Sepanjang sore, Erika berjalan tak tentu arah. Wanita itu berjalan dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang entah berantah. Saat langit mulai gelap, kepalanya mendongak. Ia memperhatikan langit di atasnya dan angin berembus menerjang kulitnya.
Sejak pertemuannya dengan Arvaz, entah mengapa ada sedikit ketakutan di hatinya. Tanpa sengaja ia menyentuh perutnya. Wanita itu mencoba meneguhkan hati, pikirannya dan tekadnya.
Bayi ini akan membuat segalanya lebih sempurna. Ia sudah mencintai pria itu dan hidup bersamanya. Ia akan memberikan kejutan ini untuk prianya, untuk suaminya.
“Aku akan memberitahu pada ayahmu. Dia pasti sangat senang.”
Erika sudah bisa membayangkan berbagai reaksi yang akan ditunjukkan pria itu ketika mendorong pintu rumah dan berjalan masuk.
“Dari mana saja kamu? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?”
Langkah Erika terhenti di tengah ruang tamu dan menatap pria itu yang beranjak bangun. Masih dengan setelan jas bisnis hitam gelap yang menutupi tubuhnya. Senyum langsung muncul di bibir Erika ketika ia kembali melangkah dan mendekati pria itu.
Erika bergerak maju dan mendesakkan tubuhnya pada Darel, memeluk tubuh pria itu dan berjinjit untuk mencium bibir yang kini mengatup rapat. Karena tidak mendapatkan balasan, Erika menjauhkan tubuhnya serta bertanya pura-pura bingung.
“Kamu marah?”
“Ponselmu tidka bisa dihubungi dan aku benar-benar khawatir.”
Tangan-tangan kuat itu mengelilingi tubuh Erika seakan sedang melindungi wanitanya dan tatapan tajam pria itu nyaris menembus dirinya.
“Aku ada hadiah untukmu.”
Merogoh ke dalam tas tangannya, ia mengeluarkan sepucuk amplop dan mengangsurkan pada pria itu.
“Apa ini?”
“Lihat sendiri.”
Dengan penuh antusias, pria itu menarik amlop itu dari sela jari-jari Erika dan membukanya pelan. Ekspresi bertambah seketika saat dia menatap tulisan di lembaran kertas tersebut dan Erika merekam semua ekspresi itu dalam benaknya.
Saat ini sungguh berharga.
Erika jarang membuat pria itu kehilangan kata-katanya. Saat ini adalah saat-saat yang langka ketika hal itu terjadi. Ketika Darel mengangkat kepalanya dan menatap mata jernih milik Erika, pria itu hanya menatapnya dan hanya mata pria itu yang berbicara.
Erika mampu mendeteksi binar bangga yang muncul di kedalaman matanya, binar kebahagiaan yang serupa seperti yang pernah ditunjukkan pria itu ketika mereka mengucapkan sumpah setia.
Lalu ia mendapati dirinya segera direngkuh ke dalam pelukan erat dan bibir pria itu menunjukkan pada Erika betapa besarnya pengaruh berita yang dibawa wanita itu.
Erika tersenyum dan entah kenapa air matanya terjatuh. Mungkin karena ia jauh-jauh merasa bahagia. Sembilan bulan lagi, Erika yakin kehidupan mereka berdua akan jauh lebih berwarna dari yang sudah mereka miliki sekarang.
“Aku benar-benar bahagia. Aku akan menjadi ayah.”
Erika langsung mengurai pelukannya dan menatap Darel. Wanita itu mengangguk.
“Dan aku akan menjadi seorang ibu.”
Darel menatap Erika lalu tangannya menangkup wajah mungilnya dan mengusap air matanya yang terlanjur jatuh.
“I love you, Erika.”
Erika kesulitan menemukan kata-katanya.
...…...
Setelah mengetahui bahwa Erika hamil, Darel memboyongnya di sebuah penthouse yang jauh lebih luas dari aparteman tepat mereka tinggal dulu. Pelayan kini dua puluh empat jam siap bersiaga.
Mereka akan menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan seperti memasak, membersihkan penthouse dan tugas-tugas lainnya. Karena aktivitas Erika kini dibatasi oleh Darel. Pria itu menyuruh Erika untuk duduk manis sementara pelayan-pelayannya lah yang akan membantunya.
Tak hanya itu, kini Darel sebisa mungkin untuk pulang lebih awal. Tak jarang pria itu juga harus merepotkan teman-temannya untuk menjaga Erika. Mereka biasanya hanya sekedar menengok, memastikan bahwa Erika baik-baik saja.
“Kamu ingin ini diletakkan di mana?” Tanya Nick.
