Fressia berusaha tak terlalu menggubris tatapan mata Aiden yang terasa menelisik dirinya, tapi tetap saja ia merasa risih. Ia terus membantu Tristan menyelesaikan sarapan paginya dan segera bersiap untuk berangkat. Ia ingin segera pergi dan menjauh dari Aiden.
"Aku pergi dulu, Dad," pamit Tristan.
"Baiklah, hati hati. Maaf hari ini Dad tak bisa mengantarmu," ucap Aiden.
"Tak apa, Dad. Aku mengerti. Aku tahu hari ini Daddy ada meeting penting," ucap Tristan.
"Terima kasih, sayang," Aiden mengusap pucuk kepala Tristan dan mencium kedua pipi putranya itu.
"Permisi, Tuan," Fressia juga pamit. Ia tetap pamit meskipun ia sedikit malas melakukannya. Saat ini ia hanya berusaha sopan karena menganggap bahwa Aiden adalah majikannya.
"Fressia!"
Fressia menghentikan langkahnya saar mendengar Aiden memanggil namanya. Fressia pun diam sementara Tristan tetap melanjutkan langkahnya menuju mobil di mana supir telah menunggu.
"Iya, Tuan," jawab Fressia dengan menunduk. Ia tak mau melihat tatapan mata Aiden yang pasti akan membuatnya menjadi kesal.
"Jaga putraku baik baik. Jangan sampai ia terluka atau aku akan meminta pertanggung jawabanmu," ucap Aiden dengan ketus.
"Saya mengerti, Tuan. Jangan khawatir."
Aiden berjalan sedikit mendekat ke arah Fressia dan berbicara dengan sedikit berbisik, "Aku tahu apa tujuanmu berada di sini. Jangan macam macam atau aku pastikan kamu akan menyesal."
Deggggg
Jantung Fressia berdetak dengan cepat. Ia tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aiden. Ia bahkan jadi melihat manik mata pria yang tak lain adalah majikannya itu untuk mencari apakah ada yang salah dengannya. ia melihat tatapan tajam dari Aiden yang terasa menusuk dan penuh curiga.
"Kamu juga jangan selalu menceritakan tentang masalah rambut merah milik istriku ataupun kesamaannya dengan milikmu. Aku tak suka dan ku rasa kamu tak pantas untuk itu!" Ucap Aiden ketus.
Apa dia mengira aku datang ke sini menjadi seorang pengasuh untuk menjadi cinderela? Yang mencoba merebut perhatiannya dan ingin menjadi Nyonya besar? Ya ampun, picik sekali pikirannya. - batin Fressia.
Fressia hanya tersenyum tipis saat mendengat bisikan Aiden itu. Ia berusaha untuk bersikap biasa karena tak ingin majikannya itu merasa bahwa ia terintimidasi, kemudian ia melangkahkan kakinya menjauh dari Aiden untuk menyusul Tristan yang sudah berada di dalam mobil.
Di dalam mobil, Fressia hanya bisa terdiam sambil menatap ke luar jendela. Ia masih bingung dengan sikap Aiden. Pria itu terkadang baik, tapi terkadang juga sangat mengesalkan. Bahkan kini seakan mencampuri urusan pribadinya.
"Aunty."
"Aunty ...," dua kali Tristan memanggilnya, tapi Fressia masih saja termenung.
"Aunty?"
"Nona Fressia?" suara sang supir menyadarkan lamunan Fressia.
"Ah ya, ada apa?" tanya Fressia.
"Tuan muda memanggil anda sejak tadi."
Fressia langsung menoleh ke arah Tristan dan melihat bahwa Tristan saat ini tengah menatap dirinya.
"Apa ada yang sedang Aunty pikirkan?" tanya Tristan.
"Tidak, sayang. Tadi aunty hanya melamun dan lama lama jadi sedikit mengantuk. Maaf tak mendengar panggilanmu," ucap Fressia.
"Jika Aunty ada masalah, katakan saja padaku. Aku akan meminta Daddy membantu menyelesaikannya," ucap Tristan.
Justru masalahku adalah Daddy mu itu, Tris. Bagaimana bisa ia membantu menyingkirkan dirinya sendiri. - batin Fressia menggerutu sendiri.
"Ya, Tris. Aunty tidak ada masalah kok. Aunty hanya mengantuk."
"Aku juga sedikit mengantuk, apa sebaiknya kita pulang saja dan tidur," ucap Tristan dengan sebuah senyuman terukir di wajahnya.
"Hei, kamu menggoda Aunty, Tris?" wajah Fressia menampakkan senyum saat ia merasa tengah digoda oleh anak asuhnya sendiri.
"Aku sudah menganggap Aunty sebagai Mommy ku. Apalagi Grandma Roxane mengatakan bahwa rambut Aunty berwarna merah. Bukankah itu sama dengan milik Mommy? Jadi biarkan aku bermanja manja dengan Aunty, seperti aku bermanja manja dengan Mommy," ucap Tristan yang sontak membuat dadda Fressia berdetak kencang sekaligus trenyuh mendengar ucapan seorang anak yang masih sangat kecil itu.
