Arvaz memandang melewati lapisan kaca yang memenuhi salah satu dinding kantornya sambil memikirkan Erika. Belakangan ini, ia memang terlalu sering memikirkan wanita itu. Arvaz nyaris tidak sadar ketika bibirnya mengulas senyum lembut. Ia tidak bisa tidak memikirkan tingkah Erika semalam.
Pikiran semacam itu cukup membuat Arvaz terhibur sepanjang hari dan ia pulang dengan harapan yang lebih besar. Bayangan untuk pulang menemui Erika kini terasa ringan dan menyenangkan. Namun ia harus menelan pil kekecewaan ketika tidak mendapati Erika menunggunya di rumah.
Pergi berbelanja sejak siang, begitu kata pengurus rumah tangga. Namun hingga makan malam tiba, Erika tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Arvaz mulai gelisah, terbagi menjadi rasa curiga dan khawatir.
Ia mencoba menghubungi ponsel Erika berkali-kali namun benda itu tidak aktif. Berbagai pikirkan buruk memenuhi pikiran Arvaz. Kecemasan Arvaz dengan cepat berubah menjadi amarah. Ia sudah mengenggam kunci mobil dan bersiap berkeliling kota mencari istrinya ketika suara cemas pengurus rumah tangga terdengar dari foyer.
“Nyonya, Tuan sangat cemas.”
“Kenapa?” Suara itu terdengar santai, nyaris tanpa rasa bersalah.
“Nyonya tidak bisa dihubungi.”
“Oh itu…”
Erika tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Arvaz muncul dan menyuruh pengurus rumah tangga untuk meninggalkan mereka. Erika mundur selangkah ketika Arvaz mendekatinya. Erika bisa melihat bahwa Arvaz sedang marah besar.
“Dari mana saja kamu?”
Arvaz berdiri menjulang di hadapan Erika, menatap tajam wanita itu dan menelusuri kantong-kantong belanjaan yang dibawanya. Setidaknya, wanita itu sepertinya memang pergi belanja.
“Berbelanja.”
“Dan kamu tidak merasa perlu memberitahuku?”
“Aku sudah memberitahu pengurus rumah tangga.”
“Kamu bisa memberitahu pengurus rumah tangga tapi tidak bisa memberitahu. Kamu punya nomor ponselku.”
Erika menarik napas dan menghembuskannya pelan. “Aku tidak berpikir sampai ke situ. Maafkan aku kalau membuatmu cemas.”
“Tidak, kamu tidak serius. Kamu tahu jam berapa sekarang.”
“Aku…”
“Sudah lewat jam tujuh. Dan aku tidak tahu ke mana kamu pergi. Kamu juga mematikan ponselmu. Aku sudah hampir berkeliling mencarimu dan sebentar lagi para polisi mungkin sudah turun ke jalan. Dan kamu meminta maaf dengan nada tidak bersalah.”
Kedua mata Erika membesar bulat. “Ponselku mati karena baterainya habis. Kenapa kamu harus bersikap begitu berlebihan?”
Kesabaran Arvaz menghantam batas akhir dan ia menarik kantong belanjaan Erika dan membuangnya. Lalu Arvaz langsung menyeret mulai berjalan hingga mereka mencapai kamar dan Arvaz mengunci pintu di belakang mereka.
“Kenapa kamu mengunci kamarnya?”
“Kamu tidak akan ke mana-mana?”
“Aku tidak tahu apa masalahmu. Aku hanya keluar untuk belanja. Memangnya ada yang salah dengan itu?”
“Salah Eri karena aku terlalu peduli padamu. Salahmu, karena kamu tidak pernah mencoba mengerti. Salahmu, karena menjadi wanita bodoh yang tidak sensitif. Semua salahmu, kamu bersalah dalam segala hal, Eri.”
Arvaz tahu kata-katanya pasti membuat wanita bodoh itu kebingungan tapi Arvaz tidak peduli.
“Kita buat peraturan dasar. Pertama, kamu akan memberitahuku kemana kamu akan pergi dan hanya seizin ku. Dan tidak peduli di manapun kamu berada, aku harus selalu bisa menghubungimu. Apa cukup jelas?”
Wanita itu kemudian tertawa singkat, mengejutkan Arvaz yang tengah menatapnya dengan berapi-api. “Cukup jelas untuk membuatku berpikir kamu benar-benar egois.”
...… ...
Semenjak hari itu, hari-hari Erika selalu diawasi oleh Arvaz. Cukup Erika akui, bahwa Arvaz memperlakukannya dengan baik meskipun dengan cara Arvaz yang ekstrem dan hubungan mereka berkembang.
Arvaz berhasil membuat Erika melepaskan pertahanan dirinya, membuat Erika dengan cepat terbiasa dengannya. Segalanya nyaris tidak lagi ada kecanggungan di antara mereka dan perasaan nyaman itu tumbuh subur seiring berjalannya waktu dan intensitas mereka.
