Fressia merasa tenang dengan ketidakhadiran Aiden di rumah. Pasalnya pria itu selalu saja mengeluarkan kata kata pedas yang menyakitkan hati. Namun, kini Tristan lah yang kembali diam dan termenung.
"Ada apa, Tris?" tanya Fressia.
"Daddy pergi lagi ya?" tanya Tristan pada Fressia, karena sudah dua hari ia tidak melihat ayahnya.
"Daddy kan harus bekerja, sayang," jawab Fressia.
Fressia tidak tahu pasti apa yang dilakukan oleh Aiden di luar sana. Mungkin ia bekerja, mungkin sedang berlibur, atau mungkin sedang berpesta dengan wanita wanita cantik. Kalau mengingat itu, ingin sekali Fressia menjitak kepala majikannya itu agar majikannya itu bisa berkaca sebelum berbicara yang menyakitkan padanya.
"Bagaimana kalau kita bermain di taman belakang?" ajak Fressia.
"Main apa?"
"Kamu sedang ingin bermain apa?"
Fressia kini merasa menyesal menawarkan permainan apapun pada Tristan, pasalnya saat ini ia harus duduk di atas lumpur dan wajahnya dicoret coret dengan menggunakan lumpur. Pakaiannya dan pakaian Tristan terlihat sangat kotor saat ini.
Tristan mengambil lumpur dan sedikit membulatkannya, kemudian ia melemparkannya dan tepat mengenai wajah Fressia. Hal itu membuat Tristan tertawa terbahak bahak, hingga akhirnya Fressia pun ikut tertawa sambil ikut melemparkan lumpur juga ke tubuh Tristan.
Interaksi tersebut ternyata disaksikan oleh Aiden dari balkon kamar tidurnya yang langsung mengarah ke taman belakang. Mungkin mansion nya akan sangat sepi tanpa suara tawa Tristan dan Fressia. Ia menghela nafasnya pelan kemudian kembali masuk ke dalam untuk membersihkan diri.
Fressia membersihkan tubuh Tristan di kamar mandi khusus di lantai bawah. Hal itu dilakukan agar tak mengotori dengan lumpur. Ia juga membersihkan dirinya sendiri setelahnya. Hingga akhirnya makan malam pun tiba.
"Dad, Daddy sudah pulang?!" teriak Tristan bahagia dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
"Kamu merindukan Daddy, hmm?" tanya Aiden sambil berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan putranya itu.
"Tentu saja aku merindukan Daddy. Apa Daddy tak merindukanku?" Tristan kini balik bertanya.
"Tentu saja Daddy merindukanmu, sangat rindu."
Tristan memeluk Aiden dengan erat, begitu pula sebaliknya. Fressia hanya bisa melihat interaksi tersebut dan bermonolog dalam hatinya.
Setidaknya ia tak berkata kata pedas dan menyakitkan pada putranya. - batin Fressia.
Mereka pun duduk bersama untuk makan malam. Fressia dengan cekatan membantu Tristan untuk makan. Aiden sesekali menatapnya, namun masih seperti sebelumnya di mana Fressia tak terlalu menggubrisnya.
"Bagaimana keadaan Tristan selama kutinggal pergi?" tanya Aiden untuk membuka pembicaraan.
"Baik, Tuan. Tak ada kendala apapun," jawab Fressia. Ia kembali menyuapkan makanan pada Tristan dan menyuapkan juga makanan ke dalam mulutnya sendiri.
Setelah selesai makan malam, Fressia menemani Tristan di dalam kamar tidur. Aiden juga ikut masuk untuk mengucapkan selamat malam pada putranya itu.
"Selamat malam, sayang," ucap Aiden pada Tristan sambil mengusap rambut yang berada di dahi putranya.
"Apa Daddy tak mau membacakan dongeng untukku?"
"Aunty Fressia yang akan membacakannya," ucap Aiden.
"Tapi aku mau Daddy yang melakukannya untukku," ujar Tristan.
"Biar Aunty yang melakukannya, sayang. Biarkan Daddy beristirahat. Ayo, mau baca yang mana?" ucap Fressia mengambil buku yang dipegang oleh Tristan.
Apa dia bermaksud mengusirku dari kamar ini? Aku tidak akan membiarkannya. - batin Aiden.
"Sini, biar Dad bacakan. Kamu mau cerita yang mana?" tanya Aiden.
