SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Aku terdiam mendengar ucapan Divta. Memang benar aku sudah terbiasa hidup dengan Mas Galvin. Terbiasa menjalani hari-hari dengannya. Jika harus berpisah, bukankah itu sangat menyakitkan? Perpisahan yang tak pernah di bayangkan akan terjadi.
"Sudah hapus air matamu," ucap Divta padaku. "Jangan menangisi lelaki itu lagi. Kamu berhak bahagia tanpa dia,"
Jika semudah ucapan, mungkin aku akan segera meminta cerai pada Mas Galvin. Tapi nyatanya aku tak sanggup untuk menghadapi perpisahan yang meremukkan dada ini.
"Aku mencintai Mas Galvin, Ta. Aku tidak bisa berpisah dengannya," ucapku.
"Aku tahu," sahutnya cepat. "Tapi kamu tidak bisa menyiksa diri dengan perasaan yang tak seharusnya Kamu pikirkan,"
Cukup lama aku dan Divta saling bercerita, seraya menatap air mancur yang keluar dari bambu runcing tersebut. Kini, aku paham perasaan Divta. Sakitnya dikhianati memang mematahkan jiwa. Aku paham, kenapa dia memilih berpisah dari istrinya. Mungkin aku juga akan memilih hal tersebut. Tapi bagaimana anak-anak ku? Apakah mereka akan paham terhadap perpisahan kedua orang tua nya? Mereka masih terlalu kecil untuk memahami arti perpisahan.
"Aku pulang dulu ya Ta. Aku mau jemput anak-anak," aku menyeka air mataku sambil berdiri.
"Mana ponsel kamu?" pinta nya menengadahkan tangan kearah ku.
"Untuk apa?" kening ku berkerut heran.
Zaman sekolah, aku dan Divta cukup dekat. Selain anggota OSIS kami juga sering mengerjakan tugas kelompok bersama dirumah Divta. Mungkin inilah yang membuat Mas Galvin tidak menyukai Divta sejak dulu.
"Sini, cepat," desak nya sambil berdiri.
Aku mengambil ponsel didalam tas munggilku dan kuberikan pada Divta. Dia mengambil ponsel tersebut lalu mengotak-atik nya dengan cepat.
"Ini nomor ponsel ku. Hubungi aku jika kamu butuh teman," ucapnya mengembalikan ponsel tersebut.
Aku bingung sendiri dengan ucapan Divta. Dulu lelaki ini tidak pernah perhatian padaku meski kami dekat. Tapi kenapa sekarang terkesan sangat peduli?
"Iya," aku memasukkan kembali ponsel tersebut di dalam tas ku.
"Perlu aku antar?" tawarnya. "Kamu bisa bawa mobil sendiri?" sambungnya.
"Aku bisa kok Ta. Lagian aku mau jemput anak-anak," jawabku. "Ya sudah aku duluan," tanpa menunggu jawaban Divta aku segera masuk kedalam mobil.
Entah kenapa tatapan Divta kali ini sungguh berbeda dari yang dulu. Dia seperti menarik aku masuk kedalam tatapan damba yang tak pernah ku yakini. Sebab aku tahu betapa Divta mencintai Chelsea, jadi tidak mungkin tatapan itu sebagai rasa suka atau kagum padaku.
Aku menyalakan mesin mobil lalu meninggalkan taman ini. Didalam mobil pikiran ku kembali melayang. Sudah kubayangkan bagaimana rasanya satu rumah dengan istri kedua dari suamiku.
Seharian ini, aku mencari jawaban kenapa Mas Galvin tega berpoligami dibelakang ku? Lagi, mertua ku tahu pernikahan tersembunyi antara Mas Galvin dan Lusia, aku tak habis pikir kenapa mereka bersengkongkol untuk memojokkan ku?
"Kenapa kamu lakukan ini sama aku Mas? Kenapa kamu tega membuat aku merasa seperti wanita yang salah di mata kamu, Mas?"
Air mataku tak bisa lagi dibendung. Menangis memang tidak menyelesaikan masalah. Tapi menangis dapat memberi kelonggaran dalam dada. Sesak rasanya hati ini, ketika tahu lelaki yang begitu dicintai tega berkhianat dan memasukkan orang ketiga dalam hubungan rumah tangga kami.
Sampai di sekolah kedua anakku. Aku segera menyeka air mataku. Jangan sampai anak-anak ku tahu, jika Mama nya sekarang sedang patah hebat setelah mengetahui keadaan pahit dalam rumah tangga nya.
"Mama," panggil Nara.
