Karen menatap ke tempat terakhir ia melihat Fressia, tapi ia tak menemukan sahabatnya itu.
"Dimana dia?" gumam Karen sambil tangan sebelahnya mengambil beberapa cemilan yang disuguhkan di pesta tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.
Karen bahkan mengangkat sebelah rok gaunnya karena ia sulit berjalan akibat sepatunya yang selalu tersangkut dengan jahitan di gaun itu.
Baru saja Karen memasukkan sebuah dimsum ke dalam mulutnya, ia mendengar suara seorang pria. Memang tak akan membuat seisi ruangan menoleh, tapi Karen meeasa suara itu menarik perhatiannya. Ia pun melangkahkan kakinya ke sana dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Ia langsung mengangkat kedua sisi rok gaunnya agar lebih cepat melangkah ketika melihat keberadaan Fressia bersama seorang pria tampan. Namun, tiba tiba sebuah tangan menahannya.
"Hei lepaskan tanganmu itu!" perintah Karen yang merasa tak suka. Ia langsung menatap tajam pada seorang pria berkacamata yang tak mengijinkannya melangkah.
"Maaf, Nona. Anda sebaiknya tetap di sini."
"Dia itu sahabatku, memangnya siapa kamu yang berhak menghalangiku?" tanya Karen.
"Perkenalkan, nama saya Ivander. Saya adalah asisten pribadi dari Tuan Aiden," jawab Ivander.
"Aiden? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu," gumam Karen.
Ahhh majikan Fressia! - batin Karen.
Akhirnya dengan sangat terpaksa, Karen membiarkan Aiden berbicara dengan Fressia. Mungkin ini adalah masalah pekerjaan. Ia pun berniat untuk kembali ke meja yang penuh makanan dan kembali mengisi perutnya. Namun sebelum itu, ia kembali menoleh ke arah Ivander.
"Lain kali jangan seenaknya menyentuhku, mengerti?! Akan kupatahkan tanganmu itu," ancam Karen. Namun hanya ditanggapi dengan wajah datar dari Ivander, membuat Karen semakin mencebik kesal.
Sementara itu, Aiden dan Fressia pun berbicara setelah pria bernama Dalton telah dibawa oleh pihak security karena memang mengganggu. Mereka berdua keluar dari ballroom tersebut karena Fressia merasa perlu berbicara dengan majikannya itu.
"Tuan, apa maksud anda mengatakan di depan orang orang bahwa saya adalah tunangan anda?" tanya Fressia yang tak suka dengan apa yang telah dilakukan oleh Aiden.
Fressia lebih setuju jika Aiden mengatakan kalau ia adalah karyawannya, atau bahkan pengasuhnya pun tak masalah. Tapi kalau tunangan? Para tamu justru menatapnya dengan penuh tanda tanya karena ia dianggap sebagai wanita yang menggoda Aiden. Fressia bisa melihat tatapan menusuk dari para tamu yang melihat kejadian tadi.
"Maksudku? Apa kamu tidak mengerti apa maksudku? Aku hanya menolongmu saja. Apa kamu lebih suka kalau pria tadi membawamu pergi?" tanya Aiden.
Fressia menatap Aiden, "Bukan begitu maksudku, Tuan. Tapi seharusnya anda cukup mengakui bahwa saya adalah pengasuh putra anda, atau setidaknya pegawai anda."
"Kamu itu sudah dibantu, bukannya berterima kasih, malah menggerutu," ujar Aiden menatap tajam ke arah Fressia.
"Bukan begitu, Tuan. Tapi anda ...."
"Dan untuk apa kamu datang ke pesta seperti ini hah?!" tanya Aiden dengan nada sedikit tinggi dan penuh penekanan.
"Apakah saya tidak boleh datang ke pesta ini?" tanya Fressia.
"Seharusnya kamu segera pulang untuk menemani Tristan, bukannya keluyuran dan mendatangi sebuah pesta ulang tahun yang bukan tempatmu," ucap Aiden.
Jujur, apa yang dikatakan oleh Aiden sangat menyakiti perasaan Fressia. Apakah ia memiliki status demikian rendah hingga tak pantas berada di pesta mewah seperti ini?
