Saat ini dua manusia tengah duduk berhadapan. Yang satu menatapnya seolah angkuh dan satunya hanya menunduk sambil meremas jemarinya. Sedari tadi, Erika tidak berani mendongak. Ia hanya berani menunduk menatap tangannya. Karena jika ia mendongak, mata yang nyalang langsung menerobos netranya.
“Aku tidak berencana bertemu denganmu namun Mina memberirtahuku sesuatu yang membuat darahku naik. Mantra apa yang kamu berikan pada Arvaz sehingga sangat terobsesi padamu? Apakah kamu percaya, aku bisa saja membuatmu menghilang dari kehidupan anakku?”
“Aku sangat yakin anda bisa melakukannya.”
Dengan ekspresi menantang sambi menunjuk ke arah Erika, Nyonya Bennedict berkata dengan suara tinggi. “Karena kamu sadar akan hal itu, kenapa kamu masih saja berada di dekat Arvaz. Kamu bahkan menceraikan suamimu! Kamu benar-benar wanita yang tidak masuk akal.”
Erika berusaha bersikap tenang. “Nyonya, anakmu lah yang mengendalikan ku dengan paksa. Tolong carilah fakta yang sebenarnya sebelum anda menilai saya.”
“Kamu ini benar-benar,” ucap Nyonya Bennedict.
Wanita pria paru baya itu langsung membuka tasnya dan mengambil ponselnya yang ada di dalam. Nyonya Bennedict masih dengan sumpah serapahnya menekan nomor seseorang dan Erika tahu bahwa dia sedang menelepon putranya, Arvaz.
“Ibu, aku di tengah-tengah rapat. Jika tidak ada yang penting aku tutup,” ucap Arvaz.
“Apakah tidak ada wanita yang tersisa di dunia ini selain Erika? Jika kamu tidak menyukai Mina, ibu bisa mencarikan wanita lain.”
“Ibu, kita akan bicarakan itu setelah pulang.”
“Apakah benar kamu sudah menikahinya?”
“Ya, aku sudah menikahinya. Dia adalah menantumu jadi tolong sayangi dia.”
Wajah nyonya Bennedict menegang karena terkejut dan marah ketika ia berbalik untuk melirik Erika. Nyonya Bennedict langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.
“Kamu benar-benar sesuatu. Kamu adalah wanita yang licik.”
“Terima kasih atas pujiannya,” ucap Erika dengan sarkas.
“Erika, aku tidak akan pernah membiarkanmu menjadi bagian dari keluarga Bennedict. Aku juga tidak akan pernah mengakui keturunan dari dirimu.”
“Tidak masalah aku diterima atau tidak.” Erika mengarahkan keberanian untuk menatap mata Nyonya Bennedict dan menambahkan. “Sepertinya Nyonya Bennedict sedang menunggu Arvaz, aku pamit ke atas.”
Alis Nyonya Bennedict semakin bertaut, kerutannya semakin dalam. Nyonya Bennedict ingin mengejar kembali Erika dan melayangkan tamparan kembali, untungnya Erika berhasil menghindar dan berbalik untuk naik ke atas.
“Berhenti di sana. Kamu wanita yang tidak tahu malu.” Nyonya Bennedict mengejarnya dengan marah-marah.
Erika segera berjalan cepat ke arah kamarnya dan segera menguncinya dari dalam. Suara gedoran pintu terdengar nyaring diselingi kata-kata makian dari Nyonya Bennedict. Erika baru bisa bernapas lega saat Nyonya Bennedict turun ke bawah saat mendengar suara mobil dari depan.
“Ibu kenapa tiba-tiba datang ke sini?” Tanya Arvaz begitu ia memasuki rumahnya dan disambut oleh wajah cemberut ibunya.
Arvaz langsung membatalkan rapat setelah ditelepon oleh ibunya karena ia merasa akan ada bahaya jika ia meninggalkan Erika bersama ibunya.
“Apa yang salah dengan otakmu?”
“Maksud ibu apa?”
“Arvaz, apakah kamu benar-benar menikahi wanita rendahan seperti itu?”
“Erika adalah wanita yang baik,” bela Arvaz.
“Aku tidak melihat wanita itu baik untukmu.”
“Ibu akan melihatnya jika ibu menghabiskan waktu dengannya,” ucap Arvaz. Pria itu merangkul bahu ibunya dan menuntunnya untuk duduk. Arvaz langsung mengambilkan teh yang ada di depannya.
Arvaz tahu bahwa kondisi ibunya sedang tidak baik jadi ia tidak berani untuk meninggikan suaranya. Ia hanya bisa membicarakannya dengan tenang.
“Aku tidak setuju dengan pernikahanmu dengannya.”
“Ibu setuju atau tidak, yang jelas aku sudah menikahinya.”
