Malam sangat gelap. Tirai jendela kamar itu bergerak pelan tertiup angin yang berembus masuk dari celah yang sengaja dibiarkan terbuka.
Erika mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat menggemaskan sambil tersenyum senang. Entah mengapa, akhir-akhir ini Erika sulit untuk tidur. Mungkin, pengaruh bayi yang ada di dalam kandungannya.
Erika terus mengelus perutnya sambil bergumam dengan sang calon bayi.
“Kira-kira kamu nanti mirip ayah apa mirip mama?”
Lekuk senyum terbentuk di sudut bibirnya yang lembut. Erika tidak bisa menahan imajinasinya sendiri ketika bayangan itu terbentuk dengan cepat. Seorang anak lelaki dengan rambut hitam lebat. Senyumnya semakin terlihat ketika Erika bermain dengan angannya sendiri.
“Pasti mirip ayah, mama tahu itu. Mama bisa merasakannya.”
Miniatur Darel. Anak yang kelak akan membuat Darel melihat cerminan dirinya di masa lalu. Kebahagiaannya jelas terasa memenuhi hatinya namun entah mengapa ada yang menjagal dalam hatinya itu. Sikap Darel berubah, tidak seperti sebelumnya.
Kehangatan yang ia rasakan kini berubah menjadi sedikit dingin. Erika tidak tahu alasan perubahan sikap Darel padanya. Padahal selama ini, ia merasa rumah tangannya baik-baik saja.
“Kenapa belum tidur?”
Suara berat itu bergetar, mengalir hingga telinga Erika dan ia merasakan tubuhnya menegang. “Aku belum mengantuk,” jawabnya tenang.
“Ini sudah lewat tengah malam.”
“Aku tidak bisa tidur. Apakah kamu akan tidur malam ini di sini?”
“Tidak.”
Erika tidak tahu penyebab Darel berubah. Bahkan pria itu tidak mau tidur seranjang dengannya. Terkadang Erika rindu akan sikap Darel yang hangat seperti dulu.
Erika terkesiap ketika sentuhan jari-jemari pria itu hinggap di kedua bahunya. Darel tidak mencengkeram erat namun pegangannya yang tegas menekankan maksudnya. Erika bangkit secara pelan di bawah bimbingan tangan Darel yang hangat.
Betapa ia merindukan pria itu.
Napas pria itu terasa menghembus puncak kepalanya, seakan sedang mengusir udara malam yang dingin. Erika menahan napasnya bergetar, tak berani mengangkat kepalanya.
“Kamu harus beristirahat.”
Bisikan lembut menembus indera pendengaran dan membuat wanita itu tersentak mundur. Erika mengangkat kepalanya dan menatap Darel marah yang berusaha ia tekan. Kekesalannya pada pria itu karena diabaikan selama berhari-hari telah mencapai batasnya. Ia tidak peduli bila setelah ini, pria itu akan marah.
“Aku kesulitan tidur karena pengaruh bayimu. Apa kamu pernah bertanya tentang keadaanku sejak hari itu?”
Mereka berdua tahu apa yang dimaksud Erika dengan hari itu. Hari dimana, Erika mengunjungi kantor pria itu dan Darel masih terlihat baik-baik saja namun sorenya pria itu menarik diri. Pria itu tidak pernah menunjukkan emosinya. Darel berangkat kerja tanpa mempermuliakan ya, pulang dan mengurung diri tanpa pernah menyapa. Apalagi meluangkan waktu untuk bercakap-cakap dengannya.
Saat berpapasan pun, Darel bersikap seolah dia tidak melihat apa-apa.
“Bayiku?” Suara Darel masih seperti bisikkan lirih.
“Apa kamu masih peduli padaku?”
Erika tidak tahu apa yang memasukinya malam ini. Mungkin ia tidak tahan lagi menghadapi kesunyiannya. Hidup terasing di rumah besar bersama pria yang terlihat muak dengan keberadaannya.
“Tidak.”
“Kamu…”
“Cobalah untuk tidur, meskipun tidak bisa.”
Pandangan pria itu menakutkan, menurut Erika. Tekanan jari-jemari pria itu bahkan terasa menembus hingga ke dalam kulitnya. Darel melepaskannya dengan cepat dan bergerak mundur waktu matanya masih tidak meninggalkan wajah Erika.
“Tidur!” Perintahnya dengan otoriter.
Erika menurut walau terpaksa. Ia merangkak naik ke tempat tidur dan menyelinap di bawah selimut tebalnya sementara pria itu pergi menutup jendela kamar.