“Apa isinya?” Tanya Erika pada Ian, jujur ia tidak merasa memesan barang dan kemungkinan terbesar adalah Darel yang membelinya.
“Aku tidak tahu, tapi sepertinya ini adalah perintilan untuk sang pewaris keluarga Hansel.”
Kalau begitu sebaiknya diletakkan di kamar yang sudah disiapkan untuk sang pewaris,” ucap Erika menanggapi Nick.
“Siap Nyonya Hansel.”
Erika yang melihat Nick masuk ke dalam ruangan, ia langsung melangkah ke dapur untuk membuatkan minuman untuk pria itu.
Sang pelayan yang melihat bahwa Nyonya membuatkan minuman langsung menawarkan diri untuk membantunya.
“Tidak usah bi, aku bisa.”
“Tapi bibi pasti kena omelan jika membiarkan Nyonya berkutat di dapur.”
“Berarti bibi harus menjaga rahasia.”
Sepeninggal Nick, yang dilakukan Erika hanya mengganti Channel televisi. Beberapa kali ia menguap karena bosan. Lalu sebuah ide muncul di benaknya.
“Apakah aku harus menemui Darel?” Erika lantas mengelus perutnya. “Apakah kamu ingin bertemu dengan ayahmu?” Tambah Erika seolah bertanya dengan nyawa yang ada di dalam perutnya.
Erika lantas langsung bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya.
“Nyonya apa yang anda lakukan?”
“Siapkan mobil untukku, aku ingin pergi.”
“Tapi Nyonya, Tuan menyuruh Nyonya untuk berdiam di rumah.”
“Tenang saja, aku pergi untuk menemui suamiku. Dia pasti tidak akan marah.’
Pelayan menghela napas pasrah, dilarang pun Erika mempunyai seribu alasan.
Sesampai di kantor Darel, Erika langsung masuk setelah mengetuk pintu.
“Apakah kamu sibuk?”
Darel langsung mendongak begitu suara yang begitu ia kenal mengenai gendang telinganya. Pria itu begitu terkejut melihat Erika di dalam kantornya.
“Sayang kamu ada di sini? Bukankah aku menyuruhmu untuk berada di rumah saja?”
“Apakah aku tidka boleh datang ke kantormu?” Tanya Erika pura-pura bersedih.
“Bukan begitu maksudku,” Darel begitu gelagapan mendengar bahwa Erika tengah salah paham dengannya.
“Lalu?”
Darel langsung berdiri dan menyambar tangan Erika. Pria itu menuntun Erika untuk segera duduk di sofa.
“Kamu ingin minum? Kamu ingin makan? Kamu ingin aku mengambilkan novel agar kamu tidak bosan? Kemari kan tanganmu.”
Erika mengulurkan tangannya dan Darel langsung menggenggamnya dengan erat.
“Kamu pasti kedinginan dalam perjalanan ke sini. Setelah makan siang, aku akan mengantarkanmu pulang.”
Erika tersenyum dan mengangguk. Toh, menolak pun, pasti pria itu tetap menyuruhnya pulang dan berisitirahat.
...…...
Sedari tadi Darel hanya menatap amlop coklat polos yang berada di tumpukkan mejanya. Sebenarnya ia penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Namun karena tidak ada alamat si pengirim ia mengabaikannya.
Setelah menimbang dan menjadi bimbang sendiri, Darel memutuskan untuk mencari tahu. Apa yang ada di dalam amplop tersebut. Ia tidak menunggu lama untuk membuka tutup amlop itu serta menjatuhkan.
Puluhan lembaran foto ikut terjatuh dari dalamnya , bertumpuk yak beraturan di atas meja dan atas lantai. Darel membeku untuk sejenak. Pikirannya membutuhkan waktu untuk memproses apa yang dilihatnya sebelum tangannya meraih salah satu dari foto terdekatnya.
Itu jelas-jelas adalah Erika, wanita yang menjadi istrinya.
Darel meraih foto itu satu demi satu dan menguarkan dugaannya. Semua menguatkan apa yang dilihat dan disimpulkan olehnya. Erika yang ada di dalam foto jelas-jelas sedang berselingkuh. Dan sialnya lagi, di sana ada foto usg. Sontak saja, Darel tertampar dengan itu semua.
Butuh beberapa detik baginya untuk mengembalikan ketenangannya sebelum ia kembali menyodorkan fakta bahwa anak yang dikandung Erika adalah darah daging Arvaz.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
R.F
semangat kk
2023-06-17
0
Quenby Unna
Binar bangga mungkin akan menjadi binar kesedihan untuk Darel kalau dia tahu faktanya
2023-06-07
0
Fen_Leo
Astojimm.. Semakin seru ya thor...
2023-06-02
0