Arvaz menginginkan Erika. Ia menginginkan Erika dan Erika akan menjadi miliknya. Angin malam yang hangat menyapu wajahnya dan ia menyunggingkan senyum kecil ketika memikirkan apa yang akan terjadi malam ini.
Ia menoleh ketika mendengar bunyi pintu dibuka dan sosok gelap mungil itu muncul. Sebelum sosok itu lari, pria itu langsung beranjak dan menutup pintu.
Keinginan liar terus mengaduk perut bawahnya. Arvaz langsung memeluk Erika dengan erat.
“Sayang?”
Tidak mengizinkan wanita itu mengatakan apa pun, Arvaz langsung menciumnya. Tangannya terus memegang lehernya dan memungkinkan untuk membimbingnya. Tangan pria itu pada akhirnya berkelana.
Rasa geli menggelitik ya ketika pria itu ahli menggoda bagian tubuhnya tersebut. Napasnya seakan hilang ketika ia merasakan jari pria itu menyelusup ke bagian dirinya. Erika tidak menolak ketika ia dibimbing di tempat tidur.
Pria itu mendorongnya pelan sehingga punggungnya menyentuh kelembutan spreinya. Erika menahan napasnya ketika kejantanan pria itu menggoda tubuhnya sebelum menekan ke dalam. Erika mengerang ketika Arvaz berhasil membenamkan seluruh tubuhnya dan ia terendah berusaha menyesuaikan dirinya dengan ukuran pria itu.
Erika menangkap setiap hunjaman yang semakin cepat. Wanita itu memejamkan matanya dan menekan kepalanya keras, terasa lebih dahsyat karena Arvaz berhenti bergerak untuk berberapa detik sebelum menyemburkan benihnya yang panas ke dalam tubuh Erika yang berdenyut keras.
Setelah selesai, Arvaz berbaring selama beberapa menit di samping Erika. Setelah itu secara pribadi ia membantu Erika mengenakan pakaiannya dan membawanya ke pintu. Setelah itu, Arvaz menutup pintu dan menguncinya dari dalam sebelum akhirnya menyalakan lampu.
Arvaz lalu mengenakan pakaiannya.
Pada saat ini, Erika masih terdiam di depan pintu. Ia merasa ada sedikit kesalahan di sini.
“Kenapa dia mengunci pintunya? Dia bahkan tidak pernah bicara selama malam panas tadi.”
Ketika Erika akan mengetuk pintu, ia mendapatkan pesan dari Darel, yang menyuruhnya pulang terlebih dulu dan dia akan segera kembali.
Erika lalu meninggalkan kamar itu, ia tidak meragukan pesan itu karena pesan itu dikirim dari Darel. Erika tidak pernah tahu bahwa ponselnya diretas Arvaz. Pesan yang dikirim padanya sama sekali bukan dari nomor Darel melainkan dari nomor Arvaz.
Begitu ia tiba di rumah, Darel tidak pulang tepat waktu. Merasakan tubuhnya begitu lengkap, Erika langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
...…...
Darel meletakkan kunci penthouse di tatakan di atas meja yang terdapat di lorong foyer. Sebelah tangannya masih mengenggam buket bunga ketika ia setengah membungkuk untuk melepaskan sepatu kantor yang dikenakannya. Senyum merekah di wajahnya ketika pria itu memikirkan wajah Erika.
Harus ia akui, jenis senyum itu semakin sering menghampirinya setelah ia menikahi Erika.
“I am home.” Darel mengumumkan kepulangannya sambil berjalan masuk ke ruang tamu.Tidak menemukan wanitanya berada di sana. Darel memutuskan untuk ke dapur namun ia tidak menemukannya di sana.
Darel memutuskan untuk pergi ke kamarnya namun lagi-lagi ia tidak menemukan Erika di sana. Ketika Darel ingin beranjak dari tempatnya, ia mendengar suara pintu kamar mandinya terbuka dna ia langsung membalikkan tubuhnya. Erika muncul di ambang pintu kamar mandi tepat Darel membalikkan tubuhnya.
“Sayang, kamu sudah pulang?” Pandangan Erika jatuh langsung pada buket yang digenggam Darel. “Apakah itu untukku?”
Erika bergerak gesit dan berjalan cepat ke arah Darel.