“Jika kamu terus bersikap seperti ini, maka bersiaplah kamu hanya bisa melihat batu nisanku! Bentak Nyonya Bennedict sambil membanting cangkir teh ke atas meja menyebabkan isinya tumpah.
“Bu, jangan bersikap seperti ini.”
“Apakah kamu sudah buta? Dia sudah meninggalkanmu. Apakah kamu lupa bagaimana ibu berusaha membuatmu bangkit dalam keterpurukan karena wanita itu? Nak, aku benar-benar membenci Erika. Apakah kamu sudah tidak sayang dengan ibu?”
Erika yang berdiri di tangga menatap Arvaz yang terdiam langsung berbalik untuk kembali ke kamarnya. Ia sudah mendengar semua percakapan Arvaz dan ibunya. Ia duduk di tengah ranjang sambil menekuk lututnya. Ia membenamkan kepalanya sambil merenung sejenak.
Erika lantas turun dari ranjangnya lalu membuka lemari dan mengambil jaket. Ia juga mengambil ponselnya. Di saat ia membuka pintu di saat itu pula Arvaz masuk ke dalam kamar. Pria itu segera menuju ke kamar setelah ibunya pergi.
Arvaz sedikit mengernyitkan keningnya saat melihat Erika. Pria itu segera meraih lengannya saat Erika hendak pergi.
“Kamu ingin ke mana?”
“Aku hanya ingin jalan-jalan ke luar.”
Arvaz langsung membawa Erika kembali ke dalam kamarnya dan menundukkannya ke tepi ranjang. Sementara Arvaz berdiri tepat di depannya.
“Ucapan ibuku jangan diambil hati. Jika kamu ingin melampiaskan kekesalanmu, ceritakan padaku semuanya.”
Erika menggeleng.
...…...
Waktu terus berlalu sementara hubungan Erika dan Arvaz masih belum menghangat semenjak Nyonya Bennedict berkunjung. Arvaz merasa jika hubungannya seperti ini, bisa-bisa hubungan mereka bisa-bisa berakhir.
Maka dari itu, Arvaz ingin mengajak Erika untuk berlibur, lebih tepatnya bulan madu. Karena semenjak mereka menikah, mereka belum bulan madu.
Erika yang sedari tadi terfokus membaca buku, langsung menoleh ke arah Arvaz dengan wajah kebingungan begitu mendengar rencana bulan madunya itu.
“Kamu mengajakku untuk bulan madu?”
“Ya, aku sudah memesan tiketnya jadi aku tidak bisa membatalkannya.”
“Lalu?”
“Jika aku pergi sendiri, bukan bulan madu namanya. Kita tidak bisa terus-menerus seperti ini kan? Menurutku kita harus memperbaiki hubungan kita.”
“Tidak ada yang perlu diperbaiki.”
Arvaz menghela napas panjang, haruskah ia menjadi Arvaz yang pemaksa seperti dulu?
“Aku harus bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Jadi kamu tidak akan pergi bulan madu denganku?”
Erika menggeleng. “Tidak, aku tidka akan pergi. Kamu juga tidak akan pergi.”
“Oke baiklah, kita tidak akan pergi.”
Erika kembali menoleh ke arah Arvaz. Memperhatikan ekspresi pria itu. Arvaz akhir-akhir ini sangat bersikap lembut sehingga membuat Erika menjadi curiga.
“Baiklah, meskipun kita tidak jadi bulan madu. Aku bisa melakukannya di sini. Aku sudah tidak tahan lagi.”
Arvaz mengerang ketika ia menempelkan bibirnya di kening wanita itu. Rasa kulit Erika membuatnya menggeram nikmat. Wanita itu adalah makhluk terlarang untuknya, satu-satunya orang yang cukup dipermuliakan ya sehingga ia akan membenci dirinya sendiri jika monster yang sudah tidur di dalam tubuhnya lepas kembali.
“Erika, aku tahu aku adalah pria berengsek, kasar dan menyimpan banyak amarah tapi aku berusaha untuk bersikap lembut denganmu. Sungguh aku mencintaimu dan tidak akan meninggalkanmu sekalipun keluargaku menentangku.”
“Jadi?”
“Maafkan aku.”
“Kamu tidak salah untuk apa meminta maaf?”
“Tapi kamu selalu bersikap dingin padaku.”
“Entahlah akhir-akhir ini moodku memang tidak stabil.”
“Kalau begitu aku akan mengembalikan moodmu kembali.”
Lalu senyum tipis di ujung bibir Arvaz terbentuk lalu dengan cepat bibir itu sudah mendarat ke bibir Erika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Quenby Unna
jadi ini caranya mengembalikan moodbya...
2023-07-12
0
Anis Swari
Wanita yang terbaik adalah Erika..dan anakku bucin pada Erika
2023-07-10
0
Han Sung hwa
Jangan gitu nanti kalau dah sayang, malu
2023-06-09
0