SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
"Kamu mau pisah sama Galvin. Kamu yakin?" tanya Kak Dea memastikan. Dia sampai memincingkan matanya menatap ku dengan penuh curiga.
"Iya Kak," jawabku sambil menghela nafas panjang.
"Kenapa?" tanya Kak Dea dingin.
Sebenarnya aku dan Mas Galvin sama-sama tidak direstui lantaran latar belakanb keluarga yang jauh berbeda. Hanya saja kami memaksa untuk bersama karena sama-sama yakin bahwa kami memang ditakdirkan bersama.
"Kak...." lidah ku rasanya tercekat ketika ingin menjelaskan hubungan rumah tangga kami. "Mas Galvin menikah lagi, Kak," sambungku.
Kak Dea tampak diam sejenak. Dia melihat suaminya yang juga tampak terkejut. Mas Bayu, adalah suami Kak Dea. Mereka berdua menikah sama-sama karena cinta. Sampai usia pernikahan mereka yang memasuki belasan tahun, keduanya masih tetap seperti remaja yang jatuh cinta. Andai aku dan Mas Galvin juga seperti itu. Namun, sayang pernikahaan ku sebentar lagi akan berakhir.
"Maksud kamu Galvin menikah lagi?" tanya Mas Bayu ikut turun bicara. Mas Bayu bekerja sebagai Tentara Angkatan Darat.
"Iya Mas," jawabku menunduk malu.
"Dari awal Kakak sudah bilang sama kamu untuk tidak menikah dengan laki-laki tidak benar itu. Sekarang kamu sudah merasakan bukan, saat dia berkhianat?" omel Kak Dea dengan menggebu-gebu.
"Sayang," tegur Mas Bayu menggeleng ketika mendengar istrinya mengomel.
"Biarkan saja Sayang. Aku memang tidak menyukai lelaki lembek seperti Galvin. Dari awal aku sudah melarang Ara menikah dengannya. Tapi Ara masih saja keukeh menikah dengan lelaki tidak benar itu," ucap Kak Dea masih mengomel. Kakak ku ini jika dia sudah mengomel bisa tahan berhar-hari. Sifat Ibu benar-benar melekat pada sosok kakak ku.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini, Ra?" tanya Mas Bayu lembut.
Jika Kak Dea tipe wanita mengomel. Maka berbeda dengan suaminya, Mas Bayu. Mas Bayu adalah lelaki yang sabar dan lemah lembut. Dia selalu menyelesaikan masalah dengan tenang dan tidak gegabah.
"Aku mau pisah Mas, sama Mas Galvin," ucapku yakin. "Setelah ini aku ingin menemui Ayah," sambung ku.
Aku sudah yakin dengan segala resiko yang aku ambil. Berpisah dengan Mas Galvin adalah keputusan yang tepat. Meski aku tahu ini memiliki resiko yang tinggi. .
"Ayah pasti mengamuk," sambung Kak Dea. "Cepat kamu urus surat cerai kamu sama suami kamu itu. Bawa anak-anak tinggal bersama Kakak," jelas Kak Dea. Meski suka ceramah seperti presiden tapi kakak ku yang ini paling peduli dan cepat peka.
"Maaf Kak. Bukan menolak, aku akan mengontrak untuk sementara waktu. Aku juga ingin mencari pekerjaan Kak," tolakku.
Bukan aku tidak mau tinggal disini. Hanya aku ingin mandiri. Aku tidak mau merepotkan Kak Dea. Apalagi dia juga memiliki banyak tanggungan.
"Ya sudah Kakak tahu kamu pasti akan menolak. Apa kamu butuh bantuan untuk mengurus surat cerai itu?" tanya Kak Dea.
"Mas punya beberapa relasi yang bisa bantu kamu agar gugatan kamu segera sampai ke pengadilan dan sidang kamu bisa diproses segera," sambung Mas Bayu.
Mas Bayu dan Kak Dea memang sangat peduli padaku. Meski Kak Dea ini terlihat galak dan menyeramkan. Tapi sesungguhnya dia yang paling peduli jika aku ada masalah.
"Aku akan urus sendiri, Mas," tolakku halus
Bukan apa? Aku sudah biasa menyelesaikan segala sesuatu nya sendiri.
"Kapan kamu mau menemui Ayah?" tanya Kak Dea.
Ayah dan ibu tinggal di kampung. Jarak kampung dan kota memang tidak terlalu jauh. Namun, cukup memakan waktu yang lama untuk bisa menempuh perjalanan disana.
"Mungkin besok Kak, aku akan ajak Nara dan Naro," sahutku.