"Hai Nak," balas ku memaksakan senyum.
Nara berjalan dengan cepat sambil menggandeng tangan Naro. Kedua anakku ini memiliki sifat yang berbeda. Jika Nara ceria. Maka berbeda dengan Naro yang irit bicara. Kedua nya memiliki keunikan masing-masing. Nara memiliki kemampuan tinggi dalam akademik, sementara Naro menguasai beberapa bidang IT. Aku tak tahu dari mana Naro belajar tentang hal sehebat itu. Aku tak pernah mengajarkannya.
"Bagaimana sekolah nya, Nak?" tanyaku sambil berjongkok menyamakan tinggi ku dengan kedua anakku yang berbeda usia ini.
"Lancar, Ma," jawab Nara cepat.
"Mama, kenapa?" sambung Naro
Aku dan Nara segera menoleh kearah Naro. Baru kali ini aku mendengar Naro bertanya, aku kenapa? Biasanya, anakku yang satu ini paling irit bicara dan jarang sekali bertanya meski mungkin aku menangis didepan nya.
"Mama tidak kenapa-kenapa, Sayang," jawabku mengusap wajah Naro yang tampan.
"Mama menangis," tangan Naro malah terulur menyentuh pipiku. "Naro tahu," sambungnya.
"Benaran Mama menangis?" sambung Nara.
Aku menggeleng secepatnya, "Mama tidak apa-apa, Sayang," jawabku sambil berdiri. Jangan sampai anakku melihat titik rapuh ku sebagai orang tua. "Ya sudah, ayo kita pulang, Nak. Kalian pasti lapar," ajakku menggandeng tangan kedua anakku dan masuk kedalam mobil.
Kami bertiga masuk kedalam mobil. Nara duduk didepan. Sementara Naro duduk dibelakang sambil melipat kedua tangannya didada. Kadang aku suka gemes sendiri melihat putra bungsu ku itu. Sifatnya yang dingin seperti menjadi daya tarik tersendiri. Padahal usianya baru menginjak 7 tahun. Masih sangat belia dan anak-anak.
"Nara, Naro. Kita makan di restourant saja ya, Nak. Mama lagi malas masak. Tidak apa 'kan?" ucap ku. Bukan malas apa, aku benar-benar tidak bisa masak dalam keadaan hati kacau begini.
"Iya Ma," jawab keduanya kompak.
Jarang sekali aku mengajak anak-anak makan diluar, kecuali jika akhir pekan bersama Mas Galvin sekalian liburan untuk mengistirahatkan pikiran yang terkuras selama seminggu. Aku memang hanya ibu rumah tangga. Tidak memiliki penghasilan tapi aku ahli dalam menggelola keuangan. Apalagi gaji Mas Galvin sebagai manager lumayan untuk kebutuhan hidup kami sekeluarga. Bahkan lebih dari cukup.
"Ayo,"
Aku tak mau larut dalam kesedihan. Lebih baik aku menyenangkan hati anak-anak dengan membawa mereka makan mewah. Hidupku sekarang, hanya untuk anak-anak ku. Sementara Mas Galvin adalah orang yang mungkin sebentar lagi akan hilang dari hidupku. Tak apa untuk saat ini aku yang tersakiti. Suatu saat aku yang akan bahagia ketika Mas Galvin mendapatkan karmanya.
"Mama, itu Papa," Nara menarik tanganku ketika tak sengaja melihat Mas Galvin dan Lusia serta keluarga besar mereka makan bersama
Aku mematung ditempatku, hatiku seperti disayat oleh pisau tajam. Tuhan, sesakit ini kah dikhianati. Bahkan, tampak keluarga besar suamiku ada disana sambil berbincang-bincang dan bercanda ria. Apa sebelumnya mereka sudah merencanakan pernikahan Mas Galvin dan Lusia. Hanya ayah mertua yang tidak ada disana. Ayah mertua ku memang tidak sepemikiran dengan istri dan anak-anak nya. Aku cukup dekat dengan ayah mertua sebab dia yang selalu membela saat ibu memojokkan ku.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 328 Episodes
Comments
Ita Mariyanti
pertimbangan keinginan mu untuk tetap bertahan dg suami bangsa* mu itu Ra
2023-10-17
0
S
noh lihat dg benar hatimu sakit tidak .persiapkan mental mu sejak ini buat kuat dan tegar mulai cari usaha ra..jangan lihat lagi suami yg sebentar lagi mantan.tanam kan itu
2023-07-02
2
Hanipah Fitri
akhirnya yg ditunggu tunggu up juga, trims ya thor ..
2023-05-22
0