Aiden kembali ke kediamannya di Kota Washington DC. Ia baru saja kembali terserempet peluru musuh mereka. Tanpa Aiden ketahui, pihak musuh ternyata meletakkan seorang sniper. Untung saja Ivander langsung menghubunginya hingga ia mengetahui taktik mereka dan bisa menghindar dari tembakan sniper tersebut.
Ia bisa kembali ke Kediamannya di Washington DC karena Ivander berhasil menghancurkan sistem teknologi informasi milik musuh. Aiden yakin saat ini musuh nya tengah sibuk mengatasi segala konflik di dalam kepemimpinan mereka. Bahkan beberapa pengusaha turut terkena imbas dari hal ini, membuat mereka harus berhadapan dengan sumber keuangan mereka.
Aiden memegang lengannya yang terluka. Luka yang sebelumnya ternyata kembali terbuka dan mengeluarkan darah. Grey awalnya mau membawa atasannya itu ke rumah sakit, namun Aiden menolaknya. Ia meminta Grey mengantarkannya pulang saja.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, suasana di dalam rumah sudah sangat sepi. Ia pun melangkahkan kaki menuju kamar tidurnya. Fressia yang melihat majikannya itu kembali, langsung berjalan mendekat.
"Tuan," sapa Fressia.
"Kamu belum tidur?" tanya Aiden.
"Belum, Tuan," Fressia melihat bahwa Aiden terluka karena pakaiannya memiliki noda darah, bahkan ada noda yang masih terlihat basah.
"Saya bantu, Tuan," ucap Fressia yang kemudian memegang lengan Aiden dan membantunya.
Setelah mengantarkan Aiden ke dalam kamar tidur, Fressia pun berniat untuk keluar.
"Tunggu dulu, kamu jangan ke mana mana," perintah Aiden.
Pria itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan sedikit membersihkan lukanya. Ia sudah terbiasa terluka, tapi kali ini ntah mengapa terasa lebih sakit dari biasanya.
Fressia tetap berdiri di dekat pintu kamar tidur, menunggu Aiden keluar dari kamar mandi. Aiden keluar dari kamar mandi hanya menggunakan celana pendek saja dan tak menggunakan atasan sama sekali.
Fressia bisa melihat perban yang melilit salah satu bagian lengan dan terlihat sudah basah oleh noda arah.
"Tuan ...," ucap Fressia.
"Bantu aku mengganti perban ini," pinta Aiden.
Fressia berjalan mendekat setelah mengambil kotak obat di dalam lemari. Ia mendekati Aiden yang tengah duduk di sofa, ia pun duduk di sebelah majikannya itu. Dengan perlahan Fressia membuka perban yang lama, kemudian membersihkannya dan kembali membalutnya dengan perban baru. Fressia menggelengkan kepalanya ketika melihat bahwa luka yang dialami oleh Aiden tak hanya di sebelah tangan, melainkan kedua duanya.
Fressia berpindah tempat duduk untuk mengobati luka yang ada di lengan yang satunya lagi, lalu ia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Aiden.
"Tuan, kemarin malam saya mencoba menghubungi Tuan melalui ponsel."
Aiden menautkan kedua alisnya karena Fressia tak pernah menghubunginya sejak pertama ia memberikan ponsel pada pengasuh putranya itu.
"Apa ada yang terjadi?" tanya Aiden.
"Tristan mengalami demam tinggi, hingga 39,8 derajat. Saya khawatir padanya dan berniat menghubungi Tuan untuk membantu membawanya ke rumah sakit," jawab Fressia.
"Kenapa tak menghubungi Ivan atau Grey?" tanya Aiden lagi.
"Sudah saya coba, tapi tetap tak bisa," jawab Fressia lagi.
Aiden mendessah kasar. Kalau saja ia meninggalkan Tristan dengan keluarganya di Kota New York, pasti hal itu tak akan terjadi. Tristan akan selalu mendapatkan perhatian yang besar dari mereka. Aiden yakin Dad Anthony dan Mom Kimberly akan merawatnya jauh lebih baik dari dirinya.
Namun, kedua orang tua nya tak mengetahui tentang Tristan. Aiden memang menyembunyikan keberadaan Tristan sampai ia berhasil menemukan ibu dari Tristan.
"Sudah selesai," ucap Fressia kemudian memasukkan semua peralatan pengobatan itu ke dalam kotak dan mengembalikannya ke dalam lemari.
"Terima kasih," ucap Aiden.