"Oh ya Ra, kebetulan Mas punya teman yang sedang mencari karyawan. Diperusahaan sedang membutuhkan staf administrasi keuangan. Kamu kan sangat menguasai bidang akuntansi, jadi kamu boleh ajukan lamaran disana," ucap Mas Bayu menimpali.
"Tapi aku hanya lulusan SMA, Mas. Apa mungkin aku diterima?" aku sudah pesimis duluan. Zaman sekarang sangat susah mencari pekerjaan. Untuk menjadi kuli saja terkadang harus lulusan sekolah menengah. Apalagi menjadi salah satu staf perusahaan, pasti nya harus yang memiliki gelar.
"Kamu tenang saja. Disana tidak harus kamu sarjana. Yang penting kamu punya skill. Besok kamu kasih surat lamaran nya. Biar Mas nanti yang antar lamaran kamu," ujar Mas Bayu lagi.
"Terima kasih Mas," jawabku.
Cukup lama aku berbincang-bincang dengan Mas Bayu dan Kak Dea, sebelum nya aku berpamitan untuk pulang. Setelah ini aku akan mengurus sidang perceraian ku dengan Mas Galvin lalu melamar pekerjaan. Semoga saja aku diterima, agar bisa menghidupi kedua anakku.
Aku akan menjadi wanita mandiri. Berdiri tanpa seorang suami. Aku tahu ini tidak mudah, apalagi aku belum terbiasa. Namun, aku percaya seiring waktu berjalan aku akan menikmati peranku sebagai orang tua tunggal dari dua anak sekaligus. Menjadi ayah dan juga ibu untuk mereka.
Aku menuju kantor pengadilan untuk melayangkan surat gugatan cerai. Semoga pengadilan tidak bertele-tele mengurus perceraian ku dengan Mas Galvin, agar aku bisa segera melepas diri dari jeratan pernikahan yang membawa luka ini.
"Aku tidak menyangka, Mas. Jika kita akan berakhir seperti ini," lirih ku sambil tersenyum kecut.
Siapa yang menyangka jika rumah tangga yang terlihat harmonis dan baik-baik saja. Ternyata memiliki batu kerikil didalam nya yang menyebabkan kehancuran dirumah tangga kami.
"Baik Bu, kami akan segera mengurus gugatan cerai dari Ibu. Mohon Ibu menunggu sekitar satu bulan kedepan dan siapkan berkas-berkas yang akan Ibu gunakan sebagai bukti dari gugatan cerai ini," jelas salah satu petugas disana.
"Terima kasih Pak," jawabku membungkuk hormat.
Berakhir sudah kisah cinta yang diperjuangkan selama belasan tahun, berakhir di meja hijau. Aku benar-benar akan melepaskan Mas Galvin demi kebahagiaan nya bersama Lusia. Sekarang aku akan fokus mengurus anak-anak serta menjadi ibu yang baik untuk mereka berdua.
Ku tatap gedung kantor pengadilan. Aku tersenyum kecut, membayangkan kejam nya sebuah penghianatan. Jika saja Mas Galvin tak berpoligami, aku mungkin tidak akan ada ditempat ini. Tapi sudahlah, inilah takdir jalan hidupku. Aku percaya suatu saat kebahagiaan akan menghampiri aku dan anak-anak.
Sekarang, aku mulai memikirkan cara menjelaskan pada anak-anak. Mereka berdua pasti syok sekali saat tahu jika kedua orang tua nya akan berpisah. Aku harus menyiapkan mental sekuat kuat mungkin agar tak menangis didepan kedua anakku. Karena pasti aku akan menangis saat menjelaskan kepatahatian yang aku alami. Tentu tidak mudah melepaskan cinta yang sudah kumiliki sejak lama. Tak ada cinta yang ingin berakhir dengan perpisahan. Semua orang ingin selalu bersama pasangan nya, hingga akhir waktu. Terutama aku.
**Bersambung... **
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 328 Episodes
Comments
Endang Supriati
ya ampun cerai begitu aja woiiiu, harta gono gini goblog loe klu susah loe engga punya rumah. terus loe abaikan hak2 anak2 loe. mending loe mati sja diandara.
mana bisa berjuang utk hak anak! utk diri sendiri aja loe payahhhh
2024-01-20
0
Ita Mariyanti
ayo Ra smngt km psti bs... . strong mba Ara 💪💪💪
2023-10-17
0
Mirfa Linda
mantap tokohnya Thor, kuat dan tdk cengeng. klo nangis masih taraf wajar
2023-10-04
1