SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
"Kak," Naro menahan tangan Nara ketika hendak berjalan kearah meja Mas Galvin
"Kenapa, Naro?" tanya Nara
"Tidak perlu. Kita makan disana saja," ajak Naro menggandeng tanganku.
Gandengan tangan Naro di tanganku seperti menyalurkan kekuatan yang menyeluruh dibagian tubuhku. Naro mengenggam tanganku erat, anakku ini seperti merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan Mama nya.
"Ehh Ara," kami bertiga sontak melihat kearah suara yang memanggil namaku.
"Divta," gumamku.
Kenapa selalu bertemu dengan lelaki ini? Dia tampak bersama teman nya yang memakai pakaian dinas yang sama.
"Mau makan siang disini?" tanya nya.
"Ohh Iya Ta," jawabku tersenyum kaku. "Oh perkenalkan, ini anak-anak ku. Nara dan Naro," ucapku memperkenalkan kedua buah hatiku
"Sayang, ayo salam sama Om Divta," suruh ku.
"Nara, Om," Nara mencium punggung tangan Divta.
"Naro," Naro melakukan hal yang sama.
"Kalian bertiga saja?" tanya nya celingak-celinguk. Hingga tatapannya terhenti tepat di meja Mas Galvin.
"Iya Ta," jawabku tersenyum kecut.
"Apakah boleh aku gabung? Ohh ya perkenalkan ini Raza, teman ku," ucapnya
"Raza,"
"Ara," balas ku.
"Boleh, kami gabung?" pinta nya.
"Oh tentu boleh," jawabku
Entah kebetulan atau bagaimana? Seharian ini aku sudah dua kali bertemu Divta. Aku lupa, restourant ini dekat dengan kodim tempat Divta bertugas didekat pelabuhan.
Kami makan sambil berbincang-bincang. Nara terus merenggek ingin menemui Mas Galvin, tapi Naro malah menahan kakak nya itu. Aku tak bisa melarang jika memang Nara ingin bersama Papa-nya.
"Kakak, makan saja disini," tegas Naro.
Kami mendelik mendengar ucapan Naro apalagi tatapan tajamnya pada Nara. Anak sekecil ini sudah bisa mengatakan hal-hal orang dewasa.
"Iya," ketus Nara kesal.
Aku diam-diam melirik kearah meja Mas Galvin hingga tak sengaja tatapan mata kami saling bertemu. Dia terkejut ketika melihat ku bersama anak-anak. Terlihat sekali lelaki itu gugup dan salah tingkah. Apalagi aku hanya menatap datar.
Kulihat Divta juga melirik kearah meja yang sama. Sejak dulu, Divta dan Mas Galvin memang tidak cocok. Sering mereka cekcok jika aku sering ikut kegiatan OSIS, mungkin saat itu Mas Galvin cemburu.
Setelah makan aku segera berpamitan pada Divta dan Mas Raza. Aku langsung membawa anak-anak pulang. Jangan sampai mereka berdua menanyakan Mas Galvin padaku, apalagi ada Lusia yang memeluk lengan Mas Galvin dengan posesif. Aku hanya takut mental anakku malah terganggu nanti nya.
Sepanjang jalan pulang aku menyetir sambil melamun. Mataku mulai kabur dan berkaca-kaca. Sekuat tenaga ku tahan air ini agar tidak jatuh di depan kedua anakku.
"Mama, tadi yang sama Papa siapa? Kok pakai peluk lengan Papa segala? Terus ada Nenek sama Tante Gilsha juga disana," tanya Nara.
Pertanyaan yang dari tadi ku hindari. Akhirnya keluar dari bibir anak perempuan ku. Apa jawaban ku? Aku bingung harus jawab apa. Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. Aku takut mental anakku akan terganggu. Apalagi Nara sangat menyanyangi Mas Galvin.
"Kak, kenapa bahas itu sih?" protes Naro.
"Memang nya kenapa? Kakak 'kan ingin tahu," ketus Nara.
Aku tersenyum tipis, lebih tepatnya senyum yang ku paksakan keluar dari bibirku.
Aku tak menjawab pertanyaan Nara. Aku memang memiliki sifat sedikit dingin. Mungkin sifat ku ini menurun pada putra ku Naro. Bukan dingin, terkadang aku enggan berbicara karena tidak semua orang paham akan apa yang aku rasakan saat ini.
"Nara. Naro. Kalian langsung mandi ya. Mama mau ke kamar ganti baju!" suruhku pada mereka.