Perhatian pria itu, kelembutannya, cerita-cerita Arvaz dan bahkan lelucon-leluconnya. Erika menikmati semua yang ada dalam diri pria itu dan ia melakukannya dengan sadar.
Pada malam hari, Arvaz tanpa sadar memeluknya. Dan pria itu merasakan kulitnya panas. Arvaz langsung membuka matanya dan memeriksa dahi Erika.
“Dia demam.”
Arvaz segera menyalakan lampu dan bangun dari tempat tidur. Ia tidak berani mengambil obat sembarangan karena Erika sedang hamil. Alhasil, pria itu hanya mengompres dahi Erika. Arvaz tidak tidur semalaman dan ia memeriksa dahi Erika untuk memastikan panasnya turun.
Ketika pagi tiba, Erika terbangun dan menyadari Arvaz tidak pergi bekerja dan masih tertidur lelap. Ia sedikit terkejut ketika merasakan dahinya terdapat kompresan.
“Arvaz, apakah kamu tidak akan bekerja.? Sudah hampir jam delapan pagi.”
Arvaz membuka matanya samar-samar. Arvaz langsung mengulurkan tangannya untuk memeriksa dahi istrinya. Dahi Erika sudah dingin.
“Aku tidak akan pergi.”
“Lalu bangunlah, kamu ingin sarapan apa? Aku akan membuatkan sarapan.”
“Eri, aku ingin memakanmu. Tadi malam, aku kurang tidur karenamu.”
Erika langsung mendaratkan ciuman singkat di pipi kanan Arvaz. “Terima kasih.”
“Aku tidak suka kalau kamu berterima kasih padaku. Aku lebih suka kamu mengatakan bahwa kamu menginginkanku.”
Arvaz langsung mendaratkan ciumannya dan meninggalkan Erika yang masih terduduk di ranjang. Wanita itu memperhatikan Arvaz yang pergi ke kamar mandi.
Arvaz menghabiskan sepanjang hari di samping Erika. Pria itu memperlakukan Erika jauh lebih baik. Selalu menghujaninya dengan perhatian dan kasih sayang.
Keesokan harinya barulah, Arvaz kembali bekerja. Di saat Arvaz kembali bekerja, Erika mendapatkan pesan dari Darel. Pria itu ingin menemuinya. Pria itu Hanya ingin mengucapkan salam perpisahan dengan benar dan Erika tidak mempunyai alasan untuk menolaknya karena bagaimana pun Darel juga pernah mewarnai hari-harinya di masa lalu.
“Erika. Harus aku akui, aku lega melihatmu. Kupikir kamu akan mendapatkan kesulitan.”
Erika menoleh untuk melirik Darel. “Arvaz pergi pagi-pagi jadi aku bisa menyelinap keluar dengan gampang. Dan mungkin ini adalah kali terakhir. Jadi apa yang ingin kamu bicarakan.”
“Tidak di sini, Erika.”
Lalu Erika merasakan sengatan listrik membakar kulitnya. Matanya berputar buram ketika kesadarannya mulai hilang. Hal terakhir yang ia lihat adalah wajah Darel yang menunduk di atasnya dengan wajah menampakkan kesuraman.
“Aku harus melakukannya Erika. Aku harus menyingkirkan Arvaz.”
Darel membawa Erika yang tak sadarkan diri ke rumahnya. Baru saja ia sampai di rumahnya, Nick datang menemuinya. Pria itu terlihat terkejut melihat Darel membawa Erika.
Setelah Darel turun dari kamarnya, Nick buru- buru menghujaninya dengan sejuta pertanyaan.
“Ada apa dengan Erika? Kenapa kamu membawanya ke sini?”
“Apakah kamu lupa? Erika adalah wanitaku.”
Setelah mengatakan itu, Darel pergi ke lantai atas. Beberapa menit kemudian pria itu turun.
“Dimana Erika?”
“Di tempat tidurku.”
“Darel aku tahu kamu sedang marah dengan Arvaz tapi biarkan aku memperingatkanmu. Kamu sebaiknya tidak memprovokasi Arvaz. Jika kamu tidak ingin melihat rumahmu dihancurkan, maka aku sarankan untuk tidak menyentuh istrinya. Arvaz dan aku adalah teman. Kamu pun begitu adalah temanku,” ucap Nick.
“Terserah aku melakukan apa pun yang aku inginkan. Jangan mengajariku apa yang harus aku lakukan. Aku harap kamu tidak terlibat dalam masalahku dengan Arvaz.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Quenby Unna
jiwa2 posesifnya keluar
2023-07-12
0
Anis Swari
Hanya Erika yang bisa menjungkir balikkan emosi Arvaz
2023-07-09
0
Vincar
benar-benar si Erika, membuat Arvas emosi🤭🥲
2023-06-20
0