Seharusnya Arvaz tidak pernah mendengarkan kata-kata tersebut. Seharusnya Darel tidak pernah mengirim pesan suara itu, dan sialnya suara itu adalah suara wanita yang ia kenal. Di tambah lagi saat ia pulang, ia mendengar dengan telinganya sendiri, ia melihat dengan matanya sendiri saat Erika sedang bertelepon dengan pria yang paling ia benci, Darel.
Mungkin seharusnya ia mengabaikan pesan suara dari Darel. Mungkin seharusnya Arvaz tidak kembali lebih cepat.
Saat kata-kata Erika yang lembut dan terdengar penuh penyesalan menghantam gendang telinganya, Arvaz sempat membeku di pintu kamar. Ia nyaris berbalik dan pergi tidak yakin bahwa ia bisa menguasai kemarahannya bila ia memutuskan untuk mengfrontasi Erika. Pada lahirnya ia hanya mencoba membanging ponsel Erika.
“Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Arvaz.”
Arvaz bergeming di depan wanita itu, mendengar ucapan setengah memohon itu.
Aku mencintaimu, Darel.
Arvaz sungguh-sungguh berharap ia bisa mempercayai Erika tapi ucapan wanita itu telah menyebabkan gema menyakitkan di dalam kepalanya yang panas. Panas itu kembali menguasainya, Arvaz bisa merasakan kemurkaan tersebut.
Tangannya terulur untuk menekan bahu Erika dengan kuat.
“Katakan padaku dengan jelas, Erika. Katakan padaku apa yang seharusnya aku bayangkan?”
“Aku….aku maksudku aku tidak bermaksud….”
Erika sepertinya kebingungan mencari kata yang tepat.
Arvaz mempererat cengkeramannya. “Berhenti berbohong padaku!”
Rasa muak memuncak di dalam dirinya, ia kembali mengguncang Erika dengan keras.
“Biar aku saja yang menjelaskan, kamu mungkin senang dan puas aku pergi ke luar negeri. Kamu bisa menghubungi pria itu merayakan kebebasannya, bertukar beberapa kata-kata mesra sementara kalian menyusun rencana.”
“Apa yang kamu katakan?” Erika tampak terhenyak.
Wajah Arvaz mengeras sementara ia menatap Erika dingin. Suaranya berembus pelan ketika ia mendekatkan wajahnya untuk mempelajari ekspresi Erika.
“Apa kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi? Apa kamu pikir kamu bisa kembali pada Darel ? Kamu tidak akan pernah bisa. Kesempatanmu sudah berakhir ketika kamu menyatakan ya dalam sumpah pernikahan kita.”
Erika bergeming. Pupil wanita itu melebar ketika dia mencium nada ancaman dalam ucapan Arvaz.
Arvaz langsung mendorong pelan Erika, dan segera melepaskan jasnya dengan cepat dan menarik dasi sebelum menjatuhkannya begitu saja.
“Arvaz…”
“Darel bukankah yang utama. Sekarang aku.”
“Aku tidak ingin melakukannya sekarang. Tidak ketika kamu marah.”
“Kamu diharuskan karena itu sudah menjadi kewajibanmu.”
Tangan Erika singgah di lengan Arvaz untuk menahan pria itu.
“Kamu akan menyakiti bayiku.”
“Aku tidak akan menyakiti anakku, juga tidak akan menyakitimu.”
Erika tidak memiliki kesempatan untuk berkata-kata karena bibir Arvaz sudah menenggelamkan semuanya. Ia tertarik kembali dalam pusaran yang dibuat Arvaz.
“Aku menginginkanmu malam ini dan aku juga luar biasa marah padamu.”
“Aku membencimu.”
“Benci lah aku seumur hidupmu, sebagai gantinya aku akan mencintaimu segenap jiwaku.”
Arvaz kembali menyelipkan dirinya lagi ke dalam diri Erika, menghilang ke dalam tubuhnya dan kembali muncul lalu kembali tenggelam.
Arvaz bisa merasakannya, ketegangan nikmat yang memeluknya erat dan ia menghunjam seperti pria gila sebelum memutuskan untuk menyerah dan membiarkan dirinya meledak hebat.
“Apakah kamu baik-baik saja?”
Malam mereka berakhir dengan Erika berada di dalam pelukan Arvaz yang aman dan kuat.
“Kenapa kamu meninggalkanku, Eri?”
Saat itu, ia nyaris terlelap karena elusan pelan pada punggungnya dan ,merasa kesal karena Arvaz bertanya saat yang tidak tepat. Erika sempat berpikir untuk pura-pura tidur. Namun, Arvaz terus bertanya.
Erika akan mengakuinya, bahwa pria itu mengkhianatinya. Mungkin dengan membeberkan segalanya. Erika akan mendapati Arvaz rela melepasnya. Bagaimana pun, ia lah yang dikhianati. Bukan Arvaz.
“Kamu berselingkuh dengan Ivey. Aku melihatnya hari itu.”
Arvaz menjauhkan dengan cepat. “Apa katamu? Aku? Berselingkuh dengan Ivey?”
