SIAPKAN PENERBANGANKU!

Fressia diam sambil memperhatikan Ivander bekerja di depan laptopnya, sementara supir yang tadi terluka sudah dibawa ke rumah sakit. Sesekali Ivander mencuri pandang ke arah Fressia, melihat apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu.

Ivander sebenarnya ingin menghubungi Aiden, akan tetapi ia tak mau Aiden menjadi khawatir karena saat ini atasannya itu sedang menemui pimpinan tertinggi Anlee Group yang tak lain adalah Ayah Aiden, Anthony Lee Graham.

"Tuan, apa kamu sudah menemukannya?" tanya Fressia akhirnya karena ia sudah tak sabar ingin mengetahui di mana Tristan berada.

"Aku sedang berusaha," kata Ivander.

Fressia akhirnya duduk di lantai tak jauh dari Ivander. Ia melipat kedua kaki dan memeluknya dengan kedua tangannya. Ivander bisa melihat bahwa tubuh Fressia sedikit bergetar.

"Makan dan istirahatlah dulu," ucap Ivander.

Fressia menggelengkan kepalanya. Tak mungkin dan tak enak rasanya jika ia makan dan tidur, sementara keberadaan Tristan dan bagaimana kondisi anak asuhnya itu belum diketahui.

"Aku di sini saja. Aku akan menemani anda, Tuan."

"Kalau begitu, boleh aku minta tolong?" tanya Ivander dengan sopan.

"Katakan saja, Tuan. Aku akan melakukan apapun," jawab Fressia.

"Buatkan aku secangkir kopi dengan sedikit gula."

"Baiklah, aku akan membuatkannya," dengan langkah yang sedikit tertatih dan tubuh yang masih bergetar, Fressia bangkit dan melangkahkan kakinya ke dapur.

Di dapur, beberapa kali ia salah menuangkan banyaknya kopi dan gula. Hal itu karena pikirannya saat ini hanya tertuju pada Tristan. Setelah beberapa lama berada di dapur, akhirnya Fressia membawakan secangkir kopi untuk Ivander.

"I-ini kopinya, Tuan," ucap Fressia.

"Terima kasih."

Tak berapa lama, Ivander tersenyum kemudian menekan satu tombol di laptopnya. Ia segera menghubungi seseorang. Setelah itu, ia langsung bangkit dan membawa laptopnya.

"T-tuan, anda mau ke mana?" tanya Fressia.

"Membawa pulang Tristan."

"Benarkah?" tanya Fressia lagi dengan wajah penuh harap.

"Ya, sekarang beristirahatlah. Aku pastikan aku akan membawa Tristan pulang."

"Terima kasih. Aku akan menunggu," ucap Fressia yang terus berdiri di depan pintu melihat Ivander pergi dengan mobilnya, sampai mobilnya tak terlihat lagi di pandangan.

Setelah kepergian Ivander, Fressia langsung masuk ke dalam kamar tidur Tristan. Ia duduk di lantai, bersandar di samping tempat tidur Tristan. Fressia bahkan memeluk salah satu boneka koala kesayangan Tristan.

Setelah menunggu lama, akhirnya Fressia pun kelelahan fisik dan ia juga terus saja menangis karena memikirkan Tristan. Ia tertidur di lantai kamar sambil memeluk boneka koala Tristan.

Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi dan Fressia terbangun karena kaget.

"Tristan!" Fressia yang baru saja membuka matanya langsung bangkit dan berjalan ke luar kamar tidur.

Ia kembali berdiri di depan pintu masuk, di mana langit masih agak gelap. Namun tak lama, sebuah mobil yang Fressia tahu adalah mobil yang tadi membawa Ivander pergi, tampak memasuki pekarangan.

Ivander keluar dari pintu bagian kemudi, kemudian berjalan ke pintu belakang. Ia membukanya dan kembali menampakkan dirinya sambil menggendong sosok yang sangat Fressia kenali.

"Tristan!" teriak Fressia yang langsung berlari menuruni tangga dan menghampiri Ivander yang sedang menggendong Tristan.

"Berikan dia padaku," ucap Fressia tak sabar.

"Biar aku saja yang menggendongnya, kamu buka kan saja pintu kamar tidur Tristan," ucap Ivander.

Fressia pun menganggukkan kepala dan kembali melangkah masuk ke dalam rumah. Ia membuka pintu kamar dan membiarkan Ivander meletakkan Tristan di atas tempat tidurnya.

"Apa dia terluka?" tanya Fressia sambil menelisik tangan, kaki, wajah serta tubuh Tristan.

"Untung saja kami tepat waktu. Mereka hampir saja membawa Tristan ke pelabuhan untuk dijual organ tubuhnya," jawab Ivander.

Fressia langsung menutup mulutnya tak percaya. Bulir air mata kembali mengalir di pipi Fressia jika membayangkan mereka terlambat sedetik saja.

"Tuan, terima kasih. Terima kasih banyak," ucap Fressia sambil menggenggam tangan Ivander.

"Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dia baik baik. Aku akan menambah penjagaan di sini," ucap Ivander.

"Baik, Tuan. Sekali lagi terima kasih."

Fressia pun duduk di samping Tristan. Ia melihat Tristan masih mengenakan pakaian yang terakhir ia gunakan. Dengan perlahan, Fressia mengganti pakaian anak asuhnya itu dan mengelap beberapa bagian tubuhnya.

"Maafkan Aunty, sayang. Aunty ceroboh hingga kamu harus mengalami kejadian tak mengenakkan seperti kemarin," ucap Fressia sambil membersihkan tubuh Tristan dengan lap sedikit basah.

Fressia terus menemani Tristan, tanpa sedetik pun meninggalkan kamar tidurnya. Ia meminta pelayan menyiapkan makanan untuk Tristan saat anak asuhnya itu terbangun nanti.

*****

Grey menerima telepon dari seseorang, wajahnya tampak berubah dan sesekali melihat ke arah Aiden yang tengah sarapan pagi bersama dengan kedua orang tuanya.

"Baiklah, aku akan mengatakan padanya nanti. Tak mungkin kita menyembunyikan ini darinya. Tapi yang terpenting, ia sudah aman sekarang," ucap Grey.

Setelah itu, ia mematikan sambungan ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku. Grey akan segera memberitahukan kejadian penculikan Tristan pada Aiden, tepatnya setelah Tuan Anthony memperkenalkannya pada para direksi bahwa Aiden lah yang akan menggantikannya.

Jika diberitahu sekarang, sudah pasti akan terjadi kekacauan. Mulai dari Aiden yang langsung kembali ke Washington dan kedua orang tuanya akan bertanya tanya siapa Tristan. Masalah ini akan semakin panjang dan Grey tak akan membiarkan Aiden terbebani dengan hal itu.

Namun, belum lama Grey memasukkan ponsel ke dalam sakunya, ponsel itu kembali berbunyi dan kini tertera nama Bricks di sana.

"Ada apa, Bricks?"

"Aku menerima surat kaleng. Mereka mengancam akan melenyapkan seorang wanita. Di dalam surat itu juga terdapat beberapa helai rambut berwarna merah," jawab Bricks.

Grey mulai berpikir dan menduga duga, "mungkinkah?"

"Baiklah, kirimkan gambar surat itu segera padaku," ujar Grey. Setelah itu ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku karena Keluarga Graham telah siap untuk pergi ke Perusahaan.

Setelah sarapan pagi selesai, ketiganya pun berangkat ke Anlee Group. Anthony memperkenalkan Aiden sebagai penerusnya dan akan menggantikannya memimpin Anlee Goup New York.

Para wanita tentu saja sangat senang melihat kehadiran Aiden. Di usianya yang sudah di atas 30 tahun, Aiden terlihat gagah dan tampan, serta belum menikah. Mereka beramai ramai mencari perhatian Aiden, tapi sama sekali tak digubris oleh putra sulung Tuan Anthony Lee Graham itu.

Acara selesai saat waktu hampir menunjukkan jam makan siang. Dad Anthony memasuki ruang kerja Aiden dan duduk di hadapan putranya itu.

"Dad akan berangkat hari ini saja, Son. Adeline sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Mommy," ucap Dad Anthony.

"Baiklah, Dad. Aku mengerti. Sampaikan salamku pada Reyn dan Adeline. Aku akan mengunjunginya nanti saat ia melahirkan," ucap Aiden.

"Okay. Dad pulang dulu kalau begitu. Dan ... carilah penggantimu untuk memimpin Anlee Group Washington. Dad percaya kamu bisa mencari orang yang tepat."

"Okay, Dad. Thank you."

*****

Setelah memastikan Tuan Anthony dan Nyonya Kimberly berangkat menuju Munich, Grey memberanikan diri masuk ke dalam ruang kerja Aiden di Anlee Group.

"Tuan, ada sesuatu yang harus saya katakan," ucap Grey dengan tatapan lurus ke arah Aiden.

Aiden menautkan kedua alisnya saat melihat keseriusan Grey. Ia pun menghentikan pekerjaannya, "katakan, ada apa?"

Grey menceritakan pada Aiden apa yang terjadi pada Tristan, tak dilebihkan, tak juga dikurangi. Ia ingin Aiden mendapatkan informasi yang tepat.

"Aku harus kembali, Grey!"

"Baik, Tuan. Tapi sebelum itu ...," Grey mengirimkan pada Aiden foto yang tadi ia dapatkan dari Bricks.

Mata Aiden membulat dan tangannya terkepal geram. Ia merasa dugaannya tepat dan ia akan langsung membuka kedok mata mata itu.

"Siapkan penerbanganku ke Washington sekarang, Grey!"

🧡 🧡 🧡

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

hadeuh aiden jgn gegabah nti kamu nyesel

2024-05-12

0

StAr 1086

StAr 1086

aiden salah deh ....

2023-10-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!