INGAT POSISIMU

"Bantu aku," pinta Aiden saat melihat Fressia baru saja keluar dari kamar tidur Tristan.

Fressia mengikuti langkah kaki Aiden dan ternyata masuk ke dalam kamar tidur Aiden. Aiden langsung membuka pakaiannya dan di sana terlihat luka di kedua lengannya kembali mengeluarkan darah.

Fressia langsung berjalan ke arah lemari di mana kotak obat disimpan. Ia mengambilnya kemudian berjalan kembali mendekati Aiden. Ia membersihkan luka Aiden lagi dengan kapas dan alkohol. Fressia yakin majikannya itu pasti tak menjaga lukanya itu dengan baik hingga kembali mengeluarkan darah. Hingga tanpa sadar, Fressia menekan bagian lengan Aiden yang terluka.

"Ishhh!!! Kamu sengaja ya! Apa kamu tidak bisa pelan pelan? Aku akan memecatmu jika sekali lagi kamu melakukan seperti itu," ucap Aiden ketus.

Ia bahkan sempat berpikir bahwa Fressia adalah mata mata yang disusupkan oleh musuhnya ke dalam kediaman rumahnya. Namun saat melihat bagaimana dekatnya Tristan dengan Fressia, ia berusaha menepis dugaannya.

Sebenarnya Aiden juga merasa kesal pada Fressia. Putranya itu terlihat begitu dekat dengan pengasuhnya, bahkan bisa tertawa lepas bersama. Sementara bersama dirinya,Tristan jarang sekali bisa seperti itu.

"Sudah, Tuan," ucap Fressia setelah selesai membalut perban pada kedua lengan Aiden.

"Keluarlah, aku ingin sendiri," perintah Aiden.

"Baik, Tuan," Fressia mengembalikan kotak obat itu ke dalam lemari, kemudian keluar dari kamar tidur Aiden.

Fressia kembali berjalan menuju kamar tidur Tristan untuk memeriksa anak asuhnya itu sekali lagi, sebelum Fressia sendiri kembali ke kamar tidurnya.

Ceklekkk ...

Fressia membuka pintu kamar tidur Tristan. Ia menautkan kedua alisnya saat tak menemukan Tristan di atas tempat tidurnya.

"Ke mana dia?" gumam Fressia.

Fressia pun masuk ke dalam kamar Tristan untuk mencari anak laki laki itu. Ia membuka pintu kamar mandi, tapi Tristan juga tak ada di dalam.

Sekilas ia merasakan hembusan angin dan ternyata pintu balkon sedang terbuka, Fressia pun bergegas melangkah hendak menutupnya.

"Tristan?" ucap Fressia saat melihat Tristan yang sedang duduk di salah satu kursi balkon. Tristan menoleh ke arah Fressia dan tampak sedikit bulir air di ujung mata Tristan.

"Hei, ada apa?" Fressia menggenggam tangan Tristan kemudian mengajaknya masuk ke dalam kamar, "Kita masuk ya, di luar dingin."

Fressia mengajak Tristan ke atas tempat tidur dan mengajaknya berbaring lalu menyelimutinya, sementara Fressia duduk dan bersandar di headboard.

"Ceritakan pada Aunty, apa yang kamu pikirkan?" tanya Fressia.

"Aku tidak memikirkan apa apa. Aku hanya tidak bisa tidur saja," jawab Tristan.

"Tristan sayang. Aunty memang belum lama menjadi pengasuhmu, tapi sedikit banyak Aunty tahu bahwa saat ini ada yang sedang mengganggu pikiranmu. Ayo berceritalah pada Aunty. Banyak orang mengatakan kalau dengan kita bercerita, maka beban di hati kita akan terlepas meski hanya sedikit," ucap Fressia.

"Aunty, aku ...," Tristan nampak ragu untuk mengatakannya.

"Katakanlah, Aunty mendengarkan."

"Di sekolah akan diadakan liga sepak bola. Aku ingin sekali ikut, tapi ...," Tristan menghentikan ucapannya.

"Tapi kenapa?"

"Orang tua harus datang juga. Aku tak mungkin meminta Daddy untuk datang. Aunty tahu kan Daddy sangat sibuk, bahkan untuk sekedar makan atau bermain bersamaku saja ia tidak ada waktu. Aku tidak mau diejek lagi oleh teman temanku," jawab Tristan sendu.

