Hanya satu kata, tapi bagi Fressia itu sudah lebih dari cukup. Aiden adalah seorang pria yang memiliki kekayaan yang mungkin tak bisa dibandingkan dengan dirinya. Fressia pun hanya seorang pengasuh putranya, tapi pria itu berani mengucapkan kata maaf.
Bagi Fressia, itu menggugah hatinya. Ia memang terluka dengan ucapan Aiden, tapi ia juga tahu mungkin saat itu Aiden sedang berada dalam suasana hati yang buruk jadi tanpa sadar mengeluarkan kata kata yang tidak baik.
Fressia menyimpan pakaian tersebut, kemudian keluar dari kamar tidurnya. Ia yakin saat ini Aiden sedang berada di ruang kerjanya. Ia pun mengetuk pintu ruang kerja Aiden.
"Masuklah," terdengar suara Aiden dari dalam.
Fressia masuk ke dalam ruang kerja dan tampak Aiden sedang duduk sambil memeriksa beberapa dokumen. Aiden langsung berdiri saat melihat Fressia memasuki ruang kerjanya.
"Fre, aku ..."
"Terima kasih atas pakaian yang anda berikan, Tuan. Pakaian itu sungguh cantik," ucap Fressia.
"Fre, aku minta maaf," saat mendengar permintaan maaf itu langsung dari bibir majikannya, Fressia pun tersenyum di dalam hatinya.
"Saya sudah memaafkan anda, Tuan. Maafkan saya juga jika mungkin saya terlihat lalai dalam menjaga Tristan. Saya pastikan hal itu tak akan pernah terjadi lagi."
Aiden tersenyum. Ia merasa lega karena Fressia telah memaafkannya, seakan beban yang tadi menyumbat hatinya kini terlepas begitu saja.
"Terima kasih," ucap Aiden.
*****
Hari berlalu, detik demi detik, menit demi menit jam demi jam, tak terasa sudah terlewati dua minggu sejak perayaan liga sepak bola di sekolah Tristan. Hari ini Fressia mendapatkan izin untuk keluar dari rumah untuk mengunjungi keluarganya.
Awalnya Tristan tak menyetujui keputusan Dad Aiden, tapi ayahnya itu menjelaskan bahwa pengasuhnya juga memiliki keluarga sendiri. Sejak Fressia bekerja sebagai pengasuh putranya, tak pernah sekali pun Fressia meminta izin keluar dan Aiden pun tidak mengijinkannya keluar karena ia tak mau putranya sendirian. Jadi tak ada salahnya untuk membiarkan Fressia keluar sesekali.
"Apa Aunty tak mau mengajakku?" tanya Tristan.
Fressia mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Tristan. Ia mengelus rambut dan tersenyum padanya, "Lain kali Aunty akan mengajakmu, tapi hari ini Aunty harus menemui keluarga dan juga teman Aunty."
"Aunty janji?" tanya Tristan sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"Aunty janji," jawab Fressia sambil menyambut kelingking Tristan dengan kelingkingnya.
Tak jauh dari mereka, Aiden melihat interaksi itu. Sekali lagi ia merasakan begitu dekatnya hubungan antara Fressia dengan putranya. Ia pun berjalan mendekat.
"Sayang, biarkan Aunty Fressia pergi dulu. Ia pasti ingin bertemu dengan keluarganya," ujar Aiden, "Dad akan menemanimu."
Mendengar bahwa ayahnya akan menemaninya sementara pengasuhnya pergi, Tristan pun tersenyum.
"Pergilah, Aunty. Aku akan bersama Daddy. Selamat bersenang senang!" ucap Tristan sambil tersenyum.
Fressia pun pergi dengan sebuah taksi online yang telah ia pesan. Ia melambaikan tangan pada Tristan dan Aiden berdiri tepat di belakangnya. Fressia seakan pergi meninggalkan suami dan anaknya untuk pergi arisan bersama ibu ibu sosialita. Ia jadi terkekeh sendiri saat membayangkannya.
Tiga puluh menit perjalanan dari Kediaman Aiden menuju tempat tinggal Mommy Roxane. Ia tak sabar bertemu dengan Karen Moxie, putri tunggal Mommy Roxane yang sudah menjadi saudara sekaligus sahabatnya.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan beberapa macam bunga di halaman depan. Fressia adalah salah satu nama bunga yang ditanam oleh Mommy Roxane.
"Fre!!" teriak Karen saat melihat kedatangan Fressia. Ia telah menunggu sejak tadi, sampai sampai ia duduk di kursi yang berada di teras karena tak sabar bertemu dengan Fressia.