"Iya Ma," jawab kedua nya kompak.
Aku masuk kedalam kamar kami. Ku tutup pintu kamar dan air mata yang ku tahan sejak tadi akhirnya menetes dengan deras, seolah membuktikan bahwa dia benar-benar keras.
Ku tatap kamar yang menjadi saksi cinta kami selama kurang lebih sebelas tahun. Akan kah kamar ini menjadi kenangan yang menyakitkan? Sepenuhnya hati Mas Galvin takkan mungkin kembali padaku.
Aku duduk dibibir ranjang. Tangan ku terulur mengambil figura di atas nakas. Foto keluarga kecilku. Kami berempat menatap kamera dengan senyum lebar dan mengembang. Ku usap foto tersebut dengan lembut. Lagi air mataku berjatuhan. Keluarga bahagia yang dulu aku miliki, kini benar-benar tinggal kenangan.
Cekrek....
Segera aku menyeka air mataku saat kudengar ada yang membuka pintu. Ku letakkan kembali foto tersebut diatas nakas.
Ternyata yang masuk adalah Mas Galvin. Sejenak tatapan kami berdua bertemu. Bisa kulihat dari tatapan matanya ada penyesalan. Tapi aku tidak tahu itu penyesalan apa? Apakah penyesalan telah menyakiti ku? Atau penyesalan karena terlambat berpoligami.
"Sayang," panggil Mas Galvin.
Aku rasanya ingin muntah ketika mendengar panggilan sayang yang Mas Galvin sematkan di ujung namaku. Aku tidak butuh panggilan sayang apalagi itu hanyalah semu.
"Ada apa?" tanyaku dingin.
"Aku minta maaf," ucapnya terdengar dengan suara berat. Entah minta maaf karena penyesalan atau karena dia malu sudah ketahuan.
"Untuk apa?" tanyaku menatap wajah Mas Galvin.
"Lusia akan tinggal bersama kita disini. Mas berjanji akan adil," ucapnya yakin jika dia akan adil terhadap kami.
Aku tersenyum sinis sambil melipat kedua tangan didada, "Apa yang bisa kamu janjikan kalau kamu akan adil terhadap aku dan istri kedua mu, Mas?" tanyaku menyelidik. Tidak ada suami yang adil jika memiliki dua istri. Biasanya istri kedua akan menjadi prioritas.
---
"Mas akan menafkahi kalian berdua," jelas nya.
Aku memejamkan mataku sejenak. Tanpa permisi akhirnya air mataku terjatuh didepan Mas Galvin.
"Kenapa Mas?" tanyaku menatap Mas Galvin dengan kecewa. "Kenapa kamu tega berpoligami? Apa kurangnya aku Mas? Apa karena aku tidak bekerja seperti perempuan lainnya?" cecar ku dengan air mata berderai.
"Maafkan Mas, Ra," ucapnya. "Mas jenuh dengan hubungan kita,"
Aku mendengar tak percaya. Ada ternyata suami yang jenuh dengan hubungan rumah tangga nya. Jika dilihat selama ini kami baik-baik saja. Aku juga bukan sosok yang membosankan.
"Jenuh, Mas?" Aku tertawa garing tapi air mataku masih menetes. "Kenapa kamu tidak bilang? Kenapa kamu malah memilih hilang? Aku bisa pergi jika kamu mau tapi tidak dengan cara seperti ini, Mas," ucapku. Tidak bisa, air mataku tak bisa berhenti menetes. Rasanya sakit sekali.
"Maaf," Mas Galvin menunduk. "Mas tidak bisa menahan diri," sambungnya lirih. Meski ucapannya terdengar penuh penyesalan namun aku sama sekali tak merasakan simpati padanya
Aku menertawakan kebodohan ku selama ini. Percaya saja jika Mas Galvin selalu melakukan perjalanan dinas bersama boss nya. Ternyata, itu adalah cara dia untuk berpoligami di belakang ku. Aku tak habis pikir, apa yang ada dipikiran lelaki ini?
**Bersambung.... **
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 328 Episodes
Comments
Uthie
Paling males dan alasan gak bisa diterima saat alasan laki2 yg mulai bosan dengan hubungan yg ada 😡
2023-07-29
1
Hanipah Fitri
aduh bikin nyesak inimah 😭😭😭😭
Gavin tipe suami yg tdk bersyukur, sdh punya anak sepasang mau aja berselingkuh lagi
tinggalin aja biar dia menyesal
2023-05-22
0