Erika di dorong keras ke dalam mobil dan pintu penumpang menutup dengan keras, ia bahkan tidak sempat meraih pegangan pintu ketika pintu pengemudi disentak dan Darel menyusup masuk. Pria itu menatapnya sejenak dan memiringkan wajahnya untuk meneliti Erika.
“Apa kamu berusaha untuk kabur?”
“Tidak.”
“Baguslah, aku sedang menyelamatkanmu dari monster itu.”
Erika tidak berani bersuara ketika pria itu mulai memasukkan kunci mobil dan mulai tersenyum seolah dia tidak baru saja menembak seseorang. Ketika mesin memanas dan Darel langsung menekan pedal gas.
“Ke mana kita akan pergi?”
Seringai pria itu terlihat tidak normal ketika Darel menjawab pertanyaan dari Erika.
“Aku sudah berjanji tidak akan menyakitimu, bahwa aku hanya akan melenyapkan Arvaz dan jabang bayi yang kamu kandung. Tapi sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku. Kita mempunyai rencana yang jauh lebih baik.”
Erika tidak pernah menyangka bahwa Darel membanting setir mobil sehingga menabrak pohon besar di hadapannya. Bunyi benturan keras memenuhi dirinya disusul kaca pecah disertai alarm mobil yang berdenging menyakitkan.
Sementara itu, Arvaz memaki pelan ketika rasa sakit yang tajam kembali menyengat Avian bahunya. Ia menahan keras luka di bahunya. Ia bergegas ketika mendengar bunyi mesin mobil yang dinyalakan. Tubuhnya sedikit sempoyongan ketika mencapai anak tangga terakhir.
Arvaz tidak pernah sempat mencapai mobilnya dan mengejar mobil di depannya ketika dengan ngeri ia menyaksikan mobil itu berbelok tajam dan bunyi decit ban terasa menyakitkan telinganya. Arvaz tidak bisa melakukan apa-apa ketika bunyi tabrakan yang mengerikan menulikan telinganya.
Arvaz mulai berlari dan berteriak panik. Ia mengabaikan rasa sakitnya, ketika rasa takut dan rasa pedih jauh lebih besar ketika memanggil nama Erika.
Ketika ia mencapai mobil itu, Arvaz menyentak pintu mobil hingga membuka. Tangannya bergetar sangat keras sehingga ia nyaris tidak bisa mengontrolnya. Ia melihat Erika terbaring lemas di kursinya, tubuhnya tak bergerak. Darah keluar dari dahinya.
Pria ia mencoba sangat keras untuk melepaskan sabuk dari tubuh Erika. Setelah terlepas, Arvaz menarik Erika keluar, memeriksa wanita itu sekila sebelum membopongnya menjauh, mengabaikan rasa sakit tajam yang menusuk bahu kanannya.
Tangannya memegang kepala Erika yang berada di pangkuannya dan menyapu darah di kening wanita itu. Kelegaan memenuhinya ketika kepala wanita itu bergerak pelan dan erangan halus keluar dari bibirnya yang pucat. Ketika kelopak mata Erika membuka, Arvaz tidak bisa menahan tawa legalnya.
“Eri…eri…” menahan wajah Erika agar matanya berfokus pada Arvaz.
“Arvaz…aku rasa aku basah.”
Arvaz menatap ke bawah dan ketika melihat darah mengalir keluar dari sela-sela kaki Erika yang mengakibatkan rasa takut yang luar biasa seperti seseorang yang sedang mencengkeram ulur hatinya. Setelah itu segalanya seperti mimpi. Ia tidak benar-benar ingat ketika Nick tiba bersama segerombolan orang.
…
Erika membuka matanya dan mengerjap pelan. Tidak butuh waktu lama baginya untu mengenali keberadaannya. Tubuh Erika mengejang ketika ia teringat ketika mobil itu menabrak pohon. Tangannya langsung terulur untuk menyentuh perutnya.
Erika mengerjap kosong. Wanita itu mematung dan tidak berani mengambil napas. Tiba-tiba air matanya jatuh dan ia menjerit. Rasa kecewa, bersalah, sakit dan sedih langsung campur aduk.
Pintu di depannya langsung terbuka dan menampilkan sosok Arvaz. Pria itu langsung memeluk Erika tanpa kata. Pria itu berusaha menenangkannya lewat pelukannya. Butuh beberapa meniru untuk Erika bisa mengeluarkan semua emosi kesedihannya. Butuh beberapa menit untuk Erika bisa mengontrol emosinya.
“Kamu tidak menyalahkanku?”
“Kenapa aku harus melakukannya?”
“Aku tidak bisa menjaga bayiku. Apa kamu akan berpura-pura dia tak pernah ada sehingga kita tidak perlu repot-repot membicarakan dirinya?.”