“Kenapa sikapmu berubah? Apakah aku melakukan kesalahan? Setidaknya bicarakan padaku, apa kesalahanku,” ucap Erika dengan putus asa. Jika ia bersalah, ia akan mencoba memperbaikinya.
Darel berjalan mendekat ke arahnya dan berhenti di ujung ranjang saat dia menatap Erika dengan murka. Tubuhnya yang besar menegang, begitu juga wajahnya. Kedua tangannya terkepal kencang.
Kedua tangannya terkepal kencang. “Mari kita perjelas, Erika. Aku sudah tahu semua kebusukanmu.”
Sepeninggal Darel, Erika hanya bisa bergelung di bawah selimutnya dan menatap nyalang pada langit-langit kamarnya. Tangannya yang sedari menutup perutnya masih bertengger di sana. Pikirannya berkelana ke mana-mana.
“Apakah dia sudah tahu?” Tanyanya pada dirinya sendiri.
Wanita itu menggeleng seolah-olah ia tidak ingin itu terjadi. Jika itu terjadi berarti rumah tangannya diambang kehancuran.
“Tidak…tidak…dia pasti tidak tahu.” Ia menyakinkan dirinya sendiri.
Air mata Erika langsung terjatuh di sana. Emosinya seakan mengaduknya. Ia tidak tahu apa yang dia rasakan. Kesedihan, kesepian, merasa bersalah, marah, semuanya menjadi satu.
...…....
Darel membanting pintu kamarnya lebih tepatnya kamar tamu lalu berbalik kembali untuk menguncinya. Apa ia akan takut Erika akan menerjangnya, tentu saja tidak. Yang ditakutkannya justru dirinya sendiri. Ia takut ia gagal menahan dirinya dan menerjang wanita itu.
Ia sudah cukup frustrasi selama beberapa hari ini. Ia marah dengan Erika dengan seribu alasan. Ia bisa saja menceraikan Erika namun hati kecilnya tidak mau. Ia takut akan melakukan sesuatu yang bisa membuat menyesalinya nanti.
Itulah kenapa Darel sudah beberapa hari tidak tidur dengannya dan memilih tidur sendiri padahal yang ingin dilakukannya adalah mencekik wanita itu lalu membantingnya keras di atas ranjang. Lalu ia akan menempatkan dirinya di atasnya wanita itu dan menumpahkan kekesalannya.
“Berengsek!”
Napasnya memburu tanpa sadar saat ia membawa dirinya sendiri untuk duduk di tepi ranjangnya dan memikirkan kenyataan yang ada. Pria itu menatap tangannya sendiri yang gemetar ketika memikirkan hal itu berulang-ulang. Erika bersama Arvaz.
Darel mengepalkan tangannya erat-erat saat memikirkan pengkhianatan yang ia terima dari wanita itu. Pria itu tanpa sadar menghembuskan napasnya. Ia akan membalaskan kekesalannya dengan menahan wanita itu di sisinya. Ia tidak akan pernah melepaskan wanita itu, ia akan menjadikannya sebagai tawanan agar Arvaz tidak bisa memilikinya.
Darel merebahkan dirinya di ranjang dan mematikan lampu di nakasnya. Matanya terpejam ketika ia gagal menyingkirkan bayangan Erika. Saat ia berjalan memasuki kamar wanita itu. Ia tidak berharap bahwa wanita itu masih terjaga. Ia tadinya berpikir wanita itu sudah tidur.
“Wanita sialan.” Makinya.
Darel tahu ia tidak akan bisa tidur sepanjang malam ini. Ia bangkit dari tempat tidurnya dengan gusar. Kalau saja wanita itu tidak hamil, ia akan membuat wanita itu membayar semua pengkhianatannya.
Darel langsung pergi ke kamar mandi. Ia mengandalkan air dingin untuk menjaga agar dirinya tetap waras.
Ditempat lain, Arvaz sedang merancang sebuah rencana untuk bisa merebut Erika. Dari yang ia lihat selama ini, Darel masih belum mengambil tindakan setelah ia mengirimkan beberapa foto kebersamaannya dengan Erika.
Padahal Arvaz berharap pria itu akan segera menemuinya dan menumpahkan semua kemarahannya dan segera meninggalkan Erika dengan begitu ia akan bisa bersama Erika.
“Ini akan jauh lebih menarik,” ucap Arvaz dengan senyum miring di wajah tam
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
R.F
semangat kk
2023-06-19
0
Quenby Unna
Sangat2 menarik sekali
2023-06-08
0
Anis Swari
Aku tahu perasaan Darel tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Erika...
2023-06-08
0