terlihat begitu tampan.
"Grandma Roxane, halo!" sapa Tristan.
"Halo, Tristan. Bagaimana kabarmu?" tanya Mom Roxane sembari duduk di kursi single yang biasa ia duduki, "Selamat siang, Tuan Aiden."
"Aku baik dan sehat!" jawab Tristan.
"Selamat siang, Nyonya," Aiden membalas sapaan Mom Roxane.
Mom Roxane tersenyum melihat bagaimana Tristan begitu supel meski pada orang yang baru ia temui. Tristan juga terlihat sangat ramah.
"Duduklah di sini," Mom Roxane menepuk pahhanya sendiri agar Tristan duduk di sana.
Dengan senyum,Tristan pun menghampiri dan melakukan seperti apa yang diminta oleh Mom Roxane. Wajah Tristan tampak terus tersenyum.
"Bolehkah aku memanggil Grandma terus?" tanya Tristan.
"Tentu saja boleh."
Tak lama, Fressia keluar lagi dari dapur sambil membawakan secangkir teh hangat untuk Mom Roxane. Setelahnya, ia duduk tak jauh dari Mom Roxane, bersebelahan dengan Karen.
"Kamu tampan sekali, Tristan," puji Mom Roxane.
"Tentu saja, aku seperti Daddy, tampan dan gagah, bukan begitu?" ucap Tristan dengan bangga sambil sedikit membusungkan daddanya, membuat semua yang melihatnya tersenyum.
"Daddy mu tampan, tapi kamu jauh lebih tampan, apalagi dengan rambut merahmu ini. Rambut merahmu ini mirip sekali dengan rambut milik Fressia," ucap Mom Roxane.
"Aunty? Apa rambut Aunty juga berwarna merah, Grandma?" tanya Tristan.
Aiden yang mendengar itu pun menoleh ke arah Fressia. Apakah benar pengasuh putranya itu memiliki rambut merah?
"Ya, rambut Aunty mu ini berwarna merah, tapi ia lebih suka mewarnai rambutnya dengan warna coklat," ucap Mom Roxane.
"Aunty, kata Aunty rambut merahku bagus, lalu kenapa Aunty justru mewarnai rambut Aunty? Apa jangan jangan warna ini jelek ya? Kalau begitu aku tidak mau punya rambut merah, aku juga ingin mewarnainya seperti rambut Aunty," ucap Tristan.
"Bukan begitu, sayang. Aunty punya alasan sendiri," ucap Fressia.
Jadi selama ini dia memiliki rambut berwarna merah dan ia menyembunyikannya? Apa tujuannya? - batin Aiden.
"Dari mana Aunty mendapatkan rambut merah Aunty?" tanya Tristan ingin tahu. Ia pun turun dari pahha Mom Roxane dan berpindah duduk ke sebelah Fressia.
"Dari Mommy Aunty," jawab Fressia sekenanya. Pasalnya ia sendiri tak ingat seperti apa kedua orang tuanya.
"Wah berarti sama denganku!" teriak Tristan, "kata Daddy, rambut merahku juga berasal dari Mommy."
Fressia tersenyum saat melihat tawa dan rona bahagia di wajah Tristan.
Ia memiliki rambut merah yang sama dengan wanita itu, tapi ... tidak mungkin! Tidak mungkin itu Fressia. Jika memang dia, sudah pasti ia akan mengenali putranya sendiri. Tapi, Grey pernah mengatakan bahwa ia mengalami kecelakaan dan melakukan operasi wajah, tapi gagal. Seharusnya wajahnya buruk, tapi Fressia ... sangat cantik. - batin Aiden.
"Apa Aunty memiliki fotonya?" tanya Tristan.
"Tidak, Aunty tidak punya," jawab Fressia.
Aiden terus memperhatikan Fressia, tapi ia tak melihat raut kesedihan setiap kali Tristan bertanya tentang keluarganya. Ia hanya menampakkan wajah datar dan bahkan dingin. Justru hanya pada Tristan, Mom Roxane, dan Karen saja Fressia terlihat memiliki rasa hangat karena wajahnya yang tampak bersinar ketika membicarakan hal lain, selain tentang keluarganya.
"Aunty, maukah Aunty merubah warna rambut Aunty kembali menjadi berwarna merah sepertiku?" tanya Tristan.
"Untuk apa? Aunty sudah mewarnainya dan butuh waktu untuk kembali ke warna aslinya," jawab Fressia.
"Biar kita kembar, Aunty. Selain itu, aku ingin merasakan seperti apa memiliki Mommy berambut merah. Bagaimana Aunty?"
Tampak keraguan di wajah Fressia. Ia tidak tahu mengapa setiap kali melihat rambut merah miliknya sendiri, ia akan mengeluarkan air mata, seakan rambut itu membawa kesedihan yang mendalam untuk dirinya.
"Nanti Aunty pikirkan dulu ya," ucap Fressia dan Tristan pun mengangguk.
Apa yang sebenarnya ia sembunyikan? - batin Aiden.
🧡 🧡 🧡
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments