MAAF

Ntah keberanian dari mana, Fressia langsung menampar wajah Aiden, majikan yang seharusnya ia hormati. Tanpa berkata kata lagi, Fressia langsung pergi meninggalkan ruang kerja Aiden, sesaat setelah ia mendaratkan telapak tangannya di pipi Aiden.

Hati Fressia terasa sangat sakit saat mendengarkan ucapan Aiden tadi. Apa ia salah berbicara dengan salah satu orang tua siswa lain? Mereka bahkan hanya membicarakan beberapa hal yang berhubungan dengan sekolah. Tak ada hal lain selain itu.

Fressia memegang daddanya yang seakan disayat karena disebut sebagai wanita murahhan. Ia yang awalnya ingin memasak untuk makan siang, kini hanya terdiam di dalam kamar dan menyerahkan pekerjaan itu pada pelayan yang lain.

Sementara di dalam ruang kerja, Aiden merutuki dirinya sendiri yang kembali salah dalam berkata kata. Awalnya ia ingin meminta maaf atas ucapan kasarnya saat di area parkir sekolah tadi, tapi ia malah membuatnya semakin kacau.

"Arghhh! Kenapa kamu tidak pernah bisa menjaga ucapanmu, Ai? Lalu sekarang apa yang harus ku lakukan?" ucap Aiden bermonolog dengan dirinya sendiri.

Aiden bersandar di kursi kerjanya. Ia memutar kursi tersebut menghadap ke jendela yang tepat berada di belakangnya. Ia menghela nafasnya pelan saat membayangkan betapa cemburunya ia melihat Fressia berbicara dengan pria lain.

Aku bukan siapa siapa nya, mengapa aku harus marah? Ada apa sebenarnya denganku? - batin Aiden.

Aiden pun akhirnya keluar dari ruang kerjanya. Ia pergi meninggalkan rumahnya dengan mengendarai sendiri mobilnya. Ia mengemudi sambil melihat ke kiri dan ke kanan, tempat yang sekiranya cocok untuk membeli hadiah untuk Fressia sebagai permintaan maaf.

Setelah lama berkendara, Aiden menghentikan mobilnya di depan sebuah butik. Ia masuk ke dalam dan seorang pramuniaga datang melayani, apalagi saat melihat penampilan Aiden yang begitu tampan dan memakai pakaian branded.

"Bisa saya bantu, Tuan?" tanya pramuniaga itu.

Mata Aiden memindai ke sekeliling, melihat lihat apa yang menarik perhatiannya. Ia berjalan menuju ke sebuah rak di mana tergantung beberapa baju terusan yang berwarna pastel. Warnanya begitu cantik dan bisa Aiden bayangkan jika Fressia yang menggunakannya, maka akan semakin cantik.

Aiden menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Sekali lagi ia menepis semua pikirannya tentang Fressia. Ia mengambil salah satu pakaian di sana, lalu memberikannya pada pramuniaga yang tadi berdiri di dekatnya.

"Saya ambil yang ini," ucap Aiden.

Pramuniaga itu langsung memasukkannya ke dalam sebuah paperbag setelah Aiden membayarnya dengan kartu kredit miliknya. Aiden bergegas pulang karena ia ingin memberikan pakaian itu pada Fressia.

Sesampai di rumah, Aiden masih tak melihat keberadaan Fressia. Ia pun melangkah memasuki kamar tidurnya sendiri. Ia membersihkan diri dan berganti pakaian. Sementara itu, Fressia ternyata sedang berada di kamar tidur Tristan.

"Tris, ayo mandi," ajak Fressia.

"Tadi kan sudah mandi, Aunty. Masa mandi lagi?" tanya Tristan yang merasa malas bergerak dari atas tempat tidurnya. Hari libur seperti ini, biasanya ia diperbolehkan memegang tablet di mana tersimpan banyak game yang membuatnya lupa waktu.

"Kalau begitu nanti kamu tidak usah makan ya, tadi kan sudah makan," jawab Fressia, membuat Tristan yang sejak tadi fokus dengan tabletnya, langsung menoleh. Ia termasuk anak yang suka makan, jadi ia tak mau melewatkan jam makan.

"Loh kok gitu, Aunty? Kalau Tristan tidak makan, nanti Tristan bisa lemah. Tapi kalau Tristan tidak mandi, kan tidak terlalu pengaruh," Fressia menggelengkan kepalanya melihat jawaban Tristan yang makin lama makin nyeleneh.