Melihat wajah Fressia yang melamun dan tampak lucu, Tristan pun tertawa dengan kencang. Interaksi keduanya tak lepas dari perhatian sang supir yang ikut tersenyum karena melihat kedekatan antara tuan muda dan pengasuhnya itu.
Sementara itu, Aiden kembali bekerja di Anlee Group dan juga mengawasi dunia hitam yang ia geluti. Sampai saat ini, ia belum menemukan siapa orang yang telah membuat kakek dan neneknya mengalami kematian yang tragis.
Selain itu, keinginannya untuk menemukan wanita berambut merah itu pun sangat besar. Bagaimana pun juga, hatinya telah diambil dan dibawa pergi oleh wanita itu. Setelah ia berhasil menemukannya, maka ia akan menendang Fressia keluar dari rumahnya. Ia tak ingin Tristan terlalu bergantung pasa Fressia dan dijadikan alat oleh wanita itu untuk menghancurkannya dari dalam.
Yang cukup aneh, Grey dan Ivander tak pernah bisa menemukan jejak wanita berambut merah itu. Hal itulah yang membuat Aiden berpikir kalau ada klan mafia besar yang menutupinya.
*****
Beberapa hari dilewati Aiden dengan kesibukan yang terus menggunung. Tanggung jawabnya pada Anlee Group semakin lama semakin besar, bahkan ayahnya, Anthony Lee Graham, ingin agar dirinya lah yang memegang kepemimpinan Anlee Group yang berada di Kota New York.
Pulanglah dulu, Dad ingin berbicara denganmu, penting. - demikianlah yang dikatakan oleh Anthony pada Aiden.
Aiden pernah mengatakan untuk memberikan kepemimpinan Anlee Group di New York pada adik perempuannya, yakni Adeline. Akan tetapi, Adeline menolaknya karena ia lebih suka menjadi seorang ibu rumah tangga, yang mengurus suami dan menunggu kepulangannya dari bekerja. Adeline juga sempat mengalami musibah yang membuatnya terpuruk hingga ingin bunuh diri.
Aiden menghela nafasnya kasar kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
Kalau saja ada dirimu saat ini, aku akan sungguh menikmati semuanya. Baik itu statusku sebagai seorang anak, seorang menantu, seorang suami, dan juga seorang ayah. Tapi nyatanya, aku hanya sendirian. Di mana sebenarnya dirimu? - batin Aiden.
Hari itu, Aiden pulang lebih cepat. Ia ingin berbicara dengan Tristan bahwa ia harus pergi untuk perjalanan bisnis. Ia memang akan pergi untuk perjalanan bisnis, tapi lebih pada mengambil alih kepemimpinan bisnis yang digeluti oleh ayahnya dan kakeknya dulu.
Ingin sekali rasanya Aiden membawa Tristan pulang untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, tapi apa nanti yang akan mereka katakan. Ia merasa kasihan pada Tristan karena tak pernah merasakan kasih sayang dari kakek dan neneknya. Ia terus berpikir karena ia tak ingin Tristan mengalami hal buruk seperti dirinya, yakni kehilangan kakek dan nenek saat ia sangat menyayangi keduanya.
Aiden pulang ke rumah sekitar jam lima sore. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Tristan karena belakangan ini ia memang sangat sibuk. Ia tak ingin putranya itu beranggapan ia tak menyayanginya. Ia juga tak mau Tristan terpengaruh oleh Fressia yang sedang ia curigai.
"Halo, Tristan!" sapaan Aiden langsung membuat Tristan menoleh. Ia yang awalnya sedang mengerjakan tugas menggambar pun bangkit dan menyambut kehadiran ayahnya. Senyuman di wajah Tristan seakan menghilangkan penat dan lelah yang beberapa hari ini dialami oleh Aiden.
Disambut oleh seorang anak dengan senyuman saja sudah membuat rasa lelahku hilang. Bagaimana jika aku disambut oleh seorang istri yang akan selalu menghampiriku dan memberikanku pelukan dan ciuman, mungkin aku akan memiliki tenaga untuk membangun seribu candi. - batin Aiden
"Ayo, Tristan. Kita lanjutkan pekerjaan rumahmu. Besok gambarmu sudah harus dikumpulkan," ucap Fressia.
Tristan langsung melepaskan pelukannya dari Aiden dan melangkah kembali mendekati Fressia. Aiden tersenyum sinis saat melihat apa yang dilakukan oleh Fressia.
Apa dia mau membuat Tristan menjauh dariku? Aku semakin yakin kalau dia lah mata mata yang ada di rumahku. Aku harus segera mengambil tindakan atau dia akan berbuat semakin jauh dan membahayakan Tristan. - batin Aiden.
🧡 🧡 🧡
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Ita rahmawati
aiden 🤦♀️
2024-05-12
0