Erika berusaha menjadi istri yang patuh dan juga akan melakukan yang terbaik untuk keluarga yang baru dibentuknya. Ia berusaha menjadi yang terbaik dan melakukan yang ia bisa
Siang ini, ia akan pergi ke kantor Darel untuk mengirim kotak makan siang yang ia buat sendiri khusus untuk suaminya itu. Sepanjang penjelasan menuju ke kantor Darel, Erika terus membayangkan bagaimana reaksi Darel begitu ia datang ke kantornya.
Apakah dia akan senang? Atau malah sebaliknya?
“Aku harap dia suka dengan masakanku,” ucap Erika begitu sampai di depan gedung pencakar langit milik suaminya itu.
Ia langsung memasuki kantor tersebut dan disambut oleh petugas resepsionis di sana. Erika langsung diarahkan ke kantor Darel.
Begitu ia sampai tepat di depan kantor Darel. Wanita itu menghirup udara di sekitarnya dan mengetuk pintu sebelum benar-benar membuka pintu itu. Namun begitu pintu terbuka, alangkah terkejutnya ia. Keterkejutannya karena menemukan pria itu di ruangan ini yang telah membekukan langkah Erika.
Ia tidak bisa menemukan suaminya di sana melainkan seseorang yang ingin ia hindari.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Begitu pertanyaan itu meluncur dari mulut orang itu, Erika langsung mengaitkan kedua alisnya. Begitu dengan pria yang kini tengah duduk di kursi kebesaran suaminya. Kedua jemarinya bertaut.
“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan di kantor suamiku?” Tanya Erika mencoba menjaga ekspresinya agar tidak berubah. Arvaz Benedict pria itu memang berbahaya.
Seringai mengerikan itu muncul di wajah tersebut. Kalau boleh jujur, Arvaz adalah pria tertampan yang pernah Erika temui. Tampangnya rupawan, dengan wajah berstruktur kuat. Alisnya yang tebal dan hitam dengan bola mata yang indah dan bermartabat namun sayang mulutnya keras dan terkesan jahat.
“Suamimu itu adalah rekan bisnis sekaligus temanku.”
Erika selalu membenci kenyataan itu. Diam-diam Erika menghela napas panjang untuk memberinya sedikit kekuatan untuk menghadapi makhluk yang satu ini. Menghadapi Arvaz memang membutuhkan tenaga ekstra.
Erika sudah nyaris sampai di hadapan Arvaz ketika wanita itu membuka bibirnya.
“Lalu dimana suamiku?”
Ekspresi di wajah Arvaz berubah tampak mengerikan begitu mendengar Erika menyebut Darel adalah suaminya. Sesaat pria itu kehilangan kata-katanya.
“Kamu cari saja sendiri, jika memang dia suamimu.”
Erika menggertakkan gigi sambil berhenti di depan meja, kini menunduk untuk menatap Arvaz yang masih bergeming di tempatnya.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Tentu saja membahas bisnis yang menguntungkan.”
Erika mengerjap bingun untuk sesaat ketika ia bertatapan dengan bola mata tajam yang berkilat itu. Erika sontak saja berdehem untuk menghilangkan kegugupan yang muncul tiba-tiba.
Erika tahu bahwa Darel berada di suatu tempat di dalam gedung pencakar langit ini tapi jika ia harus menunggunya di sini berdua dengan Arvaz, oh Erika sama sekali tidak sudi.
“Terserah padamu,” ucap Erika. Wanita itu berbalik dengan cara yang angkuh.
“Bermain-main lah dulu sambil menunggu Darel.”
“Aku memang berniat melakukannya.”
“Mau ke mana?”
“Mencari suamiku, tentu saja. Aku sudah menyiapkan bekal makan siang untuknya,” jawab Erika sambil lalu.
“Tinggalkan Darel.”
Ucapan itu yang akhirnya berhasil menjegal langkah Erika. wanita itu membeku ketika suara dingin itu menyerbu punggungnya, membuatnya segan untuk berpaling dan menatap wajah pria itu.
Butuh beberapa detik agar Erika dapat mengusai nya dirinya sendiri.
“Kalau aku tidak mau?”
Arvaz tidak langsung menjawab melainkan mulai bergerak dari tempatnya. Ketika duduk, pria itu sudah membuat Erika tidak nyaman apalagi sekarang ketika pria itu berdiri dan mulai mendekati Erika.