Darel merentangkan sebelah tangannya dan memeluk Erika erat, menghirup aroma harum wanita itu setelah mandi benar-benar membuatnya mabuk. Darel enggan menjauh dari Erika. Pria itu menyerahkan buket bunga mawar untuk istrinya.
“Ini sangat cantik. Terima kasih.”
Erika berjinjit pelan kemudian mengecup rahangnya. Tidak ingin kehilangan Erika, bibir Darel kemudian melekat di bibir wanita itu, membungkam erangan yang keluar dari mulut Erika ketika jari Darel bergerak masuk menyentuh sudut tersembunyi dari balik handuk kimononya.
...…...
Sudah menjadi kebiasaan, setiap siang Erika akan pergi ke kantor Darel. Wanita itu akan membawakan bekal makan siang untuk Darel. Namun kali ini, pria itu mengajaknya makan siang ke luar.
Erika mengetuk pintu kantor Darel pelan, sebelum ia menyembulkan kepalanya.
“Sayang,” ucap Darel begitu Erika muncul di pandangannya.
Pria itu langsung berdiri saat Erika masuk ke dalam ruangannya. Darel langsung mencium dahinya untuk sambutan sayangnya.
“Aku masih punya beberapa hal untuk diselesaikan, beri aku waktu sebentar.”
“Hem… aku akan duduk di sofa sambil membaca novel yang aku bawa.”
Darel sesekali melirik ke arah Erika yang sibuk dengan novelnya. Wanita itu anteng di depannya. Sepertinya fokusnya ke novel sementara Darel sendiri sangat sulit untuk fokus pada pekerjaannya.
“Aku harus fokus dan segera menyelesaikan pekerjaan ini yang menumpuk.”
Darel langsung meninjau semua laporan yang sudah menumpuk. Ia dengan cepat menyelesaikannya agar Erika tidak terlalu menunggunya lama.
“Selesai,” ucap Darel begitu ia berhasil menyelesaikan setengah dari pekerjaannya.
Darel langsung mendongakkan kepalanya. Senyum tipis langsung terpatri di sana begitu ia melihat Erika yang rupanya sudah tertidur di sofanya. Darel langsung menghampirinya. Ia duduk di samping Erika, memperhatikan wajah cantik yang damai itu.
Tangannya terulur untuk menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Erika.
Karena merasa terusik dalam tidurnya, Erika membuka matanya dengan perlahan. Wanita itu merenggangkan tubuhnya dengan malas.
“Kamu sudah selesai?” Tanya Erika.
“Ya, aku sudah selesai. Ayo pergi,” ucap Darel.
Erika langsung merentangkan kedua tangannya dengan malas. Darel yang mengerti langsung tersenyum dan meraih tangan tersebut.
Keduanya turun bersama. Erika duduk di kursi samping kursi mengemudi sementara Darel duduk di kursi pengemudi.
Sepanjang jalan Erika terus memperhatikan jalan yang ia lalui. Perjalanan mereka menuju restoran Prancis ditemani dengan lagu romantis.
Begitu sampai di tempat restoran, Darel langsung membimbing Erika untuk tetap berjalan di sampingnya. Begitu ia sampai di meja yang sudah direservasi sebelumnya oleh Darel, pria itu menggeser salah satu kursi untuk Erika.
“Terima kasih.”
Darel lantas memesan makanan untuk mereka.
“Apakah kamu malam ini akan pulang lebih awal?” Tanya Erika.
“Maaf, tapi kali ini sepertinya aku harus pulang larut malam lagi.”
Erika tersenyum tipis. “Aku mengerti, pekerjaan memang harus didahulukan.”
“Aku berjanji, setelah pekerjaanku selesai. Aku akan langsung pulang.”
Setelah mereka makan siang, Darel mengantarkan Erika pulang. Wanita itu melambaikan tangannya begitu Darel berpamitan untuk kembali ke kantornya. Erika menutup pintunya. Begitu pintu ditutup.
Ia merasakan perutnya bergejolak tidak enak. Erika langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menuangkan semua isi perutnya. Mulutnya terus membuka namun tidak ada cairan yang keluar. Erika langsung membusuh wajahnya.
Ia melihat bayangan yang ada di cerminnya dan pikirannya berkelana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Quenby Unna
Jangan2....
2023-06-07
0
Quenby Unna
Astaga hot summer sekali di sini...kipas mana kipas
2023-06-07
0
Anis Swari
Soalnya ada ayang ya...
2023-06-07
0