"Saya permisi keluar dulu, Tuan."
Fressia pun keluar dari kamar tidur Aiden. Ia kembali ke kamar tidurnya sendiri. Sementara Aiden yang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kini tengah berpikir, menghela nafas kasar, lalu memejamkan matanya.
*****
Keesokan paginya,
Aiden menghampiri meja makan dan duduk bersama dengan putranya, Tristan, di meja makan. Tepat di sebelah Tristan, sudah ada Fressia yang akan membantu putranya itu untuk makan.
"Selamat pagi," sapa Aiden pada Tristan sambil mengusap pucuk kepala putranya itu.
"Dad! Daddy sudah pulang?!" Wajah Tristan terlihat sangat antusias. Ia bahkan bangkit dari duduknya dan menghampiri Aiden kemudian memberikan pria itu sebuah pelukan.
"Kamu sudah sembuh?" tanya Aiden.
"Sudah, Aunty Fressia yang menjagaku, aku pasti sembuh. Tapi kalau Daddy yang menemaniku, maka aku pasti tidak akan sakit," ucap Tristan dengan nada sendu.
Tristan mengangkat kepalanya kemudian menatap mata tajam milik ayahnya. Jujur, Tristan sangat merindukan kehadiran Aiden di sampingnya. Ia menginginkan perhatian dan kasih sayang Aiden yang sangat besar untuknya.
"Dad, apa Daddy tak menyayangiku?" tanya Tristan.
"Apa maksudmu menanyakan itu? Tentu saja Daddy menyayangimu," jawab Aiden.
"Lalu mengapa Daddy jarang ada di rumah? Mengapa Daddy tak pernah menemaniku, sekedar bermain atau pun menemaniku tidur?" tanya Tristan dengan tatapan sedih.
"Tristan, Daddy ....,"
"Apa Daddy mau bilang lagi kalau Daddy sibuk? Apa semua pekerjaan Daddy lebih penting daripada Tristan? Atau lebih baik Tristan tidak pernah ada, jadi tak akan mengganggu kesibukan Daddy?"
"Tristann!!" suara Aiden sedikit meninggi. Ia tak suka dengan ucapan Tristan.
"Tuan," panggilan Fressia seakan menyadarkan Aiden. Wajahnya langsung kembali melembut meski masih dengan tatapan tajamnya.
"Maaf, sayang. Maafkan Daddy. Daddy tidak suka kamu mengatakan hal seperti itu," Aiden tak suka jika ada yang membicarakan tentang kematian. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayangi dan itu menyakitkan, apalagi jika kematian itu karena hal tragis.
"Tuan, maaf jika saya lancang mengatakan ini. Tapi sebaiknya Tuan bisa sedikit meluangkan waktu untuk Tristan. Misalkan dengan mengantarkannya ke sekolah, menemaninya bermain, atau sekedar menemaninya tidur. Ia tak akan merasa kehilangan sosok anda, Tuan."
Aiden menghela nafasnya pelan. Ia memang memfokuskan semua pikirannya pada pekerjaan, hingga ia menganggap bahwa Tristan sudah cukup dengan keberadaan seorang pengasuh saat ini.
Setelah selesai makan, Aiden bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya. Hari ini ia tak pergi ke Perusahaan Anlee Group yang berada di Washington karena ia merasa masih belum terlalu fit, apalagi dengan luka di kedua lengannya. Ia memutuskan untuk bekerja dari rumah.
Sore hari, ia keluar dari ruang kerjanya. Kebetulan hari itu adalah hari Sabtu, jadi Tristan tidak bersekolah. Putranya itu terlihat sedang bersama dengan pengasuhnya, Fessia.
Suara tawa bisa Aiden dengar, membuatnya berjalan menghampiri area ruang keluarga. Aiden berdiri tak jauh dan memperhatikan keduanya. Ia melihat bagaimana keduanya terlihat begitu dekat. Sepertinya benar, bahwa Tristan begitu menginginkan perhatian, cinta serta kehangatan dari sebuah keluarga, tapi ...
Dimana kamu? - batin Aiden.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Selain pengusaha Aiden juga kan mafia masa g bisa melacak ibunya Tristan, atau apakah saat melakukan ons Aiden dalam keadaan tdk sadar jd ga hapal wajah wanitanya atau Aiden melakukannya dgn wanita random gitu?
2024-08-15
1
StAr 1086
kira2 siapa ya mommy nya tristan...
2023-10-25
0