“Kamu tidak akan bahagia dengannya.” Kilat mata Arvaz tajam.
“Itu dalam mimpimu.”
Arvaz mengukung tubuh Erika diantara tubuhnya dan meja. Erika terkesiap begitu jemarinya meraih lengannya. Tangannya yang lain naik untuk mencengkeram dagu Erika. Pria itu lantas menurunkan wajahnya ke arahnya.
Suaranya yang serak berbisik kasar di telinga Erika, mengumandangkan ancaman.
“Tinggalkan dia jika kamu mencintai dirimu sendiri. Jika kamu memilih untuk menetap bersiaplah untuk terluka.”
Erika langsung menoleh begitu pintu kantor terbuka yang memperlihatkan wajah Darel di sana. Pria itu tampak terkejut melihat Erika yang berada di kantornya. Erika langsung mendorong tubuh Arvaz agar menjauh.
“Sayang…,” ucap Darel lalu tangannya terbuka.
Erika langsung tersenyum dan menyambut tangan-tangan itu. Ia mendekat ke pelukan Darel. Lengan-lengan yang melilit tubuhnya seakan membuatnya nyaman.
“Ada apa ini? Kenapa kamu datang ke sini?” Tanya Darel.
“Aku membawakan makan siang untukmu. Aku yang memasaknya sendiri,” ucap Erika. Wanita itu sedikit melirik ke arah Arvaz.
Rupanya bara menyala di kedua mata dan Erika langsung menghindar.
“Apakah kamu ada rapat hari ini?”
“Ya, aku ada rapat dengan Arvaz. Mungkin aku akan pulang terlambat hari ini.”
...…...
Langit mulai menggelap. Jam juga sudah hampir menunjukkan tengah hari. Namun Erika tidak melihat tanda-tanda kedatangan Darel. Pria itu memang sudah memberitahukan padanya bahwa ia akan pulang terlambat. Tapi, apakah sampai selarut ini?
“Dia sibuk dan aku tidak bisa banyak membantunya. Tapi seharusnya dia sudah pulang.”
Erika menunggu di ruang tengah dengan menyalakan televisi. Ia masih belum mengantuk tapi memang ia sedikit lelah. Menunggu Darel sampai beberapa jam di sana membuatnya sedikit bosan.
Erika lantas menunggu Darel di kamarnya. Ia berbaring di sana sambil mencoba menghubungi Darel namun hanya suara asistennya yang menjawab panggilannya.
“Di mana Darel?”
“Pak Darel masih menjamu kliennya. Saya rasa dia masih memiliki satu jam lagi.”
“Apakah kliennya bernama Arvaz?” Tanya Erika hati-hati.
“Ya, itu salah satunya. Bu Erika, pak Darel meminta anda untuk tidur lebih dulu. Beliau akan segera pulang begitu selesai.”
“Baiklah.”
Erika lalu mengakhiri panggilannya. Rasa khawatirnya kini mulai memudar. Ia mengangkat selimutnya untuk membungkus tubuhnya. Ia juga mematikan lampunya.
...…...
Arvaz membuka pelan kamar wanita itu dan menyelinap masuk. Pria itu menutup pintu dengan pelan dan beranjak ke tengah kamar mendekati ranjang tempat wanita itu berbaring.
Arvaz menginginkan wanita ini. Dan terkutuk lah, Darel merebut Erika darinya.
Arvaz mengangkat ujung selimut Erika. Wanita itu masih kucing kecil miliknya. Tangan Arvaz mulai membelai.
Erika yang merasakan tidurnya langsung terusik. Ia langsung membuka matanya dan muncullah sosok pria yang ia yakini adalah Darel. Pria itu sudah berbaring di sampingnya. Karena kamar gelap, ia tidak bisa melihat wajah Darel dengan jelas.
“Kamu sudah pulang? Apakah kamu sudah makan? Aku sudah membuatkan sup di meja makan.”
Arvaz terlihat kesal. Tadi siang Erika membuatkan makanan untuk Darel dan sekarang wanita itu juga membuatkan makan malam. Tatapan tajam langsung dilayangkan oleh Arvaz.
Pria itu lantas mencium bibir Erika dengan rasa lapar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Catastrovhy
aaa tidakkkk
2023-06-14
0
Catastrovhy
enak aja yeu main tinggal tinggal🤸🏻♀️
2023-06-14
0
TK
bunga semangat ✍️
2023-06-13
0