Karen membuka pintu pagar kecil, dengan jalan setapak yang menghubungkannya dengan teras. Fressia langsung memeluk Karen dan meluapkan kerinduannya.
"Di mana Mommy?" tanya Fressia.
"Mommy ada di dalam. Ayo!!" Karen pun mengajak Fressia untuk masuk.
"Hai, Mommy!" Fressia langsung menghambur ke pelukan Mommy Roxane. Seorang wanita paruh baya berambut putih dengan kacamata bertengger di hidungnya. Ia sedang merajut beberapa sweater yang akan ia jual secara online.
"Fre, halo sayang! Mommy senang kamu pulang," Roxane mencium pipi kanan dan kiri putri angkatnya itu. Senyum Fressia membuat hatinya selalu ikut tersenyum.
"Aku juga senang bisa menemui Mommy."
"Apa bekerja di sana menyusahkan?" tanya Roxane.
"Tidak, Mommy. Tuan Aiden memang sedikit tegas, tapi ia baik. Tristan pun sangat lucu dan menggemaskan," jawab Fressia.
"Kita makan bersama ya, Fre. Mommy sudah memasak makanan kesukaanmu," ucap Mommy Roxane.
Fressia kembali tersenyum lebar mendengar betapa Mommy Roxane begitu repot menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangannya.
Mereka pun makan siang bersama sambil berbincang dan bercanda. Hingga akhirnya mereka selesai makan dan duduk bersama di ruang tamu. Rumah yang ditempati oleh Mommy Roxane memang tak terlalu besar, tapi sangatlah nyaman.
Karen memegang ponselnya dan beberapa kali ia menekan layar ponselnya. Dahinya mengerut seaakan sedang berpikir. Beberapa kali Karen melihat ke arah Fressia, membuat Fressia menyadari kalau tatapan Karen sangatlah mencurigakan.
"Mengapa kamu terus menatapku dan mencuri pandang seperti itu? Jangan katakan kalau kamu menyukaiku," ujar Fressia menggoda Karen.
Karen langsung melempar bantal kursi ke arah Fressia yang tertawa. Mom Roxane pun tersenyum saat melihat interaksi kedua putrinya.
Kalau saja kamu benar benar putriku, tentu akan sangat membahagiakan. - batin Roxane.
"Fre, temani aku ya," pinta Karen.
"Menemanimu?" tanya Fressia.
"Kamu cuti seharian kan? Jadi tidak apa kalau kamu pulang agak malam," ucap Karen.
"Tapi ..."
"Hari ini saja, Fre. Temani aku ya," pinta Karen sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di hadapan Fressia.
Tak ingin mengecewakan Karen yang sudah begitu baik padanya, akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Karen langsung tersenyum dan mengetikkan sesuatu lagi pada ponselnya.
"Kalau begitu kita ke salon dulu. Kita harus tampil cantik," ucap Karen.
"Terserah padamu saja," ucap Fressia yang tidak ingin membantah perkataan Karen.
Fressia dan Karen pun berangkat menuju salon dengan menggunakan taksi online. Karen membawa dua stel gaun yang akan mereka gunakan di pesta nanti. Karen sepertinya sangat siap sedia untuk mendatangi pesta tersebut, ntah pesta siapa.
Mereka sampai di salon langganan mereka. Dulu sebelum Fressia bekerja, Karen selalu meminta ditemani ke salon itu. Ia malas kalau sendirian karena tak ada teman yang diajak ngobrol dan tak ada yang bisa dimintai saran.
"Karen! Fressia!" sapa Donny. Ia adalah pemilik salon tersebut dan sangat mengenal keduanya.
"Sudah lama sekali kalian tidak datang ke sini. Apa jangan jangan kalian pergi ke salon lain dan melupakanku," ujar Donny dengan gaya sedikit melambai.
"Tentu saja tidak, Don. Hanya saja kami baru ada waktu."
"Lalu, pelayanan apa yang kalian inginkan saat ini?" tanya Donny.
"Rapikan sedikit dan warnai rambutku," ucap Fressia terlebih dulu.
"Kamu ingin mewarnainya lagi, Fre? Aku sebenarnya suka rambut merahmu itu," ucap Karen.
🧡 🧡 🧡
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Ita rahmawati
kan bner si rambut merah 🤗
2024-05-12
0
Chandra Dollores
nahhhh ketahuan.... ternyata dia si rambut api
2023-10-20
1