SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
"Sayang, uang belanja mu masih ada?" tanya Mas Galvin.
"Masih Mas," jawabku.
Aku bisa dikatakan bukan perempuan materialistis. Meski tak bekerja begini masalah mengelola ekonomi keuangan aku memang sangat bisa di andalkan. Apalagi suamiku memiliki gaji yang cukup besar.
"Ya sudah ini simpan. Kalau kamu mau belanja keperluan kamu, pakai saja uang itu. Jajan anak-anak nanti biar aku kasih lagi," jelas Mas Galvin memberikan sepuluh lembar uang seratus ribuan padaku. Suamiku memang tidak pelit, ia suka sekali berbagi pada orang lain apalagi untuk istri dan anak nya.
"Terima kasih Mas," aku tersenyum simpul.
"Ya sudah Mas berangkat dulu. Hari ini Mas ada persiapan untuk persiapan berangkat besok," ucapnya sambil memasukkan beberapa berkas kedalam tas kerja nya.
"Iya Mas hati-hati. Jangan lupa kabari aku, kalau sudah sampai," aku mengecup punggung tangan suamiku, kebiasaan yang sudah menjadi salah satu rutinitas pagi sebelum Mas Galvin berangkat bekerja.
"Tapi tidak apa-apa kamu yang antar anak-anak hari ini. Soalnya Mas, buru-buru." ia melirik arloji yang melingkar ditangannya.
"Tidak apa-apa Mas. 'Kan ada mobil yang satu," jawabku.
Aku meneteng tas kerja suami dan tak lupa lengan ku memeluk lengannya dengan sayang.
"Mas berangkat dulu." Mas Galvin memberikan ciuman hangat di kening ku.
"Iya Mas hati-hati." Aku melambaikan tangan saat Mas Galvin masuk ke dalam mobil.
Rasa curigaku pada Mas Galvin hilang ketika mendapat perhatian kecil padanya. Aku beruntung memiliki suami sebaik Mas Galvin. Tidak hanya tampan dan kaya tapi dia juga selalu bisa membuatku merasa wanita paling beruntung didunia. Perlakuannya yang lembut, bahasa nya yang empuk ditelinga ku seolah menjadi salah satu hal yang kusukai dalam hidupku.
Aku percaya Mas Galvin setia. Ia tak mungkin mendua. Aku mengenalnya. Dia memang ramah pada siapapun. Bisa saja bekas lipstik kemarin hanya kebetulan saja dan tiket itu mungkin punya boss nya.
"Anak-anak sudah siap?" Aku meraba tas ku.
Hari ini Mas Galvin tidak sempat mengantar anak-anak lantaran kesibukannya yang mempersiapkan perjalanan bisnis nya besok keluar kota. Mas Galvin memang sering bolak-balik luar kota bersama boss nya untuk meninjau proyek dan memasarkan hasil kelapa sawit nya.
"Mama, kemarin Nara melihat foto anak kecil di ponsel Papa," jelas Nara, anak perempuan ku yang sudah duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar.
"Foto bayi?" ulang ku sambil melirik anakku yang duduk disamping. Sedangkan tangan ku masih menyetir.
"Iya Ma," jawab Nara.
"Bukan foto kalian masih kecil?" ucapku.
"Bukan Ma. Nara kenal foto Nara sama adek," jelas anak perempuan ku.
Sementara Naro duduk dengan nyaman dibangku belakang. Anak lelaki ku yang duduk dibangku kelas 1 sekolah dasar ini memang sangat dingin dan sulit ditebak. Ia tak banyak bicara. Ia terkesan dingin. Entah sifat siapa yang menurun padanya. Padahal aku dan Mas Galvin termasuk orang yang aktif bicara.
"Masa sihh?" Aku tak percaya.
"Benaran Mama. Nara lihat kok. Terus kemarin Papa juga tampak menelepon seseorang Ma. Papa bicara sambil tersenyum-senyum begitu," jelas Nara.
Aku terkekeh. Jika Naro dingin maka berbeda dengan Nara. Ia sama seperti ku yang cerewet bukan main.
Mobilku terparkir saat sampai di sekolah kedua anakku. Sebenarnya aku jarang mengantar mereka ke sekolah, karena biasanya Mas Galvin yang ambil alih mengantar jemput anak-anak. Kecuali dia sibuk maka terpaksa aku yang harus turun tangan.