"Ayo istirahatkan matamu dulu. Kalau kamu melihat tablet terus, nanti matamu bisa rusak. Apa kamu mau berkacamata? Nanti mau berenang jadi susah loh," Tristan tampak berpikir, hingga ia terdiam sesaat.

Tristan sangat menyukai olahraga renang, jadi ia tak ingin sampai tak bisa berenang.

"Baiklah, Aunty. Aku mau mandi kalau begitu," Tristan meletakkan tablet tersebut di atas nakas, kemudian berjalan ke kamar mandi.

Fressia telah menyiapkan air hangat di dalam bathtub. Tristan suka berendam sambil pura-pura berenang di dalamnya. Hal itu bisa memakan waktu hingga dua puluh menit. Selesai mandi, Fressia membantu Tristan memakai piyamanya.

"Ah tampannya anak ini, uhhh," puji Fressia sambil berpura pura mencubit pipi Tristan dengan gemas.

"Aunty jangan menggodaku."

"Aunty tidak menggodamu, sayang. Kamu memang tampan, apalagi kalau sudah mandi seperti ini," ucap Fressia.

"Ayo kita turun," ajak Fressia.

*****

Aiden yang tak melihat keberadaan Fressia sejak ia pulang tadi, membawa paperbag tersebut ke kamar tidur Fressia. Ia mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Kamar tidur Fressia tak terkunci, membuat Aiden masuk dengan mudah. Ia menghirup harum wewangian yang rasanya pernah ia cium, tapi ia lupa di mana.

Fressia tak ada di dalam kamar tidurnya, Aiden yakin pengasuh putranya itu pasti sedang berada di kamar tidur Tristan. Aiden meletakkan paperbag tersebut di atas tempat tidur Fressia, kemudian ia langsung keluar dari sana.

Aiden melangkahkan kakinya agak cepat. Ia tak ingin terlihat oleh pelayan yang lain jika ia berada di sana. Ia mendengar suara tawa Tristan dan juga Fressia dari arah ruang makan. Ia pun bergegas ke sana.

Ia duduk di atas kursi yang memang biasa menjadi tempatnya lali menatap ke arah Tristan dan Fressia. Fressia sedikit menundukkan kepalanya, bahkan memalingkan wajahnya karena tak ingin melihat wajah majikannya itu. Aiden sangat tahu mengapa Fressia melakukan itu dan ia memakluminya.

Mereka makan dalam kebisuan. Hanya sesekali Aiden menanyakan sesuatu pada Tristan, selebihnya hanya ada interaksi antara Tristan dengan Fressia.

Setelah selesai makan malam, Fressia mengantarkan Tristan ke dalam kamar tidurnya,menemaninya menggosok gigi, kemudian bersiap untuk tidur. Setelah itu ia keluar menuju ke kamar tidurnya sendiri. Hari ini terasa begitu melelahkan bagi Fressia, lelah hati dan juga lelah fisik.

Sesampainya Fressia di dalam kamar, ia masuk lalu menutup pintu dan menguncinya. Ia menautkan kedua alisnya saat melihat sebuah paperbag ada di atas tempat tidurnya.

"Apa ini?" gumam Fressia sambil membuka paperbag itu.

Matanya seakan dimanjakan saat melihat sebuah pakaian terusan berwarna pastel yang terlihat sangat cantik.

"Cantik sekali," puji Fressia. Ia bahkan berdiri di depan cermin sambil memposisikan pakaian tersebut di tubuhnya, "siapa yang memberikannya, apa ...?"

Fressia langsung kembali ke tempat tidur di mana ia masih meletakkan paperbag tadi. Fressia menemukan sebuah kartu, kemudian membacanya.

'Maaf'

🧡 🧡 🧡

Terpopuler

Comments

Alexandra Juliana

Alexandra Juliana

Harum wewangian dr wanita yg menghabiskan malam bersamamu Ai..🤭😁

2024-08-15

0

Septi Wariyanti

Septi Wariyanti

betul wes ganti warna rambut

2024-08-08

0

Ita rahmawati

Ita rahmawati

nah bnerkan fressia ini si wanita berambut merah,,krn aidwn kyk kenal sm bau² nya 😁

2024-05-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!