Erika mengangguk. Ia melihat wajah pria itu. Hatinya mencelos ketika ekspresi berbahaya melintas di wajah tersebut,
“Hati-hati Eri. Kamu tidak bisa begitu saja membuat kesimpulan bodoh dan menyebutku berselingkuh.”
“Bodoh, katamu? Aku melihatnya, Arvaz. Dengan mata kepalaku sendiri.”
“Jelaskan padaku, apa yang kamu lihat dengan mata kepalamu yang cantik.”
Kemarahan Erika langsung terpampang di wajah cantiknya karena perintah menjengkelkan pria itu. Ia melupakan posisi tidak biasa mereka.
“Aku melihat semuanya. Kamu membuka pintu dan wanita itu menciummu.”
“Dan dari pada mencari kebenarannya, kamu lebih suka memilih untuk lari seperti pecundang, ya kan? Dan mencintai pria lain?”
Itu tidak pernah terpikirkan oleh Erika. Pukulan itu menghantamnya.
“Bukankah sudah jelas?”
“Aku pikir kamu wanita yang pintar. Kalau saja kamu tinggal untuk melihat lebih banyak, kamu akan melihat bagaimana aku menolaknya.”
Wajah Erika langsung memucat.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanyanya takut.
“Waktunya untuk hukuman, Eri. Kamu harus membayar semua penderitaan yang sudah kamu akibatkan untukku.”
...…...
Ketika ia terbangun pagi itu, Erika sendirian di bawah selimut sementara Arvaz sudah pergi. Matanya tertarik pada sebuah note kecil yang berada ditempelkan pada lampu tidur. Itu adalah pesan dari suaminya. Oh, ayo lah sekarang Erika mengakui bahwa dia adalah suaminya.
Arvaz mengajaknya untuk menemaninya di sebuah pesta malam ini.
Menjelang malam, Erika cantik dengan rambutnya yang digelombang. Dan tubuhnya yang berisi karena kehamilannya membuatnya lebih seksi. Erika senantiasa berdiri di samping Arvaz namun setelah pria itu fokus pada rekan kerjanya, Erika diam-diam menjauh.
Menikmati pestanya sendiri, dengan mencicipi semua makanan yang ada di sana.
“Halo, kamu pasti Erika.”
Erika yakin ia tidak pernah mengenal seseorang seperti wanita itu.
“Kamu, Erikanya Arvaz, bukan? Aku Lily, rekan kerja Arvaz.”
Lily mengulurkan tangan dan Erika menjabatnya.
“Erika.”
“Kamu tahu kalau kamu wanita yang beruntung, bukan? Semua wanita di dalam ruangan ini akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya jika saja mereka tidak tahu dia sudah menikah.”
“Apakah kamu salah satunya?”
Lily mengibaskan tangan sambil tersenyum penuh rahasia.
“Sejak kapan kamu bertemu dengan Arvaz?”
“Oh itu….”
“Apa yang dilakukan dua wanita favoritku di sini?” Tanya Arvaz yang rupanya sudah berdiri diantara mereka.
Erika melihat bagaimana Lily nyaris melemparkan dirinya ke pelukan Arvaz dan mencium pipi pria itu, dan nyaris mengenai bibirnya.
“Aku mencarimu. Ada seseorang yang ingin aku perkenalkan padamu,” ucap Lily. Tangannya melingkari lengan Arvaz, bersiap menarik pria itu pergi.
“Aku tidak akan lama,” ucap Arvaz.
Melihat Arvaz pergi bersama dengan Lily membuat Erika ingin juga pergi dari sana. Maka dari itu, ia keluar untuk mendapatkan udara segar. Ia tidak mengerti kenapa Arvaz membawanya ke sini kalau pria itu hanya meninggalkannya.
Ketika ia kembali, ia melihat Arvaz berjalan sendiri ke arahnya.
“Kamu dari mana?”
“Aku ingin pulang.”
“Kenapa tiba-tiba, pestanya belum selesai.”
“Terserah, tapi aku ingin pulang. Aku akan pulang sendiri, selamat bersenang-senang.”
Erika tidak sudi tinggal sedetik lebih lama di sini,
“Eri…”
Erika sudah berdiri di ruas jalan ketika tangannya ditarik oleh seseroang. Ia menoleh dengan cepat dan rasa keterkejutannya menjadi kemarahan.
“Kamu datang denganku dan akan pulang bersamaku, aku akan mengantarmu.”
Arvaz mulai menarik lengan Erika. Mereka tidak kembali ke pesta melainkan ke mobil.
“Masuk.”
Erik menurut patuh ketika Arvaz membuka pintu mobil penumpang sebelum membantingnya kembali. Lalu pria itu menyusul dan duduk di belakang kemudi.
Selama perjalanan Erika membuang wajahnya menatap jalanan.
“Ada apa denganmu? Kamu mengacaukan pesta itu.”
“Kenapa? Kamu tidak suka meninggalkan Lily sendirian? Kamu pikir aku buta, kamu pasti mempunyai hubungan dengan rekan kerjamu itu,”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Quenby Unna
aroma2 cemburu sampe ke sini
2023-07-10
0
Anis Swari
cembukur nih kayaknya
2023-06-22
0
Vincar
Sedikit kesal sama Arvas. kasihan kan Erika😶
2023-06-20
0