Fressia merasa sangat kesal, bahkan ia menghentakkan kakinya beberapa kali saat sampai di Kediaman Aiden. Ia memang berpisah dengan Karen dan menaiki taksi online masing masing. Sepanjang jalan menuju kamar tidurnya, mulutnya terus saja komat kamit mengumpati majikannya itu.
"Kamu kira dirimu cinderela apa? Mau menjerat pria pria kaya. Lalu apa salahnya dengan hal itu? Aku masih single, tidak terikat pada sebuah pernikahan. Bahkan memiliki kekasih saja tidak, lalu apa masalahnya?" gumam Fressia kesal.
Ia membuka pintu kamar tidurnya lalu membuka gaunnya. Ia langsung pergi membersihkan diri dan menggunakan piyamanya. Setelah selesai, Fressia langsung pergi ke kamar tidur Tristan untuk melihat keadaan anak asuhnya itu. Fressia bernafas dengan lega saat melihat Tristan sudah terlelap.
"Dia menggerutu aku pergi ke pesta, lalu dia sendiri malah meninggalkan putranya, padahal dia sudah mengijinkanku pergi dan dia yang menawarkan diri untuk menjaga Tristan. Menyebalkan!" Fressia benar benar kesal pada Aiden hingga mulutnya sepertinya tak ingin berhenti untuk mengeluarkan keluh kesahnya.
Keesokan paginya, Fressia kembali pada aktivitasnya semula. Ia membangunkan Tristan karena anak asuhnya itu akan pergi ke sekolah.
"Pagi, Tristan," sapa Fressia sambil menoel hidung Tristan, membuat sang empunya menggeliat karena tidurnya terganggu.
"Lima menit lagi, Aunty," ucap Tristan.
"Ini sudah jam tujuh, Tristan. Nanti kamu terlambat, bukankah hari ini ada latihan sepak bola lagi?" ucap Fressia mengingatkan.
Mata Tristan langsung terbuka dengan sempurna. Ia pun beranjak dari atas tempat tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Fressia sudah menyiapkan air hangat dan Tristan selalu ingin mandi sendiri, meskipun kadang Fressia memaksa untuk memandikannya.
Tak sampai sepuluh menit, Tristan telah selesai membersihkan diri. Fressia pun memakaikan seragam sekolah kemudian keluar bersama dengan anak asuhnya itu.
Mereka turun menuju meja makan. Di sana sudah tersedia sarapan yang disiapkan oleh Fressia tadi pagi, sebelum ia membangunkan Tristan. Di ujung meja juga nampak Aiden yang sudah menunggu kedatangan putranya untuk sarapan bersama. Ya, Aiden sedang berusaha untuk lebih dekat dengan putranya. Bagaimana pun juga, hanya dirinya lah yang dimiliki oleh Tristan sebagai keluarga.
Aiden melihat ke arah Fressia, tapi tak sekali pun Fressia menoleh padanya. Fressia terus memfokuskan dirinya untuk membantu Tristan makan karena mereka harus segera berangkat.
"Habiskan sarapanmu dulu, sayang. Aunty akan mengambil tas terlebih dahulu," Fressia pergi dari ruang makan untuk mengambil tas yang berada di dalam kamar tidurnya. Ia akan ikut menemani Tristan ke sekolah bersama dengan seorang supir.
"Pamit dulu pada Daddy-mu," ucap Fressia saat ia telah kembali ke ruang makan.
"Aku yang akan mengantar kalian ke sekolah," ucap Aiden.
Fressia tak membalas ucapan Aiden. Ia hanya diam saja, bahkan tak melihat ke arah Aiden. Aiden tak suka dengan situasi seperti ini. Bukankah ia harus menjalin hubungan serta komunikasi yang baik dengan pengasuh putranya.
Di dalam mobil, Fressia sengaja mendudukkan Tristan di kursi belakang bersama dengan Aiden, sementara ia duduk di kursi depan bersama dengan Grey, asisten pribadi majikannya itu. Fressia tak ingin berbicara terlalu banyak dengan Aiden, apalagi berdekatan. Mulai sekarang, Fressia merasa harus menjaga jarak karena ia tak ingin terus mendengar ucapan yang menyakitkan hatinya.
"See you, Dad!" Tristan melambaikan tangannya ke arah Aiden setelah turun, sebelumnya di dalam mobil ia telah memberikan ciuman di pipi untuk ayahnya itu. Fressia hanya mengucapkan terima kasih tanpa menyebutkan nama, jadi bisa saja pengasuh putranya itu mengucapkan terima kasih hanya kepada Grey.
