“Apakah kamu akan berangkat kerja? Sarapan dulu, aku sudah membuatkanmu sarapan.”
Darel tidak ingin sarapan. Ia bahkan tidak ingin melihat Erika di sana. Pria itu ingin meraung dan membentak Erika.
“Aku tidak ingin sarapan!”
Erika mengerjap kosong dan menatap Darel tanpa fokus.
“Kalau begitu secangkir kopi?”
Darel melirik ke meja. Ada sandwich dan secangkir kopi hangat. Darel ingin menolak tapi kepalanya masih berdenyut menginginkan hal sebaliknya. Pria itu bergerak masuk dan meraih kursi di ujung lainnya.
Darel menghirup uap panas kopi yang harum untuk menenangkan ketegangan sarafnya.
“Apakah hari ini kamu akan pulang lebih awal?”
Darel mengangkat wajahnya dan menatap Erika tidak senang. Sementara Erika menatapnya polos.
“Aku ingin pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganku. Bisakah kamu menemaniku?”
Darel meletakkan sandwichnya sendiri, ia tidak ingin duduk di meja makan ini, menatap Erika di seberang sana. Bukan hanya Erika yang terkejut ketika ia mendengar hantaman tinju yang membuat meja itu bergetar.
“Darel!”
Wanita itu berdiri gugup dari kursi yang di dudukinya dengan salah satu telapak tangannya di tekan di dada karena terkejut. Darel menatap tinjunya sendiri yang masih menempel di sana dan menarik lengannya kembali.
“Aku sangat sibuk. Kamu pergi saja sendiri.”
Di tempat lain, Arvaz berusaha untuk tidak menertawakan dan membalik laporan yang sedang dibacanya.
“Menarik.”
Pria itu mengangkat pelan wajahnya dan menatap pria lain yang sedang duduk di seberangnya dengan sebuah meja makan panjang memisahkan keduanya.
Dilihatnya pria itu mengangguk untuk mengiyakan komentarnya dan kembali menunggunya menyelesaikan tumpukan yang disodorkannya.
Ketika akhirnya ia sampai pada akhir laporan, pria itu menutup berkas tersebut kasar dan melemparkannya ke atas meja.
“Jadi kapan eksekusinya bos?”
Diturunkan kakinya yang tadi bersilang di bawah meja saat ia mencondongkan tubuhnya ke depan sembari menatap sepasang mata lawan bicaranya.
“Santai saja.”
“Saya mengerti.”
Arvaz mendorong tubuhnya ke belakang dan kembali ke posisi duduknya semula. Tangannya mengibas kasar dan diterjemahkan dengan baik sosok yang sedang duduk menghadapnya.
Dia segera bangun dan berdiri. Setelah melonggarkan tenggorokannya pria itu kembali bersuara. “Kalau begitu saya pamit dulu.”
Setelah melihat Arvaz mengangguk singkat, pria tadi berputar pelan dan berjalan ke arah pintu. Langkahnya kembali terhenti tegas ketika pria itu mencegahnya dengan serentetan perintah lain.
“Terus cari celah.”
Setelah mengiyakan permintaannya, pria tadi meneruskan langkahnya dan berjalan keluar. Ketika akhirnya ditinggalkan sendiri, Arvaz menatap lama ponsel yang tergelatak di atas meja.
Ia meraihnya dan melihat tanggal. Ia tersenyum karena hari ini adalah jadwal kontrol Erika.
.........
Erika berharap Darel bisa pulang lebih awal agar pria itu bisa menemaninya untuk periksa kandungannya namun ia harus menelan pil kepahitan saat Darel tidak menunjukkan batang hidungnya.
Pada akhirnya ia pergi ke rumah sakit sendiri dengan diantar sang sopir.
Setelah mendaftar dan mendapatkan nomor antrean seperti biasa, Erika duduk paling ujung. Hati Erika seketika mencelus saat melihat pasangan harmonis, suami mengantar istrinya untuk jadwal kontrol.
Erika tersenyum miris dan langsung mengusap perutnya.
“Bagaimana kabar si calon jagoan kecil, dia tidak nakal dan dalam?”
Erika sempat membeku di tempat saat gendang telinganya mendengar suara yang sangat ia kenal. Pada akhirnya Erika mempunyai keberanian untuk menoleh.
“Arvaz.” Suara Erika terdengar bergetar. Ia mengepalkan tangan dan memberanikan diri untuk menatap ke dalam matanya. “Untuk apa kamu ke sini?”
“Tentu saja menemanimu untuk jadwal kontrol. Aku juga penasaran dengan calon jagoan kecilku.”
“Dia anakku.”
“Jangan lupa dia juga anakku,” ucap lirih Arvaz sambil mencondongkan tubuhnya.
Erika langsung mendorong tubuh Arvaz dan bersikap tenang.
Arvaz menatap Erika kemudian memiringkan kepalanya ke samping untuk menghadap dirinya.
“Ada apa? Kamu sangat bersemangat saat kita melakukannya beberapa malam terakhir, berpikir bahwa aku adalah dia. Mengapa kamu bersikap tidak sopan sekarang?”
Erika benar-benar terdiam. Dia membenci dirinya sendiri karena sama sekali tidak tahu apa-apa dan membiarkannya berhubungan intim dengan Arvaz bahkan tanpa menyadari bahwa itu adalah dia
“Nyonya Erika,” panggil seorang perawat.
“Ayo,” ucap Arvaz saat nama Erika dipanggil.
Mereka berdua pun masuk ke dalam poli kandungan.
Arvaz begitu antusias begitu melihat calon jagoan kecilnya.
“Dia sebesar buah persik,” ucap Arvaz.
Dokter yang mendengarnya langsung berkata, “Usia kehamilan sekarang 13 minggu. Panjang tubuhnya sudah mencapai 8 cm. Memang semakin aktif menendang dan berputar.”
“Dokter apakah di usia sekarang bisa terlihat jenis kelaminnya?” tanya Arvaz.
“Meski alat kelaminnya mulai terbentuk, namun sekarang masih terlalu dini untuk memastikan jenis kelaminnya. Sebaiknya diperiksa saat usia kehamilan 18-20 minggu atau sekitar 4-5 bulan. Apakah ibu Erika mempunyai keluhan?”
“Tidak ada, mual sudah mulai berkurang.”
“Ibu Erika, selalu makan makanan 4 sehat lima sempurna sementara untuk ayah, mengambil peran agar istri anda tidak mudah lelah dan stress.”
“Baik,” ucap Arvaz bersemangat.
Setelah itu, mereka keluar rumah sakit setelah Arvaz menebus obat untuk Erika. Pada saat Erika sudah sampai di depan lobi rumah sakit, sebuah mobil berhenti di depannya.
Arvaz langsung membukakan pintu mobil tersebut dan menyuruh Erika untuk masuk. Namun wanita itu menolaknya.
“Aku datang dengan sopirku dan aku akan kembali dengan sopirku,” ucap Erika.
Arvaz terlihat tersenyum singtkat. “Eri, sopirmu adalah orangku.”
Erika menatap pria yang baru saja tiba dan itu adalah sopirnya. Sopirnya memberi salam dengan sopan.
Mau tidak mau Erika langsung masuk ke dalam mobil Arvaz. Wanita itu duduk dengan manis di samping Arvaz.
“Ini masih sore, sebaiknya kamu beristirahat di tempatku.”
“Aku ingin pulang.”
Arvaz menggeleng. “Tidak tanpa seizin.”
“Arvaz!!!!!”
Sesampai di rumah mewah Arvaz yang dua kali lebih besar dari rumah Darel. Sebelumnya, Arvaz menyuruh ibunya untuk tinggal di Vila sementara dia akan tinggal di sana bersama Erika meskipun tidak tahu kapan itu terjadi.
Para pelayan di sana terkejut melihat kedatangan Erika.
“Dia akan tinggal di sini sampai malam. Kencangkan keamanan, aku tidak mau ada kesalahan.” Arvaz menginstruksikan kepala pelayan.
“Iya Tuan Muda.”
Arvaz memegang tangan Erika di tangannya dan berjalan ke atas. Berdiri di dekat pintu kamar, Erika terkejut melihat dekorasi kamar tersebut.
“Beristirahatlah.”
“Aku ingin pulang,” ucap Erika.
“Tetap di sini dan taatlah mulai sekarang. Orangku akan mengantarkanmu nanti sore.”
Setelah itu Arvaz pergi. Rupanya Arvaz kembali ke kantornya, itu berarti Arvaz meluangkan waktunya untuk menemani kontrol di tengah jadwalnya yang padat. Berbeda dengan Darel, pria itu mengacuhkannya tanpa alasan.
Karena Erika tidak bisa tidur sore, ia memutuskan untuk membaca buku di ruang tengah. Namun fokusnya hilang saat ia melirik Adam Tylor, bodyguard suruhan Arvaz.
Erika langsung mengalihkan tatapannya kembali ke novel yang ia baca. “Tatapannya sangat menakutkan.”
Erika langsung menutup bukunya dan beralih kembali menatap Adam.
“Adam, saat aku ingin berkeliling di kediaman Arvaz. Apakah Adam yang menemaniku?”
Hampa, sunyi, Adam sama sekali tidak membuka bibirnya dan itu membuat Erika sebal dan kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
R.F
semangat kk
2023-06-20
0
Nenieedesu
jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak dinovel aq kak dear Handana
2023-06-15
0
Fen_Leo
Adam... Adam... 😂😂
Cinta 2 DOA hadir...
2023-06-09
0