"Ini adalah hari liburku dan itu berlaku sampai jam dua belas nanti. Jadi terserah padaku mau ke mana," Fressia juga mulai meninggikan intonasinya.
"Apa kamu mengira dirimu adalah cinderela?" Bagi Fressia, pertanyaan Aiden seakan sebuah penghinaan baginya. Namun ia hanya diam saja.
"Jangan jangan benar bahwa kamu datang ke sini karena berharap menjadi cinderela dengan menjerat pria pria dari kalangan pengusaha.
Tak ingin menanggapi majikannya itu lebih lama, akhirnya ia meninggalkan Aiden dan masuk kembali ke ruang pesta. Ia segera mencari keberadaan Karen untuk menikmati pesta tersebut.
"Kamu sudah selesai berbicara dengan majikanmu?" tanya Karen yang menyadari kehadiran Fressia di dekatnya.
"Dari mana kamu tahu itu majikanku?" Fressia bukan menjawab, malah bertanya balik.
"Dari seorang pria bernama Ivander. Tadi aku ingin mendekatimu, tapi pria itu menghalangiku," jawab Karen.
"Tuan Ivander adalah asisten pribadi Tuan Aiden," ucap Fressia memberitahu Karen.
"Ngomong ngomong, Tuan Aiden mu itu tampan juga ya. Apalagi kamu pernah mengatakan dia baik. Itu berarti dia sempurna kan," ucap Karen.
"Aku tarik lagi ucapanku," ucap Fressia yang masih merasa kesal dengan Aiden.
"Hei, ada apa hingga membuatmu marah pada majikanmu itu? Apa dia menyuruhmu pulang dan menjaga putranya?" tanya Karen.
"Tidak, tidak, tak ada apa apa. Aku sepertinya hanya lapar saja. Ayo kita berkeliling mencari makan. Tidak baik membicarakan orang lain," ucap Fressia yang langsung menarik tangan Karen untuk berkeliling.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya, Fressia berkeliling mencari makanan. Ia berencana akan memuaskan perutnya malam ini dan berusaha melupakan ucapan Aiden yang begitu menyakiti hati.
"Fre," panggil Karen.
"Fre," kembali Karen memanggil dengan sedikit penekanan. Fressia yang sedang mengamati beberapa jenis makanan di atas meja, akhirnya menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Ada apa, hmm?"
"Lihatlah," ucap Karen.
"Lihat apa? Aku sedang memilih makanan," ujar Fressia.
"Majikanmu."
Ntah mengapa Fressia semakin kesal jika mendengar nama Aiden disebut saat ini. Hatinya masih kesal dengan ucapan Aiden yang mengatakan bahwa Fressia datang ke sana untuk menjerat pria pria kaya. Hal itu benar benar menyebalkan.
"Biarkan saja, aku tak peduli," ucap Fressia.
"Sepertinya kamu bisa segera punya Nyonya besar baru jika ia seperti itu," goda Karen sambil memasukkan sepotong buah ke dalam mulutnya.
Fressia langsung melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Karen. Matanya menatap tajam dengan area di kedua alis sedikit mengkerut. Tangannya mengepal melihat di sekeliling Aiden banyak wanita yang tersenyum dan berusaha menarik perhatian majikannya itu.
Dia mengatakan aku datang ke sini karena merasa diri adalah cinderela, berusaha mencari pria pengusaha untuk kujerat. Apa sekarang dia sedang menjilat ludah dan menggigit lidahnya sendiri? - batin Fressia yang masih terus menatap ke arah Aiden dengan penuh amarah, apalagi melihat wajah Aiden yang tampaknya nyaman dengan situasi semacam itu. Sementara Fressia sendiri merasa hatinya tak nyaman saat melihat hal itu.
"Arghhh!!" ungkap Fressia kesal dan langsung menarik Karen untuk pulang dari pesta tersebut.
🧡 🧡 🧡
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Aduh Aiden mulutmu itu bagaikan bonbe level 50, pedas...Berbeda dgn Daddy mu yg selalu lembut namun tegas..
2025-03-30
1