"Kalian sekolah baik-baik ya Nak. Nanti Mama jemput," pesan ku sambil memperbaiki dasi kedua anakku secara bergantian.
"Iya Ma," jawab Nara.
"Naro." Aku berjongkok menyamakan tinggi badanku dengan putra bungsu ku ini. "Jangan nakal ya Nak. Jangan keluar kelas sebelum pelajaran selesai," pesanku. Bukan apa, aku sering mendapat surat panggilan dari wali kelas Naro, karena ia sering keluar kelas disaat jam pelajaran masih berlangsung.
Naro mengangguk seperti paham dengan pesanku. Anakku yang ini diam-diam menghanyutkan. Ia tak banyak bicara. Namun, pikirannya tajam seperti orang dewasa. Ia teliti dan pemberani. Ia hanya dekat denganku. Kalau bersama papa nya ia sedikit pembangkang.
Setelah mengantar anak-anak aku kembali kerumah. Entah kenapa ucapan Nara tadi masih terngiang di kepalaku. Foto bayi? Tapi bayi siapa? Apa mungkin foto Nara dan Naro waktu masih kecil? Bisa jadi.
Aku memarkirkan mobil di halaman rumah kami. Rumah ini tidak besar namun cukup untuk tempat tinggal kami berempat. Sebab aku yang menyukai kebersihan jadi, terlihat rapi jika di lihat dari luar.
Aku masuk kedalam rumah. Rutinitas selanjutnya adalah beres-beres rumah seperti biasa.
"Foto bayi?" gumamku.
Aku masuk ke dalam kamar dan berniat menyimpan tas ku. Kulihat ada ponsel Mas Galvin yang terletak di atas kasur.
"Pasti ketinggalan." Aku geleng-geleng kepala. Suamiku itu memang pelupa, tak jarang barang yang lain nya juga tertinggal.
Aku mengambil ponsel itu dan berencana untuk menyimpannya keatas nakas. Tunggu, ada notifikasi pesan masuk.
"Pesan?" gumamku.
Aku memang mengetahui kata sandi ponsel suamiku. Sebab biasanya aku sering memakai ponselnya untuk melihat-lihat online shop. Tapi aplikasi chat memang sengaja di privasi dan aku tidak keberatan. Karena tidak semua tentang suamiku harus dibawah kendaliku. Aku percaya ia setia, itu saja.
Akh duduk dibibir ranjang sambil mengotak-atik ponsel Mas Galvin. Sayang pesan yang masuk tidak bisa di buka karena di kunci dan aku tidak tahu kata sandi nya.
Iseng-iseng aku membuka aplikasi album foto disana, kata Nara ada foto bayi dan aku penasaran. Aku mencari-cari gambar tersebut diantara ribuan foto di ponsel Mas Galvin dan ketemu.
"Ini anak siapa?" Aku melihat beberapa kali foto wajah bayi didalam ponsel itu. "Kenapa wajahnya mirip sama Mas Galvin?" gumamku.
Aku terdiam sejenak sambil meletakkan ponsel itu diatas nakas. Pikiranku mulai terbang melayang.
"Aku tidak boleh suhuzon dulu, nanti aku akan tanya sama Mas Galvin. Mungkin saja itu foto bayi rekan kerja nya." Aku masih berpikir positif mencoba menanamkan kepercayaan untuk rumah tangga kami.
Tak mau membuat pikiran ku kacau. Ku tinggalkan ponsel itu begitu saja dan menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah.
Sepanjang aku beres-beres rumah, bayangan foto bayi di ponsel Mas Galvin tak bisa hilang dari kepalaku. Wajah nya sangat mirip dengan Mas Galvin, wajah seorang pria kecil yang tampak tampan meski masih bayi. Tapi apa mungkin ada wajah seseorang yang mirip tanpa ada ikatan darah?
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 328 Episodes
Comments
Aminah Badai
polos atau naif ya jadi istri???? 😇😇😇😇
2024-01-24
0
Endang Supriati
bodohnya ternyata kurang kman si duandara! tdk punya insting dan kepekaan. suami sampe punya anak! hadehhhhh tolol
2024-01-20
0
Dewa Dewi
kelas 3 apa 4 nih? di depan bilangnya kelas 4 kok sekarang jadi kelas 3?
2023-08-18
0