Tangan Arvaz langsung merangkum wajah Erika. “Bisakah kamu berhenti berbicara.”
Erika langsung menggeleng.
“Aku tidak menyalahkanmu. Tapi kenapa kamu pergi bersama Darel hari itu?”
“Aku tidak tahu,” Erika menjawab pelan. Ia menggeleng sedih ketika memikirkan kembali kebodohannya.
Erika tidak bisa mempertahankan ketegarannya. Air matanya jatuh ketika penyesalan itu menyergap dadanya. Air mata duka yang tidak bisa dibaginya bersama orang lain.
“Maaf, maafkan aku.”
Erika tidak sanggup menatap mata Arvaz lebih lama dan menangkap tatapan tersiksa Arvaz dan kekecewaan pria itu. Tangisnya meledak ketika ia merasakan lengan-lengan kokoh memeluknya kembali. Ia membalas dengan memeluk lengan-lengan kuat itu.
“Jangan membicarakannya lagi dan jangan meminta maaf lagi. Kita harus bergerak maju dan melupakan masa lalu.”
Saat ia mengenggam tangan Erika, masih teringat jelas saat kejadian kecelakaan itu. Wajah pucat mayat Erika membuat Arvaz ketakutan. Ia takut wanita itu akan meninggalkannya. Ia jauh lebih takut memikirkan wanita itu meninggalkan dari pada kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya seperti bayinya, satu-satunya yang mencegah dirinya menjadi gila ketika menerima kenyataan bahwa bayinya sudah tidak ada, semata-mata karena Erika masih hidup dan baik-baik saja.
“Sudah waktunya melanjutkan hidup. Aku akan melakukan yang terbaik.”
...…...
Erika tersentak bangun dari tidurnya oleh mimpi buruk, yang telah menyebabkan dia berkeringat dingin sambil meraih selimut dengan erat. Erika bermimpi saat-saat dimana ia kehilangan bayinya.
“Erika, kamu bermimpi buruk? Tenang, itu hanya mimpi,” ucap Arvaz menenangkannya.
Menatap Arvaz, Erika langsung meringkuk ke dalam pelukan pria itu. “Arvaz, aku benar-benar takut.”
“Apa yang kamu takutkan?” Tanya Arvaz dengan cemas.
Erika menggeleng dengan pelan. “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku takutkan.”
“Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Aku akan selalu berada di sisimu. Sekarang tidurlah.”
Erika mengangguk dan kembali memejamkan matanya. Arvaz yang melihat Erika sudah menutup mata, ia memperbaiki letak selimutnya dan memeluknya.
Saat pagi menyapa, mereka sarapan bersama. Setelah Arvaz pergi bekerja, Erika tidak ingin pergi ke manapun dan tetap berada di rumah. Ia menghabiskan waktunya dengan membaca, mendengarkan musik dan menyirami tanaman.
Namun sepertinya harinya terasa panjang. Ia melihat jam dan masih menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Semenjak kecelakaan itu, Erika sama sekali tida bertanya bagaimana kabar Darel. Ia tidak ingin tahu dan akan mengubur masa lalunya. Ia akan terus menapaki masa depannya.
Erika kembali melihat jam lagi setelah ia selesai menyelesaikan bacaan novelnya. Ternyata sudah lewat jam enak sore. Namun Arvaz masih belum kembali ke rumah. Erika turun dari kamarnya lalu menuju ke ruang makan.
“Apakah dia akan melewatkan makan malam?”
Saat Erika baru saja duduk, ia menerima panggilan dari Arvaz. Pria itu mengatakan bahwa dia tidak pulang cepat karena menghadiri acara makan malam. Erika tidak mengatakan hal banyak selain ia mengingatkan untuk tidak terlalu pulang malam.
Setelah menutup teleponnya, ia menatap makanan mewah dan bergizi di depannya.
“Baiklah, aku akan menghabiskan semuanya.”
Setelah makan malam, Erika langsung kembali ke kamarnya. Ia berkutat dengan ponselnya dan berselancar di media sosialnya. Waktu berlalu dengan cepat dan sebelum dia menyadarinya, sekarang sudah jam sembilan malam. Menyadari bahwa Arvaz belum kembali ia memutuskan untuk tidur terlebih dulu.
Baru saja ia hampir terlelap, ia mendengar suara Arvaz yang seksi dan serak.
“Eri, aku benar-benar senang memilikimu di sisiku.”
Erika langsung menoleh dan melihat Arvaz menanggalkan pakaiannya dalam sedetik dan kemudian melemparkan dirinya ke atas tubuh Erika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Quenby Unna
wow
2023-07-12
0
Anis Swari
Si Darel,
2023-07-09
0
Han Sung hwa
Kacau si Darel...
2023-06-06
0