Mengesalkan! - batin Aiden dengan mengepalkan tangannya.
"Apa ada masalah, Tuan?" tanya Grey saat melihat perubahan raut wajah atasannya itu.
"Tidak ada! Apa jadwalku hari ini?" tanya Aiden.
"Hari ini anda akan kembali bertemu dengan Tuan Wang untuk membicarakan rencana penyediaan beberapa bahan baku untuk pembukaan restorannya. Setelah jam makan siang, anda juga akan menemui Tuan Edwin untuk membahas rencana investasi anda di perusahaan miliknya," jawab Grey.
Aiden menghela nafasnya pelan, tapi masih terdengar oleh Grey.
"Apa anda ingin membatalkan janji tersebut, Tuan? Saya akan mengatur ulang semua jadwalnya jika anda tak ingin bertemu," ucap Grey.
"Tidak apa, lanjutkan saja."
Aku butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiranku darinya. Ntah mengapa ke-diaman-nya membuat perasaanku tak tenang. - batin Aiden.
"Baik, Tuan," Grey pun melanjutkan perjalanan mereka ke Anlee Group tanpa ada lagi perbincangan di antara mereka. Sesekali Grey mengintip ke arah spion tengah untuk melihat keadaan Aiden.
*****
"Tuan, Mr. Dalin membuat ulah lagi. Mereka menggagalkan pengiriman senjata kita, bahkan mencurinya dan menjualnya lagi pada mafia di negara sebelah," ucap Grey saat memasuki ruangan Aiden setelah beberapa saat mereka sampai di Anlee Group.
Brakkk!!!
Aiden menggebrak meja kerjanya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Grey.
"Kita berangkat sekarang, Grey!" ucap Aiden.
"Bagaimana dengan pertemuannya, Tuan?"
"Minta Ivan untuk menjadwalkan ulang semuanya dan beritahu Bricks bahwa kita akan segera ke sana," jawab Aiden sambil melangkah menuju ke lift yang akan membawanya turun.
Grey langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke bandara. Mereka akan pergi ke pelabuhan dengan menggunakan helikopter agar segera sampai. Aiden sangat tak suka dengan kegagalan, selain itu ini berhubungan dengan harga diri 'Dark Shades'.
Tak sampai lima belas menit, Aiden telah sampai di pelabuhan. Tampak Bricks yang sedang mengatur anak buah Dark Shades untuk melakukan pengamanan lebih pada barang barang mereka yang tersisa.
"Bagaimana, Bricks?" tanya Aiden.
"Sepertinya Mr. Dalin menempatkan seseorang di tengah tengah kita untuk memata matai, kalau tidak tak mungkin kita kecolongan seperti semalam," ujar Bricks.
"Lalu, apa kamu sudah menemukan siapa orangnya?"
"Belum, Tuan. Tapi saya pastikan akan segera menemukannya sebelum kejadian seperti ini terulang kembali.
"Baiklah. Lalu, bagaimana dengan barang barang kita yang telah ia curi?" tanya Aiden.
"Untuk itu kita tak dapat berbuat banyak, pasalnya senjata tersebut telah dijual ke luar negeri. Jika kita memaksa untuk mengambil, tentu akan ada bentrokan antara klan kita dengan klan mafia di sana," jawab Bricks.
"Aku mengerti. Kalau begitu siapkan rencana pembalasan kita, meskipun kita belum mengetahui siapa orang dalam yang mereka susupi," ucap Aiden.
"Siap, Tuan!"
Klan Mafia 'Dark Shades' yang diketuai oleh Aiden, merupakan sebuah klan Mafia yang terkenal di dunia bawah. Namun karena hal itu juga, banyak klan mafia lain yang merasa iri hingga ingin menjatuhkan kepemimpinan Aiden. Dulu, Aiden hanya lah tangan kanan ketua mafia 'Dark Shades', tapi karena ia memiliki potensi dan kepercayaan dari ketua sebelumnya yang bernama Jion Demon, maka diangkatlah Aiden menjadi ketua selanjutnya. Selain itu, Jion juga tak memiliki penerus.
Aiden akan selalu mempertahankan nama baik klan Mafia 'Dark Shades'. Ia tak akan membiarkan organisasi itu jatuh, apalagi ia belum bisa mengungkap siapa pembunuh kakek dan neneknya. Namun, Aiden sudah mendapatkan sedikit petunjuk dan ia tak ingin petunjuk itu hilang jika semua yang ia kerjakan hingga saat ini dihancurkan.
🧡 🧡 🧡
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments