PENASARAN

Sejak hari itu, Aiden tampak berpikir tentang pengasuh putranya itu. Ia bahkan bisa menghabiskan waktu melamun selama ber jam jam, sesuatu yang bukan kebiasaannya. Pernah sekali waktu, ia tak pergi ke perusahaan, hanya untuk memperhatikan aktivitas Fressia dari pagi hingga malam. Kadang ia menaruh rasa curiga, tapi kadang ia menepisnya juga kala melihat kedekatan Fressia dengan putranya.

Hari ini, Aiden pergi ke perusahaan seperti biasanya. Banyak hal yang harus ia kerjakan dan juga harus ia selesaikan. Tak mungkin jika ia terus memperhatikan dan manruh rasa curiga pada pengasuh putranya itu terus menerus.

Di dalam ruang kerjanya di Anlee Group,

"Apa yang kamu temukan, Van?" tanya Aiden. Saat ini Grey dan Ivander berada di satu ruangan yang sama dengan Aiden. Mereka membahas masalah perusahaan dan juga tentang persediaan senjata yang mereka miliki.

"Tak ada yang mencurigakan di komputer perusahaan. Tak ada informasi apapun yang dikirim keluar, kecuali memang surat kerjasama kita yang harus disetujui oleh klien," jawab Ivander.

"Kalau kamu, Grey. Apa yang kamu temukan?"

"Tak ada yang aneh dan ganjil, Tuan. Bricks juga sudah melakukan investigasi di villa, serta gudang senjata, tapi tak ada yang mencurigakan," jawab Grey.

Aiden memegang bolpoin dan menyatukan kedua tangannya. Ia menggunakannya sebagai penyangga kepalanya. Ia tampak berpikir mengenai masalah hilangnya stok senjata yang ia miliki dalam beberapa minggu belakangan ini.

Bukan hanya kerugian secara materiil yang ia dapatkan, tapi juga kepercayaan dari pelanggan yang mulai berkurang karena ia tak dapat memberikan pasokan senjata sesuai dengan janji yang telah disepakati.

"Menurut kalian, apa yang harus kita lakukan?" tanya Aiden.

"Aku akan tetap mengawasi segala informasi yang keluar dan tak membiarkan celah sedikit pun bagi musuh kita untuk mencari celah dalam menghancurkan kita," jawab Ivander.

"Aku juga sudah menambah pengamanan di perusahaan, di rumah, di villa, serta di gudang senjata. Sementara Bricks akan terus melakukan investigasi tanpa melonggarkan pengawasan," jawab Grey.

"Bagus! Kita harus melakukan pengawasan ke semuanya, tanpa kecuali," ucap Aiden.

Setelah pertemuannya dengan Grey dan Ivander, Aiden pun kembali ke rumah. Saat ia sampai, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Suasana rumah sudah sepi dan hanya tampak beberapa lampu yang dinyalakan. Aiden pergi ke kamar tidurnya dan membersihkan diri. Setelah selesai, ia keluar dan pergi ke kamar tidur putranya, Tristan.

Ketika kamar tidur Tristan terbuka, tampak putranya itu sudah terlelap. Hanya lampu dinding kecil yang menjadi sumber penerangan. Aiden berjalan mendekat ke arah tempat tidur di mana Tristan sedang terlelap.

"Halo, Boy. Maaf jika belakangan ini Daddy terlalu sibuk. Daddy berjanji setelah Daddy menyelesaikan semua masalah ini, kita akan pergi berlibur bersama sama," ucap Aiden, kemudian mengecup kening Tristan dan mengusap rambutnya.

Aiden duduk bersandar di tepi tempat tidur Tristan. Ia menerawang dan mengingat kembali bagaimana ia bertemu dengan seorang wanita, tidak ... tidak ...!! Seorang gadis tepatnya, karena dirinya lah yang menjadi pria pertama yang mengambil kehormatann gadis itu.

Di mana kamu sekarang? Apa kamu tak ingin bertemu denganku? Apa kamu tak ingin sekedar bertemu dengan putra kita? Atau kamu begitu benci padaku karena aku mengambil kehormatann mu malam itu? - batin Aiden.

Bagi Aiden, gadis berambut merah itu adalah cinta pertamanya, wanita pertama yang bersentuhan dengannya. Sejak malam itu, Aiden tak bisa melupakannya, meskipun ia dikelilingi oleh wanita wanita cantik, yang siap melemparkan tubuhnya pada dirinya.

Ia selalu menghabiskan waktu untuk bekerja dan bekerja. Ia juga meminta asisten pribadinya untuk mencari tahu tentang wanita itu, sekecil apapun informasi yang didapatkan. Ia berharap dari informasi itu, ia bisa menemukan wanita berambut merah itu.

Aiden kembali berbalik menatap putranya yang tertidur dengan nyenyak. Sekali lagi ia mengusap rambut Tristan.

"Kamu sangat mirip dengan Mommy mu, Tris. Oleh karena itu juga dulu Daddy lebih banyak bekerja, karena setiap melihatmu Daddy pasti teringat padanya. Sungguh Daddy sangat merindukannya. Apa yang sedang ia lakukan sekarang dan bagaimana keadaannya?" gumam Aiden. Setelah itu, ia kembali mengecup kening Tristan dan keluar dari kamar tidur.

Ponsel yang berada di saku Aiden bergetar, ia melihat nama Bricks muncul di sana. Kembali ia merasakan sesuatu terjadi dan ini pasti sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya.

"Ada apa, Bricks?" tanya Aiden.

"Tuan, gudang senjata serta villa anda diledakkan dan kini api mulai menjalar hingga ke sebagian hutan.

"Sialannn!!!" Aiden mengepalkan tangannya. Ia yakin ini adalah pekerjaan musuhnya lagi.

"Evakuasi semuanya, Bricks! Lalu, apakah rekaman CCTV di sana sudah kamu amankan?" tanya Aiden.

"Hanya sebagian, Tuan. Yang berada di luar."

Sekali lagi Aiden menghela nafasnya kasar. Ia merasa klan Mafia 'Dark Shades' mulai benar benar terancam keberadaannya.

"Bersihkan semuanya dan datanglah ke perusahaan. Kita perlu mengatur strategi baru," ujar Aiden.

"Baik, Tuan."

Setelah menerima panggilan ponsel tersebut, Aiden pun keluar dari kamar tidur Tristan. Ia ingin kembali ke kamar tidurnya. Saat melangkahkan kakinya, ia melihat lampu di area dapur menyala, ia pun pergi ke sana. Namun tak terlihat siapa pun. Aiden akhirnya kembali naik ke lantai atas di mana kamar tidurnya berada. Ia masuk dan ingin bergegas tidur. Akan tetapi langkah kakinya membawanya ke arah balkon. Di sana ia bisa melihat taman belakang yang memiliki kolam renang.

Matanya sedikit menyipit dan kedua alisnya saling bertaut, ketika ia melihat sosok seseorang di kursi yang berada dekat kolam renang.

"Fressia?" gumam Aiden.

Ia yang awalnya ingin tidur, kini malah memperhatikan aktivitas Fressia di sana. Wanita itu terlihat duduk sambil termenung. Tak lama kemudian, ia mengambil ponsel dan tampak menghubungi seseorang.

Siapa yang ia hubungi malam malam begini? - batin Aiden.

Cukup lama Fressia berbicara di ponselnya dan Aiden tak berhenti memperhatikannya. Saat Fressia bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumah, Aiden langsung masuk kembali ke dalam kamar dan bersembunyi di balik gorden. Ia tak ingin Fressia tahu bahwa sejak tadi ia memperhatikannya.

Setelah beberapa saat, Aiden kembali melihat ke arah taman belakang dan sudah tak mendapati Fressia di sana. Ia pun duduk di atas tempat tidur sambil bersandar di kepala tempat tidur. Ia mengambil ponsel dan tampak mengetikkan sesuatu di sana.

Aku berharap aku salah dan itu hanya dugaanku saja. - batin Aiden.

Ia pun akhirnya meletakkan ponselnya setelah mengirimkan pesan. Ia mencoba memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terlelap. Besok ia harus segera menemui Bricks.

*****

Pagi pagi sekali, Fressia tampak sudah bangun dari tidurnya, meskipun semalam ia tak bisa tidur dan memikirkan banyak hal. Ia bahkan menghubungi Karen untuk sekedar menemaninya sampai ia mengantuk.

Fressia pergi membersihkan diri, setelah itu pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal makanan untuk dibawa oleh Tristan ke sekolah. Setelah itu ia langsung menuju ke kamar tidur Tristan untuk membangunkan anak asuhnya itu.

Setelah membersihkan diri dan memakai pakaian sekolahnya, Tristan pun turun ke ruang makan bersama dengan Fressia. Fressia sendiri juga telah siap, karena sejak Tristan mengenalkannya sebagai Mommy, Tristan selalu memaksanya untuk mengantar dan menungguinya di sekolah. Dan seperti biasa, Fressia tak kuasa menolak karena ia begitu menyayangi Tristan dan tak ingin anak asuhnya itu sedih.

Mata Aiden tampak menatap tajam ke arah Fressia. Ucapan Nyonya Roxane masih ia ingat di mana Fressia memiliki rambut berwarna merah tapi ia menyembunyikannya dengan mengecatnya dengan warna natural. Akan tetapi, selama Fressia menjadi pengasuh putranya, tak pernah sekalipun Aiden melihat rambut berwarna merah meski hanya ujungnya saja di kepala Fressia.

Aku masih penasaran dengan apa yang ia sembunyikan. - batin Aiden.

🧡 🧡 🧡

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

kpn kmu malah mncurigai nya sbgai mata² musuh,,dn gk curuga klo dia ibu dari anakmu

2024-05-12

0

Dewi Nurlela

Dewi Nurlela

knp ga tes DNA aja Aiden

2023-06-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!