"Tidurlah dulu, nanti Aunty akan membantumu berbicara dengan Daddy, okay," Fressia berusaha membujuk Tristan agar anak laki laki itu segera tidur. Fressia tak ingin anak itu mengantuk esok hari.

"Aunty," sekali lagi Tristan memanggilnya, saat Fressia melangkah menuju pintu.

"Iya, sayang."

"Maukah Aunty menemaniku ke liga sepak bola itu?" tanya Tristan.

"Aunty akan menemanimu, jangan khawatir."

"Tapi aku ingin memperkenalkan Aunty sebagai Mommyku, boleh ya?" pinta Tristan dengan suara lirih.

"Aunty akan menemanimu, Tris. Tapi kalau memperkenalkan Aunty sebagai Mommy mu, Aunty rasa sebaiknya jangan."

"Aunty tidak mau?" isakan kecil mulai terdengar dan lama kelamaan air mata Tristan luruh begitu saja di kedua pipinya, membuat hati Fressia seakan dicabik saat melihat anak asuhnya itu mulai menangis.

"Mereka pasti akan mengejekku lagi karena aku tidak memiliki Mommy. Aku ... aku ...," kini tangisan Tristan semakin kencang, membuat Fressia kembali berjalan mendekati Tristan.

"Baiklah, baiklah, Aunty mau. Tapi hanya untuk acara itu saja ya," ucap Fressia.

Sebuah senyuman kini terlihat di wajah Tristan, membuat Fressia memeluknya dengan erat serta mengelus punggungnya.

"Sekarang tidurlah, okay," Fressia mencium kening Tristan dan merapikan selimutnya. Ia menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama.

Fressia membuka pintu, kemudian menutupnya dengan perlahan. Ia tak ingin mengganggu ketenangan Tristan. Saat ia memutar tubuhnya, ia dikejutkan oleh Aiden yang sudah berdiri di belakangnya. Fressia langsung memegang daddanya, di mana jantungnya berdetak dengan sangat cepat karena kaget.

"Tuan, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Fressia sambil memegang daddanya.

Tak menjawab pertanyaan Fressia, Aiden pun melangkah menuju kamar tidurnya sendiri.

"Tuan, bisakah kita berbicara sebentar? Ada sesuatu yang harus saya sampaikan," pinta Fressia pada Aiden.

Aiden menghentikan langkahnya, kemudian berbelok menuju ruang keluarga. Ia duduk pada salah satu sofa di sana.

"Sekarang katakan, apa yang ingin kamu bicarakan," ucap Aiden.

"Tuan, sebelumnya saya minta maaf. Bukan maksud saya untuk lancang mengatakan hal ini, tapi ... bisakah anda meluangkan sedikit waktu untuk menemani Tristan? Sebentar lagi sekolahnya akan mengadakan liga sepak bola dan ia menginginkan anda hadir di sana menemaninya," ucap Fressia.

"Aku mendengar semua perkataannya," ucap Aiden.

Fressia terdiam kemudian menautkan kedua alisnya. Ia menanti lanjutan dari ucapan majikannya itu, tapi ternyata Aiden hanya diam saja, malah berniat untuk kembali ke kamar tidurnya.

"Tuan, apa anda tidak ..."

Aiden menghela nafasnya pelan kemudian menoleh ke arah Fressia.

"Aku akan menemaninya menghadiri acara itu. Kamu jangan khawatir, aku bukanlah seorang Daddy yang jahat dan akan membiarkan putraku diejek oleh teman temannya," ucap Aiden.

"Terima kasih, Tuan," ucap Fressia.

"Kamu tak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi tugasku. Dan mengenai permintaan Tristan padamu, lakukanlah. Tapi tetap ingat posisimu di dalam rumah ini," ujar Aiden yang melanjutkan langkahnya menuju ke kamar tidur.

Terima kasih, Tuan. Aku pasti akan selalu mengingat di mana posisiku. Aku adalah pengasuh Tristan dan tak akan berkhayal ataupun berharap menjadi seorang Nyonya besar. - batin Fressia.

🧡 🧡 🧡

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

kyknya si fressia ini adalah ibunya tristan deh,,setelah dioperasi kn wajahny berubah 🤔🤔

2024-05-12

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!