"Yang ini, Dad," jawab Tristan sambil memberitahu halaman cerita yang ingin dibacakan.
Malam itu, Aiden membacakan sebuah dongeng pada Tristan, bahkan dengan tangannya ia memperagakan. Hal itu membuat Tristan tertawa, bahkan meminta dibacakan cerita yang lain. Hingga akhirnya keduanya tertidur di satu tempat tidur yang sama. Fressia pun menyelimuti mereka dan keluar untuk beristirahat di kamar tidurnya sendiri.
*****
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, sikap Fressia masih begitu datar dan dingin pada Aiden. Sepertinya ia masih mendendam pada semua kalimat yang dilontarkan oleh Aiden padanya.
"Aunty, kapan Aunty akan mengajakku menemui kedua orang tua Aunty?" tanya Tristan.
"Maaf, sayang. Kedua orang tua Aunty sudah meninggal," jawab Fressia datar.
"Lalu waktu itu Aunty menemui siapa?"
"Ooo, setelah kedua orang tua Aunty meninggal, Aunty tinggal bersama orang tua angkat Aunty. Aunty biasa memanggilnya Mommy Roxane," jawab Fressia lagi.
"Grandma? Lalu kapan Aunty akan mengajakku bertemu dengan Grandma?" Tanya Tristan.
Aiden yang sedang duduk tak jauh dari mereka sambil memeriksa ponsel pun menautkan kedua alisnya. Tiba tiba saja ia teringat pada keluarganya, pada Ayah dan Ibunya, Dad Anthony dan Mom Kimberly.
"Nanti ya, Aunty belum ada waktu untuk bertemu dengannya lagi," ucap Fressia.
"Apa aunty tak mau mengajakku?" Kini Tristan berujar sendu.
Fressia tampak tersenyum dan mengusap pucuk kepala Tristan, "Aunty pasti akan mengajakmu, jangan khawatir, okay?"
"Kalau begitu, kita pergi bersama saja," ucap Aiden.
Whattt??!! - batin Fressia sambil menatap ke arah Aiden. Ia tak percaya majikannya akan mengatakan hal tersebut.
"Benarkah, Dad?" tanya Tristan menghampiri Aiden.
"Ya, tentu saja. Kita bisa bertemu dengan keluarga Aunty Fressia bersama sama," jawab Aiden.
Fressia menghela nafasnya pelan agar tak terdengar oleh Aiden dan Tristan, kemudian menatap keduanya yang masih berbicara.
"Boleh ya, Aunty. Daddy sudah mengijinkan, jadi kita bisa pergi bersama," ucap Tristan.
Ingin sekali menolak, tapi seperti biasa Fressia tak sanggup jika menolak keinginan Tristan. Fressia akan ikut sedih jika Tristan bersedih. Ia pun tak tega untuk mengecewakan anak asuhnya itu.
"Baiklah, tapi nanti Aunty atur jadwalnya dulu ya. Aunty harus memastikan Mommy Roxane ada di rumah, jadi kamu bisa bertemu dengannya," ucap Fressia.
"Ah terima kasih, Aunty. Aunty tahu, aku senang sekali, senangggg sekali!" Tristan bahkan merentangkan kedua tangannya untuk memperlihatkan betapa senang hatinya. Hal itu membuat seulas senyum terbit di wajah Fressia.
Jantung Aiden tiba tiba berdetak cepat saat melihat senyum Fressia. Sudah lama sekali ia tak melihatnya, mungkin sejak acara pesta ulang tahun waktu itu. Fressia memang terlihat sangat menjaga jarak dengannya mulai saat itu. Kini, Aiden sedang berusaha untuk kembali mengambil hati pengasuhnya itu dan berbaikan. Ia melihat Tristan sangat cocok dengan Fressia dan tak mungkin mencari seorang pengasuh pengganti.
Akhir minggu selanjutnya, mereka pun bersiap. Hari ini mereka berencana untuk pergi menemui Keluarga Fressia. Tristan tampak sangat bersemangat, hingga ia bisa bangun pagi tanpa harus dibangunkan.
Fressia mempersiapkan beberapa perlengkapan Tristan yang memang selalu ia bawa ketika pergi bersama anak asuhnya itu.
"Sudah siap?" tanya Aiden yang berdiri di trap tangga terbawah, sambil menggunakan sebuah T-shirt berkerah, membuat ketampanannya terlihat berbeda.
🧡 🧡 🧡
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments